Guardian Ghost

Guardian Ghost
Restu Nino


__ADS_3

Efek seringnya bergadang membuat lingkaran hitam di sekitar mata Raina terlihat.


"Uhhh, ga kontrol gue ! " Raina yang masih semrawut langsung duduk di depan meja rias. Makin saja om Harsa akan percaya jika Raina tidak terurus, padahal bukan hanya masalah orang orang yang sudah tiada saja yang ia urus, tapi juga masalah tugas kuliah yang menumpuk dan pekerjaan di pabriknya. Raina mengolesi gel di sekitaran lingkaran mata, lalu ia kembali menjatuhkan dirinya di ranjang. Menatap langit langit, mengingat kembali bagaimana dulu pertama kalinya ia datang kesini, hingga awal pertemuannya dengan Nino, ada tetesan embun yang keluar dari matanya, dan suara sesenggukan. Bahkan sekarang Nino pun menghilang dari kehidupannya, terdengar suara kursi tergeser dengan sendirinya. Raina sudah tak aneh lagi, meskipun ia tak dapat melihat wujudnya. Namun, ia tau itu Nino.


"Ga usah so pura pura ngilang, No ! aku lagi butuh pelukan ! mungkin hari ini om Harsa bakalan minta aku pindah !" Di kaca riasnya, tertulis bacaan menikahlah dengan Dika.


Raina sudah bisa menerima jika Nino hanya bisa sebatas temannya saja saat ini.


"Hapus No, dikira orang rumah nanti liat aku kurang kerjaan, coret coret cermin pake lipstick !" pinta Raina.


Raina memejamkan matanya, ia merasakan sapuan di kening dan rambutnya, sapuan dingin tapi terasa hangat.


"Everything is gonna be allright honey, "


"Tok..tok..tok...!"


"Rain...!" bukan bi Kokom yang mengetuk dan masuk, tapi tante Gita.


Raina mengerjap beberapa kali, sosok tante yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri duduk dan mengusap usap lengannya lanjut ke rambutnya.


"Hey, jam segini masih tidur ?!" tanya tante Gita.


"Tante !!!" seru Raina memeluk tante Gita di bagian perutnya, ia membenamkan kepalanya di perut tantenya itu.


"Apa kabar dear !!! tante kangen ! ga pengen balik ke rumah di Jakarta apa ?!" bibir perempuan paruh baya ini mengerucut.


"Kangen tantelah ! mana om sama Fika ?!" tanya Raina bangun.


"Dibawah, tante sengaja bawa Fika kesini seminggu, tuh anak abis patah hati diselingkuhin pacarnya !" bisik tante pada Raina, gadis ini terkekeh.


Ia lantas ke kamar mandi dan menguncir rambutnya.


"Tante tunggu di bawah, " tante Gita turun, disusul Raina.


Terlihat pria paruh baya itu sedang melihat lihat halaman belakang, Raina memeluk om nya itu dari belakang.


"Ga usah diitung itung buat dijual !"


"Astagfirullah anak ini !" ucap om Harsa.


"Hihh ! siapa juga yang mau jual rumah kamu ! coba liat ponakan om ?!" om Harsa menangkup wajah keponakan kesayangannya itu, melihat dan meneliti perbedaannya saat terakhir ia melihat.


"Bad !!!" jawabnya mencebik.


"Bau, kucel, dekil !" lanjutnya masuk ke dalam rumah.


"Mana Fika?"


Jangan ditanya lagi, sudah dari tadi sepupu kesayangannya sudah nyungseb di kamar, sedang mendalami penghayatan drama patah hatinya.


"Ka, elahhh cowok ga usah ditangisin sebegitunya kenapa sih ?! di Bandung banyak cowok yang lebih cakep dan baik !" pekik Raina.


"Seganteng setajir apa sih cowok loe ?!" Fika keluar dengan wajah kusut dan gagal move on nya.


"Huwaaa, Rain !!! dia selingkuh, dia br3ngks3k !!!" peluknya pada gadis yang masih memakai t - shirt kebesarannya ini.


"Udah tau br3ngks3k masih aja ditangisin ! loe kan niat liburan di Bandung, udah ga usah mewek, pulang ke Jakarta loe mesti dah lupa sama cowok itu !" ajak Raina keluar kamar.


Raina duduk di sofa tengah dengan menaikkan kakinya ke kursi sambil mencomot gorengan jagung yang masih hangat.


