
"Tumben, biasanya loe bareng abang loe, Ta ?" tanya Raina.
"Bang Hafiz sakit, aneh deh Ra.. katanya kemaren dia liat sosok temennya di kamar mandi, bilang bang Hafiz jahat ! katanya dia di cekik gitu, Ra !" jelas Dita. Raina menautkan dahinya.
"Masa iya, orang dah mati masih bisa dateng !" ucap Dita lagi.
"Bisa banget lah Ta, emang temen bang Hafiz mati kenapa?" tanya Raina.
"Bunuh diri, di kamar mandi kampus, makanya loe kalo ke kamar mandi jangan yang di situ, kata ka Hafiz sih kamar mandi yang sering loe pake, Ra !"
"Yang pojokan deket kantin?" tanya Raina, Dita mengangguk.
"Makanya, gue ga berani masuk situ ! loe nya aja yang so so berani pake tuh kamar mandi !" decak Dita sambil terkekeh.
"Ga tau, gue tuh suka kebelet pas pas an deket kamar mandi itu ! padahal sayang loh kalo sampe ga dipake, kamar mandinya bersih gitu !" jelas Raina.
"Buruan jajannya, sebelum pak Yuda masuk ke kelas. Masih ada pelajaran pak Yuda sesi kedua !" lirih Dita.
"Ta, duluan aja, gue ke air dulu !" pinta Rain.
"Loe mah ih, baru dikasih tau juga ! ga serem? ya udah hati hati ! " ucap Dita.
Lalu gadis ini masuk menuju kamar mandi.
Krekekkk....
Blugh.......
Suara pintu dibanting dari satu bilik kamar mandi, Raina sontak terkejut.
"Biasa aja kali nutupnya, ga usah pake otot !" omel Raina. Gadis ini masuk.ke dalam bilik lainnya. Sungguh aneh, tak ada suara selain suaranya yang menyiramkan air. Bukankah tadi ada seseorang yang menutup pintu selain dirinya.
Raina mempertajam pendengarannya, tapi tak ada suara apapun. Ia benci dengan rasa penasaran ini. Setelah selesai urusannya, apalagi setelah obrolannya bersama Dita barusan, ia beranjak.
Matanya memicing pada bilik kamar mandi yang tadi pintunya dibanting. Langkahnya semakin mendekat, tangannya terulur ragu memegang handle pintu.
Ceklek....
Tak ada siapapun disana,
Tes...tes....
Dahinya berkerut, melihat tetesan dar4h pada keramik kamar mandi. tubuh Raina semakin berkeringat, panas dingin kembali menyerang. Gadis manis itu mendongak.
Ia menutup mulutnya dan segera berlari, "aaaaaa !!"
Sesosok jasad tergantung disana, dengan dar4h yang menetes dari bagian perut dan nadinya. Sosok perempuan !
Ia panik meraih handle pintu kamar mandi yang terlalu sulit untuk dibuka.
"Please gue ga ganggu, kalo mau minta tolong jangan bikin kaget !" teriak Raina.
Ceklek pintu terbuka, Raina langsung ambil langkah seribu menuju kelas.
"Ra, loe kenapa?!" tanya Dita.
"Gue ga apa apa !" Raina mengambil air mineral dari dalam tasnya lalu meneguknya.
"Loe kaya abis liat s3tan tau ngga !" ucap Dita, Raina melirik.
"Oke class, selamat siang !" ucap seseorang masuk ke dalam kelas, hari ini adalah pelajaran pak Yuda.
Mata Raina membola, hampir keluar dari tempatnya, ia langsung memalingkan pandangan. Bagaimana bisa terjadi? sosok perempuan tadi menggelayut manja di leher pak Yuda.
Ingin menangis dan berteriak, tapi tak mungkin. Semua pasti akan menganggapnya gila.
"Raina ! kenapa?? kamu sakit ?!" Raina tak berani melirik pada dosennya ini.
"Iya pak, kepala saya pusing, " Raina beralasan.
__ADS_1
"Loe sakit Ra? pucat banget!" ucap Dita.
"Ta, percaya atau engga. Tadi di kamar mandi gue liat sosok perempuan gelantungan, sekarang perempuan itu gelayutan di leher pak Yuda !" ucap Raina berbisik. Dita terkejut "masa Ra?!" tanya Dita, ia tau temannya ini memiliki sixsence.
"Kalau begitu ijin saja, tapi jangan lupa tugasmu harus dikerjakan !" titahnya.
"Sekarang masih?" tanya Dita meringis, Raina mengangguk.
"Kayanya arwah itu juga yang ganggu bang Hafiz sampe sakit deh Ra, "
"Gue ijin aja lah Ta, ga kuat gue liatnya ! dia menyeringai tau nggak !" jawab Raina.
"Ihhh serem gue !" Dita memegang tengkuknya.
"Ya udah sono, pak Yuda juga udah nyuruh loe balik !" titah Dita.
"Pak ! saya antar Raina ke depan dulu ya, biar nanti saya telfon pihak keluarganya !" ucap Dita.
"Boleh, jangan lama lama ! nanti kamu yang ketinggalan pelajaran !" ucap pak Yuda dengan mata tajamnya, lelaki itu membenarkan letak kaca matanya. Raina dan Dita segera keluar dari dalam kelas.
"Ini udah ganggu banget, Ta !" gumam Raina.
