Guardian Ghost

Guardian Ghost
Ex calon mertua


__ADS_3

"Bu, Raina pamit ya !" bu Kades memeluk Raina.


Raina memejamkan matanya, merasai ada semilir wangi bunga melati lewat terbawa angin, ia melihat Arum yang melambai hangat padanya. Raina melambai pula padanya, yang lain bergantian pamit pada keluarga ini, Raina berjalan mendekat ke arah kuburan Arum di halaman samping rumahnya , meletakkan beberapa bungkus permen di atas kuburan Arum yang masih basah.


"Mbak Rain pulang ya !" ucap Raina. Anak itu memeluk Raina.


Gadis berdress putih ini berlari kembali bergabung dengan yang lainnya, lalu masuk ke dalam mobilnya.


"Ini hanya sedikit oleh oleh dari kami," ucap pak Kades, sedikit tapi mampu memenuhi bagasi juga bagasi atas mobil, sampai sampai Romi dan Fadly saja memangku kardus dan pisang.


"Ya Allah jadi merepotkan pak, terimakasih banyak !" ucap Dika.


"Tidak, ini buah tangan untuk nak Dika dan teman teman, " jawab pak Kades.


"Busyettt ! sedikitnya tuh sampe gue pangku pangkuan gini sama pisang, auto seminggu ga belanja !" bisik Romi disikut Tria.


Desa ini menjadi saksi Raina dan Nino kembali berjanji, desa ini pula yang menjadi saksi Dika memberanikan diri menyatakan cintanya pada Raina, Desa inilah saksi dimana Raina memulai hubungannya dengan Dika.


Raina celingukan tapi ia tak menemukan Nino, Dika meraih tangan Raina, dan menggenggamnya. Raina menoleh sambil tersenyum pada Dika, saat Dika membawa tangan Raina dan mengecupnya, Raina hanya bisa menerimanya saja.


Raina memang tak bisa melupakan Nino, bahkan setiap bersama Dika, wajah Nino selalu ada di pandangannya, tapi kenyamanan dan rasa aman bisa Raina dapatkan dari Dika. Nino benar, ia harus bisa move on. Sahabat? not bad ! no, not a friend, he is her soul...


Raina menyenderkan kepalanya di bahu Dika, tapi Dika malah merangkul Raina, membiarkan Raina bersandar nyaman di dadanya. Kehangatan dan ketulusan Raina rasakan.


"Bantu gue buat move on, kang !" benaknya, hingga Raina terlelap dalam dekapan laki laki ini.


*****************


"Neng !!" bibi menghambur memeluk majikan kesayangannya ini.


"Bi, mamang !" Raina membalas pelukan hangat keduanya.


"Alhamdulillah, neng Rain sudah sembuh !" serunya terharu, karena terakhir dipandangannya, gadis ini terlihat mengenaskan.


"Bibi dari mana? pengajian?" tanya Raina mengerutkan dahinya.


"Masuk dulu deh, pasti sudah pada capek ! bibi sudah masak, yu masuk !" ajak bibi pada yang lain. Rumah Raina sudah seperti basecamp mereka.


"Asikkk !!! bibi tau aja kalo kita lagi laper !!" ujar Romi, tanpa menunggu lama Romi, Tria, Fadly dan Ve masuk, begitupun dengan Gea. Yang lain sibuk dengan makanan seraya sesekali tertawa oleh candaan Romi dan Tria.


"Bi, di depan kompleks ko ada bendera kuning, siapa yang meninggal?" tanya Raina.


"Bagas neng, " Raina menghentikan kunyahannya.


"Hah??! meninggal ?!" hampir semuanya terkejut lalu terdiam, padahal sedang asyik asyiknya bercanda.


"Uhukk, karma.." gumam Tria.


"Hush !" Dika menepuk tangan Tria.


"Iya neng, setelah kecelakaan itu, dia koma tadi subuh dia meninggal !" jawab bi Kokom.


"Rain, mau melayat bi ! apa sudah dikubur?" tanya Raina.


"Sepertinya belum neng, masih menunggu sanak saudaranya, " jawab bibi.


"Kalo gitu Raina mau melayat bi, "


"Udah ga waras ya Ra, dia yang jahat sama loe loh ! " ucap Ve.


"Udah gue maafin Ve, lagian jangan suka mempersulit orang yang udah meninggal, dia cuma butuh kelapangan kita sama maaf doang."


