
Nino kembali, "Dia kabur honey !!" ucap Nino. Belum sempat Nino bereskan, monyet jejadian itu kabur duluan.
Setelah mendengar keluhan dan cerita warga sekitar, Raina dan yang lain mulai bersiap siap menuju rumah mak Iting, tempat dimana siluman kera itu tinggal. Pak Rt menghubungi anak mak Iting satu satunya dan menceritakan kejadian ini, karena memang dia tinggal di kampung lain dan tidak tau kejadian ini.
"Saya tidak menyangka pak Rt, masa iya ibu saya memelihara makhluk macam begitu di rumah !" ucap pak Hari.
"Sebaiknya nak Hari ikut saja dengan kami, sekaligus bisa kan membukakan pintu rumah mak ?" tanya ustadz Fahri. Pak Hari sebenarnya tidak percaya, tapi karena desakan warga ia menurut.
Pohon nangka yang berdiri tegak, tidak terlalu besar juga, hanya saja memang daunnya yang rimbun dengan buah buah yang beberapanya membusuk menjadi lokasi pertama yang di datangi mereka.
"Ada baiknya jangan terlalu ramai, yang ada nanti dia bisa mencelakai orang orang !" pinta Dika.
Akhirnya hanya tersisa Pak Sarif, pak Rt, ustadz Fahri, pak Hari dan 2 orang warga lainnya beserta Raina cs.
Raina maju, namun langkahnya ditahan oleh Nino.
"Dika," ujar Nino. Dan Dika mengangguk.
Dika, pak Hari dan ustadz Fahri masuk ke halaman untuk melihat keadaan rumah mak Iting, si pemilik rumah terjerat hukuman beberapa tahun, walaupun miris menghabiskan sisa masa tuanya di dalam bui, tapi mak Iting lega.. ia tak harus dikejar lagi rasa dosa dan bersalah.
Yang lain menunggu beberapa meter dari rumah mak Iting dengan perlengkapan seadanya, hanya berbekal obor, dan senter. Ve dan Fadly sudah siap dengan handycam nya.
Dika melongokkan mukanya ke arah kaca jendela rumah mak Iting, rumah itu juga tampak gelap, pak Hari mengeluarkan kunci rumah dan mencoba membuka rumah.
Ceklek, pintu terbuka.
Ketiga laki laki itu sudah bersiap untuk masuk, pak Hari yang di depan di ekori Dika dan ustadz Fahri dibelakang.
"Assalamualaikum !!" ucap mereka, seraya pak Hari menyalakan lampu.
Ketiganya sontak mengelus dada mana kala hampir semua perabotan di rumah mak Iting berantakan seperti terkena angin beliung.
"Astagfirullahaladzim !!!" ucap ketiganya, mereka mendengar suara ribut di dapur rumah yang berlantaikan tanah.
Betapa terkejutnya mereka saat di dekat meja kompor mendapati sesosok berbulu sedang mengacak ngacak ruangan dapur entah apa yang dia cari.
"Astagfirullah !!"
"Bukkk !!"
Pak Hari terlempar ke belakang, hingga menubruk Dika dan pak ustadz.
"Guysss !!! mereka kenapa ??" Raina berlari menuju rumah mak Iting, diekori yang lain.
__ADS_1
Rasa penasaran semakin menjadi saat Rain mendapati ketiganya sudah jatuh tersungkur ke lantai. Sekelebat bayangan hitam berbulu melewati Raina dengan cepat dan menabraknya hingga gadis itu terpental keluar halaman rumah, dengan kecepatan kilat, Nino menangkap Rain hingga Rain tak terlalu sakit mendarat di tanah. Semuanya terkejut melihat kejadian itu dan langsung menolong Rain.
Bak di hantam sesuatu yang keras, Rain meringis memegang dadanya.
"Rain, loe ga apa apa ?" tanya Ve. Rain menggeleng, "gue ga apa apa,"
Bayangan itu lari ke atas pohon nangka, Nino dengan cepat menangkapnya, monyet ini lincah sekali. Dari dalam, Dika, pak Hari dan ustadz Fahri keluar rumah.
Dika segera naik ke atas pohon membantu Nino, namun Dika malah menjadi kesempatannya untuk membuat Nino lengah. Monyet itu curang dengan menyerang Dika, hingga Dika terjatuh ke bawah. Ustadz Fahri dan Tria membantu Dika, begitupun Nino. Monyet itu lompat, dan masuk ke tubuh Fadly. Fadly yang memang kondisinya sedang kurang sehat menjadi sasaran empuk.
"Fad, loe kenapa?" tanya Ve, melihat perubahan Fadly yang menggaruk garuk kepalanya, ia juga terkikik sendiri.
"Ve, dia bukan Fadly..." jawab Rain.
"Weh bruhhh sadar bruhhh !!" Romi mengguncang guncang tubuh Fadly. Tapi bukannya sadar Fadly malah bertingkah seperti hewan kera.
