Guardian Ghost

Guardian Ghost
Abdi sy@i+on


__ADS_3

Raina bediri, ia mengedarkan pandangannya di sekeliling kamar Gea, ada foto berbingkai menunjukkan ia dan ibunya, Rain tersenyum.


"Ini ibunya Gea ya dry, gue pernah ketemu waktu sama sama ke pemakaman !" seru Raina.


"Iya, tante Mia sakit," jawab Adry menatap Gea nanar.


"Gue liat dia sedih belai belai rambut Gea, rupanya ini maksudnya !" ucap Rain lagi.


"Kayanya tante Mia tau, tapi kenapa ga ikut datang ?" tanya Rain.


"Karena masalah ini ga ada urusannya dengan dia pribadi, tante Mia meninggal murni karena sakit !" jawab Nino, sepertinya kekasih nya ini tau segalanya, macam mbah gugel.


"Hemm ! termasuk orangtuaku kah? tapi kan mereka sama denganmu, No !" jawab Rain.


"Mereka sudah bahagia disana, mereka tidak mau kamu berlarut sedih bila kalian bertemu, mereka melihatmu dari sana !" jawab Nino, air mata kembali meleleh dari matanya, Nino menghampiri Rain.


Jempolnya mengusap air mata kerinduan Raina, "mereka sudah bahagia, tau kenapa?" tanya Nino memeluk pinggang Raina. Gadis itu menggeleng.


"Karena melihat anak gadis kesayangannya tumbuh menjadi seseorang yang tangguh, periang dan baik juga bermanfaat untuk orang sekitarnya !" jawab Nino semakin membuat Raina menangis tergugu.


Dika merasa iba pada Rain, sampai sampai ia ingin memeluk gadis itu, tapi ia hanya bisa diam melihat Rain menangis di pelukan Nino, cinta Rain terlalu besar untuk Nino.


Di tengah tangisannya Tian dan Bunga datang,


"Ka Rain!!" sapa keduanya.


"Hai, udah lama ga ketemu yah ?" Rain mengusap rambut keduanya.


"Ka Rain apa kabar?" tanya Bunga.


"Baik Bunga !" jawab Rain.


"Bagaimana Tian?" tanya Nino.


"Om Yuan ke Desa XXXXXXX, yang terletak di kaki bukit gunung Xxxx. "


"Sebaiknya Gea kita bawa ke rumahmu Rain, " ucap Adry, Nino menggeleng.


"Tidak, jangan rumah Rain. Om Yuan sudah tau rumah Rain."


"Lantas??" tanya Adry.


"Bagaimana kalo ke rumah pak Sarif?" usul Raina.


"Gue rasa om Yuan ga akan bisa ngejar Gea sampai sana, di kampung itu banyak arwah penghuni kampung, seperti nyai, anak nyai, belum lagi beberapa makhluk lainnya," jelas Dika. Mereka sepakat membawa Gea kesana.

__ADS_1


Adry membawa tubuh Gea, keluar kamar, Rain mengeratkan pegangannya di lengan Nino, disampingnya ada Dika dan dibelakang mereka Tian dan Bunga. Rain masih mencuri curi pandang pada sosok guling itu, belum lagi para sosok lainnya.


"Gue salut sama Gea, betah banget di rumah ini !!" ujar Rain.


"Karena ayahnya ngasih jimat, belum lagi ada makhluk itu disini !" jawab Adry.


"Lalu sekarang kemana?" tanya Raina.


"Ini jum'at wage Raina, mitosnya selain jum'at kliwon, selasa kliwon masih ada hari keramat dan sakral lainnya yaitu Jum'at wage, menurut primbon ! sudah dipastikan mereka sedang melakukan ritual, di tempat asal si makhluk, " jawab Dika.


"Dengan cara menggelar sesajen, selain sajen seperti biasanya si pelaku akan diminta menyiapkan ayam Cemani dan syarat lainnya yang berbeda beda sesuai perjanjian yang sudah disepakati awalnya !" tambah Dika.


Mereka sudah sampai di luar rumah, giliran Dika dan Rain yang membopong Gea.


"Terus hubungannya sama si guling itu apa?" tanya Raina terlihat kepayahan membawa Gea. Akhirnya Dika lah yang mengambil alih tubuh Gea, masuk ke dalam mobil Raina.


"Tali pocong dia diambil sama om Yuan buat syarat p3$ugih@n !" singkatnya.


"Ohhh !" Rain berohria.


Matahari sudah hampir tergelincir ke arah barat, mereka sudah masuk ke gerbang kampung tempat yang dituju. Setelah berbincang dengan pak Sarif dan bu Sari, akhirnya mereka bisa bernafas lega bisa menitipkan Gea disana. Mereka juga meminta tolong pada Nyai Diah.