"Huu ! begini nih kalo ngobrol sama mak lampir, bawaannya dendam !" sarkas Fadly pada Ve.


"Kamvreet !" Ve melempar kulit pisang pada Fadly.


Dika dan Nino tersenyum mendengarnya, sebaik itu Raina pada orang lain.


"Aku ikut, " jawab Dika.


"Hm, pokcecif !" gumam Romi, meledek sahabatnya yang baru menyandang status baru ini.


"Maklum Rom, masih anget angetnya kaya bolu dadakan !" jawab Tria. Tapi ocehan kedua temannya ini tak di dengar Dika.

__ADS_1


"Presiden jomblo udah nemu tulang rusuknya, akhiwww !" goda Fadly dikekehi Ve dan Gea.


"Rain ganti baju dulu, " gadis ini naik ke lantai atas, lalu berganti pakaiannya.


"Honey, " sapa Nino yang sudah berada di kamar Raina. Raina tiba tiba menangis lalu menghambur ke pelukan Nino.


"Kenapa?" tanya Nino.


"Bagas meninggal No, " jawab Raina.


"Iya honey, aku tau." Nino mengusap kepala Raina lembut, mungkin hal ini akan dirindukan Nino.


"Dika sudah nunggu, cepat ganti bajumu !" Nino mengurai pelukannya, lalu melayang ke arah luar. Raina mengambil dress baby doll hitam selututnya dengan lengan panjang dan scarf hitamnya. Raina turun dengan memakai flatshoesnya, tampak anggun.


"Yu kang, "


Keduanya masuk ke dalam rumah Bagas, disana jasad yang sudah dibungkus kafan terbujur kaku di tengah tengah rumah. Sepertinya ibu yang tengah menangis itu adalah ibunya,


"Ibu, Rain turut berduka, " ucapnya. Ibu itu mendongak, rasanya ia pernah mendengar nama Raina dari Bagas.


"Kamu yang bernama Raina? tetangga depan rumah Bagas?" tanya nya sesenggukan.


Raina melirik Dika yang ada di sampingnya. "Iya bu, ibu tau?" tanya Raina.


"Cantik ! beberapa hari lalu Bagas bercerita, katanya ia sedang dekat dengan tetangganya bernama Raina, malahan akan segera mengenalkan Rain sama keluarga ?!" tangisannya semakin menjadi.


Raina tersenyum getir, lalu melirik Dika yang hanya bisa mengulum bibirnya.


"Raina turut berduka ya bu, semoga mas Bagas diterima amal ibadahnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, " ucap Raina memeluk ibunya Bagas, tak sampai hati ia mengatakan semua yang terjadi pada ibunya Bagas. Raina pamit undur diri.


"Cie !! ada yang udah mau dikenalin sama keluarga calon mertua, mas Bagas !" goda Dika.


"Ga usah ngaco kang ! yang ada Rain dibawa ke dunia astral, disuruh ngelamar jadi penerus nyai kembang !" jawab Raina mendumel dengan mulut yang manyun, Dika tertawa puas.


"Kalo dikenalin sama calon mertua yang lain mau gak?" tanya Dika menaik turunkan alisnya.


"Rain masih mau fokus kuliah, udah pertengahan ! bentar lagi ngurusin skripsi !" jawabnya, berlalu masuk ke rumah. Dika masih harus bersabar untuk itu.


"Santuy Dik, baru aja mulai, ga usah terlalu ngegas!!" gumamnya pada dirinya sendiri.


"Gimana apanya? orang mati ya baringan lah !" jawab gadis itu duduk mencomot anggur di meja.


"Maksud gue ada yang aneh atau apa gitu, misalnya kaya kainnya berd4r4h terus atau kuburannya susah digali?" tanya Gea, korban sinetron azab taun 2000an.


"Dipikir film, engga lah ! biasa aja !" jawab Raina.


"Rain ketemu calon mertua yang ga jadi !" goda Dika.


"Hah? calon mertua siapa?!" tanya Ve.


"Ibunya Bagas !" jawab Dika lagi.


"Ga usah mulai deh kang, " Raina melemparkan bantal sofa pada Dika, yang langsung ditangkap Dika.


" Katanya mas Bagas mau ngenalin Raina si tetangga cantik sama keluarganya, " goda Dika lagi.


"Dih, cemburu ya !!! cemburu sama yang udah ga bernyawa !" jawab Raina.


