Guardian Ghost

Guardian Ghost
Tenanglah disana suster Wita


__ADS_3

Dika mencari cari alat untuk membuka pintu lab. Bahkan Fadly sudah mendobrak dobrak pintu, tapi seakan usaha mereka sia sia, suster Fi sudah menjerit jerit dari dalam. Kepalanya di seret hendak di masukkan ke dalam alat alat medis yang tajam dan berbahaya.


Semua barang barang tajam terlempar tak tentu arah, yang pasti, ingin menyerang suster Fi.


"Gea, cari Damar !!" Raina berlari di koridor diiringi Nino.


"Oke Ra, " jawab Gea berlari bersama Adry. Sedikitnya Gea dan Adry tau Damar, mereka melihat sekilas visual Damar dari energi suster Wita, mereka pun sempat melihat Damar, saat sedang bertegur sapa dengan suster Fi tadi sore.


Damar sedang menyimpan beberapa kotak obat di sudut apotek RS, tiba tiba beberapa kotak obat berjatuhan begitu saja.


"Astaga ! apa pula, ini jatuh !!" ucapnya terkejut.


Damar membungkuk untuk meraihnya, tanpa ia sadari di balik rak lemari obat, sudah berdiri sesosok perempuan, berpakaian khas suster, dengan flatshoes yang koyak. Kepala yang gepeng, dan meneteskan da*rah, sedang memperhatikannya dengan tatapan tajam.


"Damar !!" bisiknya memanggil. Damar mrngernyitkan dahi, mendengar seseorang memanggilnya. Ia celingukan, mencari asal suara itu, ia tersentak kaget sampai terantuk meja, melihat sepasang kaki kotor dan luka sobekan di bagian tulang keringnya, di samping kaki itu pun da*rah segar menetes.


Jantungnya memompa aliran darah begitu cepat, sampai sampai desiran darahnya seperti terasa hingga ke tiap syaraf, apa benar mitos jika RS ini berhantu?? lalu sekarang apa? apakah kini bagiannya di ganggu arwah gentayangan itu? Damar bergidik ngeri, ia bangun dengan tergesa, tapi saat ia berdiri dan mendongak ternyata suster gepeng itu sudah berdiri di hadapannya, mengulurkan tangannya dan mencengkram lehernya.


"Aaaaaa!!" pekiknya, ia mencoba melawan dengan menendang nendang dan mendorong suster Wita. Suster itu menghilang, Damar segera berlari menuju pintu keluar. Ia berlari ke arah tangga, namun seketika lampu lampu disana padam secara tiba tiba, tak tau sebabnya, Damar melihat ke sekelilingnya, ia serasa hafal tempat ini, iya...tempat dimana ia dan suster Wita dulu berlarian karena musibah gempa itu, dimana mereka malah mengurungkan niatannya untuk menuruni tangga dan malah memilih menaiki lift naas itu. Damar berlari dan sampai di pertengahan anak tangga yang jumlahnya cukup banyak, tangga yang cukup sempit dengan tak ada jendela ataupun ventilasi disana. Dari arah atas terdengar langkah pijakan dari flatshoes yang di gusur, dengan suara lift yang terbuka sebelumnya.


"Ting !!!"


"Srekk...srekkk...srekkk..."


"Krekek...krekek...." decitan roda yang berkarat berputar di porosnya, membuatnya dengan mudah menebak roda apa itu, karena suara logam alat medis yang saling berpantulan dan beradu. Dari kegelapan nampak siluet tubuh sesosok suster berkepala tak lajim. Damar hanya bisa berdo'a dan berharap bahwa ia akan baik baik saja, seraya melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga ke lantai 2.


Belum juga sampai di bawah, suara langkah kaki itu semakin mendekat menuruni anak tangga, mendekati Damar.


Lama kelamaan anak tangga yang terhalang tembok itu menyembulkan kepala gepeng seorang perawat sepaket dengan d@*rah yang menetes.


"Aaaaa !!!" pekiknya, tergesa menuruni tangga,


"Bubuy bulan, bubuy bulan sangrai bentang...panon poe, panon poe disasate !" suara yang setengah berbisik itu, tiap katanya berubah menyendu lalu menyeramkan, diakhiri kikikkan tawa seorang perempuan.


Kepala dengan bola mata yang pecah dan keluar dari tempatnya, dan tiap lubang yang mengeluarkan cairan kental berwarna merah, keluar dari balik tembok yang menutupi anak tangga diatasnya.


"Jangan ganggu saya !!! " pekiknya,


Gea dan Adry mendengar teriakan Damar, mereka berlari sekencangnya, keduanya menemukan Adry tengah terduduk ketakutan.


"Damar !!!" pekik Gea, meraih tangan Adry untuk bangkit.

__ADS_1


"Aaaa !!" Damar berteriak, tapi sesaat kemudian ia melihat Gea,


"Loe ga apa apa? cepat, suster Fi dalam bahaya, kita harus segera menolongnya !" ucap Gea. Jangankan suster Fi, dirinya saja sedang dikejar kejar oleh arwah suster Wita.


Gea dan Damar kembali berlari dari tempat itu menuju tempat dimana suster Fi berada.


"Fi, sedang di lab. " Gea mengangguk.


.


.


"Dika dan suster Fi di lab, honey !!" seru Nino. Raina berlari menuju laboratorium, terlihat Dika dan Fadly tengah mencoba membuka pintu. Nino membantu keduanya.


"Brakkk !!!" pintu lab. terbuka, suster Fi hampir saja kehilangan kepalanya, ia sudah dicekik dan di dorong ke arah kulkas, tempat menyimpan obat obatan dan anti virus.