"Udah ga usah mewek kenapa sih ?!" Raina memasukkan gorengannya ke dalam mulut Fika.


"Enak ?!" Fika mengangguk.


"Rain, om ga habis fikir. Jaman sekarang masih ada pelet peletan, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya om Harsa.

__ADS_1


"Raina baik baik aja om, udah ga apa apa ! "


"Om kan tau masalah pabrik, waktu si pak Baron b4ntai keluarga kita gimana? dia juga bunuh kekasih gelapnya, orang tuh bisa senekat itu om, apalagi yang begini ?!" jelas Raina santai.


"Kamu bisa sesantai ini, tante yang mendengarnya sudah hampir copot jantung ! kalau begini caranya tante mau kamu kembali nak, "


"Raina, disini hanya ada bi Kokom sama mang Nurdin, mereka sudah usia lanjut..disini kamu tidak ada yang bertanggung jawab jika sampai kenapa napa. Om sudah memikirkannya matang matang. Minggu depan kamu ikut kembali dengan kita ke Jakarta !" ucap om Harsa.


"Ga bisa gitu dong om, kuliah sama urusan pabrik gimana?" tanya Raina sewot.


"Urusan pabrik biar nanti om yang handle, sampai kamu lulus kuliah, untuk kuliah kamu bisa pindah ke kampus dimana Fika kuliah, " Raina mengerucutkan bibirnya masam.


Raina menscroll nama di ponselnya, "bi nanti ada Dika kesini bukain pintu aja. Rain ke atas, mandi dulu !" pinta Raina.


"Siapa Dika?" tanya om Harsa.


"Pacar, katanya mau ketemu om sama tante !" Raina berlalu ke lantai atas, ia kesal, marah..tapi hanya diam, tak ingin mendebat.


Ia memilih mengguyur kepalanya dengan air shower. Terdengar suara mobil masuk ke dalam halaman rumahnya, Dika datang dengan kemeja panjang dan kaos putih polos di dalamnya.


Raina turun dengan baju rumahannya, hari ini ia tidak berangkat ke kampus.


Dika sudah duduk sopan di kursi ruang tamu berhadapan langsung dengan om Harsa dan tante Gita, obrolan serius terlihat dari raut wajah mereka.


"Ra, pacar loe gentle banget sih ! mupeng gue ! cariin gue dong ! " bisik Fika yang menguping.


"Ntar gue cariin di emperan toko !" jawab Raina, Fika mendengus kesal.


"Asemm loe !"


Kedatangan Raina menghampiri ketiganya pas sekali dengan Dika yang mengucapkan kalimat yang membuat Raina terhenyak sesaat, seakan kakinya tidak lagi menjejak di bumi.


"Saya meminta ijin dan restu dari om dan tante untuk meminang Raina sebagai bagian dari hidup saya, jika om dan tante berkenan, saya dan ibu saya akan datang kesini secara resmi untuk meminta Raina, " ucap Dika.


"Kang, " guman Raina dengan raut wajah terkejutnya. Sontak ketiga orang ini menoleh ke arah Raina.


"Rain, "


"Maaf om, tante bisa minta waktu untuk bicara sebentar dengan Raina ?!" tanya Dika.


"Silahkan," jawab om Harsa masih dengan kaki yang disilangkan.


Dika beranjak mengajak Raina ke luar rumah, ke halaman depan.


"Kang, kenapa dadakan sih ?! kenapa ga ngomong dulu sama aku ?!" tanya Raina.


"Aku rasa sudah waktunya Rain, apa lagi yang harus ku tunggu ? menunggu semua rambutku memutih ? " tanya Dika. Lelaki itu meraih tangan Raina.


"Menikahlah denganku Rain, aku memang tak bisa menjanjikan kehidupan yang happy forever, tapi insyaallah aku bisa menjaga dan berusaha menjadi imam untukmu !" ucapnya.


Bingung ? jelas saja !


"Aku butuh kepastian Raina, sudah bukan waktunya untukku menjalin hubungan yang hanya main main, aku mencari yang ingin serius. Umurku sudah hampir 28, jawablah iya atau tidak, aku tidak memaksa..jika iya maka lusa aku akan membawa mamah untuk melamar, jika tidak maka hubungan kita mungkin sampai disini !" jawab Dika lagi semakin membuat Raina bimbang.


"Hey, lihat aku ?!" Dika menangkup pipi Raina untuk melihat manik matanya.


