
Gea dan Dika sudah berada dekat dengan kontrakan Gea, bersama Adry, ketiganya sengaja memarkirkan mobil di rumah pemilik kontrakan.
"Ada apa? apa nak Gea juga mau keluar dari kontrakan?" tanya si ibu berdaster, ia memijit pelipisnya. Dalam seminggu terakhir, hampir semua penghuni kontrakannya pergi. Memutuskan tak mau lagi mengontrak disana.
"Bukan bu, justru Gea kesini mau nanya, sebenernya ada kejadian apa?" tanya Gea. Jujur saja Gea merasa kasihan, melihat kontrakan banyak yang dikosongkan para penghuninya.
"Sebenarnya, sebelum nak Gea datang, di kampung ini sempat ramai, ada satu kejadian !" jawab si ibu.
"Kejadian apa bu?" tanya Dika. Ketiganya sedang mengobrol di ruang tamu.
"Waktu itu, di kompleks depan, di temukan sesosok tubuh tanpa kepala," jawab si juragan kontrakan.
"Apa?!" Dika mengerutkan dahinya.
"Iya, tapi sampai sekarang kabarnya, sampai tubuh itu dikuburkan kepalanya belum juga ditemukan," jawab si ibu.
"Kalau boleh tau, jasad siapa itu bu?" tanya Gea.
"Sampai sekarang polisi belum mengantongi alamat ataupun identitasnya, jadi jasad itu dikubur di tpu kampung sini tanpa nama !" jawab si ibu.
"Apa tidak ada yang mencari?" tanya Dika. Si ibu menggeleng.
"Apa mungkin gelandangan?? " tanya Dika,
"Ibu kurang tau, "
"Apa mungkin itu kepalanya Dik?" tanya Gea.
"Bisa jadi, mungkin ia ingin memberikan petunjuk !" jawab Dika.
"Apa sampai sekarang tak ada yang berani untuk mengusir bu?" tanya Gea.
"Butuh biaya untuk memanggil ustadz atau semacamnya!" jawab si ibu.
"Monggo, diminum dulu !" pinta si ibu.
"Iya bu, makasih !"
Dika dan Gea melanjutkannya ke kontrakan Gea, seraya Gea ingin mengambil beberapa barang yang penting.
Baru masuk ke area kontrakan saja, aura nya sudah sangat dingin dan mencekam. Terlihat kotor dan berantakan, sebagian penghuninya sudah pindah. Hanya tersisa 2 kontrakan yang terisi, itupun penghuninya sudah mengurung diri di dalam rumah.
"Ini harusnya diramaikan, bukannya malah pada ditinggalin !" ucap Dika.
"Gimana mau pada tinggal Dik, manusia ga semuanya seberani loe sama Raina !" jawab Adry.
"Nyindir !!" decak Gea.
"Udah ga usah pada berantem, " lerai Dika, mengingat nama Raina dibawa, Dika jadi kepikiran lagi. Sedang apa gadis itu sekarang, bagaimana kondisinya, apakah Nino sudah berhasil menyingkirkan sesuatu dari tubuh Raina. Semua pertanyaan itu sukses membuat Dika kecolongan satu moment penting.
"Astaga !!" Gea berseru, sesosok kepala dari balik kontrakan menyembul mengamati mereka, bersembunyi di balik kegelapan malam.
__ADS_1
"Itu Dik !!" kepala itu menggelinding ke arah mereka. Sontak mereka berlarian menghindar, bau amis bang*kai tercium begitu mengocok perut.
Mata yang bengkak dan lebam lebam, tak ada tatapan pada siapapun. Gea bersembunyi di balik sumur terpisah dari Dika. Ia tak menyadari jika ia sedang sendiri.
"Dik, Dik...gue rasa udah pergi !!" ia mencolek colek tekstur rambut dan kulit. Tak ada jawaban dari Dika.
"Dik, keluar yu..gue mau ambil berkas !" Gea menoleh.
"Aaaaa !!!" pekiknya, Adry yang menghampiri langsung membawa Gea pergi dari sana, menuju depan kontrakannya.
"Ge, cepetan buka pintu !!" pinta Dika.
Gea mencoba merogoh kunci kamarnya dari dalam saku,
"Mana sih kunci ??!" Gea panik, dan berusaha memasukkan kunci ke lubangnya. Disaat seperti ini kenapa harus ada drama gemeteran. Adry memegang tangan Gea.
"Stay cool sayang, kamu harus tenang !" ucapnya. Seharusnya Gea bisa tenang, jika mengingat sosok Adry dahulu lebih menyeramkan.
Gea dan Dika masuk ke kontrakan.
"Loe ambil dulu apa yang loe mau bawa ! gue tunggu disini !!" ujar Dika menaburkan sejumput garam, dengan membacakan ayat ayat suci. Membuat pagar ghoib, di sekitaran kamar kontrakan Gea dan kedua penghuni lainnya.