"Wita !!!! saya tau Wita, sakitnya seseorang yang dilupakan !!" Rain dengan nafas ngos ngosannya mengajak suster Wita bicara, arwah ini mendelik tajam, tampak seram dari berbagai sudut.


"Apakah kematian mereka akan membuatmu diterima disisi -Nya ??" tanya Raina.


"Biarkan hari ini jadi pelajaran untuk kita semua, untuk mengingat peristiwa dan jasa seseorang !!"


"Wi...ta !! maa...affin gu..gue !!" suara tersendat karena dicekik.


"Apa kamu tau, sulit untuk seorang Damar, berpura pura baik baik saja, butuh waktu untuk melupakan rasa kehilangan? mungkin itu caranya untuk bisa keluar dari lembah keterpurukan??! dengan tak pernah mengingatmu !" Raina sudah menangis tersedu sedu. Nino kini mendengar sendiri isi hati Raina, begitupun Dika. Wita perlahan melepaskan Fi.


"Maafin gue Wi, tak ada niatan untuk menggantikan posisimu !" jawab Fi.


"Tak ada yang mengingatku, aku sendirian, saat kalian di tengah tengah kehangatan !" rintihnya.


Langkah lari dua orang mengejutkan semuanya, Damar yang berlari bersama Gea, mengatur nafasnya.


"Wi..ta ??!" Damar terkejut, jadi mitos suster yang menakuti beberapa pengunjung RS disini memang benar perempuan yang pernah singgah di hatinya.


"Hentikan semuanya Wi, kamu wanita baik !" ucap Damar.


"Maafkan aku, semua salahku Wi, aku yang memutuskan untuk tak mengingat kejadian itu. Dengan piciknya aku melupakan bahwa aku bisa hidup karenamu !" jawab Damar.


"Kembalilah ke alammu, aku dan semuanya akan selalu mengingatmu !" jawab Damar, tanpa ketakutan ataupun merasa jijik, Damar mendekat dan memegang tangan suster Wita, ia pun memeluk perempuan yang dulu pernah mengisi hati dan pikirannya. Lambat laun, tampilan suster Wita berubah membaik, seorang suster nan ayu jelas mencetak wajahnya.


Ia menangis tergugu, "maaf !" ucapnya.

__ADS_1


.


.


Rain memeluk Nino yang juga merasakan kehilangan, "sayang, aku pun bernasib sama dengan Damar," ucap Raina seraya sesenggukan. Nino hanya bisa diam seraya mengeratkan pelukannya, sedalam itu Raina akan merasakan sakit.


Sang mata, mulai keluar dari peraduannya dari ufuk timur. Sunyi dan dingin mulai menghangat, pertanda skenario di bumi mulai berjalan. Dika terlelap di kursi samping ranjang Raina, dengan tangan yang menggenggam hangat tangan mungil Raina. Gea terbaring di sofa berdampingan dengan Ve, memeluk bantal kecil, sedangkan Tria dan Fadly, hanya beralaskan tikar dengan tas sebagai bantalannya.


Ve mengerjapkan matanya, suster Fi, yang kembali masuk ke ruangan Raina, mengejutkannya. Cek kondisi Rain, sebelum ia pulang dari shift malamnya.


"Eh, suster Fi !!" Ve terkejut.


"Tidak apa, saya hanya ingin mengecek kondisi Raina, sebelum pulang !" jawabnya.


Tapi pemandangan di depannya membuatnya tersenyum,


"Dik !!! suttt !!" Ve mencoba membangunkan Dika, bagaimana suster Fi bisa memeriksa Raina, jika tangannya saja digenggam erat Dika. Dika mengucek matanya, lalu melihat arlojinya.


"Astaga udah jam 6 ternyata !" ucapnya.


"Eh, sus..mau periksa ya ! silahkan, silahkan !" jawabnya, Dika berjalan menuju toilet.


Melihat infusan yang tercabut membuat suster Fi menyunggingkan senyumnya, "sepertinya ini sudah boleh pulang, tapi untuk keputusannya tunggu keputusan dokter," ucapnya, Raina terusik dan terbangun.


"Makasih sus, " jawab Raina terduduk.


Pagi ini Raina meminta Dika membelikan bucket bunga mawar, suster Fi, perawat Damar, Raina, beserta yang lainnya berjalan menuju lift yang sudah tak terpakai ini.


Suster Fi dan Damar menaruh bucket bunga di depan lift,


"Yang tenang disana Wit, " ucap Damar. Bergantian dengan yang lainnya.


"Suster Wita, jangan pernah merasa sendiri dan dilupakan. Semoga amal ibadah mu di terima di sisi -Nya." Raina menaruh satu bucket mawar merah lainnya. Pagi ini lift sunyi dan menyeramkan itu terasa hangat. Setelah memanjatkan do'a untuk para korban, termasuk suster Wita, mereka kembali .


"Drett...dret...!" suara roda yang membawa alat pel di dorong melewati lift ini, seorang petugas kebersihan lengkap dengan seringaian liciknya menaruh piringan kecil sesajen. Melihat dengan memicingkan mata ke arah Raina dan kawan kawan yang mulai menjauh.


Niatnya memang buruk, ingin membuat arwah suster gepeng ini tetap ada di RS ini. Mengurung suster Wita, agar tetap menjadi mitos yang menakutkan disini, menganggu setiap pasien dan pengunjung disini.


"Bubuy bulan, bubuy bulan sangrai bentang....panon poe, panon poe disasate.." dendang suara perempuan terdengar di setiap lorong yang kosong


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2