"Makasih banyak pak, bu !" Rain menundukan kepalanya, keduanya adalah orang orang yang baik. Rain dan Dika juga mendatangi Ustadz Dzul, meminta pertolongan tak lupa tim bar bar pula mereka libatkan.


"Asikk !! petualangan kali ini kayanya bakal lebih menantang !" Raina dan Dika janjian dengan mereka.


"Insyaallah engga !" ustadz Dzul yang sudah semakin meperdalam ilmu agamanya, kini ia sering dilibatkan dalam hal ghoib dan spiritual begini.


Mereka berdo'a, kedua hantu anak kecil Tian dan Bunga menunggu bersama nyai Diah berjaga jaga disana.


.


.


Malam mulai gelap mobil Rain memasuki daerah perkampungan yang masih asri, belum banyak terjamah sentuhan modernisasi, buktinya jam 7 malam saja sudah terasa sepi. Lampu bohlam kuning menghiasi sebagian rumah yang maaih berdindingkan bilik. Jarang sekali orang yang melintas selain dari orang yang beribadah di surau terdekat. Nino menunjukkan jalannya atas penglihatan yang Tian berikan padanya. Mobil jauh menembus ke dalam kebun pohon bambu.


"Ihh serem banget, gilaaak!" ucap Ve.


"Tengkuk gue sampe dingin gini, ditambah merinding !" jawab Romi.


Jalanan yang tak semulus kulit bayi, membuat mobil berguncang guncang, hanya sorot lampu mobil lah satu satunya penerang, suara binatang malam menambah kesan angker malam ini.


"Dari tadi bulu kuduk gue berdiri dan malah joget, ga mau kembali duduk ! parah banget seremnga !" ucap Tria, baru kali ini penelusuran mereka seseram ini,


"Ya kalo mau yang rame mah di hajatan kawinan," jawab Dika.

__ADS_1


Rain menutup matanya sambil menyembunyikan wajahnya di dada Nino, keduanya duduk berdampingan di jok depan, Tria, Romi dan Ve berada di baris kedua dan Fadly bersama ustadz Dzul di baris ketiga bersama Adry yang menemani. Kali ini mereka memakai mobil Rain pribadi yang dibelinya baru baru ini setelah si mobil tua sering keluar masuk bengkel.


"Loe kenapa Ra?" tanya Romi, Romi tau jika Rain terlihat menghindar begini, tandanya Rain melihat sesuatu yang seram.


"Loe mau tau ?" tanya Dika.


"Apaan, Ka?" tanya Ve dan Tria.


"Ada tante loe !! duduk diatas sambil gelayutan di pohon bambu !!" jawab Dika.


"Si@*lan loe !" jawab Romi, Dika terkekeh.


" Ada banyak disini ! loe mau pelihara tuh ada hewan juga !" ujar Dika mengulas senyuman menggoda Romi yang memang terobsesi untuk kaya.


"Amit amit, naudzubillah...kalo caranya ga halal mendingan gue jadi pemulung gelas bekas air mineral !" jawab Romi.


"Alhamdulillah syukur kalo iman loe masih kuat !" jawab Dika.


"Alhamdulillah !!" ustadz Dzul ikut meng amini. Sepanjang perjalanan ia hanya menyimak obrolan ke 7 orang ini dengan sesekali memutar tasbih membaca kalimat kalimat tasbih.


"Ngapain susah susah jadi pemulung, kalo gue mah punya temen bos, ikut aja kerja di pabrik teh, iya ngga Ra?" tawa Fadly, diangguki Raina.


"Itu mah loe nya aja kelewat be*go, Dika punya distro..gue lamar aja kerja di distro punya Dika !" jawab Fadly lagi. Ditertawai yang lain.


Mobil semakin masuk ke dalam leuweung (hutan). Semakin dingin, jalanan pun basah oleh embun dan kabut. Sungguh bukan perjuangan yang mudah.


"Tok...tok..tok.. !!"


"Astagfirullah !!" pekik semuanya terkejut.


Seorang kakek tua berjalan, dan mengetuk kaca mobil.


"Dia nyata ga sih?" tanya Romi, diangguki Dika dan Rain.


Dika menurunkan kaca mobilnya, "Bade naon kadieu ?" (mau apa datang kesini?) tanya si kakek tua memakai baju kaos partai dan celana bahan juga peci.


"Punteun pak, bade tumaros bumina aki kuncen palih mana?" tanya Dika. (maaf pak, mau tanya rumahnya kakek kuncen di sebelah mana?)


Kakek tua itu melihat dan meneliti Dika juga mobil mereka, melihat kesemuanya. Entah apa yang ada dipikirannya.


"Aya naon??" ( ada perlu apa?) tanya nya. Jika bukan datang untuk mendaki rata rata pendatang yang mencari rumah aki kuncen tidak lain tidak bukan untuk mencari peruntungan sebagai seorang pengabdi syaitan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2