
DIA...maksud Nino adalah siluman kera itu, Raina tau pasti dia.
.
.
.
Raina menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi, menatap ke langit langit kantornya, beberapa orang karyawan sudah di perintahkan membersihkan kawasan pabrik dengan diimingi uang lembur. Untuk setelahnya Raina juga akan mengadakan syukuran untuk pembersihan pabrik teh nya, setelah memberi tahukan pada om Harsa. Om Harsa akan datang minggu depan.
Sepertinya secangkir teh bisa menenangkan harinya yang lelah dan penat.
"Permisi buk," seorang dari bagian kantin pabrik mengantarkan secangkir teh chamomile hangat lengkap dengan satu poci teh nya beserta gula batu.
"Makasih bu, " ucap Raina. Karyawan itu kembali, aroma teh baru yang menguar di indera penciumannya terasa menenangkan, teh dengan bunga chamomile.
"Istirahatkan dirimu, honey !" bisik Nino dari arah belakang Rain, memijit lembut pundak kekasih manusianya itu, belahan jiwa yang membuatnya tak bisa meninggalkan bumi. Seakan dimana ada Raina disitu ada Nino.
"Sayang, sepertinya aku harus bilang secepatnya pada Dika !" ucap Rain.
"Memang ada baiknya kamu tidak sendiri !" jawab Nino membalikkan kursi Raina, hingga menghadap ke arahnya, ia berjongkok di hadapan gadisnya itu.
"No, apa pernah kamu merasa lelah?" tanya Raina.
Nino terkekeh, "asal ada kamu di sampingku, rasa lelah itu terbayar !" jawab Nino.
"No, kalau aku ikut bersamamu...." belum Raina meneruskan ucapannya Nino sudah memotongnya.
"Jangan honey, aku memang sangat ingin memilikimu seutuhnya, tapi bukan berarti aku menjadikanmu sepertiku, masa depanmu masih lah sangat panjang, " selalu ada rasa kecewa dan sedih mana kala mengingat hal ini. Yuppp Rain sudah jatuh, jatuh ke dalam kasih sayang Nino, kasih sayang yang teramat dalam dan besar, bahkan maut pun tak dapat mengalahkan rasa sayang itu.
.
.
Raina masuk ke dalam ruangan studio penyiaran, divisi dimana ada Dika didalamnya. Raina resmi dipindahkan.
"Hay guys !!!" sapa Rain.
"Wehhh mamen ini dia bu bos kita !!" seru Tria. Semuanya sedang menyusun proposal pekerjaan untuk minggu depan, acara yang dihandle divisi mereka siaran seminggu sekali. Tapi bahan bahan yang harus mereka susun haruslah matang, dari sekian banyak acara, siaran mereka termasuk ke dalam salah satu yang menjadi favorit pendengar. Masyarakat Indonesia memang suka dengan hal hal berbau mistis dan tabu.
"Rain, apa ada masalah?" tanya Dika. Ve pun mendekat.
"Loe sakit, Rain?" tanya nya. Raina menggeleng. Dika melirik Nino yang selalu menjadi bayangan Raina.
Dan Dika mengerti apa yang disampaikan Nino,
"Guys, kayanya kita bakal punya kerjaan tambahan lagi, sekaligus bahan yang cocok buat kisah mistis kita selanjutnya !" ucap Dika. Kesemuanya melirik.
"Kayanya kampung di dekat pabrik Rain masih butuh kita !"
" Siluman monyet itu Dik ? " gidik Romi.
__ADS_1
"Siluman monyet apaan?" tanya Fadly.
"Wahhh seru keknya tuh !" jawab Tria, semenjak mendatangi dan mengupas misteri nyai Diah, laki laki satu ini malah semakin tertantang adrenalinnya.
"Gue ikut lah !!" tambahnya.
"Loe sih ga liat !!" seru Romi.
"Emang kaya apaan? tanya Ve penasaran.
"Taring bawahnya sampe hidung nah yang atas sampe dagu, belum lagi wajahnya serem, bulunya aja wihhh amit amit deh !!" jelas Romi.
"Kuuuyy, kapan kita kesana ?" tanya Tria bersemangat.
"Kapan Rain?" tanya Dika.
"Kayanya mesti secepatnya kang, soalnya di meresahkan kasian warga," jawab Rain.
Mereka akhirnya janjian di rumah Rain. Mereka juga sudah berkoordinasi dengan pak Sarif dan ustadz Fahri.
"Sementara daripada kita mesti bolak balik rumah pak Sarif, meningan di pabrik aja, di kantor gue !" jawab Raina, tak enak jika harus menumpang terus di rumah pak Sarif yang kecil.
"Rain, " panggil Romi menjauh dari teman teman lainnya.
"Jawab gue jujur !" ucapnya.
"Apa?"
Rain menghela nafas, " dia guardian ghost gue ," jawab Raina.
"Kerennnn !! loe punya penjaga ?" tanya Romi.
"Iya, semacamnya. Sekarang pun ada ko disini," jawab Rain.
