Guardian Ghost

Guardian Ghost
Manusia Bo*doh


__ADS_3

Dika gelisah, ia tak bisa menunggu sampai pagi. Tapi tidak mungkin juga, ia menembus malam dengan berjalan kaki ataupun meminjam motor milik warga, hutan itu sangat gelap, banyak jalanan terjal dan yang jelas Dika tak tau jalan. Hanya untuk mendapatkan sinyal ponsel. Daripada hanya merasakan gelisah yang tak berkesudahan, Dika melaksanakan shalat malam.


.


.


Ia melirik jam di ponselnya sudah pukul 3 dini hari. Ia segera bangkit, jam segini ayam ayam sudah berkokok. Pertanda pagi sudah menjelang.


Dika keluar dari kamarnya, ki Nyawang dan nyai, juga hampir semua penghuni rumah ini sudah terbangun.


"Ki, apa jam segini sudah bisa dilewati?? setidaknya sampai ponsel saya mendapatkan sinyal ?!" tanya Dika.


"Sudah nak, biasanya ada beberapa warga yang mengantarkan hasil tani nya ke pasar, nak Dika bisa ikut beberapanya !" jawab Ki Nyawang.


"Alhamdulillah !" Dika segera keluar rumah mencari warga yang ingin menuju pasar.


"Pak ! " panggil Dika.


Si bapak, yang sedang mengangkut sayuran menggunakan mobil bak terbukanya menoleh.


"Iya ?"


"Pak, maaf jika boleh..saya ingin ikut menumpang, hanya sampai menemukan sinyal ponsel?!" tanya Dika penuh harap.


"Oh boleh nak, " Dika berbinar.


"Yes ! makasih pak, makasih banyak !" serunya. Tak ada lagi rasa syukur yang ia tepis, dikelilingi oleh orang orang baik.


Dika masuk ke dalam bangku samping pengemudi.


Dika mulai mengeluarkan ponselnya, mencari cari sinyal dengan mengacung acungkan ponselnya ke atas. Dengan tubuh yang berguncang, karena tekstur jalanan yang bergelombang dan terjal.


Sudah hampir 15 menit berkendara, Dika belum juga menemukan satu garis pun sinyal yang ia inginkan, tanda panahnya masih ke bawah.


Matanya memilih mengedar pada sekelilingnya, yang merupakan daerah perhutani, milik pemerintah. Sinar matahari mulai mengintip dari celah celah pepohonan, memberikan kehangatan untuk bumi yang masih terlalu dingin untuk para penghuninya. Mobil sudah keluar dari wilayah perhutani, satu garis sinyal mulai terlihat, Dika sontak tersenyum senang, sampai di pinggiran jalan beraspal ia benar benar menemukan sinyal yang ia inginkan.


"Alhamdulillah, pak saya sudah menemukan sinyal. Disini saja pak !" ucapnya.


"Oh iya nak, "


"Makasih banyak pak, "

__ADS_1


"Sama sama !" Dika turun dari mobil, mulai menscroll nama Romi. Sungguh ia kesal, apa Romi masih tidur?? ia kembali menscroll nomor Gea, yang justru malah tak aktif.


"Shitttt !" umpatnya.


"Ini pada kemana ?!"


Hampir ia tak bisa menahan amarahnya. Ia menelfon Tria. Akhirnya Tria mengangkat telfon.


"Hallo Dik, " ucapnya panik.


"Hallo Tri, loe kenapa??"


"Raina, Dik....Dia mulai muntah muntah da*rah !!! semenjak loe pergi kemaren Raina bukan Raina, sampai ia di tenangkan oleh Nino sepertinya. Tapi tadi tepat jam 10 malam, Raina tiba tiba terbangun sendiri, lalu kembali menjadi Raina, tapi ia terlihat kesakitan dan sedih sampai mohon mohon, katanya waktunya tidak banyak ! loe gimana dah nemuin tusuk kondenya ?" jelas Tria.


"Astaga ya Rabb!!!" pantas saja semalam ia tak bisa tidur, terbangunnya Raina tepat setelah Dika menyaksikan sosok Raina menjadi penari di tengah tengah aula semalam.


"Sekarang Raina bagaimana? Lalu apa lagi yang terjadi?"


"Romi sama Fadly dibantu mang Nurdin grebek rumah Bagas. Mereka juga dibantu Nino," jawab Tria.


"Terus?"


FLASHBACK ON


Selepas Raina tenang dan pingsan, Nino segera menelusuri rumah Bagas. Ia masuk ke dalam ruang tamu yang masih berantakan, karena adegan perkelahian Dika dan Bagas. Ia juga melayang masuk ke dalam kamar Bagas, yang masih sama semrawutnya. Nino mencari keberadaan Bagas, ia menajamkan penciuman dan penglihatannya.


