Guardian Ghost

Guardian Ghost
Suster Wita part 1


__ADS_3

Raina berlari mengejar tubuh Gea yang diseret cepat, memekik meminta tolong. Mereka tak mengerti apa telinga para pengunjung dan seisi rumah sakit ditulikan atau memang mereka sedang berada di dimensi lain, sampai sampai tak ada yang mendengar keduanya.


"Stop ! suster Wita !!!" pekik Raina. Tubuh Gea terhenti, gadis itu sudah sesenggukan, ia segera merangkak ke arah Raina pelan pelan, saat Raina mengajak arwah suster Wita bicara.


"Saya tidak tau apa yang sudah terjadi sebelumnya, mungkin kamu bisa beritahu saya? setidaknya jika yang lain tidak mengingat kamu, saya akan mengingatnya !" ucap Raina. Raina tak tau apa arwah bisa diajak berdamai atau tidak. Bukannya menerima etikad baik Raina, arwah suster itu malah mendekati Raina dengan berjalan tertatih sepaket dengan wajah menyeramkannya, topi susternya yang terlihat usang pun sampai ikut terguncang guncang.


Rain tampak tegar dan siap untuk ini, tak ada raut takut di wajahnya. Padahal orang orang yang melihat sudah tidak tahan dan ingin menghampiri Raina.


Tangan suster Wita terulur seperti ingin mencekik Raina, dan benar saja, suster Wita sudah menyentuh leher Rain, namun Raina melawan hingga Raina terpundur jauh.


Gea yang ingin menolong Rain, berdiri dan berlari, tapi belum juga Gea sampai, meja roda itu kembali dan terdorong kencang menubruk Gea yang kembali tersungkur, ke rerumputan.


Suster Wita membawa Raina menuju salah satu pintu, yang jarang di lewati oleh pengunjung, dan terkesan menjadi sudut rumah sakit yang paling dikucilkan.


Punggung Raina mentok menubruk sebuah pintu lift. Tangan suster Wita tiba tiba terlepas, membuat Raina terbatuk batuk dan meraup sebanyak banyaknya oksigen.


"Uhukkk uhukk !!" Raina mendongak dan bangkit, ia melihat wajah yang menyendu dari suster Wita, suster itu menangis.


Raina mengumpulkan keberanian, tangannya terulur sedikit demi sedikit, ingin merasakan energi kesedihan yang dialami oleh suster, yang ramai dibicarakan oleh orang orang berjuluk suster gepeng ini.


Air mata mengalir dari pelupuk membasahi pipi, hati Raina ikut menangis.


Raina bisa merasakan pintu lift di belakangnya ini adalah tempatnya meregang nyawa. Terjepit pas dibagian kepalanya. Saat itu terjadi gempa di kota ini, lumayan cukup besar diatas 7,0 skala richter.


Suster Wita sedang bertugas di lantai atas, sedangkan mereka kini ada di lantai 2. Rumah sakit ini memiliki 4 lantai. Ia sedang mengecek kondisi pasien dengan mendorong meja roda alat alat medis. Gempa terjadi, membuat semuanya berhamburan menyelamatkan diri, termasuk suster Wita. Semua pasien, keluarga pasien dan karyawan rumah sakit berlarian tak karuan.


Salahnya, ia malah masuk ke dalam lift dan tak berfikir menggunakan tangga darurat. Suster Wita masuk ke dalam lift bersama kedua perawat lainnya, dia adalah suster Fi dan satu lagi perawat laki laki bernama Damar.


Di tengah tengah lift macet, membuat ketiganya panik.


"Bagaimana ini??" tanya nya.


Damar memegang tangan suster Wita, ada sedikit moment yang terselip diantaranya, Wita dan Damar sedang menjalin sebuah pendekatan.


Lift berguncang keras, Damar mencoba membuka pintu lift yang macet dan tak bergerak.


"Gue ga mau mati disini Wita !!" suster Fi menangis, keduanya berpelukan.


"Sutt ! loe jangan mikir kaya gitu Fi, kita pasti bisa keluar dari sini bersama dalam keadaan selamat !" jawabnya, menangkup wajah suster Fi yang sudah basah dengan air mata.


"Arggghhh !!!" Damar mencongkel pintu lift, dan pintu itu terbuka sedikit demi sedikit, setelah dirasa cukup untuk dilewati badan mereka, Damar menyuruh satu persatu keluar.


Melihat Fi yang ketakutan Wita membiarkan temannya ini untuk keluar, ia menyuruh Fi duluan, dengan mendorongnya keluar. Sister Fi berhasil keluar dari dalam lift.


Tanpa di duga lift merosot dan turun posisi. Suster Wita memeluk Damar takut.


"Oke kamu duluan, setelah itu kau tarik aku keluar !" ucap Wita, Damar mengangguk.


Damar berhasil keluar, di dorong Wita dengan susah payah, sampai sampai ia rela kakinya lecet.

__ADS_1


"Ayo Wita, kutarik !!" ucap Damar.


Suster Wita mencoba keluar perlahan, dengan ragu.. karena takut lift kembali turun dan merosot. Baru saja ia mengeluarkan setengah badannya, lift memang benar benar bergeser karena guncangan gempa susulan.


"Sretttt !!!!"


"Aaaaa !!!"


Suster Wita memejamkan mata, dengan masih berpegangan pada Damar,


"Wita cepat !!"


"Wi, cepatlah !! pekik Fi.