Belum tuntas kepala itu pergi, dari kejauhan siluet tubuh tegap berdiri jelas di kegelapan malam, hanya saja saat mereka meneliti ke bagian atasnya, tubuh itu tanpa kepala.
Tubuh itu berjalan pelan, meraba raba jalan menuju rumah kontrakan ini.
"Dik, loe liat itu !" tunjuk Adry.
"Dia sudah mengganggu Dik, apa perlu gue musnahin aja ?!" Adry sudah sangat kesal.
"Ga perlu, mungkin niatnya ga sejahat aksinya sekarang. Apa loe ga inget, dulu loe neror Raina sama Rian?" tanya Dika. Adry tersenyum kikuk.
Sosok tubuh itu mendekat, mulai terlihat lah sosoknya, tubuh berpakaian serba hitam, dengan leher mengeluarkan da*r@h. Sosok itu membawa bawa linggis kecil. Seperti ingin menyerang sesuatu.
Dika harus segera menyelesaikan secepatnya. Gea sudah siap dengan tas ranselnya.
"Astaga !!" ia terperanjat,
"Itu !!" tunjuknya.
" Tenang aja, dia ga akan mendekat ke arah kita. Terhalang pagar ghoib !" jawab Dika.
"Jadi kita mesti nunggu, sampe dia pergi?" tanya Gea.
"Engga, justru kita bergerak sekarang !" jawab Dika.
Dika mendekat ke arah tubuh itu, tapi rupanya, etikad baik Dika dan Gea di sambut kurang baik olehnya. Sosok itu mengibas ngibaskan dan menusuk nusukan linggis ke sembarang arah, yang jelas arah Dika dan Gea. Dika langsung menepis sambitan linggis itu, Adry melindungi Gea.
"Loe berdua duluan aja ! nanti gue nyusul !" jawab Dika.
Ia terlihat sedang menepis dan mendorong sosok tubuh tanpa kepala itu.
__ADS_1
"Buruan !!" Dika memencet tombol remote yang otomatis membuka pintu mobilnya, membiarkan Gea masuk terlebih dahulu.
"Blugh !" pintu mobil ditutup, Dika masuk menyusul Gea, lalu melajukan mobilnya, keduanya mulai bisa bernafas lega, peluh sudah bercucuran dari kening.
"Gilaaa !! bawa bawa linggis !!" seru Gea.
"Tadi gue ada sempet denger dia bilang sesuatu !" ucap Dika.
"Bilang apa Dik?" tanya Gea.
"Dia bilang, minta dibalikkin kepalanya, minta keluarganya dikasih tau !" jawab Dika, fokus Dika teralihkan, ia menginjak rem sekuatnya, saat sosok tubuh tanpa kepala itu berdiri tepat di tengah jalan, depan mobil Dika.
"I..itu Dik !!" tunjuk Gea. Adry tak tunggu lama, ia sudah ada di luar, menyerang sosok itu tanpa ampun.
Dika tancap gas, meninggalkan tempat itu, tapi belum jauh, ban mobil Dika seperti menggeleng sesuatu.
"Grekkk !!"
"Ehh, gue abis geleng apa tuh !!" ucap Dika.
"Coba liat Dik, " Gea dan Dika keluar dari mobil, Dika mengecek setiap ban mobilnya.
Ban depan bagian kanan tak ada apapun yang aneh, begitupun bagian belakangnya, Gea yang ikut turun mengedarkan pandangan, malam ini menyeramkan, ditelan gelap, begitu sunyi dan sepi, tapi degupan jantungnya mulai cepat saat ia melihat dimana mereka berhenti.
Dika berjongkok, ia menghela nafas..
"Ge, sebaiknya kita cepat kembali. Karena yang gue liat, ini bukan benda ataupun benda hidup !" Dika berdiri, namun Gea sudah tak ada disana.
"Ge ??!" pekik Dika.
"Shittt !!!!" Dika mengacak rambutnya frustasi. Kenapa ia tak fokus begini, bukan hanya masalah ini yang menjadi pusat pikirannya.
"Gea, loe dimana ??!" pekik Dika, ia tersadar mereka sedang berada di depan kuburan umum.
"Gue yakin Gea disini !" Dika masuk ke dalam pekuburan umum itu.
.
.
Gea mengerjapkan matanya, kepalanya berputar, dan matanya berkunang, ia mengingat sebelumnya ia pingsan saat kepala buntung itu menghampiri kakinya dan melompat ke arah Gea.
Gea meneliti tempat ini, ia sedang berbaring, tapi bukan di ranjang, ia meraba tempatnya terbaring,
"Tanah merah??!" ia sontak bangun, beberapa tanah mennggunduk dan pusara yang sudah di pasangi keramik berjejer di sekitarnya. Yup ! Gea tidur di atas kuburan. Ia langsung berdiri, matanya membola mengingat kata kata ibu kontrakan, padung nama kuburan yang ia tiduri, KOSONG.
.
.
.
__ADS_1