
Sudah beberapa hari Romi tidak masuk kerja.
"Romi kemana? sakit?" tanya Raina.
"Kayanya sih gitu, ijinnya sakit !" jawab Ve.
"Sejak kapan sih?? sejak pulang dari rumah aki itu kan ?" tanya Ve.
"Hooh !" jawab Fadly.
"Tria juga ijin, tapi kemaren masuk !" ucap Dika, ia merasa ada yang salah dengan keduanya. Terakhir ia melihat Romi di tempeli makhluk berpakaian putih.
"Kang, inget ga sih, waktu terakhir kita liat Romi !" lirih Raina, duduk di atas meja audio control.
"Iya, inget !" jawab Dika mengangguk.
"Sebaiknya kita ke rumah Romi, honey ! aku rasa Romi dan Tria ada yang ngikut !" bisik Nino.
"Guys gimana kalo pulang siaran kita jenguk dua duanya?" tanya Dika. Ketiganya mengangguk setuju. Di tengah pembicaraan mereka, Tria datang.
"Haaaa !! baru diomongin nongol nih makhluk satu !!" seru Fadly.
"Ngapain ngomongin gue?? jangan gosipin gue sama Nikit@ Mir*z@ni lagi uhuuk !!" jawab Tria.
"Saravvvv njirr !! kepengen loe itu mah !! ga ada kerjaan banget gosipin loe, ga ada yang bisa di gosipin !" sewot Ve.
"Ga usah ngegas !" Tria mengusap kasar wajah Ve.
"Udah, udah waktunya kerja !!" titah Dika.
.
.
.
"Tri, ada yang salah sama loe ya??" tanya Dika seraya menyesap sebatang rokok, Raina, Dika dan Tria sedang berada di kantin.
"Loe tau ya Dik ?" Tria tampak berfikir, darimana harus ia memulai bercerita.
"Cerita aja ka, kita dengerin. Siapa tau bisa bantu !" jawab Rain menyeruput mie nya yang masih panas.
Tria meneguk air mineral sebelum memulai bercerita, "Ada yang aneh sama Qirei !" lirihnya.
Raina mengernyit, siapa Qirei?
"Qirei adek loe??" tanya Dika.
"Iya lah ! beberapa hari ke belakang dia selalu ketakutan, terutama saat ketemu gue! "
"Muka loe nyeremin sih kalo akhir bulan !" kekeh Dika.
"Kamvreett, ga biasanya dia kaya gitu, dia sering nangis kejer, sama teriak teriak ketakutan. Malah udah 4 hari kemarin Qirei sakit !"jawab Tria.
"Sakit ??!!" seru Raina , "uhuukk !!" ia tersedak kuah pedas mie.
"Hemmm, kan pelan pelan kenapa sih, makannya!" Dika menyodorkan minum pada Rain.
"Makasih !"
"Alhamdulillah !" ucap Raina, tak disangka Dika menjulurkan jempolnya dan mengusap sisa sisa air yang ada di dagu Raina. Gadis itu terkejut.
" Ekhemm !!" deheman Tria memutus eye contact antara Dika dan Raina, kejadian itu pun tak luput dari tatapan Nino.
"Kaya bocah !" ucap Dika.
__ADS_1
"Biarin !!" jawab Raina.
"Terus ka Tri ?" tanya Rain.
"Qirei manggil manggil nene nene terus, padahal di rumah ga ada nene nene !" jawabnya.
"Sebenernya yang gue liat sih waktu pulang dari kaki bukit itu, ada yang ngikut sama ka Romi tapi gue juga ga tau kalo dia ngikut loe juga ka !" jawab Raina.
"Masa sih??! seriusan ada yang nemplok?" tanya Tria terkejut syok.
"Tapi kayanya kalo gue rasa kita juga harus liat Romi deh !" jawab Raina.
"Oke, besok gimana?" tanya Dika.
"Gue ga bisa kang, kalo besok mau ke rumah dosen. Gue ada bimbingan sama konsul masalah mata kuliah !" jawab Raina mendengus.
"Ohh oke, sekarang gimana?" tanya Dika.
"Boleh deh, takutnya kalo dinanti nanti bisa bahaya juga !" jawab Raina.
"Boleh deh, ke rumah gue dulu ya !" pinta Tria.
" Oke, "
Raina berjalan seraya memainkan ponselnya, ada pesan dari Gea, jika ia sudah menyiapkan lamaran untuk bekerja. Raina tersenyum.
"Usil ya !" bisik Nino.
"Apa?" tanya Rain.
"Kenapa ga bilang aja kalo kamu bos nya ?!"
"Ga apa apa, biarin aja. Biar jadi surprise," kekeh Raina, Nino menjiwir hidung mancung Rain.
.
.
"Ka Tria, itu yang di atas kamar siapa??" tunjuk Raina.
"Oh, kamar Qirei, "
"Ibunya ka Tria rambutnya panjang?" tanya Raina.
"Engga," jawab Tria seraya menggelengkan kepalanya.
