
Dika menghela nafasnya, beralih menatap Raina yang tertidur pulas.
"Cowok mana yang tak suka gadis seperti Raina?? dia cantik, baik, humble !!" jawab Dika, Nino mengangguk setuju dengan pernyataan Dika.
"Tapi apa dia juga bakal bisa suka sama orang lain? rasanya kalau melihat betapa dia sangat tergantung sama loe, itu cukup membuktikan kalo siapapun ga bisa masuk ke celah hatinya," ucap Dika getir.
Nino cukup mengerti dengan jawaban Dika, jika jawabannya adalah iya.
"Gue tau itu, tapi semua juga tau kalo gue dan Rain mustahil untuk bersama, Ka. " Kini ucapan Nino terdengar lebih tragis dari Dika.
"Tanpa harus gue jawab, gue rasa loe dah tau perasaan gue sama Rain gimana??" ucap Dika memutar kemudi masuk ke kompleks perumahan Raina.
"Apa loe mau janji sama gue, Ka ??" tanya Nino, menahan Dika yang ingin menurunkan Rain.
"Apa?" tanya Dika.
"Berusahalah mendapatkan hati Rain, maka gue akan tenang melepaskan Raina. Cuma loe yang gue percaya !" ucap Nino terdengar seperti sebuah permohonan, begitu besarnya cinta Nino untuk Rain. Ia rela melepaskan Rain, memilih hanya melihat senyuman itu dari dunia yang berbeda. Menjaga hari hari Rain agar tetap selalu bahagia. Meskipun nantinya ia tak akan mampu menjangkau Rain seperti pelukan hangat yang biasa ia berikan saat ini.
Dika mengangguk, "gue bawa Raina masuk dulu, kasian kalo dibangunin !" Dika meminta ijin, tidak akan lucu jika Nino yang menggendong Raina, bisa bisa seluruh isi kompleks geger dengan Raina yang melayang layang di udara.
Dika tak kesusahan menggendong tubuh mungil Raina. Ia sungguh terpesona dengan sosok Raina yang tengah terlelap manis. Dengan Romi dan Gea yang mengekor di belakang bersama Nino dan Adry.
"Mencintai memang bisa sepahit ini bro ! tapi beruntung kalo loe pernah merasakan dicintai dan mencintai !" ucap Adry.
Dika membawa Raina masuk, tubuhnya memang kecil tapi cukup berat. "Berat juga loe Rain," ucapnya.
Mang Nurdin mempersilahkan Dika, Romi dan Gea masuk.
"A Dika, terimakasih sudah mengantar neng Rain pulang, apa tidak sebaiknya a Dika juga menginap saja disini?" tanya mang Nurdin, ia melihat Dika sering menjaga Rain, Dika bertanggung jawab atas Rain, di tengah kesendirian gadis ini.
"Ahh, tidak mang..apa kata tetangga nanti, kalau laki laki sering menginap di rumah perempuan tanpa ikatan ?" ucapnya, memang ada benarnya. Mang Nurdin mengangguk anggukan kepala setuju dengan ucapan Dika.
"Oh iya bi, mang..ini Gea teman Rain, yang akan ikut menginap disini !" Gea membungkuk dan menyalami mang Nurdin dan bi Kokom.
"Sini, neng istirahat di kamar tamu saja !" ajak bi Kokom.
"Kalau gitu gue sama Romi pulang Ge, tampaknya Rain juga pulas, lelah !" ucap Dika.
"Mang, saya sama Romi pamit pulang !" ujar Dika.
.
__ADS_1
.
Nino masuk ke kamar Rain, manusia kesayangannya tengah terlelap tidur di ranjang miliknya. Nino duduk dan ikut meringsek masuk memeluk Rain, ia akan merindukan hangatnya suhu tubuh ini nantinya. Rain menggeliat merasakan hawa dingin memeluknya.
Rain berbalik dan mengerjapkan matanya, mendongak ke arah Nino yang tersenyum manis.
"Maaf keganggu ya?" ucap Nino, bibirnya yang merah kontras dengan kulit putih pucatnya dan mata merah.
Raina menggeleng, "engga ko," gadis itu membalas pelukan Nino erat, sengaja agar Nino merasa sesak tapi justru sekuat apapun Rain memeluk Nino, laki laki ini tak bergeming.
"Ko ga sesek, sakit ga?" tanya Rain. Nino menggeleng sambil tertawa, "lebih sakit kalau liat kamu benci aku !" jawab Nino terlihat seperti ucapan itu akan terjadi di kemudian hari. Rain bangun dan terduduk, menatap Nino dalam.
Sebenarnya ia sedikit mendengar pembicaraan Nino dan Dika di dalam mobil, Rain tak bisa begitu nyaman tertidur dengan posisi terduduk. Hanya saja ia pura pura tak tidur, selama tadi di gendong Dika saja ia sudah terbangun, dan mendengar Dika yang mengeluhkan berat badannya.
