
Bi Kokom memberikan kotak paket berpita merah.
"Neng, ada paket !" pekik bibi dari lantai bawah.
"Iya bi, " jawab Raina tak kalah memekik. Gea sudah kembali ke kontrakannya, Raina turun dengan tergesa, dan meraih kotak berwarna ungu.
"Makasih bi," ucap Raina.
Akhir akhir ini, Raina senang bersenandung kidung sunda, ia bahkan membeli kasetnya untuk di putar di rumah. Seperti saat ini, ia menyetelnya di pemutar musik di kamarnya, sambil menari nari ala penari jaipong. Gadis itu memicingkan matanya dan menghayati setiap alunannya. Rambut panjangnya melambai ke kanan dan ke kiri dengan indahnya.
Ia membuka kotak, dan menyunggingkan senyumannya. Sebuah gaun malam berwarna hitam pemberian Bagas, terbuka dibagian leher dan bahunya. Gaun selutut beserta sepatu hak tinggi. Nanti malam ia akan memakainya saat makan malam dengan lelaki yang umurnya hampir sama dengan Dika itu.
Raina menyembunyikan gaun itu di dalam lemari bajunya sebelum Nino tau, dan akan merusaknya. Lantas sekarang ia berangkat ke kampus, aneh rasanya, tak ada Nino ataupun Dika yang berada di sampingnya saat ini.
.
.
"Siapa dia No?" tanya Dika.
"Nyai Kembang Winasih..." jawab Nino.
"Jadi benar mitos urban itu nyata, kur@ng ajar !! " Dika membuang puntung rokoknya ke bawah dan menginjaknya hingga padam.
"Bagaimana cara menyelesaikannya?" tanya Dika.
"Tak ada cara lain, selain menemukan pelakunya !" jawab Nino.
"Sekarang Raina dimana?" tanya Dika.
"Rain ke kampus, siap siap nanti malam..kita akan melihat pelakunya !"
Dika tau urban legend tentang pelet nyai kembang, Nyai Kembang Winasih adalah seorang penari pada jaman Belanda dahulu, ia adalah selir petinggi Belanda pada masa penjajahan, untuk menghibur rakyat dan petinggi Belanda, ia menggunakan susuk dari gunung ********, agar tariannya dapat menyihir siapapun yang menyaksikan, dan wajahnya tetap awet muda dan kencang. Bahkan selendangnya saja, ampuh memikat siapapun kaum Adam yang menjadi targetnya. Namun sayang, setiap makhluk yang bernyawa memiliki patokan ajalnya. Nyai kembang di bunuh, oleh sesama penari yang merasa cemburu, karena ia menjadi selir kesayangan. Ia dibunuh saat akan pentas untuk suaminya sendiri, menggunakan tusuk konde. Mitosnya, siapapun yang bertapa di gunung ***** dan mendapatkan selendang hijau milik nyai kembang dapat memelet siapapun lawan jenis yang diinginkannya.
"Sepertinya kita akan melakukan perjalanan jauh dan tidak mudah No, kita harus mencari tusuk konde itu !" ucap Dika. Sedangkan mereka pun harus menjaga Raina, keduanya tak dapat meninggalkan Raina seorang diri. Bukan tidak mungkin, Raina nantinya akan dicelakai, atau saat mereka kembali, malah Raina sudah menjadi milik si pelaku pelet.
"Gue yang bakal cari tuh susuk," ucap Dika. Nino menoleh.
"Oke thanks Dik, sudah mau berjuang untuk Raina !"
"Sama sama, anggap saja gue sedang melakukan pembuktian cinta," jawab Dika menyunggingkan senyuman. Dika tau, ini tak akan mudah dan mulus semulus kulit Raina.
"Kalo gitu sebaiknya gue siap siap No, ini bukan perjalanan yang mudah dan sebentar, mungkin beberapa hari gue bakalan pergi !" jawab Dika menimang nimang resiko terburuknya.
"Hati hati brad, kalo loe mau..loe bisa minta Adry buat temenin loe !" jawab Nino.
"Boleh, untuk sekedar jaga jaga kalau gue memerlukan pertolongan !" jawab Dika.
.
__ADS_1
.
Raina masuk ke dalam gedung stasiun radio. Jadwalnya bekerja, sebelum masuk dan bekerja, ia masuk ke dalam toilet, bukan ingin buang ha*j@t melainkan ia mengeluarkan bedak, lipstick, dan sisir.
"Hay Rain, tumben amat bedakan !" ucap Ve.
"Biar selalu paripurna," jawab Raina genit. Ve merasa aneh, pasalnya Raina bukanlah gadis kebanyakan yang ganjen dan setiap kali berdandan. Malah Raina terkesan gadis yang polos dan lugu, sedikit tomboy.
Ve kembali ke ruang audio, "Raina, belum datang?" tanya Tria.
"Udah, barusan masuk toilet. Tapi ko gue aneh ya ! " jawab Ve menggaruk tengkuknya.
"Aneh kenapa?" tanya Tria.
"Sejak kapan Raina genit genit manja gitu, mesti bedakan sama pake parfum segala," jawab Ve. Dika menggelengkan kepalanya. Untuk kasus ini ia tidak bisa gegabah mengeluarkan makhluk satu itu, cara apapun tak akan mempan mengusirnya, hanya satu cara yang harus ia tempuh.
