
Raina menangis tergugu, ia meluruh duduk melantai di tanah yang kotor dan sedikit basah, sepertinya hanya dengan memukulnya hingga babak belur saja tak akan cukup, lelaki ini harus membusuk di dalam tembok derita.
"Sadar honey, sadar !!" bisik Nino menangkup kedua bahu Raina.
"Dia, No...dia, selama ini gue bantu anaknya. Tapi ternyata ayahnya lah yang sudah membunuh orang orang yang gue sayang," tangisan Raina.
"Hey, Gea tak tau apa apa ! bukan karena dia ayahnya lantas kamu ikut menyeret Gea, berfikirlah dengan jernih, mungkin memang ini sudah suratan takdir untukku dan kedua orangtuamu," jawab Nino mencoba menenangkan Rain. Saat ini pikiran Rain sedang kacau layaknya sampah yang berserakan.
Dika sudah hampir kehabisan tenaganya, Dika membantu Rain, "Ka, gue minta bawa Rain ke sisi yang lain, tapi jangan keluar dari pagar ghoib !" pinta Nino, Nino tau aki Surya mulai kewalahan. Ia akan membantu aki untuk mengalahkan Wiradaya.
"Ki, aki tak apa apa?" tanya Nino, aki tampak ngos ngosan dan peluh membanjiri badannya.
"Ki, bukannya aki bernama Darma, kenapa Wiradaya memanggil Surya??" tanya Nino.
"Nama kula memang Surya, namun setelah lepas dari dunia pesugihan ini dan memilih jalan yang normal, kula mengganti nama menjadi Darma, karena banyaknya yang mencari kula untuk berhubungan langsung dengan mereka!" tunjuk aki pada Wiradaya, mereka disini mungkin sejenis makhluk modelan Wira.
Di sisi lain, rumah aki Surya nampak sepi mencekam, bohlam yang dimatikan membuat keadaan rumah semakin mencekam. Nini dan Warsa diam sambil mulut yang komat kamit mengucapkan lafadz Allah, meminta pertolongan hanya pada sang Maha Menguasai Segalanya.
Terdengar bilik bilik rumah aki seperti di garuk garuk dari arah luar, begitupun suara kerbau terdengar sampai menusuk gendang telinga.
Semakin kencang saja Warsa mengucap lafadz di dalam kegelapan, angin berhembus begitu kuatnya sampai sampai tiupannya membuat kaca jendela bergetar dan gorden sedikit tersingkab.
"Ni, sebaiknya kita lakukan shalat malam seraya meminta petunjuk dan pertolongan Allah !" ajak Warsa, nini mengangguk, keduanya memang sudah memiliki wudhu.
Warsa memimpin, disinilah godaan mereka, terkadang suara burung gagak mengganggu kekhusyuan keduanya sosok siluet Wiradaya pun terlihat dari celah gorden jendela.
Jin dan sy@i*tan memang bisa menjadi banyak wujudnya, mengganggu hati manusia yang tak tenang, apalagi selevel Wiradaya. Ia akan menggunakan segala cara untuk mencederai aki Surya, termasuk sekarang..sosok Wira yang asli ada di hadapan Nino dan aki, namun ia membelah sukma dan salah satunya singgah ke rumah aki, dimana ada nini lah yang menjadi sasaran terlemah aki.
__ADS_1
Bukan hal yang aneh bagi nini, saat dulu pun saat aki masih menjadi kuncen dan penghubung, sering sekali nini di hampiri oleh makhluk makhluk tak kasat mata dari mulai yang wujudnya cantik dan tampan hingga yang hancur, dari yang hanya biasa biasa saja sampai siluman sekalipun.
Wiradaya merubah wujudnya menjadi aki Surya, ia mengetuk ngetuk pintu meskipun ia tak akan bisa masuk dengan mudahnya. Aki sudah memagari rumahnya dengan pagar ghoib, begitupun nini dan Warsa yang sudah menaburkan garam.
"Ni..nini !! ucapnya lemah.
Tok..tok..tok...
"Buka ni, aki diserang Wira !!" era*ng nya. Nini hampir saja beranjak dan membuka pintunya. Warsa menahan tangan nini, "aki !!" lirihnya.
