Guardian Ghost

Guardian Ghost
Om Yuan


__ADS_3

Badannya tak terlalu besar layaknya Baron. Tapi tak tau dari segi mana orang orang menyebutnya preman kebal senjata. Rambut yang klimis bak mafia, membuatnya tak terlalu terlihat menyeramkan dan sadis juga.


Gayanya angkuh dan urakan. "Sebentar saya panggilkan !" jawab bi Kokom.


"Siapa bi?" tanya Rain seraya minum dari gelas.


"Neng, ada bapaknya neng Gea katanya !" jawab bi Kokom.


"Uhukk !! beneran??" Rain membulatkan matanya, wajah bantal dengan rambut yang acak acakan tak membuatnya langsung pergi ke toilet. Ia malah berlari ke kamarnya.


"Ge...ge..." Rain mengguncang tubuh Gea, hingga Gea terbangun.


"Eh, kenapa Ra?" tanya Gea.


"Dibawah ada laki laki katanya bapakmu !" ucap Rain, Gea lantas membulatkan matanya dan segera bangun.


"Ayah?" tanya Gea Rain mengangguk, "katanya sih gitu !" jawab Rain, kedua gadis yang masih berantakan ini sama sama melongo dari arah tangga, seorang lelaki paruh baya sedang melihat lihat rumah Rain, pajangan pajangan rumah Rain.


Gea tergelonjak membuat Rain ikut terkejut, "kok ayah bisa disini?!" tanyanya, salah jika bertanya pada Rain, mana gadis itu tau jawabannya.


"Iya ya, ko bisa tau rumah gue?" bisik Rain. Gea segera kembali ke kamar Rain, ia merapikan dirinya dan berlari ke kamar mandi, sedangkan Raina hanya memperhatikan Gea yang tergesa.


"Rusuh banget !" Rain duduk di tepian ranjang.


"Ayah gue galak Rain, kalo ga cepet cepet bisa bisa kena amuk !" jawabnya, Gea langsung menuju ke bawah.


"Rain, kalo gue diajak pulang, nanti gue hubungi ya kapan kita ketemu lagi !" ucapnya, Raina mengangguk. Rain ikut turun, tapi disaat yang sama Rain mencium ada yang berbeda kini, aura ayah Gea sedikit mengelam, baunya pun aneh.


"Ayah !" sapa Gea yang langsung turun, terlihat jelas Gea takut dan patuh pada ayahnya.


"Pulang, kenapa semalam malah menginap disini?" tanya ayahnya.


"Tak apa om, " jawab Rain.


"Maaf ya sudah merepotkan," jawabnya tersenyum pada Raina, gadis ini merasa sudah tak asing pada ayah Gea, selain di pemakaman dimana lagi mereka pernah bertemu.


"Om, " panggil Rain sebelum keduanya pergi.


Ia berbalik, "apa sebelumnya kita pernah ketemu?" tanya Rain. Ayah Gea/ om Yuan berbalik dan malah tersenyum, "emhhh, entah tapi om rasa engga !" jawabnya.


"Oh oke, ngomong ngomong om tau Gea disini darimana?" tanya Rain penuh selidik.


"Oh, feeling seorang ayah !!" jawabnya berkelakar.


Keduanya pergi menjauh dari rumah Rain menaiki mobil, Rain melihat ada aura kelabu yang menyelimuti kepergian keduanya, apalagi Gea, saat bersama ayahnya terlihat seperti bukan Gea, seperti jiwa Gea melayang entah kemana. Saking fokusnya Rain melihat, ia tak menyadari jika Nino sudah ada di belakangnya di ambang pintu, memeluk Rain dari belakang.

__ADS_1


"Astaga !! kaget !!" ucap Rain, tanpa berbalik.


"Serius banget merhatiinnya??!" ucap Nino menaruh dagunya di pundak Rain, menyesap aroma tubuh Rain, membuat si empunya meremang.


"Liat ga sih ada yang salah sama ayahnya Gea, dia juga seakan tau seluk beluk rumah ini," ucap Rain dari gelagatnya melihat lihat rumahnya tadi sewaktu menunggu Gea, ia tau kemana harus masuk dan belokan rumah.


"Dia penyekutu Allah, Rain ! Adry sedang mengikuti Gea bersama Tian dan Bunga !"jawab Nino, bola mata Rain hampir saja keluar dari tempatnya.


"Serius??" tanya Rain memekik, membuat bi Kokom terpanggil.


"Apanya neng?" bi Kokom membereskan teh yang barusan disuguhkan untuk om Yuan.


