
"Gue ga mau kang, gue takut !!" gidik Rain.
"Sampai kapan loe mau digangguin terus, tidak menutup kemungkinan jika loe terus menunda pesannya, maka nyai Diah akan semakin mengganggu para pegawai disini !" jawab kang Dika. Nino mengangguk "hey, ada aku disini, Tian juga ada !"
Rain mendongak lalu kembali meringsek masuk ke dalam pelukan Nino. Sungguh bau tubuh Nino tidak seperti hantu kebanyakan, wangi sedap malam dan melati yang menenangkan. Ini pula yang membuat candu untuk Rain. Dika menunduk, ia terharu sekaligus merasakan sedih, rasa cinta keduanya begitu besar. Namun semuanya pun tau mereka tidak akan pernah bisa bersatu.
"No, apa gue bisa bicara sama loe bentar," pinta Dika. Nino mengangguk.
Entah apa yang mereka bicarakan, namun begitu serius Rain tidak mendengarnya, ia lebih fokus melihat foto foto yang terpajang di ruangan ini. Fokusnya tertuju pada sosok kake kake bongkok memakai pangsi dan ikat kepala di dalam foto.
"Rain !" Rain tersentak,
"Hem?" tanya nya.
"Kamu sedang liat apa?" tanya Nino dan Dika.
"Ini liat deh kang, No.. seinget Rain pas kemaren liat liat foto ini, kake kake ini ga ada di foto !" Rain merasa aneh. Dika dan Nino saling menatap, rupanya kesensitifan Rain sudah lebih meningkat akhir akhir ini.
Tok..tok..tok...
Seorang karyawan perempuan paruh baya masuk dengan membawa dua cangkir kopi susu.
"Makasih bu Lina, " jawab Rain. Ia tersenyum.
"Ibu tak apa apa kan?" tanya bu Lina.
"Alhamdulillah bu," Rain ingat betul bu Lina adalah karyawan paling lama bertahan di pabrik ini, sejak pabrik masih kecil dan ia masih sangat muda, bu Lina sudah bekerja disini, karena pabrik ini tidak ada batasan pendidikan. Yang penting mau bekerja keras dan jujur, terlebih lagi warga sekitar.
"Bu, sebentar !" ucap Rain.
"Apa kita bisa mengobrol dulu sebentar," pinta Rain. Bu Lina berbalik, ia sedikit gugup, apakah ia melakukan kesalahan pikirnya. Rain mengajak bu Lina duduk. Dika mengekor di sofa single samping Rain, begitu pun Nino yang selalu ada di belakang Rain.
"Bu, saya tau ibu adalah karyawan paling lama yang bertahan disini, suka duka pabrik ini ibu tau, siapa saja yang pernah ada disini ibu tau," Rain memegang tangan Bu Lina, dengan penuh pengharapan Rain meminta pada bu Lina.
"Saya mau minta tolong pada ibu, tolong katakan dan ceritakan semuanya yang saya tidak ketahui." bu Lina terlihat seperti kebingungan, bukan karena ia tidak mengerti tapi sepertinya bu Lina tau maksud Rain ada hubungannya dengan kejadian tadi.
"Apa yang bisa saya bantu bu," tanya nya. Rain menunjukkan foto yang terdapat nyai Diah pada bu Lina. Sontak bu Lina menutup mulutnya shock.
"Apa ibu tau perempuan di dalam foto ini?" tanya Rain.
Bu lina menggeleng, "Rain mohon bu, "Rain sampai merosot dari duduknya.
"Eh, bu..jangan begini, saya tidak enak !" jawab bu Lina.
"Rain mobon bu, nyai Diah ngikutin terus Rain !!" Rain hampir frustasi. Bu Lina terkejut Rain mengetahui nama itu.
"Iya bu, saya tau Diah, tapi sebelumnya saya mau ibu menemui seseorang dan meminta ijin dahulu !" jawab bu Lina. Ia pun serba salah dan takut sebenarnya.
Rain mengangguk cepat, "Rain harus menemui siapa bu? dimana?" tanya nya.
Bu Lina meminta Rain memanggil bu Wati, tidak lain dan tidak bukan wanita yang tadi kesurupan,
__ADS_1
Bu Wati yang masih merasa lemas, masuk ke dalam ruang kantor Rain.
"Kenapa saya dipanggil bu?" tanya bu Wati.
"Lina ! apa kamu juga dipanggil?" tanya bu Wati pada bu Lina. Ia mengangguk.
