
Rain ketakutan sampai ia tertidur, melihat wajah tenangnya Nino menarik selimut menutupi tubuh mungil ini dari dinginnya malam,
"Good night lovely human, sweet dream !!" kecupan hangat dari bibir dingin, disarangkan di kening Rain. Hari hari panjang dan melelahkan menanti esok.
Untung saja penampakan nyai Diah beserta hantu bayi itu tidak membuat Rain mengalami mimpi buruk, "Hoammm !!!" Rain bukanlah gadis dengan sejuta image mempesona bak puteri kerajaan yang harus menekan kenikmatan haqiqi saat menguap.
"Gadis nguapnya gede banget, pengen gue lempar kacang !!" ucap Nino, ucapan selamat pagi yang jauh dari kata romantis.
"Selamat pagi ,ga apa apa gue kaya gini aja loe sayang, apalagi kalo gue kaya tuan puteri beuhhh auto loe pengen idup lagi !!" Rain turun dari ranjang dengan wajah bantalnya yang menggemaskan.
"Emang gue pengen idup lagi, pengen makan loe !!!" kekeh Nino.
"Loe jangan ngintip gue mau poop !! ntar loe pingsan !!" ucap Rain tertawa lepas.
"Idihhh jiji !!" gidik Nino ikut tertawa, sejak dulu mereka tak pernah menjaga image satu sama lain, malahan mereka terkesan terbuka satu sama lain bahkan hal yang menjijikan sekalipun. Nino sudah tak heran lagi dengan Rain, kentut Rain saja terdengar seperti melodi Beethoven untuknya.
"Neng, ada tamu !" ucap bi Kokom.
"Suruh masuk aja bi, bentar lagi Rain turun !" Rain sudah menduga itu pasti kang Dika.
Kang Dika yang dari luar saja sudah meneliti rumah Rain, sampai masuk ke dalam pun masih memperhatikan pernak pernik rumah Rain, kebanyakan barang barang di rumah Rain adalah barang barang orangtuanya dulu.
"Gimana kang? apa rumah gue ada penghuninya?" ucap Rain muncul dari ruang tengah.
Kang Dika tersenyum, " weewww ! sambutan yang hangat dari para penghuni, yang hidup dan yang astral !" jawab kang Dika.
"Diminum dulu kang," Rain menaruh secangkir kopi susu di meja.
"Loe ga ngampus?" tanya kang Dika.
"Hari ini ga ada mata kuliah, kang. Jadi gue mau ke pabrik."
"Gue liat ada yang nungguin loe di depan komplek," ucap Dika.
"Siapa?"
" Nyai !" jawab Kang Dika.
.
.
Rain menyuruh Dika meninggalkan saja motormya di rumah Rain, sementara mereka ke pabrik menggunakan mobil Rain.
"Hemmm, hangat banget nih mobil," ucap Dika.
"Maksudnya kang ?" tanya Dika.
"Full of love, gue aja sampe terharu !!" jawab Dika.
Dika menatap layar spion ke arah bangku belakang mobil dimana ada Nino disitu, semenjak kejadian terungkapnya misteri Tian, arwah bocah itu jarang muncul di depan Rain lagi mungkin hanya sesekali saja ia muncul.
" Hmm kang, gue suka ngerasa nyaman di mobil ini, ini mobil papah gue kang !" ucapnya sedikit bergetar, ia meraih tissue dan mengusap ekor matanya.
"Gue ngerti, ada energi hangat dan nyaman disini, rupanya ortu loe !" jawab Dika.
Mobil memasuki jalanan yang sudah menyempit, menanjak dengan hawa dingin. Perkebunan teh sudah menghiasi pinggiran jalan. Sejauh mata memandang, hanya hijau yang ada di mata.
__ADS_1
"Gilaaa !! keren banget !! loe tiap hari kesini Rain?" tanya Dika seraya terkagum kagum.
"Engga tiap hari juga kang, paling 2 sampe 3 hari sekali !" jawabnya.