Raina memejamkan matanya, "iya, " jawab Raina. Dika refleks memeluk Raina bahagia.


"Apa mesti dipaksa sampe mentok dulu ya, baru mau diajak nikah ?!" bisik Dika yang terkekeh.


"Sayang, " lirih Raina.


"Ya, "


Sorot mata Raina meredup, Dika tau alasannya.

__ADS_1


"Sebelum kita menikah, kita ziarah makam Nino dulu," ucap Dika. Senyum Raina mengembang.


*****************


"Raina sudah seperti anak kandung saya sendiri, jika kamu memang berniat serius pada Raina, maka saya restui..." jawab om Harsa memandang setiap anggota keluarga termasuk Raina.


"Minggu depan saya pulang, jadi masih ada waktu untuk kamu membawa orangtuamu kesini, " lanjut om Harsa.


"Iya om, sepertinya lusa saya dan mamah juga om saya kesini untuk melamar Raina secara resmi, " jawab Dika.


"Huwaaa, ngenes amat hidup gue, datang kesini dalam keadaan patah hati, udah gitu disambut sama loe yang dilamar sama cowok loe !" Fika menangis.


Lusanya, Dika benar benar membawa ibu dan om nya dari sang mendiang ayah ke rumah Raina, bersama beberapa saudara dan temen temannya.


"Ga nyangka gue, dadakan gini !" ucap Tria.


"Diam diam menghanyutkan si bapak Pimpro !" timpal Romi.


"Loe kapan Tri, umur loe lebih tua !" ucap Ve.


"Nunggu Allah nurunin jodoh dulu !" jawab Tria sekenanya,


"Jodoh loe belum lahir !" sarkas Fadly.


****************


Raina bersama Dika menginjakkan kakinya di pemakaman umum, dengan beberapa bucket bunga. Ia mendatangi satu persatu makam keluarganya, meminta do'a restu.


Tiba langkahnya di satu makam yang sangat ia rindukan.


"Hay, No !" sapa Raina, belum apa apa Raina sudah menangis. Dika mengusap usap bahu Raina, berjongkok di samping Raina, menyenderkan kepala Rain di dadanya.


"No, thanks. Selama ini udah jaga Raina, menjadi teman terbaik Raina. Disini, dan hari ini, gue minta ijin dan restu loe untuk meminta Rain jadi pendamping hidup gue, No. Jadi ibu dari anak anak gue,"


Nino menampakkan wujudnya di dekat keduanya. Saking rindunya Raina refleks berdiri dan menghambur memeluk Nino. Menangis sejadi jadinya. Sampai akhirnya ia sadar, jika sekarang ia harus menjaga hati seseorang lainnya.


"Eh maaf, " ucap Raina segera mengurai pelukannya, mengusap air matanya.


"Ga apa apa, aku maklum !" jawab Dika.


"Honey, jadilah istri yang baik untuk Dika. Jadilah ibu yang baik untuk anak anak kalian kelak. Aku bahagia melihat hidupmu kini bahagia, menemukan seorang yang nyata yang bisa menjaga dan menjadi imam mu, "


"Dik, jagalah Raina..jangan pernah sakiti dia. Jika tak ingin aku mengambilnya untuk selamanya !" Nino tertawa sambil menitikkan air mata, sepertinya tawa itu mengharukan.


"Peluk ?" tanya Nino tertawa renyah merentangkan kedua tangannya. Raina berbalik ke arah Dika yang mengangguk memberikannya ijin.


Raina langsung memeluk erat sahabat kecilnya itu, kekasih hidup matinya, hubungan dengan rasa yang tak bisa disandingkan dengan hubungan apapun. Sebuah ikatan dimana dan apa yang Raina rasakan maka Nino disitu ikut merasakan.


"Cengeng !"


"Loe juga !" tawa keduanya.


.


.


.


.


.


TAMAT


TERIMAKASIH GUYS YANG SUDAH SETIA MEMBACA, DAN MENDUKUNG KARYA RECEH RAINA DAN NINO, MAAF JIKA SELAMA PENULISAN BANYAK TYPO BERTEBARAN DAN BANYAK ALUR YANG TIDAK SESUAI EKSPEKTASI, JANGAN LUPA KEPOIN JUGA KARYA MIMIN YANG LAINNYA YANG GAK KALAH SERUNYA YUK, UNTUK BONCHAP MUNGKIN AKAN MIMIN KASIH JIKA ADA WAKTU SENGGANG YA GUYS πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2