Guardian Ghost

Guardian Ghost
Gendong pulang


__ADS_3

Rain hanya menyampaikan yang bisa ia sampaikan, ia belum paham betul apa yang sedang terjadi sekarang. Sudah 2 kali ia sampai harus masuk rumah sakit, tidak ada makhluk halus yang dapat membunuh manusia secara langsung, memang benar adanya. Tapi mereka bisa membunuh manusia secara perlahan, karena kecerobohan manusia itu sendiri.


Rain terpaksa memakai baju biru khas pasien rumah sakit. Hampir semua pakaian yang dibawa bi Kokom adalah t- shirt dah susah untuk Rain kenakan.


Dokter hanya tau Rain diserang oleh hewan liar, terbukti dari cakaran dan luka luka lebam di tubuhnya.


"Gue pengen ke toilet Ge, " ucap Raina.


Akhirnya Gea tau jika Rainlah bos pabrik teh itu, setelah ia melihat kartu nama Raina yang pernah Rain berikan dulu. Ia baru mengingat dan melihatnya.


"Loe ko ga bilang sih Ra, kalo loe pemilik pabriknya?" Gea setia menemani Rain, saat bi Kokom dan mang Nurdin memutuskan untuk pulang.


"Gue bukan pemilik sepenuhnya, masih ada hak om Harsa juga disana,"


"Hem.. gitu," jawab Gea membantu Rain masuk ke toilet.


.


.


"Loe dah nemu kost kostan yang loe cari Ge??" tanya Rain.


"Udah, cuma rumah kontrakan sih Ra, tapi gue betah ko !" jawabnya.


"Syukur deh, rumah loe??" tanya Rain.


"Gue udah pasang label dijual, walaupun sampai sekarang belum ada yang beli. Dan rumah malah terkesan jadi kaya rumah hantu !" jawab Gea. Memang rumah itu banyak penghuninya, siapa orang gila yang berani membelinya.


"Gue do'ain semoga cepet laku ya Ge !" jawab Rain. Gea mengangguk.


"Adry??!" tanya Rain hati hati.


"Adry udah tenang disana Ra, gue juga udah ikhlas !" jawabnya terisak, Rain tau susah untuk seseorang yang sangat mencintai untuk merelakan kepergian orang yang dicintainya. Itu pula lah yang mungkin nantinya akan terjadi pada Rain.


"Sabar ya Ge, gue salut loe kuat ! gue sendiri ga tau kalo sampe itu terjadi sama Nino, apa gue bakal sekuat loe??" jawab Rain memeluk Gea.


"Iya, gue yakin loe juga kuat..gue disini Ra, kita saling menguatkan ya !" jawabnya.


Rain kembali duduk di ranjangnya, berbaring malah membuat punggungnya sakit.


"Gue takut Ra, " ucap Gea.


"Takut apa Ge?" tanya Rain.


"Sebenarnya gue masih bisa merasakan keberadaan mereka meskipun Adry sudah tidak disini ! gue ko ngerasa dari tadi ada yang bareng sama kita ya!" jawab Gea.


Rain tersenyum, "tenang aja mereka justru jagain kita, malah Adry ada disini Ge !" jawab Rain, sontak Gea terkejut,

__ADS_1


"Adry, Ra??!!" tanya Gea.


"Iya, Ge..dia ada buat jagain loe juga !" jawab Rain. Seketika Gea menangis, Adry ada disana menemani Gea, Gea dapat merasakan itu.


"Gue kangen Ra, sama Adry !" jawab Gea terisak.


"Aku juga kangen yank !" bisik Adry. Gea terjengkat.


"Adry !!" ucap Gea.


.


.


.


Dika, Nino dan Tria mendatangi kontrakan Romi. Ketiganya terburu buru kesana.


"Rom !!" Dika mengetuk ngetuk pintu kontrakan Romi. Tak ada jawaban dari Romi. Dari kamar kontrakan depan, keluarlah seorang wanita paruh baya.


"Dari 2 hari yang lalu mas Romi ga keluar keluar mas, ga tau pergi atau kemana !" ucapnya.


Tapi mereka tau jika Romi ada di dalam.


"Romi ada di dalam Ka, " bisik Nino.


"Coba buka pintunya aja mas, " ucap si ibu. Dika dan Tria mengangguk. Keduanya memegang handle pintu, dan mencoba membukanya, tapi nihil. Pintu terkunci dari dalam. Hanya dengan sekali putaran jari Nino, pintu terbuka.


Keduanya masuk dan mencari Romi. Rumahnya begitu berantakan, gelap. Tria dan Dika membuka bukakan gorden, pintu dan menyalakan lampu.