Ustadz Fahri dan Dika segera menghampiri Fadly, bertanya pada siluman ini.
"Apa yang kamu mau ?" tanya Dika.
Ia malah terkikik, tapi sesaat kemudian matanya menajam, mencoba menyerang semua yang ada disini, tapi si monyet itu tidak berbicara.
Tau tak ada yang bisa diharapkan darinya, ustadz Fahri dan Dika mengeluarkannya dari tubuh Fadly.
"Bapak bapak saya minta tebang pohon nangka itu, lagipula pohonnya sudah keropos membahayakan orang yang melintas, menghalangi sinar matahari yang akan menyinari rumah lembab mak Iting, ditambah buahnya pun sudah busuk." ucap ustadz Fahri.
"Nak Hari maaf kami meminta ijin menebang pohon nangka ini, agar tidak menjadi tempat persinggahan untuk makhluk astral lainnya," ucap ustadz Fahri.
"Iya ustadz, tak apa apa...saya hanya tidak mengerti. Kenapa sekian lama baru sekarang sekarang ada kejadian begini, abah sudah lama tiada pak !" jawab pak Hari.
"Makhluk itu memanfaatkan sifat lemah manusia yang sedang lemah iman, dan sedih pak!" jawab Dika.
"Maksudnya siapa?" tanya pak Hari.
"Mak Iting pak !" jawab Raina.
"Mak??" tanya nya terheran.
"Beliau merasa kesepian pak, hidup sendiri jauh dari anak cucu. Ia merasa rindu dengan abah dan sering melamun.." jelas Rain. Saat sedang berbincang tetiba saja dari pohon nangka itu muncul asap putih, sontak saja bapak bapak yang tengah menebang menjauh kalang kabut.
Ustadz Fahri dan Dika mendekat, meminta pertolongan Allah, Dika menaburkan garam sedangkan ustadz Fahri melemparkan beberapa kerikil yang sudah ia tambahkan lantunan do'a ke arah pohon.
Sekilat api timbul dari dalamnya, tak lama menghilang.
__ADS_1
"Alhamdulillah bapak bapak, insyaallah sudah aman. Silahkan dilanjutkan. Setelah ini sering seringlah meramaikan jalanan kampung, dan menggelar acara keagamaan," himbau ustadz Fahri.
"Oh ya jangan biarkan rumah ini kosong," tambah ustadz Fahri.
Dika membantu menebang pohon bersama yang lain, membereskan kekacauan di rumah mak Iting. Rain yang masih merasa ngilu di dadanya duduk di halaman sambil melihat semuanya bekerja.
Ia melihat ke dalam t- shirt nya, ada lebam keunguan bekas hantaman makhluk tadi.
"Maafin aku yang ga bisa jagain kamu," sesal Nino.
"Ga apa apa, bukan salahmu. Kejadiannya di luar kendali kita" bisik Rain. Rain terlihat menyenderkan kepalanya di tiang rumah, padahal ia sedang menyenderkan kepalanya dibahu Nino seraya tangan Nino mengusap lembut kepala Rain.
"Sebaiknya nanti setelah subuh kita pulang, kita obati luka lebam mu," ucap Nino.
"Iya, bawel !" gumam Rain terkekeh. Ve menghampiri Rain.
"Rain, loe ga apa apa?" tanya Ve.
"Ga apa apa Ve, cuma lebam dikit," jawab Rain. Ve memaksa melihat, "coba gue liat!"
"Astaga Rain, ini mah bukan dikit !!" pekik Ve, membuat yang lain ikut terkejut.
"Loe kenapa Ra?" tanya Tria.
"Gue ga apa apa guys," jawab Rain.
"Dada Rain lebam, kayanya tadi pas kena hantam si monkey !" jawab Ve.
"Sebaiknya loe istirahat Ra, " ucap Romi.
"Rom, Tri..antar Ve,Fadly dan Rain ke pabrik saja untuk istirahat !" pinta Dika.
Mereka mengangguk.
Ve, dan Rain juga Fadly yang sudah lelah karena dirasuki monyet tadi istirahat di kantor Rain yang disulap jadi kemah dadakan. Tikar dengan kasur lantai digelar disini, untung saja ada kasur dari Mess karyawan yang karyawannya sedang cuti. Rain pun sudah meminta ijin.
.
.
Ve dan Fadly sudah terlelap, sedangkan Romi dan Tria kembali ke rumah mak Iting membantu Dika dan warga.
"Honey, jika sampai kamu kenapa napa, aku ga bisa memaafkan diri aku sendiri, yang ga bisa jagain kamu !" Nino berbaring di sebelah Rain,mereka saling berhadapan.
__ADS_1
"Aku ga apa apa," bohong Rain, meskipun nafasnya sedikit sesak, jujur saja hantaman tadi begitu keras sampai ia terpental agak jauh.
Nino mengecup kening Rain mesra, "istirahatlah, aku jagain kamu !" bisik Nino menghantarkan Rain ke alam mimpi.