"Udah beberapa kali gue liat pak Yuda diintilin mulu !" ucap Raina.
"Masa sih Ra? tanya Dita.
"Suerr ! malahan beberapa kali gue liat dia ngikutin sampe ke luar,"
"Oh iya gue denger dari bang Hafiz Ra, kalo dulu isu nya pak Yuda kan pacaran sama mahasiswinya sendiri ! sampe hamil loh !" ucap Dita.
"Ah masa ?! ga mungkin ! setau gue pak Yuda tuh orangnya jutek, dia introvert !" jawab Raina.
"Ya kali aja kan, introvert gitu psycho apa gimana?" jawab Dita.
"Ta, nanti sepulang kuliah gue ke rumah loe deh ! mau jenguk bang Hafiz, gue juga mau nanya nanya soal temennya itu !" ujar Raina.
Raina masuk ke cafe, sedangkan Dita sudah kembali ke kelas lagi.
***************
Raina memesan kue dan secangkir cofee.
Trengg !! sendoknya terjatuh. Raina yang tak konsen karena memikirkan masalah ini, menunduk ingin mengambil sendoknya. Tangannya meraba raba di bawah lantai, tapi barang yang dicari tak ada disana, Raina mengerutkan dahinya, lalu melihat ke arah lantai.
Benar ! sendok itu tak ada disana, ia celingukan. Sendok itu sudah berada di tempatnya lagi.
"Hati hati, Rain... kamu selalu ceroboh !" bisikan di telinganya.
Deg !!!!
"Siapa itu ?!" gumam Raina.
"Nino, " bibirnya bergerak mengucapkan satu nama, yang selalu mengingatkannya jika ia ceroboh. Tapi Raina kini tak bisa melihat lelaki itu lagi. Nino telah benar benar menutup dirinya dari pandangan Raina. Ada sebutir air mata di pelupuk matanya, bagaimana ia bisa lupa dengan lelaki yang sudah pernah mengisi relung hatinya, ada lubang di dalam dadanya, tapi bukan itu yang ia dan Nino inginkan.
Nino selalu menjaganya, memang ! tetapi mungkin dari kejauhan. Raina berkali kali meloloskan nafas berat.
Seperti yang dijanjikan Dita datang ke cafe, dari kejauahan saja Dita sudah melambaikan tangannya, "Ra..tau ngga ! barusan tumben banget, pak Yuda cepet banget ngajarnya ! katanya sih tengkuknya sakit ! akhir akhir ini dia selalu pegel pegel !" jelas Dita.
"Jelas lah ! dia suka digelayutin tuh perempuan," jawab Raina.
"Yu, ke rumah loe !" ajak Raina.
"Bentaran kek, gue aus ! minum minum dulu kek, jajan kek !"
"Bayar sendiri ya ! gue udah bayar barusan !"
"Iya ah !" jawab Dita.
"Ya udah buruan, gue sibuk ! " jawab Raina terkekeh.
__ADS_1
"Cih, taulah ! bu bos !" decih Dita.
"Pacar loe ga jemput Ra?" tanya Dita.
"Engga, dia juga sibuk ! palingan nanti kalo ga ketemu di tempat kerja, ya ke rumah," jawab Raina.
"Oh, loe kerja bareng juga?!" tanya Dita.
"Iya, kita satu program siaran bareng, "
"Uwu, enak dong kalo kerja bareng !" seru Dita
"Emhh, enak ga enak Ta. Enaknya ada yang bantuin, ada yang bimbing, kalo ijin ga dimarahin !" kekeh Raina.
"Emang cowok loe bagian apaan?"
"Pimpinan program, " kekeh Raina.
"Cih, pantesan..."
"Ga enaknya?" tanya Dita.
"Ga enaknya, ga bebas..diawasin terus."
Dita tergelak melihat wajah kecut Raina.
"Temen temen gue usil juga, jadi digodain terus. Kapan kawin..kapan kawin !" dumel Raina.
"Hahaha, emang Dika umur berapa?" tanya Dita.
"Otewe 27 thn, " Raina melahap potongan terakhir kuenya.
"Oh, beda 6 taun dong sama loe ?" Raina mengangguk.
"Emang udah usianya punya anak tuh, " jawab Dita menyeruput minumnya.
"Nunggu apa lagi Ra? Ortunya udah kasih restu? atau jangan jangan ada drama tak direstui?" tanya Dita berlanjut.
"Enggak lah ! ibunya baik, baik banget malahan. Dia udah ga ada bapak. Cuma gue belum bilang sih sama om Harsa !" jawab Raina.
"Masih ragu?" tanya Dita.
"Hem, engga sih ! gue belum mau aja belum kepikiran, masih nyangkut di pak Yuda !" jawab Raina.
"Hah??! loe suka sama pak Yuda ?!" kagetnya.
"Ya enggak lah ! ngaco !! maksud gue nyangkut di tugas tugasnya, nyangkut di perintahnya itu !" sanggah Raina.
"Owh, kirain loe suka sama pak Yuda."
"Udah ah, kapan kita ke rumah loe nya !"
"Ya udah yu !" ajak Dita. Baru saja akan beranjak, orang yang tadi di omongkan menelfon Raina.
"Tuh kan panas kupingnya, diomongin !" ucap Raina.
"Pak Yuda?"
"Dika, "
"Sayang, aku ke rumah Dita dulu ya !"
.
.
.
.
__ADS_1