"Rom !!" panggil mereka.


Nino melayang menuju kamar mandi, diikuti Dika.


"Astaga Romi !!" Romi tergeletak tak berdaya dengan badan yang sudah basah kuyup, hampir saja badannya tenggelam dalam bak mandi. Dika dan Tria mengangkat tubuh Romi, sama halnya dengan Raina, Romi tak lebih baik. Sudut kamar mandi pun terdapat bercak da*r@h milik Romi, pertanda Romi pun mendapat serangan dari wewe itu.


Cakaran, dan lebam di tubuhnya. Ditambah perut Romi menggembung membuncit.


"Rom, Rom...sadar Rom !!" Dika menepuk nepuk pipi Romi.


Tria bergidik ngeri, ia masihlah beruntung tidak seperti Romi, setelah mengungsikan dahulu ibu dan adiknya ke rumah kakanya yang tak jauh dari rumah, Tria langsung meluncur kesini. Ayah Tria bekerja di luar kota.


Romi terbatuk, tapi batuknya seperti ingin memuntahkan sesuatu. Dika mendudukannya, mereka terjengkat kaget, Romi terbatuk dan memuntahkan sesuatu yang menjijikan.


"Sat !! " Dika dan Tria sampai ikut bergidik jijik, terang saja Romi memuntahkan da*r@h, n@*nah dan bela*tung.


Romi tidak berhenti sampai semua isinya habis, dan itu terlihat dari ukurannya perutnya yang mengempis. Rupanya Romi meminum isian dari kedua buah gunung sintal.

__ADS_1


Dika meraih kerah baju Tria kesal, "loe berdua sekarang tau kan, kalo gue bilang ga usah banyak ba*cot. Jaga tuh mulut loe berdua !!" bentak Dika.


"Sorry Ka, gue emang salah !" Tria menunduk menyesal.


"Apa yang loe berdua bilang tempo hari sepulang dari tempat Wira ??!!" tanya Dika, ia sudah sangat menahan amarahnya. Jika kalau bukan karena kecerobohan mereka, Rain, Qirei bahkan mereka sendiri tidak akan mengalami kemalangan ini.


"Gue...gue becanda bawa gendong mereka!" jawab Tria.


"Terus??" tanya Dika melotot.


"Romi yang kencing disana, karena udah kebelet !" jawab Tria.


"Sin*+ing loe berdua !!" jawab Dika marah. Romi kembali terbatuk, ia terkulai lemas dan Dika mengambilkan air hangat di tempat minum otomatis.


"Minum dulu, pake bismillah !" ucap Dika.


Belum mereka tenang, dari arah kamar mandi terdengar suara benda jatuh sangat keras, sampai sampai tetangga mendengar dan bertanya.


"Ada apa mas??!" pekiknya.


"Ga apa apa, bu ! Romi cuma sakit, mau kita bawa berobat !" jawab Tria keluar agar tak memancing keramaian.


"Tri, jaga Romi sebentar !" Romi yang masih memakai t-shirt dan boxer pendek basah kuyup hanya di selimuti saja.


Nino menangkap dan menjatuhkan si nene ia memelintir tangan si nene. Sudah cukup, caranya menegur manusia sudah kelewatan.


"Saya minta kamu pulang !!" bentak Nino.


"Saya tidak mau pulang jika tidak diantar sesuai ucapan yang mereka katakan. Mereka lah yang membawa saya !!" jawabnya.


Raina, Qirei dan ibu Tria bukanlah pihak bersalah, tapi seakan tidak mau tau, si perempuan ini hanya ingin membalas Romi dan Tria.


"Loe berdua yang sudah membawa si wewe ini kesini, kalian pula yang mengotori rumahnya. Kalian jugalah yang harus membawanya pulang !" jawab Dika, yang sudah diberitahukan Nino. Romi dan Tria saling pandang, mereka menelan saliva berat.


Akhirnya keduanya menyetujuinya, dengan beban si nene yang digendong Tria, melihat keadaan Romi lemah dan parah.


Dika segera mengambil mobilnya, ia bersama Tria, dan Romi juga Nino yang menemani langsung tancap gas menuju bukit dimana tempo hari mereka mengalahkan Wiradaya.


Dari kaca spion pengendara, Dika melihat Romi dan Tria di bangku belakang di rangkul oleh si nene yang menyeringai, berjuluk wewe gombel ini.


Tria meringis kesakitan ditemploki nene ini, sedangkan Romi hampir tidak sadarkan diri.


Dika membawa mobil seperti orang keset*@nan, hampir saja ia menabrak kucing hitam. Hatinya tak enak, apa yang akan terjadi ke depannya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2