Guardian Ghost

Guardian Ghost
Perampokan naas


__ADS_3

Suara binatang malam santer terdengar di sekitar sini, menambah keangkeran tempat. Gea melangkahkan kakinya tak tentu arah. Sejauh mata memandang, hanya ada banyak kuburan, pepohonan besar yang menaungi beberapa kuburan, seakan menyeringai kepadanya. Seingatnya tadi ia pingsan, karena si kepala tadi melompat dan membuatnya terkejut hingga pingsan.


Terlalu panik mencari jalan keluar, membuatnya tak fokus. Ternyata, Gea hanya berputar putar di tempat itu, dan kembali kesitu. Terkihat dari kuburan yang ia lewati.


"Ini gue cuma muter muter doang disini deh kayanya !" gumam Gea. Gea menyipitkan matanya, saat dari kejauhan ia melihat bulatan menggelinding menuju ke arahnya. Lama kelamaan lajunya semakin cepat. Gea mulai berbalik dan berlari.


Kepala itu kembali mengejarnya,


"Blughh !!" Gea terjatuh karena tersandung pusara kuburan lain, ia mendongak, betapa terkejutnya.. si kepala berada tepat di depan wajahnya, menyeringai dengan deretan gigi yang ompong dan berda*r@h. Seketika kaki Gea di seret.


"Brukkk !!!"


Gea jatuh terperosok, ke dalam sebuah lubang.


"Astaga !!" ia melihat dan mengenali bentukan lubang yang ia masuki.


"Ini kuburan, " gumamnya. Seperti kuburan ini sudah disiapkan untuknya.


Sebuah kepala menyembul melihatnya dari atas, "aaaaa!!!" Gea menjerit, menyembunyikan kepalanya di bawah kungkungan lengannya.


"Brukkk... !!!"


Tubuhnya di tutupi tanah sedikit demi sedikit, Gea dikubur hidup hidup oleh sosok itu, hingga hampir setengah badannya. Untunglah Adry dan Dika menemukannya. Adry melawan si kepala beserta tubuhnya yang terpisah. Dika menarik tubuh Gea,


"Aargghhh !!" er@ngnya.


"Loe ga apa apa Ge?" tanya Dika, Gea menggeleng. Dengan segera mereka berlari menuju arah luar pemakaman. Dika tiba tiba menghentikan langkahnya.


"Kenapa Dik?" Gea mengatur nafasnya yang ngos ngosan.


"Masalah ini ga akan selesai dengan kita berlari, Ge !" ucapnya.


"Terus loe mau apa?? balik lagi? gue ogah ya !!" jawab Gea menyeka peluhnya yang sudah banjir.


Dika berbalik, "kita harus menyelesaikannya malam ini juga !" ucapan Dika membuat Gea menggidikkan bahunya.


"Tapi Dik !" Dika menatap Gea, " loe harus yakin !"


Tanpa persiapan apapun Gea dan Dika akhirnya kembali. Mereka mengingat kembali, dimana saja si kepala itu menampakkan diri,


"Gue rasa kepalanya ada di sekitar kontrakan."


Dika dan Gea, segera kembali ke kontrakan. Mereka meminta pada ibu kontrakan untuk menemui rt setempat, agar menemaninya menggali misteri, yang menghantui.. tempat ini selama beberapa minggu belakangan.


Mobil Dika kembali menuju rumah si ibu kontrakan,


"Nak Gea?? kenapa kotor kotor begini?" tanya si ibu.


"Bu, kita harus segera memecahkan misteri ini bu, Gea rasa, ada yang ingin disampaikan sosok yang selau mengganggu kontrakan !" si ibu menolak dengan alasan ia tak berani. Malahan pintu di tutup dengan dibanting.


"Loe tau rumah Rt disini ?!" tanya Dika, Gea mengangguk.

__ADS_1


"Lebih baik kita kesana, jika memang ibu kontrakan tidak mau, kita sebaiknya ke rumah pak Rt !" saran Dika.


