
Tap..
Tap...
Tap...
Sukma itu mendekati kedua raga yang terbujur kaku, tertutup jarik coklat dan selendang, berbungkus kain kafan.
Ia tak dapat membedakan yang mana Raina, tapi ia dikelabui oleh selendang, peralatan guna guna dan juga tusuk konde miliknya.
"Cah ayu, ikut mulih bareng si mbok,(gadis cantik, ikut pulang bareng mbok)" ucapnya, ia malah masuk ke dalam gedebong pisang yang dikiranya Raina.
Dengan secepat kilat Nino sudah berada di samping gedebong pisang itu dan menancapkan tusuk konde bagian benang sarinya. Seketika angin kencang berhembus di hampir seluruh ruangan sanggar ini. Da*rah hitam keluar dari bekas tusukan konde pada gedebong pisang itu. Perlawanan datang dari nyai kembang sendiri. Ia ingin kembali keluar dari gedebong pisang.
Tusukan konde hampir terlepas. Tapi Nino menahannya dibantu Adry. Ada pekikan yang menggema dari aula itu,
"Wulan !!!!" pekiknya, Nino melihat seorang penari lainnya bernama Wulan, ia adalah orang yang membunuh nyai Kembang Winasih, ialah sosok penari berselendang kuning yang di pasang diatas tubuh Raina. Penari sekaligus selir lainnya dari meneer Belanda, rival nyai Kembang.
Nino dan Adry sampai terpental, namun dengan segera mereka kembali. Tak membiarkan nyai kembang kembali keluar.
"Di dalem suara apaan ??" tanya Fadly.
"Jangan dibuka ! biarkan dia melawan nyai. " jawab ki Nyawang, menahan tangan Dika yang ingin masuk.
"Semuanya akan berakhir sebentar lagi, saat musik gamelan berakhir, maka semuanya akan usai."
Arwah nyai hampir bangkit, terbukti dari jarik coklat yang mencetak wajah melayang bangun.
Nino mencekik dan menahannya untuk tetap berbaring dan masuk, dengan tangan satunya yang menahan tusuk konde benang sari.
Riuh tepukan tangan membahana, menutup pagelaran tari malam ini. Situasi mulai terkendali, semuanya kembali tenang. Pintu aula dibuka oleh ki Nyawang yang masuk bersama Dika dan Fadly.
"Lepaskan saja, biar ini menjadi urusan aki. Semua sudah berakhir, " ucap ki Nyawang.
Nyai Murti dan yang lain bergegas ke ruang aula. Nino meluruh, ki Nyawang membuka selendang kuning dan jarik coklat yang menutupi Raina. Tak ada yang terjadi, Raina masih menutup matanya.
"Bagaimana ki ?" tanya nyai Murti.
"Nyai sudah kembali," jawabnya. Ki Nyawang mengedarkan kemenyan dan dupa yang ia bakar diatas tubuh Raina, seraya nyai Murti yang menaburkan bunga setaman di tubuh Raina.
"Berdo'a saja, cah ayu bisa menemukan jalan pulangnya," ucap nyai Murti.
Raina benar benar bertualang di dunia spiritual kali ini. Banyak yang mengajaknya kembali termasuk ayah dan ibunya. Ada pula seorang penari lainnya yang sama sama cantiknya dengan nyai kembang Winasih, bersama putranya, mungkin seumuran Raina, wajahnya kebule bulean tapi berdarah jawa. Keduanya membantu Raina pulang.
Alis Raina mulai berkedut, wajahnya yang pias kembali memerah.
"Cah bagus, buka kain kafannya !" pinta nyai Murti pada Dika.
Satu persatu tali kafan dibuka, hingga menampilkan jasad Raina.
"Cah ayu, bangun ndok !" nyai Murti mengguncang guncangkan bahu Raina. Perlahan lahan mata Raina terbuka, menyesuaikan dengan cahaya lampu.
"Alhamdulillah, " semuanya mengelus dada. Refleks Dika mengangkat tubuh Raina lalu memeluknya.
"Awww, kang ! badan gue berasa remuk !" ucap Raina.
"Eh, sorry..sorry, " jawab Dika mengendurkan pelukannya.
"Hemm, jangan terlalu ngegas Dik, " ledek Romi mengulum bibirnya.
"Rain, gue takut tau ngga ! gue kira gue bakalan kehilangan loe," Gea menghambur memeluk Raina.
__ADS_1
"Loe ngomong apa sih Ge, emang gue mau kemana?" Raina mengernyitkan dahinya.
Ki Nyawang tersenyum, "bagaimana jalan jalannya cah ayu?" tanya nya.
"Ya?" beo Raina.
"Apakah bertemu nyai Wulan dan Den Bagus Satrio?" tanya ki Nyawang lagi.
"Salam kasih dari den Bagus, cah ayu !" rupanya nyai Murti dan ki Nyawang memang sering berinteraksi dengan sesepuh terdahulu.
"Den Bagus Satrio siapa ki?" tanya Gea.
"Den Bagus Satrio adalah putra nyai Wulan bersama suami Belandanya, atau mungkin saudara beda ibu dari buyut nyai Murti. Hanya saja meninggal di usia muda karena sakit !" jawab ki Nyawang. Mata Dika dan Nino memicing, laki laki astral mana lagi yang membidik Raina.
"Wes..wes...sebaiknya ini semua diurus dulu to pak !" ucap nyai Murti.
"Eh, iya ! ini gue kenapa nih ?! ko serem sih, dikafanin??!" seru Raina.
