
Kaki sebelah kiri Rain ditangkap Baron, hingga Rain terjatuh. Hampir saja wajah cantiknya mencium lantai, jika ia tidak menahan dengan tangannya. Tubuh mungilnya dengan mudah tertarik Baron.
"Enak saja !! setelah masuk rumah orang tanpa ijin, lalu tau semuanya, kamu akan pergi?" pekik Baron ia memelintir Rain dan menahan kedua tangan Rain di belakang, aroma alkohol dari mulut Baron menyesak di rongga penciuman Rain. Bau keringat Baron yang jarang mandi pun begitu membuat Rain sesak dan mual.
Tian akhirnya menampakkan diri di depan Baron. Sesosok tubuh penuh lebam, dan kaki pincangnya. Baju yang lusuh dan bernodakan da*rah, basah kuyup.
"Lepaskan ka Rain !!" mata anak itu melotot, tampilan Tian saat ini adalah keadaannya sewaktu di bunuh Baron. Begitu membuat pilu dan menyeramkan.
" Loe !!!" mata Baron melotot.
"Loe udah mampossss !!! loe cuma se*tan dan gue ga takut sama se*tan !!" ucap Baron memekik, ia meraih pisau yang ada di dekatnya.
Nino yang masih mengamati situasi dan kondisi, mencari celah agar pisau yang sudah di depan leher Rain tidak sampai ke kulit gadis itu.
Tian menyeret kaki satunya yang sedikit pincang, karena dulu sewaktu dibunuh ia di pukul memakai balok kayu beberapa kali sampai tulang keringnya patah.
Rain hanya pasrah sambil terus berdo'a.
"Kamu harus bertanggung jawab atas kematian beberapa orang !!!" ucap Tian.
"Mundur ! Loe cuma se*tan !! udah diusir dari bumi," pekik Baron dekapan lengannya membuat gadis itu semakin tercekik. Baron membawa Rain masuk ke dalam kamar Tian dan mendorongnya hingga terjatuh dan menutup hingga mengunci pintunya. Ia dengan bodohnya menodongkan dan mengibas ngibaskan pisau dapur itu ke depan Tian.
"Mundur loe !!!" pekim Baron,Tian tersenyum jahat.
"Tusuk saja kalau kamu bisa !!" jawab Tian semakin mendekati Baron, air yang bercucuran dari pakaiannya menyapu sepanjang teras yang dilalui Tian.
Tian semakin mendekat, begitu terlihat dendam di wajah arwah anak kecil itu, tangan yang penuh dengan luka lebam dan bekasan api rokok terulur memanjang meraih leher Baron. Lelaki paruh baya dengan badan kekarnya, yang notabenenya ayah kandung Tian itu tak bisa lari dan meronta saat tubuhnya yang sudah mentok di pintu, di cekik oleh Tian, hingga tubuh kekar itu sedikit terangkat.
"A..am..phuunn...uhuuk..!!" ucap Baron terbata.
"Tian jangan terbawa emosi Ian, ingat lah Baron harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya dan semua orang harus mengetahuinya," pekikku menggedor gedor pintu kamar.
"Tian, ka Rain mohon, Baron adalah saksi kunci misteri kasus pembunuhan kedua orangtuaku !!! Ingat ibu mu dan Pian, mereka pasti tidak ingin kamu membunuhnya, mereka pasti tidak mau kamu jadi seorang pembunuh," pekik Rain.
Tangan yang mencengkram kuat Baron, sedikit sedikit mulai mengendur dan melepaskan leher lelaki paruh baya itu, hingga ia meluruh ke lantai dan terbatuk batuk mengatur nafasnya.
Dari dalam kamar, Rain merogoh ponselnya, dan menghubungi orang rumah tentang keadaannya saat ini dan dimana ia sekarang. Disaat gadis ini sedang melakukan panggilan.
Brakkkk !!!!!
Pintu kamar di dorong keras hingga Rain yang sedang berdiri di depan pintu tersungkur, Baron meraih Rain dan melemparnya hingga terpental ke dinding dan pingsan, merebut ponselnya dan menginjaknya.
dugg !!!! Rain terkulai tak berdaya.
