Guardian Ghost

Guardian Ghost
Selamat jalan Arum


__ADS_3

Raina berlari mencari pak Kades bersama Gea dan Ve. Yang lainnya mengekor panik karena ketiga gadis ini berlari.


Nino datang kembali, "dekat dengan pohon tadi siang, honey !"


Raina berlari bersama Gea, langkahnya terhenti saat melihat pak Kades sudah menggantung di atas pohon,


"Astaga !" Raina menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Saya mohon ! turunkan pak Kades, kamu sudah memenuhi permintaan tuanmu, tapi jangan kamu apa apakan lagi dia !" ucap Raina.


Pak Kades terlihat sudah merintih. Wanita itu tertawa meringkik dan cekikikan, membuat bulu kuduk merinding.


"Jangan ikut campur urusan yang bukan urusanmu !" ucapnya.


Bu Kades beserta Dika masih mengatasi tetamu yang hadir agar tidak heboh dan panik.


Pak Kades terlihat kesakitan, beberapa luka cakaran tergores di sekitaran lengan dan wajahnya, baju koko nya pun compang camping.


"Laki laki memang selalu mudah tergoda hanya dengan perempuan cantik, " tawanya kembali terkikik, tak dapat dibedakan mana ringkikkan mana tawa, pasalnya..mulutnya pun sobek, hingga langsung menampilkan gigi gigi dan gusinya.


"Awas !!!" tubuh pak Kades dijatuhkan begitu saja olehnya, Nino menangkap tubuh laki laki yang sedikit buncit ini. Wanita itu tiba tiba saja pergi melayang dan terbang layaknya kertas yang terbawa angin. Rintik hujan mulai membasahi tanah, Romi dan Tria membantu pak Kades bangun. Dika datang bersama bu Kades.


"Ya Allah bapak, " pekik istrinya. Mereka langsung membawa pak Kades ke rumahnya.


"Honey, dia masih ada disini !" ujar Nino, Raina sudah kebasahan.


"Iya, No aku tau."


Raina mendongak merasai hujan, tangannya menengadah, ia sangat suka dengan hujan. Pikirannya selalu melayang ke masa itu, masa indah bersama Nino, masa dimana hatinya selalu bahagia, dan tak pernah menyimpan beban. Waktu dan takdir seakan memaksanya untuk melupakan, tapi kenangan selalu menghantui bersamanya dan enggan untuk meninggalkannya.


"No, ingat hujan ?" Raina memejamkan matanya.


"Ingat honey, tapi nanti kamu sakit !" jawab Nino, menemani Raina di tengah tengah guyuran hujan.


Dika ingin menyusul Raina, menyuruhnya masuk, tapi langkahnya terhenti saat melihat Raina tengah bersama Nino. Nino tersenyum menatap Raina yang damai bersama hujan, tapi sedetik kemudian ia melihat Dika, lalu ia mengangguk dan meninggalkan Raina.


"Sayang, masuk..nanti kamu sakit !" ucap Dika. Raina membuka matanya,


"Kang,"


"Nino barusan bilang, ingin mengejar wanita itu !" jawab Dika.


"Kang, rasain hujan ini deh kang, Rain seneng hujan !" ucap gadis ini, seperti menemukan mainan terseru nya dan enggan untuk mengakhirinya.


"Tapi nanti kamu sakit, yank ! belum juga fit, nanti lagi main hujan hujanannya. Nanti aku temenin !" jawab Dika. Raina mengangguk, belum mereka melangkah, Gea sudah berteriak.


"Ra, Dika !! pak Kades !!" pekiknya. Raina dan Dika segera masuk ke dalam rumah.


Mereka tergelonjak kaget, dalam keadaan yang masih basah kuyup, rambutnya saja masih meneteskan air, Raina dan Dika mendekati pak Kades yang perutnya tiba tiba saja membuncit tak tau apa sebabnya.


"Dia membuat pak Kades merasakan apa yang dulu ia alami !" jawab Dika. Pak Kades meng3rank kesakitan, seraya memegangi perutnya.


"Pak, tetap kuat baca istighfar !" tuntun Dika. Bu Kades tak hentinya menangis.

__ADS_1


Teguh yang berusia sekitar 13 tahun pun ikut merasa ngilu dengan apa yang terjadi dengan bapaknya.


"Tidak apa pak ! kita harus lebih kuat dari mereka !" jawab Dika.


"Sayang, ganti bajumu ! " pinta Dika pada Rain. Saat begini masih sempatnya ia mengkhawatirkan Raina.


"Iya kang, tapi.."


"Pake kaos ku, di tas !" tambah Dika. Tak ada bantahan, Raina segera mengganti bajunya. Untung saja ada celana milik Gea yang kering.


"No, dimana dia??" tanya Dika.


"It' show time Dik !" jawab Nino yang sudah kembali.


