Guardian Ghost

Guardian Ghost
Hal sepele membawa petaka


__ADS_3

Rain penasaran dengan apa yang terjadi di bawah sana.


"Mah, mamah ga apa apa??" tanya Tria membantu ibunya bangun. Ibunya terlihat sangat rapuh.


"Tak apa !" ibu Tria bangun.


"Tri, sebaiknya nyokap loe bareng Rain di kamar Qirei. Ada Nino disana pasti bisa bikin pagar !" Tria mengangguk. Dika berasa tak enak hati, ada yang aneh disini tapi entah apa itu


"Mah, mamah baiknya di kamar Qirei !" pinta Tria, ibunya mengangguk. Tria membantu ibunya yang tertatih naik ke atas tangga menuju kamar Qirei.


"Raina, bukain pintu ! mamah mau masuk !" pinta Tria.


Raina yang sedang mendekap Qirei, segera beranjak, berlari menuju pintu kamar.


"Rei, tunggu disini..kaka bukain dulu pintunya !" ucap Rain dan Qirei mengangguk.


"Tante !! tante ga apa apa??" tanya Rain, ibu Tria menggeleng.


"Rain kunci pintu lagi !!" pinta Tria dan Raina mengiyakan, "hati hati, Tri !" ucap Raina.


Nino selesai membuat pagar ghoib di luar kamar Qirei, ia langsung menuju Dika dan Tria berada.


"Sepertinya si nene tak ada disini!" jawab Dika. Nino pun menggeleng, tapi rasanya aneh.


"Ga mungkin dia pergi, gue masih ngerasain dia ada disini !" jawab Nino.


"Iya, gue juga rasain auranya masih ada !" tambah Dika. Tria sudah tak heran lagi jika Dika dan Rain berbicara sendiri, itu artinya Nino sedang berada dekat mereka, Tria, Ve, Fadly, Romi bahkan sudah melihat wujudnya, saat melawan Wiradaya. Dialah Nino guardian ghost Raina. Tampan, mengagumkan dan baik.


Ketiganya mencari cari ke arah dapur, ruangan tamu dan ruangan lainnya. Tapi nihil saat mereka membuka pintu lemari kamar ibunya, betapa mereka terkejut.


Sesosok tubuh perempuan terduduk meringkuk diantara helaian pakaian dengan keadaan pingsan.


"Mamah !!!" pekik Tria, Tria menekan nekan bahu ibunya, dan ini asli.


"Tunggu !! bukannya nyokap loe tadi kita anter ke atas??!" tanya Dika ikut terdistrack ( terkacaukan).


"Ini manusia Dik !!" ujar Nino.


"Mah, mamah sadar mah !!" Tria mengguncangkan tubuh ibunya, yang dibaringkan di ranjang. Wanita paruh baya itu mengerjap.


"Tria !!" ibunya terisak, mengingat kejadian tadi begitu menakutkan untuknya. "Qirei mana Tri?" tanyanya.


"Astaga, terus yang tadi siapa ??!!" Dika berlari, begitupun Nino.


di kamar Qirei, sosok ibu Qirei ini terlihat aneh.


Raina merasakan itu, sedari tadi ia tersenyum senyum seraya mengusap kening Qirei dan menembangkan kawih sunda tempo dulu.

__ADS_1


"Tante, " Ibu Tria itu tak bergeming, ia hanya memeluk Qirei seraya mengusap usap keningnya sayang.


"Astaga ! dia bukan ibu Tria !" benaknya. Rain mendekat berusaha mengambil Qirei.


"Tante, sejak kapan tante bisa tembang sunda?? ajarin Raina dong, siapa tau...nanti kalo Rain dah punya anak, bisa nina boboin anak Rain," ucap Rain duduk pelan pelan di samping sosok ibu Tria. Baunya amis bercampur bunga kantil. Ia menyeringai, "Atos lami neng," jawabnya berbisik sangat pelan.


"Mah, "Qirei mendongak, tapi sosok itu hanya tersenyum menyeringai, seraya terus menggumamkan tembang sunda.


Raina memutar otak agar sosok itu melepaskan Qirei. Otaknya hanya bisa memikirkan keselamatan Qirei.


"Tante, ibu Raina udah ga ada, kapan kapan Raina bisa datang kesini kan ?" Raina terpaksa menggelayuti tangan sosok itu. Sebenarnya Qirei sudah merasakan ketakutan dengan ibunya sendiri, ia dapat merasakan ada keganjilan dengan ibu yang sedang mendekapnya. Tangan si sosok itu beralih mengelus kepala Raina juga. Raina menatap tegang dan mengedip pada Qirei, memberi kode menyuruh Qirei pergi.


"Mah, Qirei mau ambil desy !!" tunjuk Qirei pada bonekanya yang tergeletak di lantai dekat lemari. Walaupun sedikit sulit, Qirei akhirnya bisa lepas dari dekapannya. Raina langsung beranjak menarik kepalanya dan berdiri, namun sayang tangannya tertangkap oleh sosok itu, yang kemudian tertawa ala nene nene. Qirei bahkan sudah melotot melihatnya, dari ekspresi Qirei saja, Rain sudah tau jika ia bukanlah ibu Tria.


Tangan Raina merasakan cengkraman yang kuat dari kuku kuku panjang, menekan kulitnya.


