Guardian Ghost

Guardian Ghost
Kematian Adry


__ADS_3

Keduanya masuk ke bawah ranjang kayu yang hampir bobrok milik Rian, berharap sosok itu tidak menemukan mereka di tengah gelapnya malam.


Srekkk....srekkk...


Bau hangus itu semakin menyengat di hidung, bau amis d@ra*h juga menambah rasa mual, jangan lupakan bau menyengat b@ngkai, jika tidak menutup hidung mungkin keduanya sudah terbatuk batuk dan muntah.


Rarrrrrr !!!!! mulut itu terbuka mengeluarkan suara tenggorokan yang hancur. Begitu mengerikannya kejadian tabrakan itu, sampai rupanya pun tak ingin Raina bayangkan.


Rain dan Rian hanya saling mengeratkan pegangan, Rain yang memegang bantal milik Rian, meraba raba penuh waspada, mencari dimana barang bulat melingkar itu.


Alis Rain menukik, saat telapak tangannya mengusap sebuah benda keras dan bulat, dibalik sarung bantal berbahan kain katun, sebuah cincin dengat batu permata di tengahnya.


"Ketemu !!" batin Rain. Rain dan Rian terdiam cukup lama, dengan pintu yang digedor gedor heboh oleh ibu Rian di luar rumah. Suara itu tak ada lagi, apakah ia sudah pergi, sedikit sedikit Rain mengarahkan flash ponselnya, bergeser lebih ke kanan.


Matanya membulat sempurna begitupun Rian, tangan Rain bergetar hebat, begitupun degupan jantung Rain semakin terpompa begitu cepat. Tatkala sepasang kaki yang berlumuran d@rah dan juga hancur berada tepat di dekat ranjang tempat mereka bersembunyi, Rain membekap mulutnya sendiri. Kemungkinan terburuk yang akan terjadi, sosok itu menemukan mereka.


Rain mendekap ponselnya di dada, ia bersiap dan mencoba menenangkan hatinya. Bau khas sosok itu tak lagi ia hiraukan.


Belum cincin itu di ambil, selang beberapa detik kemudian tiba tiba kaki Rain terseret keluar dari bawah ranjang, membuat gadis ini memekik.


"Aaaaa !!!!" tangannya menahan pada tempatnya, begitupun Rian yang memegangi Rain agar tidak terbawa. Tapi cengkraman tangan tangan penuh dar@h dan terlihat tulang tulang persendiannya itu begitu kuat.


"Kak Rain !!!" pekik Rian.


Rain menyorot kakinya dengan flash di ponselnya, saat ia berhasil terseret, ia tak sanggup melihat rupa si sosok pria ini.


Rain terseret dari tempatnya menuju dapur, Rian memberanikan diri keluar dari bawah ranjang, lalu menarik narik Rain namun nihil,


"Tolong !!! tolong !!!" pekik Rian.


"Rian cepat ambil cincin itu di sarung bantal tadi !!" pekik Rain masih mencoba bertahan, namun sayang Rain terseret dan dibawa sosok pria itu, jauh dari rumah.


"Kak Rain !!! jangan bawa ka Rain !!!" pekik histeris Rian.


Dari arah luar rumah pun sudah ada beberapa orang lagi, yang menggedor gedor pintu rumah, mereka adalah Dika, Romi dan Gea.


Rian menarik bantal dan mencari cari cincin itu. Pintu di dobrak dari arah luar oleh Dika dan Romi.


" 1, 2, 3 !!!"


"Brakkkk !!!"


Raina tak ada di sana, "Rian mana Raina??" tanya Dika panik. Bocah itu menggeleng tak tau.


Namun Nino, yang tau bahwa makhluk itu membawa Rain kemana, tak tinggal diam.

__ADS_1


"Mau loe bawa kemana Rain, hantu si@lan !!" geram Nino.


"Gue tau kemana dia bawa Rain, ikuti gue Dika !!" ucap Nino, mudah bagi Nino menemukan Rain.


"Maafin aku honey, aku nyusul Dika dan Gea, agar masalah ini cepat selesai," batin Nino.


Rian menemukan cincin itu, "bu, Rian keluar sebentar bersama kaka kaka itu, menolong ka Rain !!" ijin Rian pada ibunya.


"Nak Raina kemana? bukannya tadi dia disini sama kamu ?" tanya ibu Rian keheranan.


"Panjang ceritanya bu, Rian harus benar benar pergi sekarang !!"


Rian membawa cincin itu bersama Dika, Romi dan Gea.


.


.


Laju motor mereka terhenti tepat di jalan layang, angin berhembus begitu kencang diatas sini, pemandangan kota Bandung yang sangat mempesona dengan lampu lampu gedung dan dinginnya udara menambah daya tarik suasana malam hari disini, tapi tidak dengan kisah jembatan ini.


Langkah mereka terhenti saat melihat Raina sudah berdiri di ujung jembatan, Nino mengepalkan tangannya marah, menunggu waktu yang tepat membawa Rain dari tangan lelaki itu.


