
Dua gadis masih tertidur lelap, beberapa hari kurang istirahat, membuat keduanya kini masih terlelap dalam gulungan selimut. Padahal ini sudah lebih dari pukul 7, bahkan mereka melewatkan shalat subuhnya.
Raina mulai bergerak gerak sadar, ia mengerjapkan mata dan memijit mijit pelipisnya. Mimpi semalam sangatlah aneh.
"Tumben gue mimpiin cowok selain Nino !" gumamnya pelan.
"Siapa?!" tanya Nino, manajamkan tatapannya menginterogasi sedikit mengancam.
"Eh, denger ! ku kira ga ada !" Raina nyengir, Raina memegang tangan dingin itu, yang kini duduk di tepian ranjang berhadapan dengan Rain.
"Bukan siapa siapa ! mimpi kan cuma bunga tidur doang !" Raina segera menurunkan kakinya dari ranjang. Pikirannya terusik dengan kehadiran orang baru, dan anehnya kenapa bisa? orang baru mencuri perhatian dan pikirannya secepat ini.
Ia mengguyur otaknya agar bersih, gadis itu berdiri di bawah shower, membersihkan diri.
"Ra ! udah siap lagi ??!" Gea baru saja sadar dan mengumpulkan kepingan nyawanya.
"Bangun tukang tidur !!!! udah jam berapa ini !!" jawab Raina membukakan gorden kamarnya, agar cahaya masuk ke dalam kamarnya, ia sudah segar dan dengan handuk melilit rambut dan kimono handuknya, Menghirup udara pagi kota Bandung yang sejuk ditemani kicauan burung.
Baru saja singgah di otak encer Rain, dan sempat ikut hanyut oleh guyuran air shower, kini laki laki itu ada di pandangan Raina, ia tersenyum ke arahnya keluar dari rumah. Raina membalas senyuman tersipu malu.
Tapi tunggu ! laki laki itu menuju rumah Raina, dengan membawa sebuah bungkusan.
"Ge, si dia dateng ke rumah !!" seru Raina melompat ke ranjang, tanpa memperdulikan jika Nino masih disitu.
"Dia siapa??! nyawa gue masih belum kumpul, jangan disuruh buat mikir keras !" jawab Gea.
Raina segera turun kala mendengar bi Kokom tengah menerima tamu. Nino menatap aneh dan tajam pada Raina.
"Tunggu !! mau kemana kamu ?!" Nino menghalangi pintu kamar Raina.
"Apa sih, jangan suka so sibuk deh, sayang ! itu ada tamu masa ga disambut !!" jawab Raina. Hanya disebut sayang saja Nino luluh, tak ada salahnya memang, dan Raina memang benar, tak baik jika ada tamu di cueki.
"Ganti pakaianmu, jangan sampai lelaki lain melihatmu dalam keadaan handukan gini !" titah Nino. Raina segera ganti pakaian. Tak lama bibi memanggil.
Raina turun dengan cepat dan semangat, "hai, " sapa Raina.
"Hai, Raina??!" tanya nya, entah kenapa di mata Raina lelaki ini begitu tampan dan keren, bahkan kini di mata Rain, Nino pun tak sebanding. Apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?
__ADS_1
"Iya, "
"Kita belum kenalan, maaf aku sibuk giliran aku di rumah kamu yang tak pernah ada di rumah !" jawabnya. Raina mengangguk.
"Aku Bagas ! kamu mungkin tau rumahku di sebrang, sudah dari pertama pindah kepengen kenalan, tapi ga pernah ada kesempatan, oh iya ! katanya kamu baru saja pulang dari rumah sakit? sakit apa?" tanya Bagas panjang lebar.
"Oke Bagas !" benak Raina, sepertinya nama itu menggaung keras di hati Raina, wajahnya menyihir mata Raina.
"Oh iya engga lah, bukan cedera serius ko !" jawab Raina.
"Ini aku bawa buah tangan, ga seberapa tapi lumayan lah. Meskipun masih kalah manis sama orang yang ada di depanku sekarang," kekehnya.
"Makasih banyak, jadi repotin !" jawab Raina.
"Ga ada yang repot buat cewek secantik kamu !" jawabnya semakin membuat Raina melambung tinggi di angkasa. Nino memperhatikan menatap tajam pada dua orang ini.