"Saya tau kamu siapa !! saya tau kamu darimana !! tolong jangan ganggu kami !!" Raina memejamkan matanya sambil berucap lantang.


"Tingal nini !!" ucapnya meringkik.


"Jangan kak !!" gumam Qirei yang menutup wajahnya takut.


Rain mengambil nafas, ia mengumpulkan keberaniannya. Kepala Rain mulai berbalik,


"Brakkk !!!" Rain ditarik dan dilempar hingga menabrak cermin sampai cerminya pecah.


"Aaaa !!!" pekiknya. Tak sampai disitu, Raina masih mencoba bangkit diantar da*rah yang mengucur di lengan dan kepalanya, ia mulai merangkak mencoba meraih dan mendekati Qirei,jari jemarinya yang terselimuti cairan kental merah miliknya bergetar berusaha meraih Qirei, tapi seakan belum puas, kaki Rain ditarik dan ia tergusur lalu dilempar ke arah meja dan kursi belajar Qirei hingga meja rapi bernuansakan hello kitty itu berantakan, dan bagian kaki kursi nya patah karena dilempar tubuh Raina.


"Raina !! Qirei !!" Dika mengambil langkah besar, sebelum meraih Qirei, Nino terlebih dahulu menarik Qirei, dan mendorong si sosok bergunung kembar besar ini hingga ia terpental, namun tak cukup keras.


Dika berhasil mendobrak dan masuk ke kamar.


"Bawa Qirei keluar !!" mata Dika menangkap pemandangan dimana Rain jatuh terbaring di tumpukan meja belajar yang bak kapal pecah, dan cermin yang sudah pecah berkeping keping.


"Rain !!!" pekik Dika ingin mendekati Rain.


"Dika bawa Qirei !!!" pekik Nino. Posisi sosok nene itu lebih dekat dengan Rain. Tidak mungkin Nino mendekat dengan cepat, belum apa apa sosok nene kembali meraih Rain. Tubuh Rain terangkat ke atas hingga hampir menyentuh langit langit kamar Qirei.


"Hentikan !!! jika kamu sampai menyakiti dia, maka kamu akan ku musnahkan, bukan hanya kotor, rumahmu akan kuhancurkan !!" ucap Nino, yang sudah berubah menyeramkan dengan mata merahnya.


"Mereka sudah mengotori rumahku dengan ucapan dan hajatnya !!" ucapnya parau meringkik.


"Mereka akan menyesal, tapi bukan orang yang tidak bersalah lah yang menanggung !" jawab Nino semakin memperpendek jarak. Raina bergeliat, tapi badannya melayang layang di udara.


"Turunkan !!!" bentak Nino.


"Saya yakin mereka akan meminta maaf dan mengantarkanmu kembali !! saya berjanji !!" ucap Nino menjaminnya.

__ADS_1


Nene nene itu menurunkan Raina yang dari tadi sudah meneteskan dar*ah di bagian hidung, telinga daan lengannya, karena benturan keras.


Nene nene itu perlahan lahan menghilang entah kemana.


"Rain !!" Nino menangkup tubuh Raina. Nino berusaha menyadarkan Raina, hatinya sakit melihat Raina terluka.


Dika berlari dan mendekati keduanya, "astagfirullah Rain??!!" ucap Dika.


"Dia sudah tak disini !! kemana dia??!" Dika berujar kesal.


"Sepertinya dia menemui Romi !" jawab Nino.


"Mana Tria ??!!" tanya Nino.


"Banks@t !!!! Tria !!!!" pekik Dika, baru kali ini Dika murka pada Tria dan Romi.


Disinilah Rain berada, ia dibawa ke RS oleh Dika. Sudah ada Gea, bi Kokom dan mang Nurdin yang menyusul.


Rain terbangun, tubuhnya terasa hancur, ia melihat bekas cengkraman si nene di tangannya yang meningalkan bekas lebam dan sedikit cakaran.


"Neng, kenapa bisa gini lagi?" tanya bi Kokom khawatir, begitupun Gea yang setia menemani sejak Dika mengatakan kalau Rain masuk rumah sakit.


"Dika mana bi ?" tanya Raina.


"Tadi Dika ijin ke rumah Romi bareng Tria, katanya mau nyelesain masalah !" Rain kesulitan menggerakkan badannya.


"Loe kenapa bisa gini sih Rain?" Gea meringis, disana ada Tian dan Bunga, ada Adry juga. Rain tau jika ada mereka itu tandanya Nino sedang bersama Dika.


"Gue cuma abis kecelakaan aja, ga sengaja nabrak !" jawab Rain.


"Neng, ganti dulu bajunya deh itu da*rah semua," ucap bi Kokom.


"Biar mamang keluar dulu ya, sekalian manggil suster atau dokter ngasih tau kalo neng sudah siuman !" jawab mang Nurdin.


Rain membuka kancing kemejanya, "aww, bi sakit pelan pelan!" lirih Rain merintih.


"Iya neng, ini sudah pelan," jawab bibi saat mencoba membuka kemeja Raina.


"Astagfirullah !!" bi Kokom terkejut bersamaan dengan Gea.


Sekitaran punggung Raina tampak lebam lebam, tampak juga luka cakaran di tengah tengah punggungnya. Kulit putih mulus itu terluka.


"Neng, jujur sama bibi, apa yang terjadi??" tanya bi Kokom hampir menangis.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2