"Wati, bu Raina meminta ijin pada saya !" jawab bu Lina. Bu Wati duduk si sebelah bu Lina. Setelah menyampaikan maksud dan tujuannya terlihat bu Wati ikut menangis juga. Apa sebenarnya hubungan mereka dengan nyai Diah.
"Tapi maaf bu, saya dan Lina tidak bisa menceritakan lebih detail mengenai Diah !" jawab bu Wati. Rain mengangguk.
"Dia adalah Diah Puspita, seorang sinden terkenal di seluruh penjuru kampung, bahkan keluar kampung juga. Tak sedikit lelaki yang ingin mendekatinya dan meminangnya."
Bu Wati menatap kosong ke depan," saat pabrik ini pertama dibangun, pabrik ini langsung meraih kesuksesan bu, pak Wiguna berhasil membangunnya bersama, merangkul warga sekitar. Untuk merayakannya beliau menyewa satu kelompok kesenian, dimulai dari wayang semalam suntuk sampai jaipongan. Dan Diah Puspita adalah salah satu sinden di kelompok kesenian yang di sewa pak Wiguna," bu Wati menjeda ceritanya.
"Tapi sayangnya Diah mencintai orang yang salah ! orang ini hanya menjadikan Diah simpanannya, sampai mereka bermain di belakang istri sah si lelaki ini." bu Wati menangis.
"Diah sering bolak balik pabrik ini, saya sering melarangnya !! tapi dia tidak menurut !" tangisan bu Wati semakin menjadi jadi.
"Suatu hari Diah mengatakan pada saya jika kekasih gelapnya itu akan menikahinya," jawab bu Lina meneruskan.
"Siapa lelaki itu bu?" tanya Rain.
Mereka berdua menggeleng, "Kami berdua tidak tau pasti bu, hanya saja kami sering melihat Diah keluar masuk ruang pak Wiguna !!" mereka berdua menangis.
"Hah??!!!! kakek??" Rain tersentak kaget. ia menggeleng kuat, setaunya kakeknya adalah laki laki setia. Bahkan di akhir hayatnya kakek Rain meninggal dengan memegang tangan enin Rain.
"Lalu apa yang terjadi bu?" tanya Rain.
Rain menangis, tidak mungkin kakeknya, Nino mengusap usap pundak dan punggung Rain. Dika yang melihat dan mendengar ikut terenyuh. Bukan hanya cerita kedua ibu di depannya, namun pemandangan di sampingnya, cinta dua dunia yang sudah pasti berakhir perpisahan.
"Apa pelakunya sudah ditemukan?" tanya Rain. Mereka berdua menggeleng, " sampai sekarang pelakunya belum tertangkap," jawab keduanya.
"Maaf apa saya boleh bertanya? hubungan ibu berdua dengan nyai Diah apa?" tanya Rain.
"Saya adik sepupu Diah,bu. Dan Lina adalah teman kami berdua," jawab bu Wati. Rain cukup terkejut dengan pengakuan bu Wati.
"Kenapa pihak keluarga tidak melaporkannya pada pihak berwajib?" tanya Rain.
"Pihak berwajib seperti tidak peduli dengan kasus ini, entah karena keluarga kami bukan dari keluarga yang mampu," jawab bu Wati.
"Lalu pihak pabrik sendiri bagaimana?? kakek saya??" tanya Rain menggebu gebu, Nino menahan Rain yang sudah sangat kesal, jelas bukan pada kedua ibu di depannya ini tapi pada orang orang yang harusnya ikut bertanggung jawab.
"Pak Wiguna sudah mengusahakannya, ia menyerahkan semua urusan pada polisi dan asistennya pak Komar," jawab bu Wati.
"Namun bukannya terbongkar, kasus ini seperti ditutup dan hilang ditelan bumi !" jawab bu Lina. Rain miris dengan ketidakadaannya keadilan disini. Jelas saja nyai Diah merasa marah.
"Maaf bu, jika boleh saya bertanya. Kenapa tiba tiba bu Raina menanyakan tentang Diah ?" tanya bu Wati.
"Ah, tidak bu ! saya hanya penasaran dengan sejarah pabrik ini dan orang orang yang pernah ada disini," jawab Rain. Tak mungkin Rain menjawab jika nyai Diah selalu mengganggunya akhir akhir ini.
"Begitu ya bu, jima sudah tidak ada yang harus dibicarakan lagi, kami berdua permisi bu," ucap keduanya.
