Guardian Ghost

Guardian Ghost
Mengikuti pulang


__ADS_3

Belum mereka sampai di perbatasan antara hutan dan perkampungan, Romi sudah meminta berhenti beberepa kali.


"Kalian bertiga, baik baik saja ?!" tanya ustadz Dzul, melihat ada keanehan disini. Tak seperti biasanya Romi dan Tria mengeluh.


"Capek tadz, engap banget !!" jawab Tria.


"Loe berdua sakit??" tanya Ve.


"Capek, lemes gue !!" Romi banjir keringat. Akhirnya ia tertinggal di belakang dengan Tria dan Fadly, sedangkan om Yuan dibawa oleh Dika, ustadz Dzul, Rain dan Ve.


"Sat, loe mah minta berenti masih di utan gini ! ga liat tuh ciwi ciwi pada liatin !! minta di gendong !!" kekeh Tria.


Mereka berjalan menyusul yang lain. Kini giliran Tria yang kepayahan.


"Kan kan loe berdua payah !!" jawab Fadly berujar.


"Dahlah, tuh yang lain dah jauh !" ucapnya.


Hari sudah menunjukkan semakin menggulirkan waktunya ke subuh, ayam jago juga sudah bersahutan berkokok.


"Loe bertiga lama amat !" jawab Dika.


"Nih, si Romi kelamaan ! banyak berentinya !" jawab Tria.


"Loe juga sama !!" jawab Tria, saling menyalahkan.


"Loe berdua sama aja, 2in !" ucap Fadly menengahi. Mereka semua sudah berada di rumah nini dan aki, Dika menelfon polisi. Menyerahkan om Yuan atas tuduhan keterlibatannya atas perampokan dan kematian Nino dan keluarga Rain, beberapa tahun yang lalu bersama Baron dan pak Komar.


Rain duduk di luar bersama Dika. Menatap suasana kampung yang indah dan asri, sayang keindahannya harus ternoda oleh mitos dan misteri kaki gunung yang sering di datangi oleh orang orang tak bertanggung jawab.


"Pembunuh Nino sudah tertangkap, apa Nino akan pergi seperti yang lain? begitupun Adry?" salah Dika menanyakan hal ini pada Rain, karena jawabannya Rain pun tak tau. Ia masih belum mau dan belum siap untuk Nino tinggalkan. Nino pergi menemui Adry dan Gea. Dan ustadz Dzul sedang menemani tuan rumah mengobrol santai bersama Fadly dan Ve.


"Nanti siang gue jemput Gea di rumah pak Sarif, sekalian nganterin ustadz Dzul balik ! kalian semua balik aja dulu !" jawab Raina.


"Janji loe ga dendam sama Gea," Dika meminta Rain berjanji.


"Loe pikir gue nyai Diah, engga lah. Semalem gue cuma syok aja ! insyaallah engga !" jawab Rain seraya kembali masuk ke dalam rumah aki dan nini.


Teh panas beserta goreng singkong sudah tersaji di depan mereka. Tak ada pizza ataupun makanan kekinian lainnya disini,


"Aki, Nini sekali lagi terimakasih sudah banyak membantu !" ucap Rain.


"Alhamdulillah, senang bisa menolong sesama, anggap saja untuk menebus dosa aki di masa lalu !" jawab aki menyesap lintingan tembakau. Romi masih terlelap tidur di dalam mobil bersama Tria, sedangkan ustadz Dzul, Fadly dan Ve bersama di dalam menikmati suguhan dari tuan rumah seraya bercengkrama.


"Kapan kapan mainlah kesini lagi ! kampung ini cocok untuk mengusir kepenatan kota !" jawab nini ramah.

__ADS_1


"Pasti ni, Rain pasti main lagi !" jawab Raina bersemangat. Dika menatap Raina, entah kenapa selalu ada harapan yang menggantung kalau suatu hari gadis ini akan membuka hatinya untuk Dika.


"Mana temanmu yang dua?!" tanya aki dan nini.


"Masih tidur di mobil, sepertinya sudah siang kami pamit saja ni, aki. Soalnya masih banyak urusan, belum lagi urusan dengan polisi !" pamit Rain.


"Baiklah, hati hati di jalan !" sepasang suami istri yang berusia senja itu melepas kepergian tamu nya yang baru dikenal semalam layaknya cucu sendiri.


"Nih dua anak tidur apa mati suri sih !!" sarkas Fadly, melihat keduanya tertidur di jok paling belakang tak tentu arah.


"Minggir kaki loe kamvreet !!" Fadly menendang kaki Romi yang melintang.