Rain berfikir apa yang dibicarakan memang kenyataan yang harus mereka hadapi,
"Aku hanya ingin menghabiskan sisa waktu kita selama yang kita mampu, jika kamu menang sudah seharusnya pergi, maka pergilah dengan tenang. Jangan khawatirkan aku disini !" air mata sudah mengalir deras, rasa sakitnya melebihi rasa sakit dihujam pedang. Mengetahui kalau separuh kebahagiaannya akan meninggalkannya, siapa yang tak sedih. Tapi takdir menjadi jurang pemisah untuk keduanya. Kisah cinta mereka tak seperti di novel novel, yang bisa menikah walaupun berbeda alam lalu si perempuan diajak ke istana dunia semu dan khayal si pria.
Nino menarik gadis ini ke pelukannya, jika bisa ia meminta untuk bereinkarnasi dan terlahir kembali walaupun dalam rentang usia yang jauh, asalkan ia bisa memiliki Raina seutuhnya.
"Aku selalu berharap ini hanyalah mimpi buruk, dan berharap saat bangun, kamu adalah makhluk nyata berwujud dan bernyawa !" tangisan Raina tergugu pilu teredam dada Nino.
"Aaaakkhhhh !!!!" pekik Gea.
Sontak seisi rumah geger dan terbangun, Nino dan Rain langsung keluar kamar dan mendatangi kamar Gea,
"Tok..tok..tok..!!"
"Gea !!!" Rain beserta mang Nurdin dan bi Kokom mengetuk pintu kamar tamu, Nino membantunya dengan masuk duluan ke kamar menembus tembok.
Pintu akhirnya dapat terbuka, Gea langsung menghambur memeluk Rain, "ada apa Gea??" tanya Rain mengusap peluh Gea yang sudah mengucur deras. Rain melongokkan kepalanya ke dalam kamar, kamar tampak berantakan dengan sprei yang sudah tercabik di sebelah bawahnya.
"Astagfirullahaladzim !!" bi Kokom melihat bekas cabikannya, sobek lumayan besar.
"Udah bi, buang saja ! ganti yang baru !"
"Rain !!!" Gea menangis tersedu sedu, membuat Rain khawatir dan panik.
Rain membawa Gea duduk di sofa tengah, baru pukul 3 dini hari rumahnya sudah ramai saja dengan drama cabikan sprei. Bi Kokom memberikan segelas air minum, mang Nurdin mendekat dan duduk di sebrang mereka.
"Neng, mamang semakin tak mengerti, kenapa akhir akhir ini selalu banyak kejadian ganjil?" ucap mang Nurdin yang memang ingin mengatakan hal ini dari kemarin kemarin.
__ADS_1
"Iya mang, Rain juga ga tau..kenapa makhluk makhluk ini seneng banget rusuhin Rain !!" jawab Rain.
"Jawab mamang, apa neng Rain bisa melihat mereka?" tanya mang Nurdin, Rain mengangguk.
"Lalu?"
"Rain sering bantuin mereka yang memang ingin menyampaikan sesuatu, mang !" jawab Rain.
"Lalu barusan makhluk apa yang mengganggu neng Gea ?" tanya mamang.
"Dia nyeremin Rain !!" Gea menangis memeluk Rain.
"Dia mau ngapain??" tanya Rain, Gea menggeleng, "dia pegang pegang aku, aku sadar dan lari, dia kejar aku, untungnya ada Adry !!" Gea menangis.
"Saha Adry neng?" tanya mamang. Susah untuk Rain menjelaskan siapa Adry ataupun Nino.
"Panjang mang ceritanya, intinya sekarang Gea lagi digangguin sama makhluk jahat, dan Rain bisa liat itu !!" jelas Rain mempermudah mang Murdin untuk mencerna, maklum lah seumur umur meskipun tinggal di rumah bekas pemb^anta^ian keduanya tidak pernah mengalami hal ganjil, hanya pernah melihat saja dari film yang terkadang banyak pembulshitan publik nya.
" Makhluk itu kemana Ge?" tanya Rain.
"Adry sama Nino yang urus !" cicit Gea masih nampak syok.
"Ya udah sekarang loe tidur aja bareng gue di kamar gue !" jawab Rain menenangkan Gea, Gea mengangguk.
.
.
.
Keesokan harinya seseorang sudah berdiri berkacak pinggang di depan rumah Rain, ia menyeringai melihat rumah yang memang sangat ia kenal, bahkan dalam rumahnya pun ia sudah pernah melihat,
"Maaf bapak siapa ya?" tanya bi Kokom.
"Saya ayah Gea, dimana anak saya ??!" ucapnya.
.
.
.
__ADS_1