Rupanya Baron, berhasil lari mengelabui Tian, disaat ia lengah dan masuk ke dalam kamar. Nino yang tau, secepat kilat berada disamping Rain meraih gadis itu, ia murka. Nino akhirnya menunjukkan wujudnya pada Baron.
__ADS_1
Baron terkejut, tidak mungkin ia lupa wajah yang sudah ia bunuh dengan parang. Wajah yang sudah hampir 8 tahun lalu meregang nyawa ditangannya.
"Loe !!!" tunjuknya. Nino tersenyum smirk.
"Apa loe masih ingat dengan wajah ini? wajah yang sudah loe pukul dengan lampu tidur, wajah memelas seorang anak smp yang loe tusuk dan sambit dengan parang ?" tanya Nino.
"Loe berdua ??!!!!" Baron semakin tercekat,
"Iya gadis ini adalah gadis yang berhasil lari dari pembunuhan sadis loe dan teman teman rampok loe di malam itu !!!" jawab Nino, tidak sulit untuk Nino mencekik dan menyeret Baron ke luar kamar, membanting Baron hingga membuat Baron beberapa kali terpental dan terbanting banting. Mungkin beberapa tulang rusuknya patah, tapi itu tak sebanding dengan apa yang sudah ia lakukan pada beberapa nyawa yang ia habisi.
"Awww.. !!!" ringis Rain mulai sadar, ia dibantu Tian.
"Sini kak, Tian bantu !!" Pandangan Rain sedikit pusing.
"No !! cukup No, jangan sampai membunuhnya," Rain berucap. Tubuh Baron sudah terkapar lemas, da*rah dari mulutnya sudah mengalir ke dagu.
Sudah cukup, Baron tidak akan bisa kabur untuk saat ini, Nino mendekati Rain, meraih gadis itu dalam dekapannya.
Sedangkan Tian menatap nanar ayah kandungnya yang terkapar lemas, menatapnya lemah.
"Bertaubatlah pak, Tian sayang bapak.. Sudah terlalu jauh bapak masuk ke dalam lembah dosa !!" ucap Tian,
"Bersaksilah pada polisi, apa yang bapak tau tentang kejadian malam itu, siapa saja yang sudah bapak sakiti !! sebelum Tuhan benar benar mencabut nyawa mu !!" tambah bocah itu, di tengah dendamnya ia masih ingat dengan kasih sayangnya terhadap lelaki yang menjadi bapak kandungnya.
Dari kejauhan suara sirine polisi terdengar terparkir, pintu yang tadinya terkunci kini mudah dibuka oleh polisi bersenjata.
"Ya Allah neng Rain!!!" pekik bi Kokom, segera ia refleks berlari, namun ditahan polisi, polisi memastikan dahulu keadaan aman. Mereka memborgol Baron.
"Neng !!" bi Kokom merangkulnya dan membantu Rain berdiri.
"Pak, ada may@t di dalam sumur, seorang anak kecil berusia 11 tahun !!" jawab Rain lemah.
Bu Tita tergelonjak kaget "Tian??!!!" histerisnya.
"Baron !!! apa itu Tian??? akan kubunuh kau Baron !!! kamu membunuh dar*ah dagingmu sendiri ??!!!" pekiknya menangis histeris. Para warga sekitar mendadak heboh dan ramai ramai menjadikan tempat ini tontonan. Seorang preman pasar yang biasa memalak para pedagang juga minum minuman keras dan main wanita, ternyata sudah melakukan tindakan pembunuhan terhadap anaknya sendiri, bahkan may@t nya ia masukkan ke dalam sumur.
Pihak polisi memanggil tim INAFIS.
"Apa anda tidak apa-apa dik?" tanya polisi.
"Tidak apa apa pak, hanya pusing sedikit saja !" jawab Rain. Semua berada di halaman rumah Baron termasuk Rain. Sementara para polisi sedang menyisir setiap ruangannya, Baron sudah dibawa ke RS untuk mendapatkan pertolongan untuk selanjutnya di proses.
