Guardian Ghost

Guardian Ghost
Melepas kangen


__ADS_3

Mobil tua di jalanan yang baru. Meskipun tua modelnya tak tergerus jaman, mobil berwarna biru dongker berbrand salah satu merk mobil ternama Volkswagen itu berhenti di sebuah toko bunga.


Mawar putih dan Lili, menjadi pilihan Rain. Ia sangat hafal, saat masih di Jakarta jika ia pulang ke Bandung dan ziarah ke makam orangtuanya, om Harsa selalu membeli mawar putih dan lili.


"Bu, Pian, tunggu disini sebentar ya..Rain mau ziarah dulu. Setelah ini kita mengunjungi Tian," ucap Rain meraih kain scarfnya.


"Iya neng, silahkan," jawab bu Tita.


Langkahnya berjalan menuju perkomplekan tanah makam, bau bau tanah makam dan semerbak bunga kamboja, menusuk indra penciuman.


"Mah, pah. Rain datang," gumam Rain. Nino berjalan di sampingnya merangkul pinggang Rain.


Ia kini berdiri diantara kedua makam kedua orangtuanya, Rain bersimpuh di hadapan pusara keduanya, setiap kali datang kesini Raina menangis, mengadukan setiap keluh kesahnya, bercerita tentang betapa kejamnya dunia padanya.


"Pah, mah..Rain gadis kuat ko, papah sama mamah ga usah khawatir ya, Rain memang terkadang cape pah, mah, tapi Rain baik baik saja. Rain rindu kalian,tunggu Rain disana ya pah, mah !" air mata membanjiri pipi gadis manis ini.


Ia menyerut air di hidungnya dan menghapus air matanya, disinilah ia bisa melepaskan bebannya.


"Rain bawa bunga kesukaan mamah sama papah !!" Rain menaruh 2 buket bunga di masing masing makam,menyiram air dan membersihkan makam keduanya, terakhir ia memberikan hadiah terindah, berupa do'a dari anak yang sholeh.


Nino mengusap lembut bahu, pundak dan terakhir mengusap sisa sisa air matanya.


"Kamu gadis kuat honey, " ucap Nino menguatkan.


"Pah, mah. Rain pamit ya, nanti Rain datang lagi, assalamualaikum !" ucapnya.


Rain meneruskan langkahnya menuju kompleks makam yang berbeda, yaitu makam eninnya. Eninnya paling suka mawar merah dan lavender. Itu kenapa Rain suka menempel pada eninnya, wangi wanita paruh baya itu menenangkan, wangi lavender.


"Enin, Rain datang !!" kembali Rain membersihkan dan memberikan bunga pada pusara eninnya.


Rain berdiri, saat berbalik ia bersenggolan dengan seseorang.


"Dukkk !!"


"Ehhh, maaf !" ucap Rain.


"Ehh, iya sorry gue juga ga sengaja !" seorang gadis peziarah lainnya. Rain dan gadis itu saling mengangguk tersenyum. Rain melihat gadis itu berhenti di dekat makam eninnya, makam bernama Nur, sepertinya itu ibunya. Karena si gadis menyapa makam itu dengan sebutan ibu.


Rain meninggalkannya untuk berjalan lagi menuju makam Nino, Rain menoleh pada Nino. Ia menangis, namun Nino mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


"Aku seneng kamu mau mengunjungi makamku !" ucapnya.


"Aku ga percaya kalo kamu udah ga ada, No !" Rain menelusup masuk ke dalam pelukan Nino. Untung saja disini sepi.


"Hey, aku disini," gumamnya.


Rain menaruh sebuket bunga mawar putih dan lili lainnya di pusara makam Nino, mencabut rerumputan liar dan daun daun kering yang mengotori makam Nino.


"No, gue janji. Gue bakal nemuin siapa yang udah bunuh loe, tapi apa setelah pelakunya tertangkap loe bakal ninggalin gue No?" tiba tiba Rain menangis tergugu. Rain mengipasi wajahnya yang memanas.


"Honey, jangan nangis !" ucap Nino menangkup wajah Rain, mengecup mata kanan dan kiri Raina bergantian.


"Yakinlah honey, banyak orang yang sayang sama kamu, termasuk aku !" jawabnya.


Bahkan Rain juga memakai kalung berliontinkan huruf N. Raina mengakui adanya perasaan terhadap Nino.


" Hey honey, kalo kamu kelamaan nangisnya kasian bu Tita dan Pian, nungguin kamu !" jawab Nino.