Raina menepuk nepuk lengan Tria, "cepetan ka, itu Qirei ada yang gangguin !!" seru Rain. Tria sontak bergegas masuk mengajak Raina dan Dika.
"Sayang, kamu lindungin dulu Qirei, takut di apa apain!" pinta Rain pada Nino, Nino langsung melesat ke atas kamar Qirei.
ceklek...
"Qirei, " gumam Tria.
Seorang gadis kecil terbaring dengan badan yang diselimuti sampai ke dada dengan kening yang ditempeli kompresan instant.
"Udah 4 hari Qirei panas, dan lemes gini, tapi dokter bilang Qirei ga ada yang salah, hasil pemeriksaan normal normal saja !" jawab ibu Tria.
"Boleh gue ke kamar loe ga Tri?" ijin Dika.
"Kuy !" ajak Tria. Sementara Raina bersama Nino masih berada di kamar Qirei sambil mengobrol.
"Qirei..., " sapa Rain. Qirei membuka matanya. Raina menyentuh tangan mungil itu, entah aura apa yang dibawa Raina, tapi sentuhan itu membuat Qirei nyaman.
"Hay, Qirei...kenalin nama kaka Raina, ka Rain temennya ka Tria !" senyum Rain. Nino berdiri mengusap pundak Rain yang duduk di tepian ranjang Qirei.
__ADS_1
"Hai, "jawab Qirei lemah.
"Qirei sakit ya, cepet sembuh ya sayang...!" lirih Raina.
"Qirei makan dulu ya sayang, "Ibunya membawa satu mangkuk bubur untuk Qirei.
"Tante, boleh Raina aja yang suapin ?" pintanya.
"Oh kalo ga ngerepotin boleh saja, Qirei mau disuapin sama ka Rain?"tanya Ibunya. Qirei mengangguk.
"Oh iya Qirei, ada yang mau ucapin cepet sembuh nih sama Qirei !!" Raina mengeluarkan sekotak coklat berbentuk kuda pony yang lucu, sontak anak bocah itu berbinar, ia berusaha bangkit. Ibu Tria meninggalkan mereka di kamar,
"Tante tinggal bikin minum dulu ya !" ucapnya, Raina mengangguk.
"Suka ka, makasih !!" ucap Qirei.
"Honey, aku buat pagar ghoib dulu ya, sepertinya nene nene itu menginginkan Qirei !" ucap Nino, Raina mengangguk.
"Tapi sebelum Qirei buka dan makan coklat itu, Qirei harus makan dulu bubur ya !!" pinta Rain.
Anak gadis itu menurut, ia bahkan tak sungkan bercerita pada Rain, entah Rain yang pintar mengambil hati anak kecil.
"Kapan kapan ka Rain ikutan main bareng Desy ya, boleh kan?" tanya Rain di suapan terakhirnya. Qirei mengangguk.
"Tapi jangan ajak ajak nene ya ka, Qirei takut ! "jawab Qirei. Kesempatan Raina untuk bertanya pada Qirei yang sudah membuka obrolan.
"Nene, bukannya disini ga ada nene ya?" tanya Raina membukakan bungkusan coklat.
"Ada kak, dia ikut sama ka Tria, nempelin punggung ka Tria, serem kak..dia ngajak ngajak Qirei buat ikut ke rumahnya, katanya mau di momongin, masa ka Tria aja mau di t3tek in, tet3k nya gede ka, tapinya banyak uletnya, berd@*rah !" jelas Qirei. Raina mencerna setiap perkataan Qirei.
"Yang paling serem ka, nene ga ada bibirnya !" jawab Qirei. Seiring dengan ucapan Qirei, terdengar suara pekikan dari dapur.
"Aaaaa !!" ibu Tria memekik.
"Mamah !!" ucap Tria.
"Tante !!" gumam Raina.
"Ka, itu mamah !!" ucap Qirei.
Tria dan Dika berlari kencang ke bawah, sedangkan Raina yang hendak keluar kamar di tahan oleh Nino.
"Honey, jangan keluar dari kamar ini...dia sengaja pancing kita untuk turun ke bawah biar dia bisa masuk melewati pintu yang terbuka !" ucap Nino.
"Biar aku aja ! kamu tunggu !" ucap Nino.
"Qirei, kita tunggu ya, ada ka Tria, ka Dika juga yang nolongin mamah, kita tunggu aja, nanti takut nene nya masuk sini !" jawab Raina.
"Kaka bisa liat nene?" tanya Qirei.
"Bisa !" jawab Raina.
Se sosok perempuan menatap tajam dengan bola mata yang memerah bagian putihnya, tulang hidung yang hanya dibalut kulit keriput dan meleleh berjalan membungkuk mendekati dimana ibu Tria.
Rontokkan belatung tercecer di sepanjang lantai yang dilewatinya, tak tau ekspresi apa yang ditunjukkannya.
"Anak kamu sudah mengotori rumahku, dengan ucapannya dengan hajatnya !!" ucap parau khas orang tua. Dika dan Tria turun melihat itu segera berlari menuju dapur dan membantu ibunya berdiri.
.
.
.
.
__ADS_1