"Ahh, engga bi !! itu Rain lagi latihan drama,, seriusan !!!" Rain berkilah kembali berteriak, sedangkan Nino sudah tertawa tergelak melihat kekonyolan Rain. Bi Kokom menggelengkan kepalanya sambil tertawa renyah.


"Aaa...bibi dikira Rain lagi lawak apa !!" rajuknya manja memeluk bi Kokom.


"Ya lucu aja kaya anak sd main drama dramaan," jawab bi Kokom.


"Aaa...bibi..udah ahh, Rain lapar lah !!" jawab gadis manis ini, seraya berlari kecil menuju meja makan.


"Neng, neng...badan saja yang sudah menjadi wanita..kelakuannya masih seperti neng Rain kecilnya bibi !!" gumam bi Kokom.


"Bener bi," jawab Nino tersenyum menatap kepergian Rain.


"Loh, siapa yang ngomong ??!" ucap bi Kokom memegang tengkuknya merinding, ia bergidik sambil berlari kecil menuju meja makan menyusul Rain.


.


.


"Whuffffff,,, hoffftt !!" ia menarik dan membuang nafasnya lalu menggeliat malas, beruntunglah hawa kota ini masih segar dan sejuk untuk dihirup, oksigen yang dihasilkan pepohonan pinus dan lainnya merupakan penyumbang hawa segar ini.


Rain memejamkan matanya menikmati sinar matahari menerpa kulitnya menyalurkan vitamin yang baik untuk kulitnya, kembali memang ia harus banyak bersyukur jika ini gratis pemberian Tuhan.


Rain membuka matanya, saat tak sengaja ia melihat seorang laki laki, dari arah sebrang rumahnya sedang asyik memperhatikannya. Rain tak mengenalinya, maklum lah ia jarang berada di rumah dan berbaur bersama tetangga selain bu Tita dan Pian.


Lelaki itu menunduk dan menutup jendelanya, saat kepergok tengah memandangi Rain.


"Dih, freak !!" gumam Rain. Rain kembali menutup jendela kamarnya, cukup untuk hari ini. Jika terlalu lama ia akan terlambat ke kampus.


Rain meraih handuknya lalu mandi,


"Eh, baju gue mana??" Rain mencari cari bajunya yang sudah ia siapkan tadi di atas kasur. Tak ada di manapun, ia ingat betul menaruhnya di atas ranjang,


"Cari ini??" lirih seseorang dari atas lemari.

__ADS_1


Rain memutar bola mata jengah, "balikkin No, nanti aku telat !!" pinta Rain, tapi Nino menggeleng.


Nino memang hantu usil, "No, ga usah main main deh, ini aku udah telat !" geram Rain.


Nino turun membawa kemeja dan tank top Rain.


"Dasar hantu usil, mesum !!" ucap Rain. Tapi Nino malah tertawa.


"Nih, apa ga bisa kamu keliatan ga cantik sekali aja honey?" Nino menarik pinggang ramping Rain yang masih terbalut handuk.


"Jangan mulai, No. Kalau mau gombal gombalan nanti aja pulang ngampus !"


Nino dan Rain berpandangan, tiba tiba Nino menarik tengkuk Rain dan menyatukan benda kenyal keduanya. Kiss kali ini begitu menuntut, keduanya terbawa kabut ga*ir@h, namun Nino langsung melepaskan p@gu* tan keduanya. Mengusap lembut bibir Raina yang basah menggunakan jempolnya.


"Makasih honey, manis..." ucapnya tertawa renyah.


"Tau ga kenapa?" tanya Rain.


"Kenapa?"


"Soalnya pabrik gula ku gusur ke bibirku,"kekehnya, Nino kembali tertawa renyah.


"Honey, lain kali jangan buka jendela itu lagi, apalagi kamu keliatan sexy dimata lelaki !" ucap Nino.


"Hah??!" tanya Raina, rasanya ia bersikap dan berpenampilan wajar wajar saja.


"Nanti banyak yang tergoda !" jawab Nino.


.


.


Sesampainya di kampus Raina melihat seseorang tengah duduk manis sambil membaca buku novel berjudul Pacar Adopsi...


" Hai Mil, " sapa Rain ikut duduk bersama Mila.


"Hai Rain, baru datang?" tanya Mila.


"Iya, loe datang sejak kapan?" tanya Rain melihat Mila sudah anteng saja membaca novel di bawah pohon rindang.


"Dari 2 tahun kemaren !!" jawabnya tersenyum, Rain tertawa, "Ngakak loe !"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2