"Kalo ini beneran Raina nih !" kekeh Tria. Dika membantu Raina bangun, ia malah menggendong Raina ala bridal style.
"Eh, kang...gue bisa jalan sendiri !" ucap Raina menolak, tak enak di depan Nino. Tetapi Nino mengangguk pertanda ia mengijinkan.
"Loe baru bangkit dari kematian ! masih lemes, gue bantu loe bangun !" jawab Dika.
"Dih, ga enak bahasa loe kang ! serem !" Raina menepuk dada Dika yang terkekeh.
Adry menepuk nepuk pundak Nino,
"Gue memang harus merelakan Raina Dry, dan Dika orang yang tepat buat Rain," ucap Nino. Gea salut dengan kebesaran hati Nino, padahal bisa saja Nino memiliki Raina, banyak kesempatan untuk Nino, tapi ia justru mempertahankan hak hidup Rain.
Nyai Murti membuatkan ramuan jamu untuk Rain.
"Cah ayu, ini diminum dulu. Buat pulihin tenaga, sekaligus membuang sisa sisa energi negatif !" nyai Murti masuk ke dalam kamar Rain, dan membawakan gelas dari tanah liat yang berisi jamu.
"Hanya jamu, istirahatlah..nanti tengah malam cah ayu harus membersihkan diri di sungai !" jawab nyai Murti.
"Hah?! tengah malam?" tanya Raina sedikit terkejut.
"Ge, yang bener aja, tengah malem !!" bisik Raina.
"Iya, biar tuntas Ra.." jawab Gea.
Raina membaringkan badannya yaang terasa seakan hancur lebur. Ditemani Gea di sampingnya.
"Percaya ngga Ge, tadi gue ketemu papah mamah, ketemu enin juga !" ucap Raina.
"Terus ?"
"Gue nyaman Ge, gue rindu mereka. Tapi mereka nyuruh gue pulang, padahal gue pengen bareng mereka aja," Raina meneteskan airmatanya.
"Belum waktunya loe pergi Ra, " jawab Gea.
"Toh gue bisa bareng sama Nino kan Ge ?" tanya Raina menolehkan kepalanya ke samping.
"Ra, apa loe ga bisa liat seseorang lainnya yang tulus sayang sama loe ?" tanya Gea.
"Dika maksud loe?" tanya Raina, Gea mengangguk.
"Dika sayang sama gue sebatas..."
"Abang," sela Gea.
__ADS_1
"Apa loe ga peka Ra, dia nunggu loe. Dia nunggu loe buat buka hati loe untuk dia," jawab Gea, tak tau kenapa Gea sangat ingin temannya ini membuka hatinya untuk Dika.
"Gue ga tau Ge, gue udah coba. Tapi gue terlalu susah untuk jatuh cinta dengan laki laki."
"Karena loe menutup hati loe cuma buat Nino, coba sedikit aja Ra..sedikit aja ! buka hati loe buat Dika, " pinta Gea.
Raina menghela nafasnya, hingga pikirannya melayang membawanya terlelap karena lelahnya.
"Ra, Raina..." Gea mengguncangkan tubuh Raina. Raina mengerjapkan matanya.
"Nyai Murti manggilin loe buat siap siap ke sungai," ucap Gea.
"Iya, " jawab Raina mengucek matanya.
Nyai Murti bersama ki Nyawang dan dua orang perempuan paruh baya lainnya membawa beberapa lembar samping/jarik.
"Loe pake ini Ra, buat mandi di sungai !" ucap Gea menyodorkan jarik.
"Hah??! seriusan? cuma kembenan jarik?!" tanya Raina, Gea mengangguk mengiyakan.
"Iya ndok, pakailah itu !" ucap nyai Murti.
"Loe ga boleh ngikut kang ! gue malu !!" ucap Raina pada Dika yang selalu stand by.
"Terus yang mau gendong loe ke sungai siapa? lagian geer banget gue bakalan mupeng ! iman gue tebel !" jawab Dika ketus, membuat Raina cemberut.
"Iya, gue ganti dulu," Raina masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya. Nino masuk dan memeluk Raina dari belakang.
"Astaga !" Raina memutar tubuhnya.
"Sayang, " ucap Raina.
"Syukur kamu sudah kembali, aku rindu kamu, " Nino mengecup kening Raina.
"Berkat kamu juga, makasih !" jawab Raina.
"Aku ga akan pernah membiarkan siapapun menyakitimu, yang lain sudah menunggumu."
"Kamu ikut kan, sayang?" tanya Raina.
"Iya, aku jagain kamu !" jawab Nino, meskipun nantinya Dika lah yang akan membawa Raina.
Raina mengganti dressnya dengan jarik samping ini.
"Dih, udah kaya dayang sumbi mau mandi plus nyuci !" kekeh Raina bergumam. Ia keluar dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. Rambutnya yang masih digerai menutupi punggung dan bahu putih mulusnya. Luka bekas dulu sudah hampir hilang dari punggungnya.
"Malu gue, " cicitnya keluar kamar.
"Cie, ada kembang desa baru mekar !" goda Gea.
"Diem ga loe!" sarkas Rain. Dika melepas jaketnya dan memasangkannya di tubuh Raina, lalu mengangkat tubuh Raina.
"Kang, gue berat loh ! loe kuat apa ? bawa gue ke sungai?" tanya Raina, mereka sudah berjalan ke arah belakang rumah.
"Palingan gue langsung ceburin biar hanyut !" jawabnya terkekeh.
"Ga ada akhlak emang loe!" bisik Raina, membalas Dika, hingga Dika tertawa.
.
.
__ADS_1
.