Guardian Ghost

Guardian Ghost
Nasib Baron


__ADS_3

"Astagfirullah !!!" pekik Rain.


"Sat..!!! gila parah, si Dika kelupaan nutup mata bathin gue !!" ucap Romi, memejamkan matanya.


"Apaan sih ??" tanya Tria dan Fadly.


"Kang, tancap gas kang tancap gas !!" pekik Rain. Saat melihat siluman kera itu ditangani Nino,


"Bismillah !!" Dika tancap gas, mobil melaju menjauh meninggalkan jalanan sepi nan curam, Rain menengok ke belakang, Nino masih berusaha menyingkirkan siluman Kera itu.


Rasa khawatir menggelayut di benak Raina, melihat Nino yang sedang beradu jotos dengan siluman Kera itu.


"Semoga loe ga apa apa, No !" gumam Rain.


"Siapa Nino, Rain?" tanya Romi, "apa cowok yang barusan lawan monyet itu ?"


Rain bingung menjelaskannya, " Iya Rom, dan loe ga usah kevo !! kalo masih mau idup tenang !" jawab Dika.


"Ntar deh gue tutup mata bathin loe !" jawab Dika.


.


.


Rain merebahkan badan lelahnya di ranjang empuknya, akhirnya setelah hampir 3 hari ia kurang istirahat, hari ini ia bisa pulang.


"Aahhh badan gue berasa remuk banget !!" keluh Rain, ia memejamkan matanya, merasai nyamannya ranjang kesayangannya.


"Mandi dulu, bersih bersih. Buang semua energi negatif yang nempel !" Rain sontak membuka matanya, ia melihat Nino sudah ada dikamarnya, berdiri di depan ranjang.


Gadis manis itu langsung bangkit dan memeluk Nino posesif, "gue khawatir banget tau ngga sama loe !!" seru Raina.


"Loe ga apa apa kan? ada yang luka?" tanya Rain menangkup pipi dan melihat setiap inci tubuh Nino. Nino tersenyum dan menggeleng.


"Gue ga apa apa, dia kabur setelah hampir kubuat musnah !" jawab Nino.


"Wihhh hebatnya pacar hantu gue !!" puji Rain mendongak, Nino mencolek hidung Rain.


"Loe juga hebat honey," jawab Nino.


"Dia siapa ?" tanya Rain.


"Sepertinya urusan kita disana belum selesai honey ! warga disana masih butuh kita !" ucap Nino, senyum Rain pudar, sebenarnya ia malas berurusan dengan makhluk tak kasat mata, tapi mau bagaimana lagi, ia terikat dengan pabrik juga. Hampir setiap saat ia akan melewati kampung dan jalanan itu.


"Apa urusannya sama kita? kan disana ada pak ustadz !" jawab Rain melonggarkan pelukannya.


"Dia sudah cukup lama disana," ucap Nino menerawang kejadian lalu.

__ADS_1


"Ko bisa?" tanya Rain.


"Sebenarnya ia tak sengaja singgah, melihat manusia yang sedang goyah imannya dan sedih teramat, menjadi sumber kekuatannya. Manusia yang mudah di bohongi oleh segala tipu daya syaitan, sampai ia merasa betah disana !" jawab Nino.


"Siapa manusia itu, No?" tanya Rain.


"Mak Iting !"jawab Nino.


Rain mulai paham dengan arah pembicaraan Nino, ia menyambungkan dengan kejadian yang lalu saat ia datang ke rumah mak Iting, rupanya siluman Kera itu betah karena mak Iting sering memberinya sesaji, dengan cara merubah wujudnya menjadi sosok abah.


"Tapi kan sekarang mak Iting lagi di kantor polisi?" tanya Rain.


"Justru itu yang memperparah, kepergian mak Iting otomatis akan membuat si siluman kera merasa kelaparan dan kehilangan abdinya, ia akan mengacaukan kampung, menakuti setiap orang yang lewat, mencari titik lemah manusia lain untuk dijadikan pengganti mak Iting!" jawab Nino.


Raina menghela nafasnya lelah, kenapa jadi seribet ini, belum juga masalah orangtuanya selesai.


.


.


.


Raina bersama Nino, memutuskan datang ke kantor polisi untuk bertemu Baron. Ia datang bersama Pian, dan bu Tita.


Mobil sedan tua itu berhenti di parkiran kantor polisi, Baron sudah siap disidang.


Seorang preman pasar, Brom*ocurah, dan pembunuh bayaran ini berjalan tertatih di gandeng oleh polisi, dengan tangan terborgol, tiap inci kulitnya yang ia tatto tak dapat menutupi rasa penyesalannya, memang penyesalan tidak datang di awal.


"Bapak !!"