"Lapor ndan, di dalam sumur ada sesosok jasad yang sudah membu*suk diperkirakan sudah lebih dari seminggu."
Bu Tita semakin menangis bersama Pian dan saling menguatkan.
__ADS_1
"Apa kami bisa meminta kesaksian saudari?" tanya salah seorang polisi. Bu Tita meminta ijin melihat proses pengangkatan jenazah Tian.
Tim INAFIS sudah datang, kantung jenazah sudah disiapkan, seseorang anggota mereka turun dengan perlengkapan keselamatan mengikatkan tubuh Tian dengan tali.
Detik detik diangkatnya tubuh bocah itu sangatlah menguras emosi bu Tita dan Pian. Hingga pelan pelan muncullah sesosok jasad bocah yang sudah mengembang karena terendam air, bajunya persis seperti tampilannya saat menjadi hantu di depan Rain. Tangan mungil yang banyak luka luka manunjukkan betapa seringnya ia disakiti oleh Baron, kakinya memang terlipat dan lebam dibagian tulang kering, berwarna keunguan karena dar*ah yang terhenti dibagian tulangnya yang patah.
"Tian !!!!" tangis pilu bu Tita, ia ingin memeluk sosok kecil itu. Itu sebabnya Tian sering basah kuyup. Karena ia memang berada di dalam sumur yang penuh air.
Arwah Tian berada bersama Nino, Nino merangkul Tian.
"Kini semua sudah tau kematianmu Tian," ucap Nino.
"Iya ka, itu semua berkat ka Rain," jawab Tian ikut merasa sedih malihat tangi pilu sang ibu.
Bu Tita semakin menjadi jadi saat jen*azah anaknya hendak dimasukkan ke dalam kantung jena*zah.
" Biadab kamu Baron !!" pekiknya.
Polisi juga menyisir setiap sudut, mereka menemukan bukti pakaian Tian dan sebungkus zat narkot*ika, balok kayu yang turut dimasukkan ke dalam sumur, beberapa botol minuman keras.
"Bu," lirih Rain, bu Tita menoleh, seketika memeluk Rain sambil menangis. Ibu dua orang anak itu teramat sedih dan kehilangan, tubuhnya bergetar hebat menangis.
"Ada yang harus Rain kasih dan mungkin ini yang Tian mau !" ucapnya, Rain menyerahkan buku milik Tian yang sudah ia baca sampai habis.
"Setelah ibu baca, berikanlah itu pada polisi sebagai barang bukti," tambah Rain.
Bu Tita meraih buku dengan tulisan tangan itu, ia menciumi buku itu dan memeluknya erat sambil terus menangis.
"Neng sebaiknya neng pulang dulu," ujar mang Nurdin.
"Iya mang, badan Rain berasa remuk tadi terpental pintu oleh Baron sampe ga sadar."
"Astagfirullah !!!" bi Kokom sontak melihat setiap inci tubuh Rain, takut jika ada yang luka.
"Rain ga apa apa bi, ada..." Rain menjeda ucapannya, tak mungkin ia sebutkan tadi ada Nino dan Tian yang menolongnya.
Setelah mendapat ijin dari polisi, Rain pulang untuk beristirahat. Mandi dan makan lalu merebahkan diri di ranjang empuknya. Disamping Rain selalu ada Nino.
"Masalah Tian sudah terungkap," ucap Rain sambil memejamkan matanya menikmati usapan lembut Nino di dahinya.
"Dan masih ada nyai Diah menunggumu !!" jawab Nino.
Rain membuka matanya, mendengarnya saja ia sudah merasa bergidik ngeri dan kedinginan.
"Jangan sampai lupa, ia selalu mengintaimu kemanapun. Apalagi di pabrik adalah sarangnya. Bukan tidak mungkin ia akan menghancurkan pabrik, atas ketidakadilan yang belum ia dapat," jelas Nino.
__ADS_1
"Hemmm, gue capek No," Rain kembali menutup matanya.
"Tidurlah baby ....aku disini menemanimu..always !!" bisik Nino.