"Ni, ingat ucapan aki. Dia akan pulang saat fajar terbit di timur sana, ia akan pulang saat ayam ayam jago mulai berkokok, dan lewat saat adzan subuh berkumandang !" jawab Warsa mengingat kembali pesan akinya, cucu nya ini memang sudah biasa menemani nininya saat aki nya napak tilas di leuweung tiis (hutan sunyi). Atau istilah kerennya bertapa. Bagi anak anak remaja lelaki di kampung ini sudah tidak aneh dengan ritual ini.
Tangan nini hampir saja menyentuh handle pintu tua ini.
"Ini aki, ni !" suara di balik pintu itu begitu familiar dan ia kenal sedang merintih kesakitan.
"Bwahhhahahaha, BUKAAA !!!" geramnya. Nini semakin mundur masuk kembali ke dalam kamar bersama Warsa, keduanya kembali duduk diantara dua sujud dan membacakan ayat kursi beserta shalawat nabi dan beberapa surat yang terkandung di dalam Al-Qur'an.
Peluh menetes dari balik mukena putihnya, begitupun Warsa, dari ujung kopiah hitamnya.
Pintu dan rumah terasa bergetar seperti gempa bumi, Wiradaya sedang menyeruduk nyeruduk rumah tua ini. Terlihat rapuh memang, tapi tak semudah yang dibayangkannya.
"Astagfirullahaladzim, tolonglah kami ya Allah !!" gumam nini.
****************
"Ini saatnya Nino, Wira sedang membelah sukma, ia sepertinya singgah di rumah aki, kalahkan dan taklukan Wira !" ucap aki, ia memberikan kujang, pusaka khas tanah Jawa Barat, yang menurut aki adalah pusaka orang orang terdahulu, didapatnya saat napak tilas di daerah hutan belantara Sum*edang Ladrang.
__ADS_1
Nino meraihnya, ia maju dengan hati hati ke arah Wiradaya yang tampak terduduk bersila. Dengan tanduk yang ia gesek gesekkan pada pohon di sampingnya.
Nino berjalan cepat dan kelamaan menambah kecepatannya hingga ia berlari, bersiap ancang ancang menusukan kujang diatas kepala Wiradaya. Namun saat hampir saja senjata itu menembus kulit kepalanya, mata Wira terbuka lebar menunjukkan urat urat mata memerah, dengusan hidung kerbaunya nampak cepat.
Nino terpental jauh, saat tiba tiba Wira menyerang dadakan menggunakan tanduknya, untung saja tanduk tajam itu tak sampai menembus kulit Nino, Nino dengan gesit menepisnya dengan kujang, hingga kujangnya terlempar sedikit menjauh.
Nino terlempar ke belakang, tapi ia salto dan mendarat dengan kakinya. Adry dengan sigap mengambil kujang dan melemparnya tepat pada Nino, Wiradaya bangkit dari duduknya, kakinya mengambil ancang ancamg berlari menuju Nino.
"Nino awas !" pekik Rain. Nino menyeringai, ia sudah siap untuk pertarungan ini.
"Maju kau kerbau !!" pekiknya.
"Kula Wiradaya, Kula kanjeng Wira, moal gentar kusasaha !!!" (saya Wiradaya, saya kanjeng Wira, tidak akan gentar oleh siapapun.)
Dengan suara khas kerbau Wira menyondongkan tanduk besar tajamnya menuju Nino, tanduk yang tajamnya bisa mengoyak apa saja yang ada di depannya.
Nino menghalau dan menahan kedua tanduk itu layaknya matador, kekuatan Wira memang kuat. Nino sampai terpundur dari posisinya, dirasa mulai melemah, Nino lompat salto, dengan tangan yang bertumpu memegang tanduk Wira, ke arah atas Wira, hingga kakinya menjejak pucuk kepala siluman kerbau itu, ia mengeluarkan Kujang itu dari pinggang nya dan menancapkan kujangnya tepat di belakang kepala Wira, hingga menembus ke dalam mengoyak otaknya, tak hanya itu..Nino bahkan berdiri di atas pundak besar Wira dan memelintir kepala Wira sampai berputar 180 derajat ke hadapannya.
Matanya membelalak, dan mulutnya terbuka menjulurkan lidahnya ke luar.
Dika, Rain dan yang lainnya menyaksikan sendiri pertarungan itu, menganga tak percaya jika Nino segagah itu dan berhasil mengalahkan Wira.
.
.
.
__ADS_1