
Ia berjalan setengah menyeret kakinya, tatapan gadis itu kosong.
Tria sudah memundurkan langkahnya, begitupun Raina yang sudah memegang lengan Dika kuat. Tapi Raina tau, Lala hanya menampakkan saja wujud tanpa berniat mengganggu, ia hanya menyuarakan saja keluh kesahnya, apa yang ingin ia sampaikan. Raina meloloskan nafas berat.
"Dia bukan mau ganggu yank, dia cuma mau berkomunikasi aja, " ucap Dika.
"Komunikasi sih komunikasi, tapi ga pake mewek, merinding gue !" gumam Tria.
"Kalo ketawa loe lebih merinding Tri, bisa bisa loe ngompol di celana, " jawab Dika.
Raina berjalan maju, "La, gue cuma mau bantu aja ! biarin gue sama temen temen gue lewat, " ucap Raina.
Lala menghilang seketika, Raina lalu berlari menuju ruang arsip.
"Ka Tri, ini ruangannya !" seru Raina.Tria segera membuka tasnya, mencari cadi linggis di minimnya penerangan, ia terlihat mencongkel congkel gembok, mencoba membobol gembok yang mengunci ruangan ini. Di tengah penantian mereka atas usaha Tri, Raina merasakan hawa Lala kembali. Benar saja arwah gadis itu menghampiri kembali
"La, gue mohon jangan ganggu dulu ! gue cuma mau bantu !"
"Kamu menyukai Yuda?!" tanya nya setengah berbisik. Tatapan kosong itu mulai sedikit dipenuhi kebencian, Lala maju dengan cepat seperti melayang. Gadis itu mencekik Raina.
"Lala !! lepasin Raina !" ujar Dika. Tria yang panik menjatuhkan linggisnya, hingga terdengar suara nyaring. Sontak saja mereka kelimpungan mencari tempat sembunyi, karena satpam mendengarnya dan mencari cari asal suara.
"Suara apa itu Jon?"
"Ndak tau ! setau gue sih memang kampus kita ini berhantu, ihhh seremm !"
"Cabut aja Jon !!" pekik satpam satunya sudah berlari tunggang langgang.
Rambut Raina kembali ditarik oleh Lala,
"Maksud loe pak Yuda? gue ga pernah menyukai ataupun berniat suka sama pak Yuda ! hubungan gue sama pak Yuda hanya sebatas mahasiswa dan dosen."
Lala melepaskan rambut Raina,
"Kamu ga apa apa kan Ra?!" tanya Dika melihat Raina.
Pintu terbuka, Raina segera masuk bersama Dika dan Tria, mereka mulai mencari file angkatan tahun 2010, tapi tak ada mahasiswi bernama Lala.
Sorot lampu senter tertuju pada setiap lembaran data mahasiswa, sudah hampir sejam mereka mencari tapi tak pernah menemukan file yang diinginkan.
Raina hampir putus asa. Sementara Dika dan Tria masih mencari, lewat komputer yang ada disana juga.
Raina menenggelamkan kepalanya di lipatan tangannya, belum lagi keputusan om Harsa yang mengganggu pikirannya. Di tengah tengah kacaunya pikiran terbersit satu nama di otak Raina.
"Mila, Karmila !!" Raina segera mencari huruf K.
"Ka Tri, sayang...Karmila !" akhirnya Raina menemukan data Karmila. Sosok Karmila yang ia kenal beberapa minggu belakangan ini.
Setelah menemukan file ini, mereka mencari alamat Karmila. Hari sudah hampir pagi. Mereka juga sudah sampai di rumah Raina.
"Ka Tri, thanks udah bantuin ! " ucap Raina.
"Sama sama, " jawabnya.
"Kapan kapan kita kalo jadi pengangguran bisa kali jadi gerombolan perampok !" kekeh Tria.
"Ogah !!" jawab Raina.
"Amit amit !" jawab Dika.
"Gue balik dulu deh, ngantuk, ntar gue diomelin pimpinan program kalo telat !" matanya memicing pada Dika, yang dihadiahi dorongan pelan di bahunya.
"Oke thanks Tri, ntar gue traktir deh !" jawab Dika.
"Kamu mau pulang atau mau istirahat dulu?" tanya Raina pada Dika.
"Kayanya mau pulang dulu, kasian mamah sendiri."
"Ya udah makasih ya, istirahat aja, salam buat mamah !" jawab Raina.
__ADS_1
"Sayang, " panggil Dika.
"Iya, "
"Kapan om kamu kesini?"
"Kurang tau, nanti aku coba telfon deh !"
"Oke kabarin ya !" Raina mengangguk, mengantar Dika sampai ke ambang pintu lalu ia masuk ke dalam, membaca setiap lembar data Karmila.
Siang ini harus kembali ke rumah Dita, memastikan jika Karmila adalah Lala. Feeling Raina jarang meleset. Setidaknya sedikit ia mengenali wajah wanita semalam.
"Ada hubungan apa Karmila sama pak Yuda?" lantas Raina mengingat dulu Karmila pernah ada di rumah pak Yuda.
**************
Siang ini selepas pulang kuliah Raina benar benar kembali ke rumah Dita.
"Bang, ada Rain !" ucap Dita.
"Ka, kali ini Rain bener bener minta tolong sama Ka Hafiz, " ucapku.
"Apa?" tanya nya.
"Jawab sejujur jujurnya, apa ini Lala?" tanya Rain menunjukkan foto Karmila. Hafiz terkejut.
"Ka ?"
