
"Raina, " panggil Gea.
Raina berdiri di luar rumah pak Sarif menatap jauh ke perkebunan teh. Gadis itu berbalik.
"Ya?"
Adry sudah menceritakan semuanya, Gea tiba tiba berlutut di hadapan Rain, membuat Raina terkejut.
"Atas nama ayah, gue mau minta maaf !" ia menangis. Raina tersenyum, bukan salahnya.
"Bukan salah loe, salah keserakahan ayah loe. Insyaallah gue ikhlas Ge, Nino bilang itu sudah menjadi suratan takdir," matanya berkaca kaca melihat Nino yang berada di belakang Gea.
Gea memeluk Rain, "maafin gue juga yang ga tau, Rain!" ucapnya. Rain membalas pelukan Gea.
"Semua sudah berlalu Ge, loe ga apa apa kan Ge?" Gea mengusap pipinya yang basah dan menggeleng tersenyum.
"Kali aja loe jadi hilang ingatan abis pisah raga sama sukma, atau loe yang ga mau balik karena pengen bareng Adry !" jawab Raina.
"Engga lah, sempet kepikiran sih, tapi Adry larang gue ! dia bilang kita masih bisa ketemu nanti kalau sudah jodohnya di dunia yang kekal katanya, dia bakal nunggu gue disana, " Gea menangis tergugu, ia sudah tak dapat melihat lagi Adry, semalam adalah pertemuan terakhir mereka.
"Ahh...so sweet, boleh nangis ga sih gue ! jadi pengen guling guling sambil nari India deh !!" kekeh rain membuat Gea tertawa dalam tangisnya.
Rain kembali memeluk Gea, merasakan sesak yang Gea rasakan, apakah nanti ia pun akan sama seperti Gea, harus berpisah dengan Nino.
"Peluk pelukan gue ga diajak !" Dika keluar dari dalam rumah pak Sarif.
"Engga, loe mah keenakan !" dengus Rain.
"Kang, udah siang..sebaiknya kita pulang !" ucap Rain.
"Gue mau jual rumah Rain, gue udah ga mau tinggal disana lagi !" Raina mengiyakan setuju, disana terlalu banyak makhluk yang akan mengganggu Gea. Ditambah kenangan buruk yang akan membuat Gea terpuruk.
"Gue mau memulai hidup yang baru, gue mau cari kost kostan !" jawab Gea.
"Ide bagus !!" lirih Rain.
"Loe dah kerja?" tanya Rain. Gea menggeleng
"Tapi gue akan cari, gue sarjana lulusan akuntan ko !" jawabnya.
"Kalo gitu lamar aja di pabrik itu ! kebetulan bu bos lagi butuh sekertaris !" jawab Rain. Gea membelalakan matanya.
"Serius !! pabrik itu lagi nerima lowongan jadi sekertaris?? tapi gue belum punya pengalaman kerja !" ucapnya merengut.
"Gampang itu mah, gue kedipin aja bosnya pasti luluh !!" jawabnya. Gea tak tau saja bahwa saat ini ia sedang bicara dengan bosnya.
"Makasih Ra, ga nyangka bisa ketemu orang sebaik loe !" lirih Gea.
__ADS_1
"Gue jahat loh, bokap loe aja sempet gue tonjokin sampe berda*rah dar*ah ! " jawab Rain terkekeh.
Ada 3 pasang mata lelaki yang melihat senang pada mereka,
"Human kesayangan gue !" Nino menatap Raina ada rasa getir karena tak bisa memilikinya.
Adry tersenyum, pada akhirnya Gea menemukan seseorang yang baik seperti Rain, dan ia pun memilih orang yang tepat untuk menolongnya. Tak ada lagi yang perlu ia khawatirkan.
"No, thanks ! sepertinya meskipun gue akan terikat di dunia ini, sudah tak ada lagi urusan yang gue khawatirkan. Gea sudah menemukan jalan hidupnya !" ucap Adry.
"Mungkin gue akan sering sering nengok kalian !" jawab Adry.
"Sama sama, Raina adalah orang yang baik. Gea beruntung bisa berteman dengannya. Jadi loe tenang aja, "
"Masih banyak urusan gue, dry. Raina belum bisa menerima seseorang selain gue. Meskipun ada seseorang yang sangat menyayanginya ! masih banyak juga makhluk yang ingin menyakiti Raina. Dan Raina masih membutuhkan gue !" jawab Nino.
Adry mengangguk paham.
**************
Qirei enggan bertemu dengan Tria kakanya, ia menyembunyikan tubuh kecilnya di badan ibunya.