Perut pak Kades seketika mengempes dengan sendirinya, tapi tubuhnya tertarik keluar secepat kilat, pak kades menahan posisi sampai kuku kukunya mencengkram lantai kayu, berbekas.


"Aaa !!"


"Bapak !!!"


"Tak apa bu, kita ikuti saja permainannya. Insyaallah bapak tidak akan apa apa, ada kita disini !" jawab Dika, segera menyusul Nino keluar.


"Kang, Rain ikut !"


"Kamu tunggu disini !!" ucap Dika sarat akan peringatan.


Nino dan Dika berdiri di depan rumpun bambu yang dibawahnya tepat aliran sungai deras.


Da*r@h dari perutnya sampai menetes netes mengenai badan pak kades.


"Lepaskan dia, kamu sudah mendapatkan anaknya, kamu juga sudah menjalankan perintah tuanmu untuk mengganggu keluarganya ! tidakkah puas untukmu? apa salahnya terhadapmu? " tanya Dika.


"Dia tidak memiliki salah apapun, hanya saja imannya yang goyah hanya dengan wanita..aku memang sudah menjalankan tugasku, dan kini akan pergi !" jawab wanita itu meringkik.


"Mbak ! lepaskan bapakku !" sesosok arwah kecil mendekat disana, Arum..gadis kecil itu menolong ayahnya.


"Jangan sakiti bapakku, mbak !" ucap Arum.


Disaat wanita itu lengah oleh Arum, Nino menyerangnya, sontak pak kades lepas dari pegangannya dan jatuh tercebur ke sungai, Dika dengan sigap menolongnya. Menceburkan dirinya ke sungai, meraih tubuh pak kades.


Nino mencengkram leher si wanita itu yang merintih lalu mengembalikannya pada tuannya, dengan itu..Arum bisa bebas dan kembali ke pangkuan sang Ilahi. Jiwa suci Arum sungguh tak pantas berada bersama jin jin jahat.


Nino dan Dika membawa pak kades ke tepian.


Dika membaringkan tubuhnya disamping pak kades dan Nino.


"Alhamdulillah !" ucapnya.


"Terimakasih nak Dika !" ucapnya menangis.


"Sama sama pak, lagipula saya tidak sendiri ! saya bersama seseorang lagi !" jawab Dika.


"Siapa nak?" tanya nya.

__ADS_1


"Di sebelah bapak ada seorang laki laki bernama Nino, dialah yang dari awal membantu bapak !"


"Arwah, maksudnya?" tanya pak kades terkejut, dan Dika mengangguk.


"Matur suwun !" ucap pak kades, Nino tersenyum. Dika memapah pak kades.


"Bapak !!!" pekik istri dan anaknya. Raina ikut mendongak,


****************


"Saya tidak menyangka buk, Abun tega pada kita !" ucap lirih pak kades.


"Arum, anak kita pak !" bu kades terisak.


"Ikhlaskan buk, mungkin sudah takdirnya !" jawab suaminya.


"Arum sudah bebas, ia sudah berada di sisi-Nya," jawab Dika. Keduanya mengangguk, hal ini menjadi pelajaran untuk semuanya.


"Ganti bajumu, basah ! nanti kamu sakit !" Raina memberikan t-shirt kering milik Dika berikut celananya.


"Makasih, " jawab Dika menerimanya.


"Alhamdulillah, jadi besok kita sudah bisa pulang ?!" tanya Fadly.


"Yoi bruh !" jawab Tria.


Sesosok arwah kecil hadir di tengah tengah mereka, dengan kemben kecil dan kebaya senada.


"Buk, bapak terimakasih, jangan sedih lagi ! mas Teguh, titip bapak sama ibu. Mbak Raina terimakasih sudah menolong, mas Dika dan mas Nino juga !"


"Arum, " gumam Raina, perlahan lahan sosok kecil itu menghilang dari tempat itu.


Malam ini Ve, Raina, dan Gea bermalam juga disini, di kamar bersama bu Kades.


Ve sudah tertidur, melihat Raina yang masih melek, Gea mengajaknya bicara.


"Ra, seriusan loe udah terima Dika?" tanya nya tertarik.


"Iya, mungkin ini juga yang diinginkan Nino. Walaupun susah buat gue, Ge..tapi gue bakalan coba," jawab Raina.


"Hm, mungkin itu juga nanti yang bakal terjadi sama gue Ra, " perasaan sedih bersarang di benak Gea.


"Semangat Ge, gue udah ngantuk. Gue pengen tidur !" jawab Raina tidur menyamping. Sejujurnya Raina tak nyaman dengan obrolan ini. Membuat Raina kembali ingat dengan hubungannya dan Nino, tak pernah ada kata berpisah diantara keduanya.


"Aku tau ini berat honey, tapi aku mau..kamu lihat Dika !" ucap Nino yang memang selalu menjaga Raina bahkan saat tidur sekalipun.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2