"Kapan kapan kita jalan ?!" tanya Bagas, tentu saja Raina mengangguk cepat.
"Ini sudah pukul setengah 8, aku harus bekerja !" jawab Bagas.
"Oh iya mas Bagas kerja dimana?" tanya Raina, membuat Nino melongo dibuatnya.
"Di bank swasta, " jawab Bagas.
"Pamit ya, cepet sembuh cantik !" pamit Bagas. Raina mesem mesem sendiri. Sebelum benar benar pergi dari halaman, Bagas menatap meneliti rumah Raina.
"Mas??!!" lirih Nino, membuat gadis ini mengerucutkan bibirnya.
"Nguping??!" tanya Raina.
"Sejak kapan seorang Raina, manggil laki laki pake kata mas??" tanya Nino aneh.
"Kenapa?? ga suka? tukang bakso juga kupanggil mas !" sarkas Raina berlalu ke lantai atas, gadis ini bersiap siap hari ini ia harus pergi dulu ke rumah dosen killer sekaligus sombong itu. Nilai IPK dan kelulusannya dipertaruhkan.
"Raina Nistia !!! panggil Nino.
"Iya El Nino !!!" Raina menatap tajam sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
Gea yang baru saja keluar dari kamar mandi, terbengong dengan pertengkaran kekasih beda dunia yang ada di depannya ini.
"Jangan pernah macam macam denganku ! kamu tau aku bisa melakukan apa !!" ancam Nino.
"Kenapa?? toh aku pun akan berakhir sama seperti Damar !! tak bisa memilikimu !! jadi wajar aku mencari pria lain yang nyata buatku !!" baru kali ini Raina sekasar ini pada Nino, baru saja kemarin di RS, Raina berharap mati hanya untuk bersama Nino, tapi sekarang lihatlah gadis angkuh di hadapan Nino dan Gea ini, seperti bukan Raina. Nino mengeraskan rahangnya, sedangkan Gea sudah keluar kamar, untuk memberikan mereka privasi dan kembali ke kamarnya, kamar tamu.
Raina yang tak merasa bersalah, malah sedang bersolek di depan cermin. Nino sudah sangat kesal di acuhkan, mata merahnya mengilat, tangannya mengepal dan rahangnya mengeras, mungkin saat ini sebuah gedung saja bisa ia hancurkan. Ataupun 10 Wiradaya saja bisa ia kalahkan sekaligus.
Nino bergerak cepat, dan sekarang berada tepat di belakang Raina, menarik Raina dan melemparkannya di atas ranjang, membuat Raina tersentak kaget.
"Nino !!!" bentaknya, tapi belum Raina bangkit, Nino sudah berada di atas tubuhnya.
"Lepasin !!! awas !!"
"Aku ga suka dibantah, Raina ! kemarin kamu ingin mati bersamaku, maka aku akan membawamu mati bersamaku sekarang !!" Mata Nino sudah mengelam, ia mencium bibir Raina rakus, tangan Raina memukul mukul dada bidang hantu tampan itu, tak ada kelembutan.
Nino melepaskan pag*ut@n bibir mereka. "Hati hati ! aku mengawasimu !" ucapnya lalu menghilang begitu saja.
Raina mengetuk ngetuk otaknya, tersadar "ini gue kenapa sih !!! Nino kenapa lagi ?!" Raina menggelengkan kepalanya.
Raina yang memakai rok span levis di padukan dengan kemeja kotak kotak dan sepatu sneaker tergesa gesa masuk ke mobil. Hari ini ia harus secepatnya ke rumah pak Yuda.
Tapi langkahnya terhenti melihat kenapa di halamannya banyak sekali serbuk putih, apa bibi belum membersihkan teras depan.
"Bi !!" panggilnya.
"Kenapa neng?" tanya bibi dari dalam.
"Ini kayanya kapur atau cat yang ngelupas, takut kelewat di bersihin," kawab Raina menunjuk serbuk putih di teras dan halaman rumahnya.
"Apa ya?? padahal tadi subuh bibi sudah sapu sama pel !" bibi masuk ke dalam rumah mengambil sapu.
Raina tak ada lagi waktu untuk mempeehatikan rumahnya, ia melajukan mobil menuju alamat yang sudah diberikan oleh pak Yuda.
.
.
__ADS_1
.