
Sosok hantu yang membuat semua orang Indonesia takut akannya.Rupa rupanya menurut kang Dika, ia suka berada disini tepatnya di pepohonan pisang yang sudah tak berbuah dijujung gudang situ.
"Rain, jika penelusuran ini sudah selesai, jagalah kebersihan dan kerapihan area pabrik ! lakukan selamatan !" ucap kang Dika.
Si kucir itu datang lagi, seakan tak membiarkan Rain dan Dika untuk mendekat ke arah gudang penyimpanan keranjang teh,
Puk !!! ia mengibaskan ikatan poci nya agar menghalau Rain dan Dika, berdiri mematung di depan pintu.
Lumayan membuat Rain berkeringat. Kang Dika membaca ayat ayat suci Al Qur'an, "Rain, cabut beberapa pohon pisang yang sudah tak akan berbuah itu lagi !!" pinta Dika.
Gadis itu berlari bersama Nino di sampingnya, ia mengoyak dan mencoba mencabut pohon pohon pisang yang daunnya sedikit dan banyak yang sobek.
Setelah rumah dan sarangnya benar benar dihancurkan Rain, perlahan lahan si kucir itu melemah melawan Dika yang semakin lantang melantunkan ayat suci. Wajah gosong itu mulai terbakar, dari dalamnya terdengar seperti jeritan dan pekikkan, lama lama ia menghilang.
Rain dan Nino kembali bergabung bersama Dika, mereka masuk ke dalam gudang disambut oleh nyai Diah,
"Nyai saya mohon, Ve tak tau apa apa,lepaskan dia jangan biarkan Ve terlibat. Insyaallah kami akan mengungkap kebenaran dan ketidakadilan disini. Meluruskan apa yang salah !!" ucap Rain.
Suara nyai ini sebenarnya indah, namun karena dendam dan amarahnya juga karena ia adalah sesosok makhluk astral jadi suaranya tampak menyeramkan.
Ia duduk di samping Ve yang berada tergeletak di pojokan gudang sambil melantunkan kidung sunda dan mengusap usap kepala Ve.
Dika mencoba mendekat, namun nyai menghempaskan Dika sampai ia terlempar membentur tumpukan keranjang teh.
"Wushhh...!!"
"Brukkk !!"
"Dika !!!" Rain sontak berlari menuju Dika. Nyai Diah mendekati Rain yang dibuat mematung disana. Sementara Dika tak sadarkan diri karena benturan cukup keras.
"Nyai, kamu sudah berjanji padaku !!" ucap Nino dengan mata merahnya mengancam nyai Diah.
"Deka, tos jangji !!" jawabnya ( saya sudah berjanji)
"Jasad budak deka, tos kapendak !" tambahnya (jasad anak saya sudah ditemukan)
__ADS_1
Wajah ayu nyai Diah, terlihat sangat menyedihkan dan sendu. Nyai Diah membuat Rain tertarik untuk mendekat, sekuat apapun Rain menolak ia tetap mendekat.
"Ikut saja baby, nyai sudah berjanji," ucap Nino.
Walaupun ketakutan, akhirnya Rain mendekat. Sesaat kemudian Rain seperti menembus dimensi lain disana, bangunan pabrik yang masih terlihat baru dengan orang orang lama, sepertinya pabrik ini habis merayakan sesuatu terlihat dari bekas pesta yang masih berserakan.
Rain seakan masuk ke dalam jamannya nyai Diah.
"Akang !!" Rain ikut menoleh saat seorang perempuan cantik berkebaya dan berjarik coklat memanggil seseorang,
"Neng, ngapain kesini atuh !! kan akang sudah bilang jangan ke pabrik, nanti ada yang lapor sama istri akang di rumah bahaya !!" keduanya saling bertautan jari, mencari cari tempat sepi.
"Neng, rindu akang...kapan akang akan menikahi neng ??" tanya nya merajuk.
"Nanti ya neng, akang berjanji tapi mencari waktu yang tepat !" janji janji manis lelaki yang beginilah racun dunia, dan harus dibinasakan. Keduanya berjalan beriringan dan mengendap endap layaknya pencuri. Rain mengikuti kemana keduanya pergi. Rain melihat bu Lina sebenarnya melihat dan tau jika pak Komar dan nyai Diah berpacaran, bu Lina bahkan membuntuti mereka.
"Loh !! ini kan ruangan abah gue !! wah pak Komar lancang bawa selingkuhan ke ruang bos !!" gumam Rain.
"Akang kangen neng !!" keduanya bercumbu di dalam membuat Rain jijik, tempat kerja kakeknya sudah dicemari dengan perzi*n@han keduanya.