"Stop !!! jika kalian memaksa ingin memburu dan memecahkan misteri ini, maka kalian sendiri yang akan celaka !!" si ibu mengatakannya dengan lantang.


Dika merasa ada gelagat yang aneh dengan si ibu ini.


"Saya berniat membantu ibu dan warga disini, kenapa sepertinya ibu melarang ??! apa ada yang ibu sembunyikan ??!" tanya Dika mulai curiga, sebenarnya dari awal ia merasa curiga dengan ibu ini. Tak mungkin, hanya memanggil ustadz dengan alasan, tak memiliki cukup uang, menjadi alasannya membiarkan ladang penghasilannya menjadi buntu dan berhantu.


"Tak ada !!! sebaiknya jangan kalian lakukan !! " ancamnya lalu membanting pintu. Bukannya menurut, keduanya malah semakin curiga. Gea bersama Dika dan Adry yang baru saja datang, karena menghalau si kepala menuju rumah rt setempat.


"Assalamualaikum !"


"Waalaikumsalam !" seorang lelaki paruh baya berpeci hitam keluar membukakan pintu.


"Pak Rt, " sapa Gea.


"Oh, ini warga baru yang mengontrak di rumah bu Tia kan?" tanya pak Rt. Gea dan Dika masuk, setelah mengobrol dan mengutarakan niatannya membantu, dengan senang hati pak Rt menyetujuinya, ia pun ingin segera menyelesaikan masalah ini, sudah lama warganya diteror.


Pak Rt memanggil beberapa warga, terutama bapak bapak.


"Bapak bapak, saya hanya meminta agar tidak panik, jika nantinya sosok ini aga sedikit nakal !" ucap Dika, Dika memantapkan hatinya, meskipun tak ada teman temannya, Raina dan Nino. Ia yakin dan optimis, dengan ijin Allah..ia akan bisa.


Setelah memanjatkan do'a mereka menyambangi kontrakan bu Tia,


Benar saja,mereka disambut dengan si sosok kepala yang menggelinding ke arah mereka. Arahnya selalu dari arah sumur.


Baru saja menghindar dari si kepala, dari arah lainnya tubuhnya berjalan sempoyongan tak tentu arah dengan mengibas ngibaskan linggis kecil ke arah depan, terdengar gaungan meminta kepalanya dikembalikan dan keluarganya diberitahu.


"Apa dia korban tubuh tanpa kepala itu pak?" tanya seorang lagi. Mereka mulai menemukan titik terang masalah yang sudah lama menjadi misteri. Beberapa warga berlarian menghindari gangguan makhluk ini. Hingga Dika akhirnya membuat pagar ghoib,


"Biar gue tangani dulu dia, Dik !" ucap Adry.


"Hati hati sayang !" ucap Gea. Adry mengangguk dan mencium kening Gea.


Dika curiga dengan sebuah gundukan tanah yang ditanam tanaman hanjuang merah, diantara semua tanaman disana, hanya tanaman inilah yang daunnya layu, letaknya di tengah tengah. Sedangkan hanjuang lainnya berdaun segar. Ia mendekat ke arahnya,


Dika membungkuk dan meraba gundukan tanah itu, lebih gembur dibanding yang lainnya. Di saat Dika sedang mencoba mencabut tanaman itu, kepalanya dihantam sebuah linggis kecil.


"Bukk !!!"


"Dika !!!"


Ia terhuyung memegang kepalanya yang berdarah, tak lama Dika tak sadarkan diri.


"Astahfirullah !!" ucap pak Rt.


"Jangan ada yang mendekat !!!!! saya sudah bilang, jangan ada yang mencoba memecahkan misteri ini !!" bu Tia sang pemilik kontrakan, mengancam dengan linggis di tangannya yang siap di hujamkan pada yang lain.


"Astagfirullah !! nyebut bu Tia ! kami disini, ingin memecahkan misteri ini karena warga yang sudah resah !" ucap pak Rt, mencoba bernegosiasi.