"Guys, besok gue ijin ga masuk kerja. Tri, gantiin dulu gue !" ucap Dika.
"Kemana Dik?" tanya Tria.
"Gue mau check up, luka kemaren ! gue sudah bilang bu Sibgi ko, kalo gue ambil cuti !" jawab Dika.
"Oh oke, masih sakit ya Dik?" tanya Ve.
"Dikit sih, tapi gue takut ada luka dalam aja !" jawabnya berbohong.
Raina masuk, ada aura yang berbeda dari gadis ini yang ikut terbawa masuk.
"Kaya wangi apa..gitu !!" jawab Ve.
"Ra, loe ga apa apa kan ?" tanya Dika.
"Ga apa apa, emang gue kenapa?" tanya Raina dingin. Seperti tak ada keramahan untuk lelaki lain darinya. Fadly, Romi dan yang lain saling pandang menanyakan keheranan mereka yang sama pada Dika. Begitupun saat pulang, Raina meminta ijin untuk pulang lebih awal.
"Dik, ada yang ga beres sama tuh anak kan?" tanya Romi. Dika mengangguk setuju.
"Raina kena pelet guys !" jawab Dika menatap kepergian Rain.
"Hah??! dipelet ??!" tanya mereka.
"Guys, nanti gue jelasin. Yang pasti saat ini gue harus ikutin Raina," Dika berjalan ke arah motornya dan memakai helm, mengikuti gadis itu pulang.
.
.
.
Dika melajukan motornya di belakang mobil Raina. Sampai ke rumahnya. Dika tidak ikut masuk ke dalam, ia malah lebih memilih diam bersembunyi, di rumah samping rumah Raina.
__ADS_1
"Honey ??! kamu mau kemana? dengan pakaian terbuka kaya wanita malam gitu ?!" tanya Nino. Tapi tak ada jawaban dari Raina.
Nino cukup terpukau dengan penampilan Raina, dibalik penampilannya yang selalu tomboy, Raina tetaplah gadis yang tak dapat dipungkiri kemolekan tubuhnya. Gadis yang sudah matang, yang pastinya akan dikagumi banyak mata lelaki.
Dress selutut berwarna hitam, tampak indah mencetak tubuh bak gitar spanyol Raina. sepatu hak tinggi, cocok di kaki Raina yang putih mulus tak tersentuh nyamuk sekalipun. Meskipun Raina bukanlah gadis yang tinggi semampai. Make up yang girly, menonjolkan sifat keayuannya ssbagai seorang perawan, dan rambut hitam yang digerai, sukses membuat fantasi lelakinya bermain main di atas awan.
"Honey," Nino memegang lengan Raina yang masih sibuk merapikan rambut.
"Mau makan malam !" jawab Raina berbalik.
"Sama siapa? Dika?" tanya Nino menebak nebak.
"Ko Dika?! bukanlah !" jawab Raina.
"Aku ga ijinin, liat pakaianmu !! sudah macam wanita wanita malam !!" jawab Nino.
"Masa iya makan malam pake mukena ! ngaco !!" jawab Raina.
Dengan terpaksa Nino mengunci kamar Raina, saat gadis itu mencoba membuka pintu kamarnya, ia kesulitan.
"No, ga usah mulai deh ! buka cepetan ! aku terlambat !" pinta Raina sewot.
"Engga ! " jawab Nino, tak lama suara Raina berubah, ia mendekati Nino dengan tatapan tajam dan tertawa.
Secara kasat mata, tubuhnya adalah Raina, tapi jika dilihat dari bayangan dan cermin, sosok Raina berubah menjadi sosok perempuan dengan rambut yang dipasang konde dan untaian melati, sepaket kemben dan jarik juga selendang.
"Hahahahaha, " ia tertawa mengerikan.
"Kamu pikir saya tidak bisa membuka pintu itu ??! " ia memutar kunci pintu tanpa meliriknya.
"Saya nyai Kembang Winasih ! tuan saya menyukai gadis ini..tak ada yang bisa menghalangi niatan tuan saya !!" ucapnya melotot. Nino mencoba menghentikan langkah Raina. Tapi gadis itu bagai memiliki kekuatan super, Nino didorong sampai menabrak lemari. Dan ia membawa tubuh Raina menuju rumah Bagas.
"Rain !!" Dika yang sudah hampir satu jam menunggu, akhirnya berdiri melihat Raina keluar rumah.
"Raina?!" tanya Dika, sedikit terkejut dengan penampilan cantik Rain. Raina tak menggubris, "tunggu !!" Dika menahan tangan Rain. Raina melepas dan menghempaskan tangan Dika.
"Lepasin kang !" jawab Raina menatap tajam.
"Sorry, bisa lepas Raina !" ucap seseorang dari belakang Dika, mereka sontak menoleh pada seorang laki laki berkaos dan dilapisi kemeja tanpa dikancingkan.
"Mas Bagas !" gumam Raina.
"Raina, sudah siap?" tanya nya, Raina mengangguk dan berlari kecil memeluk lengan Bagas. Membuat Dika terbakar api cemburu, dan amarah. Begitupun Nino yang baru saja keluar dari rumah Raina.
"Ikuti mereka !" pinta Nino, keduanya mengikuti Bagas dan Raina.
.
.
__ADS_1
.