"Loe yakin cuma mau berdua nganterin Gea?" tanya Ve, mereka sampai di dekat stasiun radio, untuk selanjutnya pulang masing masing.


"Yakin, udah kalian pada pulang aja, istirahat !" jawab Dika, melongok dari dalam jendela.


"Ka, Rain, tadz kita cabut duluan ya !! ga kuat pegel pegel nih !!" Romi menggidikan bahunya, di setujui Tria. Fadly dan Ve mengekor.


Rain dan Dika memastikan teman temannya masuk ke dalam angkutan masing masing sebelum akhirnya kembali memutar mobil menuju pabrik. Tapi sebelum benar benar pergi, Rain membelalakan matanya.


"Kang, tadz !!! itu !!" seru Rain.


"Astagfirullah benar dugaan saya !" jawab ustadz Dzul.


"Gimana kang?" tanya Raina.


Ia menarik nafas lelah, "emang susah ngomong sama yang mulutnya dari comberan ! bandel !" jawab Dika.


"Nanti saja kita urus ! sebaiknya jemput saja Gea dan antar pak ustadz pulang dulu !" jawab Dika.


" Tadz makasih sudah membantu, " ucap Rain, semalam hampir saja pagar ghoib itu ditembus oleh makhluk makhluk sekitarnya, beruntung ada ustadz Dzul yang mengokohkan dan menjaganya.


"Alhamdulillah sama sama, saya hanya perantara, selebihnya Allah lah yang memiliki andil !" jawabnya.


"Apakah masalah yang barusan, saya masih dibutuhkan atau kalian bisa mengurus sendiri??" tanya nya.


"Insyaallah tadz masalah ini bisa kami atasi sendiri, kasian kalau anak anak madrasah harus berlama lama ditinggal !" jawab Raina.


.


.


Romi pulang ke tempat kost annya di daerah tak jauh dari tempat mereka bekerja, biasanya dia hanya menaiki ojol, tapi tak tau hari ini dia merasa sangat lemas, dan ingin rebahan saja. Datang ke kamar kost an pun tak ingin pergi kemanapun, sepertinya besok besok ia akan ambil cuti.


"Ahhhh, pegel banget pundak gue !!" ia ingin segera merebahkan badannya di ranjang, tanpa sadar saat melintasi kontrakan tetangganya, bayi yang tengah di jemur oleh ibunya di depan rumah menangis sejadi jadinya tanpa mengeluarkan air mata, membuat telinganya berdengung. Sampai Romi masuk ke kamar pun tangisan bayi itu tak berhenti.

__ADS_1


"Tuh bayi nangis mulu, " ia keluar merasa terganggu karena suara tangisannya yang keras .


"Oyyy bu, berisik !! bisa suruh diem ga bayinya ! pengen ASI kali tuh !!" sarkasnya lalu masuk kembali.


Seharian ini ia hanya ingin tidur di kasurnya saja.


.


.


.


Tria masuk ke dalam kamar, ia pun sama. Mungkin karena semalam bergadang makanya hari ini ia dilanda kantuk yang teramat.


"Tri, makan dulu !!" pekik ibunya dari luar kamar.


"Nanti aja bu, Tria ngantuk, cape banget, badan pegel pegel semua !!" pekiknya.


"Qirei, coba panggil ka Tria buat makan !" pinta ibunya.


"Paksa saja nak, seperti biasanya !" Qirei menurut, seperti biasa adik bungsu Tria yang berumur 4 tahun ini memang selalu jadi pengganggu istirahat Tria. Ia selalu memaksa dan terkadang berantem manja dengan kakanya ini.


"Ka Tria !! Qirei mengetuk ngetuk pintu kamar,


"Kaka lagi ga mau bercanda Qi, kaka mau tidur !!" jawab Tria.


Tapi seperti biasa anak ini selalu memaksa dan tak mendengarkan, ia termasuk ke dalam kategori slonong girl, alias anak perempuan yang selalu main nyelonong.


ceklek...


Qirei membuka pintu kamar Tria, Tria memang selalu mematikan lampu kamarnya saat tidur.


"Aaaaaa !!!!!!" Qirei memekik sangat kencang lalu ia menangis membuat seisi rumah geger, termasuk Tria yang malah memarahinya dan menyuruhnya keluar.


"Ada apa Qirei??" tanya ibunya.


"Di kamar ka Tria ada hantu... nene nene te*t3k nya gede !!!" Qirei menangis.


"Mau ne*tein ka Tria !!" anak itu menyembunyikan wajahnya di dekapan sang ibu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2