Rupanya ada sebuah ruangan rahasia di rumah ini. Nino masuk ke bagian dapur, ke arah pintu yang berbahan kayu jati, dan menemukan hanya lemari perkakas, tapi di balik itu ada sebuah pintu rahasia.


Disana, Nino menemukan seorang Bagas tengah melafalkan jampi jampinya pada sebuah sesajen kecil, dan mangkuk kemenyan. Nino sampai mengeraskan rahangnya, tatkala melihat foto foto Raina banyak tertempel di depan sesajen itu, bersama selendang hijau milik nyai kembang.


Raina memang cantik, bahkan saat baru bangun tidur pun, ia terlihat begitu menggemaskan.


"Ini bukan cinta men...ini obsesi ! dan obsesi menghancurkan dirimu juga Raina gue !" Tak tunggu lama, Nino meraih Bagas yang kemudian ia tersentak kaget, tubuh Bagas melayang cepat menabrak dinding, lehernya di cengkram Nino, dengan mata merahnya dan wajah mengerikannya juga luka dimana mana. Nino menatap Bagas tajam.


"Tak ada lagi ampun buatmu !" ucapnya. Baru kali ini Nino menyerang manusia, kesabarannya sudah habis, Nino kalap. Ia membanting tubuh Bagas ke arah sesajen, hingga menghancurkan sesajen membuatnya berantakan.


"Uhukk uhukk...!! ampun !!" ucapnya terbata, tertahan rasa sakit.


"Ampun??!! " Nino tertawa tak ada ampun.


"Apa saat loe guna guna dan pelet Raina, loe mikir berkali kali?? apa loe ga tau dampak buruk yang sekarang terjadi?? Apa loe pernah mendengar jeritan dan tangisan Raina, saat ia meminta tolong dan ampun??!!!" Nino semakin murka mengingat penderitaan Raina.

__ADS_1


"Gue ga tau ini bisa berakibat fatal," Bagas sudah benar benar dicekik Nino kemenyan yang masuh menyala dimasukkan ke dalam mulut Bagas, hingga lelaki ini merintih dan memekik kepanasan.


"Aaaaaa !!!!"


Nino bisa sejahat ini, selama ini ia menahan dan menjadi sosok hantu baik hanya untuk Raina.


"Loe adalah manusia terbo*doh yang pernah gue tau !!!! apa yang sudah gadis gue lakukan sama loe?!!" Bagas menggeleng. Raina justru tak pernah melakukan apapun padanya. Justru gadis itu diam dan tersenyum manis. Senyum itulah yang membangunkan sisi jahat seorang Bagas, untuk memiliki Raina.


"Maaf." ucapannya tak jelas, karena lidahnya yang sudah terluka akibat kemenyan panas itu,


"Maaf kata loe?! seharusnya loe pikirkan ini sebelum loe lakuin ini sama Rain ! apa loe berfikir, loe itu cuma alat dari arwah arwah jahat ?? loe itu budak se*tan !!! mereka cuma memperalat loe, hanya untuk tujuan mereka !!!" bentak Nino seram.


Bagas diam tak banyak berkata.


"Nyai Kembang hampir saja membawa sukma Raina !!! dan tidak menutup kemungkinan hari ini atau esok ia akan berhasil !!!" kembali ucap Nino penuh amarah.


Tangan Nino mengendur, di saat itulah Bagas menggunakan kesempatan untuk kabur. Nino kembali menatap tajam.


"Sampai manapun loe lari, gue ga akan lepasin loe !" Nino menyusul, rupanya Bagas ke arah mobilnya, ia ingin kabur.


Belum juga melajukan mobilnya, Nino sudah menjadi sosok menyeramkan dimana kondisinya saat ia meninggal dulu, Nino berjalan tepat di depan mobil Bagas, terkena sorot lampu mobil.


Bagas sudah panik, ia menancap gas kencang menabrak sosok Nino yang hanya bisa terlewati begitu saja, speedometernya diatas normal.


Jangan berharap bisa lari, Nino malah sudah berada di dalam mobil Bagas, ia mencekik Bagas dari belakang. Hingga Bagas tak bisa mengendarai mobil dengan baik.


Saat yang tepat Nino keluar, naas bagi Bagas, sebuah truk pembawa pasir melaju kencang. Tubrukan banteng pun tak terelakkan.


"Ckitttttt !!!"


"Braaakkkk !!!!"


Mobil Bagas ringsek, Nino menyunggingkan senyuman, lalu kembali. Percaya atau tidak nyai kembang pun disana, ia malah menangkup d@*rah Bagas yang mengucur dan menyiramkannya pada badannya.


Akhirnya satu manusia bo*doh sudah menjadi tumbalnya. Detak jantung Bagas masih berdetak, ia dibawa ke rumah sakit terdekat oleh warga, meskipun kini keadaannya sudah tak memungkinkan untuk selamat. Tapi takdir kematiannya seperti digantung oleh sang Pencipta. Hanya diantara hidup dan mati.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2