"Qirei kenapa?" tanya ibunya saat Tria keluar, Qirei tampak menatap ngeri dan ketakutan. Kejadian tadi jelas terekam di otak kecilnya. Se sosok perempuan melotot ke arahnya, urat urat matanya merah mengarah padanya, senyuman lebar memperlihatkan mulut yang sobek dan gigi gigi yang runcing. Belum lagi kulit mukanya yang turun dan kisut seperti meleleh. Ditambah gunung kembar yang besar menjuntai menutupi perut terlihat membusuk dan banyak belatung. Qirei menarik narik daster ibunya.
"Bu, Qirei takut ka Tria !! serem !!" cicitnya.
"Kenapa??" tanya ibunya sejak tadi sudah frustasi membujuk Qirei agar tak berteriak dan menangis.
"Nene siapa ??" tanya ibunya semakin bingung, sejak kapan di rumahnya ada nene nene.
"Itu nene yang nemplokin ka Tria !! rambutnya kaya aromanis ! kusut !" jawab Qirei lagi.
"Qirei habis nonton apa?" tanya ibunya, rasanya Qirei tidak pernah mengenal film berbau horor, tontonannya hanya seputar si botak kembar, beruang dan gadis berkerudung pink ataupun si kotak kuning.
"Neneknya mau tet3k in ka Tria bu !! ngajak ngajak Qirei buat ikut !" jawab Qirei.
"Ikut kemana??" tanya ibunya.
"Ikut ke rumahnya, mau momongin Qirei biar bobo !" jawab Qirei.
Tria memanggil Qirei, karena usil Tria biasanya mengejutkan Qirei.
Tria mengendap endap dan berusaha mengejutkan bocah yang sedang bermain boneka di halaman depan.
"Darrr !!!" Tria mengejutkan dengan datang secara tiba tiba, Qirei menatapnya sangat terkejut dan sekaligus menangis.
"Aaaaaa !!! pergi !!! pergi !!!" Qirei terjerit jerit, sontak Tria kebingungan dan memeluk Qirei, tapi anak itu berontak, tidak seperti biasanya ia akan bermanja manja jika Tria ada di rumah.
__ADS_1
"Hey, hey, Rei kenapa?? ini ka Tria ??" ia tersenyum lebar sambil merentangkan kedua tangannya.
Qirei menggeleng dan masuk ke dalam rumah. Tria menggaruk garuk kepalanya tak gatal, bingung dengan sikap adik kecilnya.
.
.
"Siang mah !" Tria duduk di meja makan.
"Siang, makan dulu deh, ko kayanya kamu keliatan pucat, sakit?" tanya ibunya.
"Engga tau mah, badanku sakit sakit semua ! capek gitu kaya abis jalan jalan 7 hari ga berenti berenti. pundak Tri, sakit mah !" ia sama sekali tidak bisa membalikkan lehernya.
"Salah posisi tidur kali !!" jawab ibunya.
"Mungkin, " Tria menyendok nasi ke piringnya.
***********
"Kamu disini dulu ya desy !!" Qirei menaruh boneka barbienya di kursi kursian plastik, dan menaruh gelas di meja depannya, ia berpura pura menuangkan air teh dari teapotnya.
"Enak kan desy ??!" tanya Qirei seraya berpura pura menyeruput gelas teh bagiannya, ia sedang bermain dengan bonekanya di kamar. Tiba tiba terdengar suara lemari pakaianya yang terbuka sendiri.
.
.
"Kreekkk !!" decitan pintu lemari kayu terdengar.
.
.
.
"Teh punya nene mana ?? pulang sama nene yuu ! nene nina boboin, " bisiknya parau pada Qirei. Sosok itu ada di kamarnya dengan kuku kuku tangan yang panjang dan bungkuk berjalan ke arah Qirei. Bahkan bukit kembarnya merontokkan belatung ke atas lantai keramik kamar Qirei. Jauh dari kata seksi. Mata melotot yang menatap tajam Qirei, tak tau ia sedang marah atau tersenyum karena mulutnya yang sobek menampilkan gigi gigi runcing yang berda*rah da*rah.
"Aaaaaaa !!!! mamah !!!" Qirei berlari melewati pintu kamar yang terbuka. Ia menubruk ibunya yang ingin menghampiri. Qirei menangis, "mamah, nene itu ada di kamar !!" sesenggukannya.
"Astaga, nene lagi??! nene mana ??" ibunya kesal karena sedari tadi Qirei membicarakan nene nene.
"Nene siapa mah? Qirei ko aneh mah ?" tanya Tria.
"Mamah ga tau, dari tadi pas datang kamu, Qirei ketakutan, nangis jerit jerit katanya takut nene, ada nene nene nempelin kamu."
"Hah??!!" Tria mengernyitkan dahi, hampir ia tersedak sambal.
__ADS_1
.
.