__ADS_1
"Terimakasih atas kejujurannya bu, saya ikut berduka, semuanya pasti akan terungkap bu !!" jawab Rain.
"Terimakasih bu," keduanya pamit.
"Rain,malam ini kita harus mendapatkan informasi !" ucap kang Dika.
"Iya kang, kakek Rain ga mungkin ngelakuin itu kang !" jawabnya.
Nino duduk di sebelah Rain, Rain menyeruk di pundak Nino. Menghirup aroma Nino selalu membuatnya tenang. Begitupun tangan Nino yang tak lepas memeluk pinggang gadis ini.
"Gue bakal kabarin anak anak team gue, mereka bakal nemenin kita malam ini !" ucap kang Dika.
Tidak mungkin studio radio mereka tak memiliki team yang bekerja untuk hal begini, secara kang Dika memang membawakan acara yang berbau horor di radio mereka. Sudah dipastikan mereka selalu berhubungan dengan dunia tak kasat mata.
"Sebaiknya kita pulang untuk bersiap siap dulu Rain," ajak Dika. Rain mengangguk, baru saja Rain berdiri dari duduknya tak ada angin tak ada hujan jendela ruangan terbuka lebar, tubuhnya terpental dan terlempar jauh oleh sesuatu yang kuat hingga menabrak dinding belakang kursi kebesarannya.
Brakkkk !!!!
"Raina !!!!" Dika dan Nino tergelonjak kaget dan segera meraih Rain yang sudah tak sadarkan diri dengan dar*ah yang keluar dari mulutnya.
"Rain !!!" Dika panik, ia memeriksa denyut nadi Rain.
"Hey baby !! wake up !!" Nino ikut panik. Ia khawatir bercampur amarah yang sudah memuncak, namun yang pertama harus ia tolong adalah keselamatan Rain.
"No, gue panggil orang orang buat bawa Rain ke RS !!" Dika meninggalkan Rain dan Nino di ruangan, memanggil para karyawan pabrik.
Beberapa orang menolong, sontak pabrik kembali heboh dengan keadaan bos baru mereka.
"Apa saya harus ikut mengantar, pak?" tanya pak Komar.
"Tidak usah biar saya saja pak, bapak bantu saja di pabrik !" jawab Dika, bahkan beberapa staf juga ikut menawarkan bantuan. Tapi Dika menolak, biarlah mereka bekerja dengan tenang, jika mereka melihat Rain sudah ada dalam dekapan Nino sekarang.
Dika membawa mobil Rain melesat membelah jalanan menuju RS terdekat. Blangkar RS segera didorong menuju UGD, Rain masih tak sadarkan diri.
Dika menelfon orang orang rumah Raina, Nino selalu ada disamping Rain, ia tak pernah lepas memegang tangan Raina.
Bi Kokom dan Mang Nurdin datang, setelah keduanya datang Dika pamit pulang terlebih dahulu, rencana penelusuran, mereka tunda sampai Rain membaik.
"No, kayanya kita mesti tunda sampai Rain membaik. Tapi gue bakal bicarain ini sama team gue, No. Secepatnya kita harus mengusut tuntas masalah ini, jika tidak ini akan terus mencelakai Rain."
"Gue bakal nyuruh Tian dan Bunga buat jaga Rain disini," jawab Nino.
"Tian?? Bunga?? apa mereka yang berada di rumah Raina kemarin?" tanya Dika. Nino mengangguk.
Jika Rain sudah mengetahui Tian, lain halnya dengan Bunga, Bunga bersifat pemalu, ia pernah sekali menghampiri Rain saat di taman belakang, saat Nino bilang tertawa Rain bisa mengalahkan tawanya, itulah Bunga yang sedang berada di semak semak.
"Gue titip Rain !!" ucap Nino pada keduanya. Tian dan Bunga mengangguk disamling bi Kokom dan mang Nurdin yang menunggu Rain, Bunga dan Tian pun ada disitu.
Mata merah Nino semakin menyala, amarah dan kekesalannya sudah tak dapat dibendung lagi, ia datang ke pabrik teh mendekat mencari keberadaan nyai Diah. Nyai Diah berada di gudang dan memainkan kotak kotak teh.
Nino meraih dan membanting nyai Diah.
__ADS_1
"Akan kumusnahkan kamu dengan anakmu jika tidak bisa menjaga sikap !!!" bentak Nino.