"Ini perkebunan teh punya loe?" mata lelaki ini betah menatap luar jendela.
"Engga semua kang, lagipula bukan punya gue sepenuhnya. Ada saham om Harsa juga dan beberapa lahan kebun teh sebelah sana juga masih milik warga sekitar !" jawab Rain menunjuk sebelah kanan mobilnya.
Mobil terparkir di parkiran pabrik, hampir semua karyawan yang bertemu dengan Rain tersenyum ramah pada bos muda nan cantik ini.
"Loe udah jadi bos, tapi masih siaran ?" lirih Dika.
" Siaran itung itung hiburan biar ga stress kang, yu masuk !!"
Dika menggelengkan kepalanya melihat Nino selalu merangkul Rain di sampingnya, ia salut dengan rasa cinta Nino yang sampai mati ini. Artian cinta sampai mati sebenarnya. Bahkan maut pun tak dapat memisahkan Nino dari Rain.
Dari awal masuk pabrik saja, Dika sudah merasakan aura negatif nan dingin yang menyerang menembus tulang.
Ruangan pertama saat mereka masuk adalah ruang galeri teh, mulai dari berbagai macam produk teh dan sedikit pengetahuan mengenai pabrik teh ini, lalu masuk ke belakang sudah mulai masuk ruang pemrosesan teh, berikut suara gemuruh mesin mesin yang membersihkan dan mengeringkan teh, juga mesin pengemasan.
Dika sudah mulai merasakan keanehan keanehan di sekitar sini. Hawanya beragam.
"Ini ruang apa Rain?" tanya Dika.
"Ini ruang pemilahan daun teh, kang !"
Pak Komar menghampiri mereka, " bu Raina, maaf barusan saya sedang cek ruang taster !" ijinnya.
"Ahhh tak apa pak, kenalkan ini teman saya Dika Beliau ingin melihat lihat pabrik teh kita," jawab Rain.
"Mahardika," jawabnya.
"Kalau sedang sibuk, silahkan teruskan saja pak, nanti simpan saja laporan produksi dan penjualan bulan ini !" ucap Rain. Pak Komar mengangguk.
Rain menjelaskan setiap ruangan yang mereka masuki, Dika sedikit berkeringat.
"Panas ya kang?" tanya Rain.
"Iya, disini panasnya nyampur Rain !!"
"Kang, sebaiknya ke ruangan gue aja sambil istirahat dan ngopi !!" ajak Rain. Mereka masuk ke dalam ruang kantor Rain. Sebelumnya Rain menyuruh seorang pegawai untuk membuatkan minum.
"Rain, suer disini banyak banget. Walaupun siang siang !!" ucap kang Dika.
"Banyak banget kang?" tanya Rain penasaran. Tiba tiba salah satu foto terjatuh dari tempatnya.
Prakkk !!!!
Keduanya tergelonjak kaget, bahkan Nino sudah keluar untuk memeriksa, sekelebat bayangan melintas di depan mereka.
"Astagfirullahaladzim !!" keduanya berucap. Rain meraih foto yang terjatuh itu, ia menyipitkan mata, karena yang terjatuh adalah foto yang terdapat nyai Diah.
"Coba gue liat !!" pinta kang Dika.
"Hah !! ini nih...ini perempuan yang gue liat, apa dia mantan karyawan di pabrik ini ?" tanya Dika.
"Bukan kang, dia adalah sinden salah satu kelompok seni di daerah sini yang pernah dipanggil kesini buat ngisi acara pesta rakyat, yang diadain kakek gue !" jawab Rain.
__ADS_1
Keduanya tengah menerka nerka apa yang terjadi dengan nyai Diah ini, namun baru saja mereka terdiam, dari luar ruangan terjadi ribut ribut. Sontak Rain dan Dika beranjak untuk melihat, Nino meraih tangan Rain, "Hati hati, nyai sedang marah !! diam di belakang gue dan Dika," ucap Nino.
"Dika, hati hati..dia benci laki laki !!" Nino mewanti wanti. Keduanya mengangguk.