"Dimana Rain?" tanya Romi.
"Lagi liatin loe ka, dia lagi liat loe ngajak gue mojok, ada niatan jelek apa engga ?" goda Rain.
"Idihhhh ! kagak lah !!" Romi segera bergabung kembali dengan yang lain.
Hampir maghrib mereka sampai di pabrik teh, langit pun sudah menggelap dan dingin, lampu megah pabrik menjadi penerang di tengah tengah luasnya kebun teh, tampak megah di malam hari , seolah kehidupan malam hari lebih menarik dibandingkan siang.
Grusukkk...grusuk...
Grusukkk
Grusuukkk....
Dikka menghentikkan laju mobil, mereka semua hening, dengan degupan jantung saling memompa kencang, setiap aliran darah nya mendesir kuat.
"Apaan tuh ??" tanya Romi pada semak belukar di samping kanan mobil, yang tersorot sinar lampu mobil.
__ADS_1
Mata mereka hampir tak berkedip, gugup menanti makhluk apa yang ada di depannya. Sekejap pompaan jantung terasa berhenti saat seekor luwak yang keluar dari dalam semak belukar itu, dengan mata yang menyala dan semerbak wangi pandan.
"Shitttt !!!! luwak doang, gue udah takut setengah mati !!" seru Fadly. Tria terkekeh melihat kebod*ohan mereka semua. Namun di tengah suara tawa mereka muncul sosok lelaki tua menggunakan pangsi hitam dan blangkon coklat mengetuk kaca mobil bagian belakang, tepat tempat dimana Romi duduk.
"Aaaa !!" pekiknya seperti perempuan. Tawa Tria semakin kencang, termasuk mereka semua yang kaget.
"Sat...nih kake kake ngapain malem malem jalan jalan sendiri lagi !! ngagetin lagi !!" sarkas Romi. Ia membuka kaca mobil.
Tapi Rain merasa ada yang aneh, malah Nino menahan laju kaca mobil yang baru terbuka sedikit.
"Jangan Rom !!!" seru Rain dan Dika.
Romi yang terkejut dan hendak menutup kaca mobil sontak malah berpindah tempat dan berteriak teriak saat si kake berubah menyeringai dan berbulu, kuku kuku tangannya yang tajam mencakar kaca mobil dan hampir mencongkel kaca jendela yang sedikit terbuka, menampilkan wujud kake kake dengan kaki yang hampir buntung, tak berhasil membuka kaca mobil, ia berjalan mengelilingi mobil dengan kaki terpincang pincang bahkan terkulai hampir putus.
Rain memejamkan matanya , bila secara mata bathin, Raina sedang dipeluk Nino dan menyembunyikan kepalanya dalam dekapan Nino, suara melengking sambil memutari mobil yang berhenti itu membuat semua yang ada dalam mobil panik dan melafalkan ayat ayat suci, termasuk Dika yang mencoba berkomunikasi dengan si siluman monyet yang menyerupai abah itu.
"Allahumma bariklana fiimma rozaktana...."ucap Romi, sontak di toyor Tria.
"Heh, beg*o ga usah ngebanyol di saat genting !!! itu do'a makan saravvvvv !!" sarkas Tria.
"It's oke honey, aku keluar dulu biar kalian bisa lewat !" ucap Nino.
"Hati hati," gumam Rain mendongak tanpa suara.
Nino mengangguk dan sekejap Nino sudah ada di luar menyeret siluman monyet jejadian itu mengajaknya berkelahi, pertarungan sengit terjadi dan disaksikan Raina, ia hanya berdo'a agar Nino baik baik saja.
"Mana hantunya?" tanya Ve. Dika langsung tancap gas meninggalkan tempat dimana Nino masih menahan monyet itu.
Mereka langsung meluncur ke kampung, menuju rumah pak Sarif.
.
.
Sesampainya disana pak Sarif sudah berkumpul dengan beberapa warga, rupanya mereka baru saja membicarakan kejadian yang menggegerkan seluruh kampung tadi sebelum maghrib, anak anak yang baru saja akan menuju masjid dicegat oleh siluman kera yang tadi tengah mencegat mereka hingga mereka urung untuk mengaji.
"Anak saya sampai kapok pergi mengaji, " ucap salah seorang bapak.
"Istri saya pun biasanya mau pergi ke warung hanya untuk sekedar membeli kopi dan rokok, tapi sekarang ia tak berani, katanya dia bilang abah sering mencegatnya !" heboh bapak bapak.
"Saya dikejar kejar, padahal kakinya buntung sebelah tapi dia larinya cepat !!" ucap seorang lagi.
"Assalamu'alaikum !!" sapa Rain dkk.
"Wa'alaikumsalam !!" jawab mereka.
"Bapak bapak, kenalkan ini bu Raina pemilik pabrik teh beserta teman temannya, insyaallah mereka akan membantu kita bersama ustadz Fahri !" ucap pak Sarif.
.
.
__ADS_1
.