"Kang, pak Wiguna memangnya kemana?? jika neng kesini dia tidak pernah terlihat??" tanya nyai Diah merapikan kemben dan jariknya setelah ber*cinta.
"Kelak akang lah neng, yang akan menguasai pabrik ini. Dan neng akan menjadi istri kesayangan akang !" colek pak Komar di hidung mancung milik nyai Diah, sayang sekali kulit kuning langsat, primadona kampung ini harus jatuh ke pelukan seorang bandot tua macam pak Komar.
Beberapa saat kemudian Rain dibawa ke waktu beberapa bulan setelahnya.
"Akang, neng hamil kang, keluarga sudah tau !! akang harus bertanggung jawab !!" pinta nyai Diah.
"Tidak mungkin neng, akang tidak mungkin menikahimu, apa jadinya nanti akang?? mungkin akan diusir dari rumah peninggalan mertua akang!!" jawabnya, seolah ingin lari dari tanggung jawab.
"Jadi akang bohong pada neng? akang jahat !! kalo gitu neng akan bilang pada istri akang !!" ancam nyai Diah.
"Diah !!! tunggu !!" nyai Diah berlari, Rain melihat nyai Diah menangis pada bu Lina dan bu Wati, sempat beberapa kali bu Lina dan bu Wati meminta pertanggungjawaban pak Komar namun, di tolak mentah mentah olehnya bahkan keduanya diancam untuk dibunuh dan difitnah. Dengan bantuan Baron, pak Komar mengancam keduanya. Sekelebat bayangan Nino dan Rain kecil yang bersembunyi di tanaman pagar dan memergoki pak Komar sedang merencanakan sesuatu dengan Baron.
"Lakukan saja malam ini !!" ucap pak Komar.
__ADS_1
"Beres bos !!" jawab Baron.
Kandungan yang sudah memasuki usia 5 bulan, membuat nyai Diah malu untuk keluar rumah.
Untuk terakhir kalinya, nyai Diah pergi ke pabrik. Wajahnya suntuk. Ia kabur dari jendela kamarnya memakai kebaya merah dan jarik coklat dengan samping sebagai penutup kepalanya. Sanggar seni pun sudah tak mau menerima nyai Diah yang tengah mengandung. Karirnya hancur...
"Kang, Diah mohon. Pekerjaan Diah sudah hancur karena Diah yang mengandung !!" tangisnya. Pak Komar memeluk nyai Diah, tepat di samping toilet perempuan.
"Jika akang harus bertanggung jawab sekarang akang belum bisa neng, bagaimana jika kita menggugurkan saja dahulu anak ini !!" rayunya.
"Apa kang??!!!! digugurkan?? tidak !!" tolaknya.
"Neng, akang mohon mengertilah, posisi akang sulit akang belum menjadi bos, hanya pegawai biasa disini, lagipula akang mau memberi makan dan memberi tempat tinggal neng dengan apa??" bentaknya.
"Mengertilah neng, jika digugurkan neng masih bisa menjadi sinden ternama !!" jawab pak Komar.
"Jangan mau nyai, kasihan!!" ucap Rain ikut merasa iba. Tapi percuma suaranya tidak akan terdengar oleh mereka. Meraih pundak nyai Diah pun tak bisa.
Keduanya pergi menggunakan motor butut milik pak Komar, di tengah kegelapan malam menuju rumah seorang dukun beranak.
"Kang, neng takut !!" lirihnya, menyembunyikan tubuhnya di tubuh gempal pak Komar, dengan sesekali ia mengusap usap sayang perutnya.
"Jangan takut neng, akang disini !! bukankah neng masih ingin nyinden?" tanya pak Komar.
Di tengah temaram lampu bohlam oranye, seorang perempuan berjuang menahan sakit yang amat sakit, mengeluarkan jiwa tak berdosa yang berada di perutnya secara paksa. Rain menangis, bayi suci itu harus menjadi korban kekejam@n, kebej@d an dan keegoisan orangtuanya.
"Tahan sebentar neng,"ucap dukun beranak itu memaksakan si janin untuk keluar dengan menekannya dan menariknya dengan kasar.
Rain menutup mulutnya menahan rasa kasihan, kesal dan sedih melihat kejadian bej@t di depannya.
"Ya Allah !!" tangis Rain.
Janin sudah berhasil dikeluarkan, belum begitu jelas, namun sudah berbentuk kalau janin itu seorang bayi laki laki. Dimasukkan lah janin yang sudah mati itu ke dalam bungkusan putih, karena terlihat seperti masih berdegup, pak Komar menyuruh pak Dedy, mengurusnya dengan iming iming uang dan jaminan kontrak kerja.
.
__ADS_1
.
.