Benar saja di bagian produksi seorang karyawan wanita sedang mengamuk ngamuk sambil tertawa menakutkan, tawanya begitu menyeramkan sekaligus memilukan. Jika kamu pernah mendengar suara tangisan pilu kesakitan yang teramat, maka begitulah suaranya.
Karyawan wanita itu melotot ke arah setiap orang yang melihatnya, dengan cekalan dua orang karyawan laki laki ia berontak, kekuatannya bak superhero kedua laki laki itu kalah kuat, si karyawan wanita yang kerasukan berlari. Namun larinya seperti tertahan dan kaku, padahal karyawan perempuan ini memakai celana levis panjang, tapi langkahnya seperti sedang memakai jarik, ia menggeram seraya tangannya ingin mencekik seseorang. Arah tujuannya menuju Rain.
" Urang butuh kaadilan,(saya butuh keadilan !)" kikiknya melotot, belum mencapai Rain, karyawan wanita itu sudah terpental di serang Nino hingga ia terjatuh ke belakang. Karyawan lain menangkapnya. Rain takut dan shock.
"Rain, loe ga apa apa ??" tanya Dika membawanya kembali ke ruangan. Tatapan karyawan itu menyiratkan kekecewaan dan kemarahan.
Karyawan itu sudah sadar, hanya saja terkulai lemas. Baru akan masuk ke dalam kantornya Rain sudah dikejutkan lagi dengan kehadiran bayi merah semalam, ia sedang merangkak di tembok dengan tali pusar yang membusuk, bayi botak dengan mata yang hampir keluar satu ini cekikikan ala bayi.
"Aa..teteh...hayu ameng....!!!" ucapnya. Sontak saja Rain berlindung di balik badan Dika.
"Astahfirullahaladzim," Dika melafalkan ayat kursi untuk mengusirnya. Lihatlah tali pusar yang tergantung gantung menyapu tembok yang dilaluinya bau busuknya menyengat sampai ulu hati.
"Kang, gue takut !!" Dika malah mendekat, karena usil dan bandel si bayi dengan gigi hancur tak beraturan ini melompat hendak meraih Dika. Namun Nino menangkapnya lebih dahulu, karena sasarannya bukanlah Dika melainkan Rain yang sedang di belakang Dika.
"Ampun aa....!!" ia menangis, Dika memang sudah terbiasa dengan mereka yang tak terlihat, membuatnya tidak merasa takut lagi dengan tampilan mereka.
"Siapa ibumu?" tanya Dika, sedangkan Nino memegangi si bayi.
Ia malah menangis meraung raung,"Nyai Diah !!" jawabnya.
"Apa maksud kamu mengganggu Raina??" tanya nya.
"Ka Raina cantik !! saur ambu ka Raina nyumputkeun bapak !!! bapak jahat ( kata ibu ka Raina ngumpetin ayah,ayah jahat ) !!" Seketika setelah mengatakan kata cantik wajah bayi itu berubah menjadi sendu dan menangis.
Brakkkk !!!
Vas bunga langsung terjatuh sendiri, tak lama vas itu terlempar sendiri ke arah kang Dika dan Rain. Sontak mereka menghindar begitupun Nino yang langsung melepaskan bayi itu dan melindungi Rain.
Prankkk !!!
Vas itu pecah berhamburan, karena mengenai tembok, si bayi yang sudah lepas dari cengkraman Nino langsung menghilang.
"Rain, loe ga apa apa kan??" tanya Dika.
Rain mendongak " makasih," ucap Rain menatap wajah teduh ini.
"Dika, loe ga apa apa?" tanya Nino.
"Gue ga apa apa !"jawab Dika.
"Rain, gue rasa ada yang mau nyai Diah sampaikan malam ini, disini !!" ucap Dika.
Jujur, siang saja Rain sudah ketakutan setengah mampoossss. Apalagi jika malam hari, tentunya mereka tak sendiri.
.
.
.
.
__ADS_1