Rain segera menghapus air matanya dan beranjak pergi, namun sebelum benar benar pergi, Rain mengecup batu nisan bertuliskan nama Nino.


"Bye honey !" ucap Rain.


"Kalo arwahnya suka nuntut lebih !" jawab Rain tertawa.


Rain kembali, bersamaan dengan gadis yang tadi bersenggolan dengannya, sepertinya ia dijemput oleh ayahnya.


"Gea!! cepat, ayah harus bekerja !" pekik sekrang lelaki berpakaian casual, tidak mencerminkan seseorang yang akan pergi bekerja pada umumnya.


Rain masuk ke dalam mobil, "maaf lama ya bu, Pian !" ucap Rain, keduanya mengangguk, "tak apa neng Rain, sudah selesai kah?" tanya bu Tita.


Rain mengangguk, dan melanjutkan perjalanan.


.........................


Besok Rain harus ke pabrik, mengecek ini dan itu, namun sebelumnya ia harus ke kampus. Hari harinya sangat sibuk sekarang, sampai sampai rumah hanya dijadikan tempat singgah saja untuk berganti pakaian.


"Jangan lupa minum vitamin bu bos!!" Nino melayang seraya membawa botol kecil vitamin dan air minum.


"Makasih sayang !!" jawab Rain, gadis itu tak canggung lagi mendekat dan mengalungkan tangannya ke leher Nino. Mengecup bibir dingin Nino, bibir sedingin es, namun anehnya berwarna pink menggoda.

__ADS_1


"Gadis nakal ! ini alesanku jagain kamu full 24 jam !" ucap Nino.


Tanpa sadar Nino membawanya melayang beberapa kaki diatas karpet.


"Kalo pacaran sama manusia, ga akan bisa melayang layang kaya gini !!" seru Rain malah terlihat asyik.


.


.


"Bi, mamang. Rain jalan dulu ya ! assalamualaikum !" Rain mengecup punggung tangan keduanya, hanya mereka lah orangtua pengganti untuk Rain, darah bukanlah halangan untuk saling mengasihi.


Hari ini di kampus tugas sangatlah banyak, membuat Rain pusing 10 keliling.


Selesai dari kampus pun Rain langsung tancap gas menuju pabrik, tak ada yang salah sepanjang jalan yang dilalui Raina, seakan ketakutannya tak terbukti, dan semua baik baik saja.


Siang hari memang enak untuk kita berleha leha dan memejamkan mata, menikmati angin sepoi yang melambai lambai mengajak kita ke alam mimpi tidak bertepi. Apalagi suasana pabrik di tengah tengah area.kebun teh yang luas, dan diapit oleh kampung yang masih asri.


Rain memarkirkan mobilnya di tempat parkir VVIP. Ia menghampiri pos satpam, melihat kedua satpamnya sedang bertugas, untuk saat ini hanya ada mereka saja. Raina sedang mencari satpam tambahan untuk berjaga bergantian.


Rain mendekat, ia tersenyum melihat pak Sarif dengan mata tertutup dan mulut menganga. Pak Dayat menyenggol lengan pak Sarif, melihat kedatangan bosnya.


"Tidak apa pak, tidak usah dibangunkan !" Tapi terlanjur basah pak Sarif terlanjur bangun, ia tergelonjak.


"Maaf bu, saya ketiduran !!" ia menunduk.


"Tidak apa pak, bapak lelah ?" tanya Rain ikut duduk di pos satpam, ia bukan bos bos yang so bossy ataupun angkuh, justru Raina adalah pemilik pabrik yang lebih merakyat.


"Maaf bu, semenjak kepulangan ibu dan kawan kawan tempo hari, kami sering melakukan ronda bu !" ucap pak Sarif, Raina mengernyitkan dahi, ada sesuatu yang aneh.


"Apa ada yang janggal pak?" tanya Raina.


"I..iya bu, anu...kampung sekarang sering di teror siluman kera, kadang juga sosok abah, abah suami mak Iting yang sudah tiada !! banyak anak anak yang baru pulang mengaji selalu diganggu begitupun warga yang baru pulang shalat isya dan bekerja, jika tidak di tanjakan sana, ya dekat rumah mak Iting, bu !" jelas pak Sarif.


Sudah Raina duga, di dalam air yang tenang selalu ada buaya yang siap menerkam.


"Saya akan secepatnya memberitahukan pada teman teman saya,pak ! semoga bisa membantu !" jawab Rain. Gadis itu menoleh ke arah ambang pintu dimana Nino berada,


"Dia !!" jawab Nino.

__ADS_1


__ADS_2