"Hmm, baru juga jadian..masa udah mau perang !" ujar Gea.


"Perangnya gue ntar di ranjang Ge, " jawab Dika.


"Dih, mulutnya..minta di laundry ! " dengus Raina, wajahnya memerah di tertawai dan digoda habis habisan oleh Dika dan teman lainnya.


"Wah, udah main ranjang ranjangan mah udah obrolan 21+ atuh, " goda Tria mengompori.


"Umur gue udah 27 Tri, " jawab Dika.


Raina maju, hendak menghakimi Dika yang memulai obrolan random ini.


"Iya, ditawarin ketemu si mamah katanya masih mau ngurusin kuliah, gue jabanin !" ucap Dika.


"Bisa diem ga kang, mulutnya !" Raina memukul mukul Dika dengan bantal sofa yang tergelak puas melihat wajah kikuk Raina.

__ADS_1


"Assalamualaikum !" seseorang dari luar mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam, " Raina melongokkan kepala ke arah pintu.


"Siapa?" tanya Dika. Raina menggidikan bahunya. Lalu ia melepaskan scarf yang dikalungkan di lehernya, dan membuka pintu.


"Pak Yuda ?!" ucap Raina.


"Raina?! saya dengar kamu sakit ?!" tanya nya lagi.


"Eh, iya pak. Maaf jadi menghambat proses bimbingan skripsi !" jawab Raina. Pak Yuda pasti tau dari bibi yang menelfon pihak kampus.


"Masuk dulu pak, " ajak Raina.


Teman temannya melongokkan kepala ke arah ruang tamu.


"Bi, tolong bikinin minum ya !" pinta Raina.


"Saya tak sengaja mampir kesini, ini saya bawa buah buahan, jika sudah siap memulai lagi bimbingan, datang saja ke kantor !" ucapnya. Raina mengangguk,


"Silahkan pak, " bibi menaruh gelas teh manis hangat.


"Terimakasih bu, Raina saya tak bisa berlama lama, masih banyak pekerjaan, " ia menyeruput teh manisnya lalu beranjak.


"Iya pak, terimakasih sudah repot repot datang !" jawab Raina mengantarkan dosen nya ini keluar dari rumah, tapi matanya menyipit mana kala melihat seseorang berada di bangku samping pengemudi mobil pak Yuda.


"Bapak kesini sama siapa?" tanya Raina.


Pak Yuda berbalik, "sendiri, memangnya kenapa?!" Raina terkejut.


"Ahh engga pak, hati hati.." jawab Raina.


"Saya selalu hati hati, " jawabnya angkuh seperti biasa.


Raina menghela nafasnya, hidupnya tak pernah jauh jauh dari hal berbau tak kasat mata begini.


"Hm, kasus baru ya honey ?!" kekeh Nino berdiri di sebelah Raina.


"Iya, capek !" jawabnya melihat kepergian pak Yuda.


"Sabar honey, aku masih disini !" kembali senyum sejuta watt nya.


"Uwuuu terharu !!" ucap Raina menggemaskan membuat keduanya tertawa.


"Siapa sayang?!" tanya Dika.


Raina berbalik dan Nino menghilang.


"Dosenku pak Yuda, calon rektor !!" ucap Raina melengos masuk.


"Kenapa?!" tanya Dika melihat wajah suntuk Raina.


"Selain aku yang akan menghadapi masa masa sibuk kuliah ke depannya, aku liat ada hal lain juga, udah sejak lama aku liat keganjilan ini, " adu Raina.


"Keganjilan apa?" tanya Dika ikut duduk di samping Raina.


"Aku rasa pak Yuda selalu diintilin sosok perempuan deh !" jawab Raina.


Dika tertawa renyah, "sabar ya sayang, aku pasti bantu !" Dika menggenggam tangan Raina dan mengecupnya.


"Emh..emh...tuh kan..!! terus aja oyyy !! disini jomblo semua !!" pekik Ve.


"Loe pada pulang gih !!" usir Dika.


"Loe yang pulang Dik, lama lama kalo disini loe bisa khilaf, " jawab Fadly.


"Kalo khilaf tinggal kawin !" jawabnya enteng, Raina menepuk bahu lelaki di sampingnya ini. Dika tergelak, ia senang menggoda gadisnya ini. Sudah seperti candu bagi Dika melihat Raina merona dan juga kesal, menggemaskan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2