"Sampai loe apa apa kan Rain, tujuan dan maksud loe ga akan pernah sampai !!! loe buat Rain terluka maka perempuan ini bakal gue sakiti !!" Nino berbalik meraih Gea, sontak saja Gea terkejut tubuhnya tiba tiba di tarik Nino, tampilan Nino pun berubah drastis membuat Gea takut.


"Lepasin gue !!!"


"Dik !!" Romi mencoba meraih Gea yang tiba tiba tertarik oleh sesuatu namun entah apa itu, Dika menahan Romi.


"Biarkan ini menjadi urusan dia !" jawab Dika. Romi celingukan, dia yang dimaksud Dika siapa??


Dika membuka mata batin Romi, kini Romi dapat melihat dua makhluk yang sama menyeramkannya, "itu, loe tolongin dong Dik !! elah loe diem aja !!" pekik Romi sewot.


"Loe bisa diem dulu ngga !! " sarkas Dika.


Rain sudah berurai air mata. Rian melihat sosok Nino tak kalah menyeramkan walaupun tak sehancur sosok lelaki itu.


Raina menggeleng seraya menangis meminta pertolongan Nino, ia pasrah atas nasibnya, jika memang ia harus jatuh dari atas sini dan mati saat itu juga, mungkin ia akan bersama Nino selamanya, ia bisa bertemu dengan papa dan mamahnya.


Sosok pria ini menahan dan membuat tubuh Rain membeku, seakan hanya dapat bergerak sesuai perintahnya.


"Kak Rain !!!" pekik Rian seraya menunjukkan cincin.


"Kakak, maafin Rian !!! Rian ga bermaksud mengambil atau mencuri apa yang bukan hak Rian !!!" ucap Rian bergetar, antara takut dan menyesal.


"Please, maafin Rian dan lepasin ka Rain !!"

__ADS_1


"Adry, aku tau itu kamu !!" tangisan Gea menyayat hati siapapun yang mendengarnya, untung saja keadaan jalanan sepi di tengah malam ini.


"Aku ikhlas kamu pergi, dry !!" ucap Gea.


Perlahan sosok hancur itu merubah wujudnya menjadi sosok semasa hidupnya. Terakhir dia masih bernafas di dunia ini.


Rain sedikit sedikit bisa menggerakkan tubuhnya lagi, ia melihat ke bawah, ketinggian posisinya membuat lututnya lemas, selangkah saja ia bergerak maka nyawanya melayang. Di ujung sana Rain melihat Nino masih dengan tampilan menyeramkan dan mata merahnya menahan Gea, matanya tak sedetik pun lolos dari mengawasi Rain.


Rain semakin menangis tergugu, membuat Nino ikut merasakan sakit.


"Adry, aku mohon lepasin Raina..apa yang mau kamu tunjukkan sama aku ??" ucap Gea ditengah tengah sesenggukannya, tak menyangka kekasihnya ini membawa cintanya sampai mati.


Rian mendekat ke arah Rain dan Adry sedikit sedikit, menaruh cincin itu atas permintaan Dika di jalanan beraspal, lalu segera kembali ke rangkulan Dika.


"Adry, ini yang mau loe sampaikan kan?" tanya Rain. Pria dengan potongan rambut undercut dan tindik di telinga kirinya ini mengangguk.


"Maaf, "ucapnya. Adry berjalan mendekat dan mengambil cincin itu. Dengan hati hati Nino melepas Gea dan menyongsong Raina.


Adry menghampiri Gea, dan berlutut di depan Gea, menyerahkan cincin yang seharusnya moment manis itu terjadi pada malam saat dimana Adry mengalami kecelakaan.


Rain menelusup masuk ke dalam pelukan Nino, menangis sesenggukan, kisah mereka tak kalah pilu dengan Gea dan Adry.


"Jangan pernah berfikir untuk melompat !" seakan tau isi pikiran Rain, alis Nino menukik tajam pada gadis yang ada di pelukannya.


"Tapi kalo aku lompat, aku bisa sama sama kamu selamanya, bisa ketemu papah sama mamah ," tak tau $€t@n mana yang membisikkan ide itu pada Rain.


"Kalo kamu lompat maka beda urusannya," jawab Nino.


Semuanya melihat jika maksud Adry malam itu adalah hendak pulang seusai manggung, Adry adalah seorang anak band, ia berniat melamar Gea, namun takdir berkata lain.


Gea menangis sesenggukan, semua sudah terjadi. Keinginan hidup bersama dalam satu ikatan bersama Adry pupus sudah....


Rain mengernyitkan dahi, " tunggu !!!" ada yang janggal dari tragedi ini.


"Gue rasa ada yang janggal !! " ucap Raina lantang.


Dika dan Nino pun merasakan itu, sosok lain berada disini, sosok berbulu, hitam dan besar yang mengintip mereka dari balik tiang lampu jalan. Nino mencoba mengejar sosok berbulu itu, tapi kalah cepat ia hampir saja menangkap sosok itu hanya dapat menarik beberapa helai rambut gimbal si makhluk.


"Gue rasa kejadian ini bukan murni karena human eror !!" jawab Dika.


Adry dan Gea menoleh, "Itu yang ingin gue sampaikan juga !" ucap Adry dingin.


"Malam itu....."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2