
Seketika tubuh Raina membeku, tak bisa digerakkan. Baru ia sadari ia berada tepat di bawah jembatan layang yang menjadi iconic kota kembang ini, jembatan kebanggaan warga kota berbunga ini. Gagahnya jembatan sama halnya dengan gagahnya kisah yang selalu membayangi namanya. Banyak desas desus di kalangan masyarakat, bahkan beberapa cerita yang masuk ke email radio tempatnya siaran membahas tentang peristiwa dan misteri jembatan ini. Raina memejamkan matanya mana kala sosok itu mengeluarkan seperti suara tenggorokan yang serak, begitu menyeramkan.
"Ikut pulang !!!" suara tenggorokan yang pita suaranya rusak, serasa memenuhi mobil, tak berani menengok ke arah spion ataupun belakang, Raina hanya meminta tolong kepada sang pemilik kehidupan agar dilindungi, do'a do'a yang biasa ia lantunkan semasa di pengajian dulu menjadi tameng pelindung. Bau hangus dan amis bangkai begitu membuat hidung Raina perih.
"Huwekkk !!" Raina yang mulai bisa bergerak membuka pintu mobilnya dan keluar, memuntahkan isi perutnya.
Raina tidak terlalu jelas melihat wujudnya, namun secara garis besar, dia sosok lelaki memakai jaket kulit hitam yang sobek sobek, wajahnya hancur bercucuran cairan kental merah, dan sebagian tubuhnya terbakar.
"Puk..puk..puk...!" Raina tersentak ada seseorang yang menepuk nepuk pundaknya, tubuhnya bergetar hebat, apa lelaki itu ikut turun, tanpa membalikkan badan Raina mengusap mulutnya dan berteriak.
"Aaa.... !!!!" Tapi sosok itu menarik Raina dan memeluknya. Raina mencium bau parfum, bukanlah bau hangus dan amis, ia mulai sadar. Bukan sosok yang tadi ada di mobil, ia mendongak.
Raina refleks memeluk kembali lelaki itu,
"Kang !!!" ia menangis tak percaya, hati dan pikirannya sekacau ini, disaat saat sulitnya ini makhluk makhluk astral juga enggan meninggalkannya, ditambah ia menghadapi semua ini sendirian.
"Dia sudah pergi !" jawab Dika.
Raina merenggangkan pelukannya, ia melepaskan tangannya dari punggung Dika, meskipun Dika terlihat masih memegang tangan Raina yang dingin. Gadis ini tampak kacau,
"Sebaiknya jangan disini, loe lagi kacau. Loe bakal jadi sasaran empuk arwah arwah penasaran disini !" jawab Dika.
"Tapi gue takut sendirian di mobil," cicitnya.
"Gue disamping loe ! buka aja kaca mobilnya !" jawab Dika. Raina mengangguk, belum juga mereka sampai di mobil Raina, Raina terhenyak dan berbalik. Ilusi flashback mampu membuat matanya melotot, Dika seakan menghilang dari situ,
Ckittttt !!!!!
Srettttttt !!!!
Brakkkkk !!!!!
Pluk !!!!
__ADS_1
Raina menutup mulutnya dengan tangan kejadian itu begitu cepat, Ia mendongak ke arah atas jembatan hingga kini tepat di samping mobilnya sesosok jasad lelaki memakai jaket kulit hitam dengan wajah hancur dan terbakar di sebagian tubuhnya jatuh dari atas jembatan.
Ia menutup mulutnya, terlihat jelas kini bagaimana wujud lelaki itu, korban kecelakaan yang terjadi di jembatan, Namun dari dalam saku celananya menggelinding sebuah cincin emas ke arah samping jalan, siluet anak kecil yang sedang berjualan koran memungutnya dan memasukkan cincin itu ke sakunya setelah sebelumnya celingukan.
Matanya kembali melihat ke arah jasad tadi, bukannya terbujur kaku, ia sekarang malah merangkak sedikit demi sedikit ke arah Rain, dengan tubuh hancurnya, Rain terpundur takut.
"Jangan deketin gue !!!" ucap Rain.
"Ikut pulang, saya akan menikah."
Raina menangis sejadi jadinya, tampilannya begitu menyeramkan. Ia menutup wajahnya.
Tiba tiba waktu kembali pada malam ini, Dika mencoba menyadarkan Raina.