Baru saja menyembulkan kepalanya, lift benar benar merosot dan menjepit kepala suster Wita, pintunya pun yang asalnya merenggang mempersempit celahnya, hingga suster Wita terjepit.


"Srettttt !!!


"Grekkk !!!"


"Wita !!!" pekik keduanya.


Wita yang menyisakan detak jantung terakhirnya melihat kepergian sahabat dan pujaan hatinya. Sukmanya terjebak disini, menanti kedatangan kedua orang yang sudah ia bantu setidaknya untuk mengenangnya, namun ternyata jangankan mengenangnya, keduanya malah akan bertunangan sekarang.


Sampai gempa berakhir tak ada yang mencarinya, barulah setelah tim SAR melakukan pencarian korban, mayatnya diketemukan 2 hari kemudian. Hari ini tepat 2 tahun tragedi itu berlalu, dimana jumlah korban pun 10 orang, termasuk suster Wita.


Raina berkaca kaca, matanya sudah mengembun.


"Semua sudah berlalu, suster. " Bukannya mendengar, suster Wita malah menggeram, sebelum dendam sakit hatinya terbalas, ia tak akan berhenti.


"Pada siapa kamu akan membalas??? pihak rumah sakit? Damar? suster Fi? orang orang? keluargamu?" tanya Raina berseru.


"Semuanya !!" sosok suster Wita mendorong Raina masuk ke dalam ruangan gudang samping lift itu, dan menutup pintunya.


"Srekkkk !!!" Raina terdorong masuk.


"Blugh !!!" pintu tertutup dan terkunci.


"Wita !!! suster Wita !!!" pekik Raina frustasi, pintu ini terkunci, belum lagi dari pojokan ruangan yang gelap ini berdiri sesosok makhluk berkuncir dengan wajah yang kosong.


"Aaaaa !!! astagfirullah !!!" pekik Raina. Tak berniat mengganggu, tapi sosok itu bergerak sedikit sedikit, hanya saja saat Rain menengok ke arahnya ia diam. Posisinya yang semula di pojok ruangan semakin mendekat.


"Buka !!! Tolong !!! Nino !!!" Raina menggedor gedor pintu.


"Guys !! gue minta tolong cari Damar sama suster Fi !! sekarang !!! Adry tolong Gea, " pinta Raina.


Dika langsung bergerak bersama Fadly, keduanya mencari suster Fi, sedangkan Ve dan Tria berjaga di ruangan.


Nino bergegas membantu dimana Rain berada. Sebelum sosok berkuncir itu sempat meraih Raina, Nino sudah membuka dan memeluk Raina terlebih dahulu. Nino menyingkirkan si sosok berkuncir.

__ADS_1


"Brakkk !!"


"Honey !!"


"Sayang !!" Degupan jantung Raina tak beraturan.


"It's oke honey, aku disini. Kamu gadis hebat !" jawab Nino menciumi kepala Rain yang masih terbalut kain kasa.


"Sayang, kita harus segera mencari Damar dan suster Fi, keduanya dalam bahaya !" jawab Raina bergegas berlari.


Sementara di lain tempat seorang suster perempuan tengah berada di lab. setelah sebelumnya ia mengantarkan sample darah pasien.


Krejep....


Krejep.....


Lampu ruangan tiba tiba mati, menyala ddngan sendirinya. Tak mungkin pihak rumah sakit lupa membayar tagihan listrik. Secara ini rumah sakit daerah, milik pemerintah.


"Ihh, kenapa nih ??!" suster Fi, mendongak. Sambil bergumam ia membereskan pekerjaannya, di tengah kegelapan ia melihat siluet perawat perempuan berjalan ke arahnya.


"Ranti ??!" panggil suster Fi, yang ia kira teman sesama pekerja disini, Ranti seorang asisten dokter yang bertugas di bagian lab. ini.


"Bubuy bulan, bubuy bulan sangrai bentang....Panon poe panon poe disasate " senandungnya.


Suster Fi terdiam, ia ingat betul siapa yang sering menyanyikan tembang itu. Langkah sepatu flatshoesnya mulai mundur.


"Hiks...hiks....." tangisan memilukan seraya sosok yang terus mendekat membuat suster Fi merinding, keringatnya sudah membanjiri badannya. Suster Fi meraih alat logam yang berada disitu,


Lampu kembali menyala, tapi sosok itu hilang begitu saja, suster Fi sudah bersiap dengan guntingnya, ia berjalan maju ke arah pintu keluar, dengan gunting di tangannya, waspada. Percayalah jantungnya seperti sudah lepas dari tempatnya, mungkin tensian darahnya akan tinggi saat ini.


"Suster Fi !!" pekik Dika dan Fadly. Suster Fi hampir saja menusukkan guntingnya ini pada mereka.


"Astaga saya kira siapa ??!" ia mengusap dadanya.


"Sus, sebaiknya anda segera keluar ! kami juga mencari perawat Damar ?!" ucap Dika.


"Damar ada di....."


Baru saja akan melangkah keluar dari pintu lab. Pintu Lab. tiba tiba tertutup, dengan suster Fi yang ditarik kasar bagian cepolan rambutnya, kebelakang.


"Bammm !!!"


Sontak Dika dan Fadly menggedor gedor pintu, mencoba mengeluarkan suster Fi.


"Shitt !!!"


"Aaaaaaa, Wita !!!! jangan !!!!" pekiknya dari dalam.


.

__ADS_1


.


__ADS_2