"Iya, itu Lala !" jawab Hafiz. Raina mencelos, ia memijit keningnya, jadi benar selama ini ia selalu bertemu hantu Karmila, jadi Karmila itu sudah tiada?
"Karmila ini selalu datang ke Rain ka, inget ngga, dulu Rain pernah cerita sama ka Hafiz mau ngenalin temen Rain namanya Mila ?" tanya Raina.
"Iya, "
"Itu Karmila ka, alias Lala !" jawab Raina lagi.
"Lala emang seneng baca buku sama dengerin lagu pudar di bawah pohon di taman kampus, dia selalu bilang itu lagu hits sepanjang masa ! dan dia suka !" jawab Hafiz.
Raina menyandarkan punggungnya di sofa.
"Apa yang terjadi ka? gue mohon jangan ada yang disembunyiin lagi !" ucap Raina.
"Dia meninggal, kalo dari bukti bukti yang ditemukan menyatakan kalo dia bunuh diri, " Hafiz tertunduk lesu.
"Dia dijodohin sama ortunya, tapi calon suaminya ini temperamental, cemburuan dan kasar, dia nentang. Lagipula dia sudah memiliki kekasih, " jawab Hafiz.
"Pak Yuda?" tanya Raina, Dita terkejut.
"Hah???! si dosen killer itu??" tanha Dita.
"Darimana kamu tau ?!" tanya Hafiz.
"Dari Lala sendiri !"
"Gue ga tau ada apa, hanya sehari sebelum kejadian orangtuanya Lala nelfon gue, nanyain Lala dimana..mereka maksa gue, malah nuduh gue udah sekongkol sama pak Yuda buat bawa Lala kabur !" jelas Hafiz.
"Terus?"
"Ya akhirnya gue bilang kalo Lala di rumah pak Yuda."
"Pantesan aja ka Lala bilang loe jahat bang, loe ember sih !" timpal Dita.
"Gue ga tau gimana lagi, yang gue tau besoknya Lala ditemukan bunuh diri di kamar mandi pojokan kantin itu ! orangtuanya sih nuduh pak Yuda, tapi belum cukup bukti, jadi pak Yuda dinyatakan ga bersalah !" jawab bang Hafiz.
"Tapi kalo menurut gue bukan pak Yuda pelakunya !" jawab Raina.
"Apa kita harus tanya pak Yuda dulu Ra?" tanya Dita.
"Harus, biar semua clear Dit, "
__ADS_1
"Kalo gitu, gue ikut ! setidaknya ini adalah bentuk rasa pertemanan gue sama Lala !" jawab Hafiz.
"Tapi loe masih sakit bang " ucap Dita.
"Gue udah ga apa apa, dek !" jawabnya.
"Kapan mau ke rumah pak Yuda ?" tanya Dita.
"Kayanya gue sama ka Hafiz aja deh Ta, takutnya kalo rame rame pak Yuda malah ga mau cerita, " jawab Raina.
"Yaaaa, padahal gue kepo banget !" keluh Dita.
"Kayanya besok aja deh ka, sekarang udah sore juga ! gue mesti kerja, gue pamit ya Ta, ka Hafiz !" ucap Raina.
"Ya udah hati hati Ra, " ucap keduanya.
"Bye !!"
*****************
Raina duduk di kursi kantin tempat kerjanya, Dika yang baru selesai meeting dengan pemimpin Redaksi keluar dan menghampiri Raina.
"Gimana? dah dapet info?" Dika menyalakan sebatang rokok.
"Baru setengah, Karmila yang ku kira mahasiswi ternyata dia Lala, arwah semalam."
"Terus?"
"Terus aku lapar !" jawab Raina, Dika tertawa.
"Kamu belum makan? ini udah sore," Raina menggeleng.
"Belum sempet, "
"Sesibuk sibuknya kamu, ga boleh telat makan ! atau aku ga ijinin kamu urusin masalah beginian lagi !" jawab Dika sarat akan perintah.
"Iya, "
Dika memesan makanan untuk Raina, ia tak membiarkan gadis itu memesan sendiri. Karena yang akan dipesannya pasti mie instan.
"Nasi, sama sayur dan ayam ! ga ada mie mie an !" ucapnya. Raina mengerucutkan bibirnya, padahal di otaknya mie instan dengan telur dan sayur juga taburan potongan rawit sudah menggoda imannya.
"Kenapa manyun? mau disuapin?" tanya Dika terkikik.
"Engga, " Raina segera meraih piring makannya dan melahapnya.
"Karmila pacaran sama pak Yuda, " ucap Raina.
"Tapi kayanya ga direstuin ortu Lala, soalnya si Lala di jodohin, sayangnya si calon temperamental, kasar sama cemburuan !" jelas Rain lagi seraya mengunyah makanannya.
"Eh yank, dulu waktu ke rumah pak Yuda aku sempet liat Mila, dia keluar dari salah satu kamar pak Yuda, katanya dia itu kamarnya dia, uhukkk uhuukkk !" Raina terbatuk.
Dika tertawa seraya menyerahkan segelas air, "makan dulu jangan sambil ngomong !"
"Pedes pedes !!! " karena Raina membubuhkan sambal di sendok makannya.
Dika menepuk nepuk punggung Raina, "terusin deh makannya dulu, nanti lagi ceritanya..nanti aku dengerin !" jawab Dika.
Ponsel Raina berdering, nama om Harsa tertera disana.
"Om Harsa !" Raina segera menelan kunyahannya.
"Hallo om ?!" Raina berdiri dan mencari tempat privasi, sesekali Raina melirik lirik ke arah Dika yang penasaran dengan raut wajah yang masam.
.
.
.
__ADS_1