"Rain sadar, istighfar !!" Dika menggoyang goyangkan bahu Rain.
"Loe lagi ga fit, gue minta loe fokus !" ucap Dika.
"Apa yang loe saksiin? gue juga liat," kembali Dika memeluk Raina. Gadis ini sudah cukup kacau malam ini.
"Punteun bu (maaf bu) sudah mengganggu malam malam, tapi teman saya sakit dan butuh ditemani di dalam mobil, saya mau titip motor sebentar, nanti siang saya ambil !" Dika sebenarnya merasa tidak enak pada ibu itu. Meskipun si pemilik warung memang sudah bangun untuk shalat malam.
Dengan segera Dika berlari menuju Rain, gadis itu sedang menunggu di bahu jalan terduduk dengan tatapan nanar dan kosong, entah apa yang ia pikirkan.
"Sorry lama, yu kita pulang !" ajak Dika mengusap peluhnya, pagi pagi buta udah disuruh olahraga.
"Gue udah biasa ditinggalin ko !" jawab Raina, ia kembali murung mengingat Nino dan orang orang yang meninggalkannya.
"Tapi gue ngga," jawab Dika mengulurkan tangannya, seakan mati rasa Raina melewati Dika begitu saja menuju mobilnya
Sepanjang jalan Raina hanya diam menatap jalanan kosong.
"Jangan kosong gitu, nanti ada yang mampir lagi," ucap Dika.
__ADS_1
"Gue ga butuh belas kasihan orang lain, kang."
"Kalo loe deket sama gue cuma karena kasian atau karena permintaan Nino, mening loe pergi aja. Gue bukan cewek lemah ko !" lirih Raina.
"Gue tau. Kalo loe anggap gue seperti yang loe tuduhkan, loe picik !" jawab Dika.
Mobil sudah berbelok masuk ke dalam perkomplekan rumah Raina. Rumah ini penuh kenangan Nino, ia membunyikan bel rumah, bi Kokom dan mang Nurdin memang biasa bangun pukul 3 dini hari.
"Neng, ko subuh subuh sudah pulang, ini masih gelap?" tanya bi Kokom memandang Raina heran lalu mengalihkan pandangannya pada Dika, yang mengisyaratkan agar Raina masuk terlebih dahulu dan istirahat.
"Kang, kalo loe mau istirahat dulu bisa di kamar satunya lagi," Raina melenggang naik ke lantai atas.
"Bi, maaf tolong anterin kang Dika ke kamar satunya !" pinta Rain, bibi mengangguk.
Dika akhirnya menceritakan semuanya pada bi Kokom dan mang Nurdin, awalnya mereka tak percaya, tapi dengan berbagai kejadian belakangan ini dan kecurigaan mereka, akhirnya mereka percaya.
"A Dika, mamang sudah menganggap neng Rain seperti anak sendiri, anggap ini permintaan seorang ayah..mamang minta temani neng Rain untuk menghadapi semua masalah hidupnya !" pinta mang Nurdin.
"Insyaallah mang," bolehkah Dika jujur jika ia memiliki perasaan lebih dari seorang teman atau sekedar rekan kerja pada Rain, walaupun tau Rain memiliki kekasih yaitu Nino, dan mereka saling menyayangi.
"A Dika istirahat saja di kamar tamu, ini kamar tamu," ajak bibi.
Dika mengiyakan karena ia pun mulai mengantuk. Dika merebahkan tubuhnya di ranjang berukuran queen size, menatap langit langit dan memikirkan kejadian barusan. Belum lagi Raina yang sedang kacau, gadis itu seperti magnet, siapapun akan tertarik padanya bukan hanya manusia biasa sepertinya, namun makhluk tak kasat mata pun.
Raina meringsek masuk, menarik selimut menenggelamkan kepalanya bersama semua masalah ke dalam selimutnya, haruskah ia menyerah, dan menyerahkan kehidupannya pada sang pemilik nyawa. Seperti orang yang terlampau putus asa, meskipun ia memejamkan air mata, namun pikirannya malah lebih kuat menampilkan semua bayangan Nino dan lain lain. Sampai.....
.
.
Suara tenggorokan rusak itu terdengar lagi samar samar di kamar Rain,
dek.....
__ADS_1
Degypan Rain terasa berhenti saat itu juga, bau hangus dan amis itu tercium kembali.