
Raina masuk ke dalam mobil Bagas, tak tau apa yang ada di pikirannya. Ia sudah digelapkan segala galanya. Hanya ada Bagas,
"Raina, kamu cantik !" ucap Bagas, Raina tersipu malu.
Keduanya masuk ke dalam parkiran restoran. Tak ada yang aneh, hanya makan malam biasa. Dika menunggu keduanya bersama Nino.
"Besok gue berangkat, No !" ucap Dika, duduk di bahu jalan, tepat di sebrang restoran.
"Oke, hati hati !" jawab Nino menepuk nepuk pundak Dika, kedua lelaki beda dunia ini sama sama mencintai Raina.
"Kayanya Raina ga akan bisa mencintai gue !" ucap Dika getir.
"Kenapa loe mikir gitu ?!" tanya Nino.
"Entah, tapi gue rasa hatinya sudah sepenuhnya buat loe," jawab Dika.
"Gue yakin loe pasti bisa, ketulusan hati loe bisa meluluhkan hati Raina, dan jika sudah saatnya tiba. Maka, gue akan dengan sangat ikhlas melepas Rain. Gue hanya percaya sama loe, Dik !" ucap Nino. Tak berapa lama, Raina dan Bagas keluar. Tapi ada yang beda dengan gadis ini, seperti tatapannya kosong dan menurut saja.
Apa lagi sekarang? Bagas membawa Raina belok ke rumahnya, bukan malah mengantarkan Raina ke rumahnya yang hanya berjarak 15 langkah dari pintu rumah Bagas.
"Sin*tink !!!! " umpat Dika.
Nino mengikuti. Namun seperti ada benteng yang menghalangi, menahan Nino untuk tetap berada di luar rumah Bagas.
"Gue ga bisa masuk, Dik !!" ucap Nino.
"Si@*lan !!!" Dika mencoba cara lain, tak mungkin ia mendobrak, bisa bisa ia diteriaki maling.
"Gue manjat aja ke belakang pager ! cari pintu atau jendela yang bisa di cokel !" jawab Dika. Keduanya khawatir, apa yang akan dilakukan Bagas pada Raina.
Dika berusaha memanjat pagar, yang tingginya diatas kepalanya, bersama Nino yang membantu. Kakinya berpijak pada pinggiran pagar dan melompat seperti seorang ahli parkour. Energi si penari itu begitu kuat. Terlihat dari kaca jendela, Raina sedang berlenggak lenggok, di depan seorang pria yang duduk, layaknya penari jaipong jaman dulu.
"Raina !!" gumam Dika. Begitupun Nino, yang sekuat tenaga untuk bisa memasuki dan menghancurkan benteng ghoib ini. Raina bahkan terlihat luwes, dan genit pada Bagas, sedangkan lelaki itu tersenyum puas melihat kemolekan dan kecantikan Raina.
Nino sekuat tenaga mengumpulkan kekuatannya, membuka pintu dari atah depan, bersama Dika yang mencoba mendobrak pintu belakang. Matanya memerah, tak ada yang boleh mengganggu Rain nya.
Nino melewati benteng itu dan menghancurkannya, tak ada yang lebih kuat dari tekadnya untuk melindungi Raina.
"Brak !!!!" bersamaan dengan Dika yang berhasil masuk dari pintu belakang.
Rain sudah tak ada di ruang tamu Bagas. Lalu dimana keduanya??
Dika dan Nino mencari cari. Rupanya Raina sudah berada di kamar utama milik Bagas,
__ADS_1
"Brakkk !!!"
"B@nk*sat !!!" pekik Dika ia langsung menendang Bagas. Sedangkan Nino membangunkan Raina, gadis ini sudah terbaring di ranjang, untung saja pakaiannya masih utuh.
Tapi Raina tak bergeming, jiwa gadis ini seperti tidak pada tempatnya.
"Honey, please !!! kembali !!" Nino mengguncang guncangkan bahu Raina. Tatapan gadis ini kosong. Entah melanglang buana kemana.
Bagas yang diseret Dika menuju keluar kamar, tersungkur dan terjatuh ke bawah tangga.
"Si@*lan !! loe suka dia, ga kaya gini caranya !!" Dika geram, Dika merasa malu sebagai seorang laki laki, dan tentu saja murka. Di tonjoknya Bagas secara memb@*bi buta.
Bagas terbatuk batuk, ia seakan tak diberi kesempatan untuk berbicara, ataupun melawan. Di saat Dika menjeda pukulannya,
"Uhuukk..cuih !!" Bagas meludahkan cairan merah, hasil dari pukulan pukulan Dika.
"Hahahahaha !" lelaki ini malah tertawa.