"Baron !!"


sosok pria itu kini berpeci, tak tau kenapa manusia itu harus disentil dahulu oleh Tuhan baru ia akan sadar.


Mata Baron terlihat mengembun, melihat Raina, bu Tita dan Pian dengan penuh perasaan bersalah.


"Maafkan saya !" cicitnya duduk di kursi sebrang ketiga orang ini.


"Abang pasti belum makan, semoga abang masih suka semur ayam buatan saya !!" bu Tita menyodorkan rantang ke depan Baron. Ia menangis tergugu.


"Saya tidak pantas menerima maaf darimu Tita, bapak memang orang paling kejam Pian !!" tangisnya, Bahu kokoh itu bergetar, sehebat hebatnya manusia ia hanyalah makhluk lemah dihadapan Tuhan.


Rupanya Tian sering mendatangi Baron di dalam selnya, membuat bapaknya ini sadar. Pantas saja bocah itu jarang terlihat, biasanya ia dan bunga akan sangat kepo bila tidak bertemu dengan Rain.


"Syukurlah kalo bapak sadar !" jawab Rain.


"Neng Rain, maafkan semua dosa dosa saya !" ucap Baron.

__ADS_1


" Saya sudah memaafkan pak, meminta maaflah pada Allah dan orang orang yang sudah bapak sakiti,"


"Pak, saya harap bapak bisa jujur atas semua kejahatan bapak dan....." Rain terdiam.


Baron mengernyitkan dahinya, "dan apa neng?"


"Saya tau jika bapak pernah membantu seseorang untuk menghabisi beberapa orang termasuk nyai Diah si sinden kampung !" jawab Rain.


Baron terlihat terkejut, betapa banyak nyawa yang sudah ia bunuh. Baron mengingat beberapa kejadian ke belakang.


"Iya, saya sudah sangat kotor, tangan saya sudah terlalu banyak mencabut nyawa orang!" tangisnya.


"Sebenarnya yang menghabisi anak laki laki itu bukan saya !" jawab Baron.


Raina menautkan alisnya, "anak laki laki?" tanya nya membeo.


Baron mengangguk, "saya akui, saya dibayar pak Komar untuk membunuh seorang ahli waris pak Wiguna, tapi saya tidak bermaksud membunuh yang lainnya, namun berhubung istri dan anaknya melihat apa boleh buat, saya fikir tak ada lagi saksi tapi ternyata ada seorang bocah lelaki yang ingin membantu anak gadis itu. Saya memang melakukan semuanya tapi saya tidak sampai membuatnya berhenti bernafas !" jawab Baron sedikit ambigu.


"Lalu?"


"Teman saya dari arah belakang tiba tiba menyabetkan samurai dan menusukkannya tepat di bagian dada bocah itu !" jawab Baron, Nino sudah mengepalkan tangannya, mengingat Baron menceritakan bagaimana dulu ia di bunuh.


"Saya harap dan saya mohon, jika bapak memang menyesal, ceritakan semua ini pada pihak polisi. Termasuk kasus nyai Diah, karena pak Komar sudah tertangkap ! kasus nyai Diah dibuka kembali," lirih Raina.


"Insyaallah saya siap, mungkin ini yang bisa saya lakukan di akhir waktu saya berada di dunia ini !" jawab Baron, tidak dipungkiri semua sudah tau Baron menerima pasal berlapis, dengan ancaman hukuman yang tak main main, hukuman mati.


"Ceritakan lah pada polisi siapa saja yang terlibat kejadian perampokan dan pembunuhan malam itu !" ucap Rain.


Baron mengangguk, derai air mata keluar dari pelupuk mata bu Tita, tak menyangka laki laki yang sudah ia dampingi selama hampir 10 tahun ini terjerat hukuman mati. Rain memberikan bu Tita dan Pian waktu untuk berkangen kengen ria, sedangkan ia menunggu di mobil.


Rain berjalan masuk ke mobil, ia menyenderkan badan dan kepalanya pada sandaran kursi.


"Bukan Baron yang bunuh gue !"gumam Nino, Rain melirik.


"Hey," Rain memegang tangan yang dingin itu, membawanya ke dekapannya dan mengecupnya.


"Semua akan terbongkar, semua pelaku akan tertangkap, kita sedang berusaha ," jawab Rain, membalikkan badannya dan menangkup wajah Nino.


"Gue janji, kita bakal nemuin orang orang bersalah itu !" ucap gadis manis itu.


"Thanks, " Nino meraih rahang gadis itu menariknya dan mengecup lama kening Raina. Sekejap Rain merasakan ketenangan dan kenyamanan.


"Abis ini gue mau ngunjungin mamah, papah sama loe, juga Tian !" ucap Rain.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2