Dika mengerjapkan matanya, ia mendengar sayup sayup suara bu Tia yang berada disampingnya tengah melarang dan mengancam warga dan Gea.

__ADS_1


"Bagus ! bu Tia ga ngeuh, kalo gue sadar !" dengan secara tiba tiba, Dika bangkit dan merebut linggis yang sedang di pegang bu Tia, bapak bapak dan pak Rt membantu Dika meringkus bu Tia.


"Aaaaa !!!!! lepaskan saya !!!" teriaknya.


"Pak cepat gali pak !!" pinta Dika pada beberapa lainnya.


Dika memegang kepalanya terasa sakit dan pusing, untung saja sebelumnya ia sudah memasangi pagar ghoib hingga si kepala itu tak bisa mengganggu, ditambah ada Adry yang membantu melawan sosok itu.


"Loe ga apa apa, Dik?" tanya Gea, Dika menggeleng. Galian mentok, cangkul warga menyentuh sebuah benda berbalutkan kain putih di dalam kardus.


"Itu pak !! gali lebih dalam !!" Warga membuka bungkusan kardus itu, betapa terkejutnya mereka menemukan sebuah kepala, persis dengan sosok yang sering mereka lihat.


"Astagfirullah !!" pekik mereka, menutup hidung karena bau amis b@ng*kai.


Dika juga mengamati linggis si ibu, yang mirip dengan linggis si sosok tubuh tanpa kepala ini.


"Bu Tia !!!" pak Rt melihat ke arah ibu berdaster ini yang kini menangis. Warga segera menelfon polisi dan menutup kembali kepala itu,


Seiring dengan ditemukannya kepala ini, sosok itu mulai berhenti menyerang Adry dan mengganggu warga.


Dika mendekat dan meraba bagian atas kardus. Ia melihat siluet gambaran kejadian sebelumnya.


"Apa dia perampok yang ingin menggasak harta ibu?" tanya Dika. Bu Tia menangis sambil mengangguk.


"Suami ibu lah, yang dengan memb@*bi buta nya membunuh dia ?!" ucap Dika lagi. Bu Tia semakin kencang menangis.


"Suami ibu sengaja bersembunyi, dan pergi dari kota ini. Dia meminta kepalanya disatukan dengan tubuhnya ?! astagfirullah !" Dika menutup mulutnya, saat melihat linggis itu menjadi alat untuk menghabisi nyawa si rampok, ia juga memakai golok untuk menebas kepala si rampok.


Semua ucapan Dika memang benar adanya.


**************


Sekelebat ingatan kejadian lalu, berputar di kepala bu Tia.


"BankS@t !!!!" suami bu Tia meraih linggis dan memukulkannya berkali kali, pada perampok yang mencoba mencuri motornya.


"Pak, hati hati !" pekik bu Tia menutup mulutnya ngeri, si rampok melawan, ia membawa pisau hendak di tebaskan pada si bapak. Bu Tia mencari alat untuk menyelamatkan suaminya, hingga ia menemukan sebuah golok, yang tadi siang ia pakai untuk mengupas kelapa.


Bu Tia menendang badan si rampok yang ingin menyerang suaminya, hingga tersungkur dan jatuh. Suaminya merebut golok yang ada di tangan si istri. Dengan sadisnya, ia menebaskan golok itu di leher dan kepala si rampok. Hingga, si rampok meregang nyawa saat itu juga, sadar akan kejahatannya, bu Tia dan suami membuang badannya di lahan kosong di kompleks depan, lalu kepalanya mereka kubur di sini, didekat sumur.


Bu Tia mengakui semua kejahatannya dan suaminya,


"Maaf, suami saya di luar pulau. Ia sedang berada di P******g di rumah adiknya, " ucapnya sesenggukan.


"Ibu dan suami tetap harus bertanggung jawab atas semua kejahatan kalian," jawab pak Rt.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2