"Benar, gue memang menyukai Raina, gadis cantik nan jutek itu. Tapi sayangnya dia tidak melirikku, sombong sekali dia !" jawab Bagas.
"Sudah lama, sejak aku masih di kompleks depan ! sampai aku pindah kesini, gadis itu tetap tau mau melirikku ! tapi dia semakin menggoda, gila memang !! aku sudah gila karena gadis itu !! hingga aku memiliki tekad mancari selendang hijau itu !" jelasnya tertawa menyeramkan.
"Dimana kamu taruh selendang itu ??!" tanya Dika meraih kerah kemeja dan mencengkramnya, hingga Bagas kesulitan bernafas.
Nino menahan jatuhnya dengan salto dan pijakan kaki. Berlari memeluk tubuh Raina dari belakang, gadis itu menggeram dan berontak.
"Honey sadar dan kembalilah, aku mohon !" Raina seperti sedang berteriak meminta tolong pada Nino, tapi entah dimana. Nino dapat merasakkan itu, Raina nya memanggil.
Dika sudah membuat Bagas terkapar, tapi ia tak dapat menemukan dimana Bagas menyimpan selendang hijau itu. Sampai Nino meminta tolong pada Dika.
"Dika !!" pekiknya. Dika berlari, ia melihat Nino yang memeluk menahan Raina.
"Rain !!" Dika menangkup wajah Raina yang terlihat kehilangan nyawa. Pucat dan kosong.
"Raina ini gue, please comeback, gue sayang loe Ra.." ucap Dika, tapi bukannya sadar, Raina malah melotot dan mendorong Dika, hingga Dika terpental ke arah pintu kamar.
"Dika, cepet bantuin gue bawa Raina pulang !" pinta Nino.
Dengan segera Dika menggendong tubuh Raina yang dibuat tak sadar oleh Nino. Ia berusaha melawan nyai kembang.
Dika mengetuk pintu, betapa kagetnya bi Kokom dan mang Nurdin, mendapati majikan tersayang sudah dalam keadaan pingsan.
"Bi, saya meminta tolong pakaikan Raina baju yang tertutup !" pinta Dika.
__ADS_1
"Iya a, sebenarnya ada apa ini ?" tanya mamang.
Dika membawa Raina ke kamarnya. Setelah bibi mengganti pakaian Raina, yang terbaring di ranjangnya, ia meminta teman temannya datang menjaga Raina, selama ia pergi. Bukan tidak mungkin, tubuh Raina akan kembali dirasuki nyai, selama tusuk konde itu belum ia temukan.
"Ada apa ini A?" tanya mang Nurdin dan bi Kokom khawatir.
Dika menceritakan semuanya, bi Kokom dan mang Nurdin terlihat shock, padahal setau mereka, Raina adalah gadis yang baik dan welcome pada siapapun.
"Bi, mang..do'akan saja, besok saya akan berikhtiar mencari tusuk konde itu ! tapi saya minta Raina harus ada yang menjaga !" pinta Dika, bibi dan mamang mengangguk.
"Iya A, pasti !"
Teman temannya bergantian datang, termasuk Gea dan Adry.
Dari arah rumah Bagas, lelaki itu tak terlihat lagi batang hidungnya. Nino pun, sudah keluar dari rumahnya. Ia mrmbuat pagar ghoib di sekitaran rumah Raina, walaupun tetap saja Raina sudah terikat dengan nyai kembang, dan guna guna yang di sematkan untuknya. Nino menatap Raina yang terlelap nanar, ia duduk di samping Raina, tak sedetik pun ia meninggalkan manusia kesayangannya.
"Tanganmu sudah dingin honey !" kecupnya di tangan Raina, bak tanpa teraliri cairan kehidupan.
"Gue ga nyangka, hari gini masih jaman pelet peletan !" ucap Romi yang duduk di sofa sambil menonton tv.
"Cinta ditolak pelet bertindak !" jawab Tria.
"Tapi gue salut sama pejuang cinta yang satu ini !! dia lebih memilih jalan sulit tapi sweet buat Raina !" Fadly menepuk nepuk pundak Dika yang sudah bersiap siap dengan ranselnya.
"Sohib gue !!" jawab Ve. Dika hanya menggelengkan kepalanya.
"Hati hati Dik, " ucap Gea, yang merelakan Adry untuk ikut dengan Dika.
"Thanks !" jawab Dika, di tengah tengah obrolan mereka, terdengar suara kidung sunda dari lantai atas.
Raina bangun, ia berlenggak lenggok sambil menatap genit ! gerakannya seperti sedang memegang selendang.
"Rain !!" seru yang lain menyusul termasuk bibi.
"Neng, istighfar neng," bi Kokom sudah terisak.
"Mas Bagas !" gumamnya.
.
.
.
__ADS_1
.