
Raina terlelap di dekapan Nino, ia begitu nyaman di dekat hantu tampan itu. Akhirnya pukul 2 dini hari semuanya beres, hanya tinggal merapikan saja. Dan itu akan menjadi pekerjaan pak Hari.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak atas bantuannya nak Dika beserta kawan kawan," ucap pak Rt.
Dika, Romi, dan Tria mengangguk ramah, "Ini semua karena pertolongan Allah..pak, dan Raina," Dika merendah.
"Oh iya, bu Raina kemana ya?" tanya pak Sarif, celingukan mencari Raina.
"Oh Raina sedang istirahat bersama yang lainnya di pabrik," jawab Dika.
.
.
Dika berjalan bersama kedua lainnya menuju pabrik selepas berpisah di simpang jalan dengan pak Sarif.
"Ka, gue mau nanya sama loe.. loe kan indigo," Romi masih penasaran dengan Nino.
"Apaan ??!" tanya Dika balik.
"Waktu kita pertama ketemu sama monyet jejadian itu, gue ngeliat ada cowok yang ikut lawan. Itu siapa ya?" tanya Romi.
"Hah?? cowok? siapa?" Tria ikut kepo,
"Sat ! gue juga lagi nanya !" sarkas Romi.
"Beberapa kali tuh cowok barengan si Rain !" rupanya Romi pun menyaksikan kedekatan antara Rain dan Nino.
"Dia yang jagain Raina !" jawab Dika singkat.
"Hah??! si Raina punya hantu penjaga gitu ??" seru Tria terkejut. Dika mengangguk, berharap keduanya tidak memperpanjang masalah.
"Siapa nya?" bukannya berhenti Romi malah semakin penasaran.
"KEPO !!" Dika mengusap kasar wajah Romi,
"Kamvreeettt !!!" sewot Romi ditertawai Tria.
Ketiganya sampai di pabrik,
"Hoammm !! ngantuk gue !!" Tria sudah menguap beberapa kali, ia langsung berbaring di samping Fadly.
"Nih cunguk satu pules banget, berasa di hotel !!" serunya menepuk lengan Fadly yang sontak terbangun.
"Apaan si loe !!" jawabnya dengan suara parau.
.
.
__ADS_1
Kini tersisa Dika yang belum bisa memejamkan matanya, ia sudah mengubah berbagai posisi untuk bisa tertidur, tapi bukannya terpejam, ia malah semakin segar.
Dika memutuskan untuk pergi keluar kantor Rain menuju luar pabrik, ini sudah pukul 3 dini hari, namun matahari belum menunjukkan eksistensinya, seakan masih merasa lelah untuk memulai hari.
Tiba tiba saja pundaknya ditepuk seseorang dari arah belakang. Ia sontak menoleh, "eh loe No."
" Loe kenapa belum tidur?" tanya Nino.
"Gue ga ngantuk !" jawabnya sedaya menyesap sebatang rokok.
Nino ikut duduk di samping Dika, "Ka, gue mau bilang ini sama loe tapi gue ko rasanya berat ya !" ucap Nino.
"Apa?" Dika tertarik mendengarnya dan menoleh pada Nino.
"Mungkin sebentar lagi misteri tentang pembunuhan gue dan keluarga Raina bakal terungkap, gue boleh minta sesuatu sama loe?" tanya Nino dengan wajah sendunya.
"Apa?"
"Gue titip Raina, hanya dia milik gue yang berharga, saat nanti gue pergi temani dia."
"Tapi gue ..." Nino menepuk pundak Dika menjeda ucapan Dika.
"Ga usah boong sama gue, loe bohong soal status loe yang sudah tunangan," tebak Nino. Apa memang hantu sehebat itu bisa mengetahui isi hati human.
Dika terkekeh, "sia sia dong gue boong sama loe !" jawabnya.
Keduanya tertawa, tapi sesaat kemudian Nino kembali serius, mata merahnya seperti menahan beban yang berat dan berembun.
"Engga !!" sarkas seseorang dari arah belakang, rupanya kepergian Nino dirasakan oleh Rain. Gadis itu ikut terbangun,
"Mana janjimu buat selalu ada buatku !!" Raina memukul dada Nino dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Terus ini apa? kamu mau ninggalin aku seenak jidat kamu, setelah kamu buat aku jatuh ke dalam perasaan sayang sama kamu ??!!" Raina kembali memukul penuh emosi di dada Nino yang diam mematung.
Baru saja merasakan rasa hangat Raina harus kembali ditimpa rasa kecewa, sepi, dan kehilangan. Untung saja jiwanya tidak dingin.
"Bukan gitu honey, "Nino mencoba menangkap tangan Rain yang terus menerus memukulnya.
Nino mencoba memeluk Rain, tak menyangka jika perkataannya membuat Raina terluka dan menangis.
"Kenapa harus datang jika kamu akan pergi !! Rain terus saja menghakimi Nino, dan meluapkan emosinya, selama ini takdir terus saja membuat orang orang sekitarnya meninggalkan gadis itu.
"Rain...." Nino menyesali perkataannya, ia tak menyangka Rain akan mendengar obrolannya dengan Dika.
Mata Rain menajam menatap Nino, seperti awal pertemuan mereka, " Gue bukan gadis lemah yang butuh belas kasih orang lain, " ucapan hangat Rain berubah mendingin.
"Termasuk loe ! anggap kita tak pernah ada hubungan apa apa, pergi dari hidup gue ! gue benci sama loe !" ucap Raina, menghujam jantung Nino.
Raina berlari ke dalam dan bersiap siap membereskan barangnya untuk bersiap pulang, di tengah kegelapan langit dan dinginnya udara.
__ADS_1
"Rain !!" Dika mengejar Rain termasuk Nino.
"Bukan maksud ku gitu Ra, !!" ucap Nino.
"Ra, dengerin dulu penjelasan Nino !" ucap Dika menahan tangan Raina. Di samping kanannya Nino juga menahan tas Raina.
"Minggir !!" ucap Rain.
"Engga !!" jawab Nino, sama sama tak mau mengalah.
"Kalian apa apaan sih, ribut banget, " Ve terbangun oleh suara Rain dan Dika.
"Engga apa apa Ve, " jawab Dika, diangguki Ve yang kembali tertidur.
Nino menarik lengan Rain dan membawa Rain pergi dari situ menuju tempat yang cocok untuk mereka menyelesaikan masalahnya.
"Oke maafin aku, aku salah. Bukan maksudku gitu, aku tak bisa selamanya ada di sampingmu Rain, di saat nanti aku tak ada aku hanya percaya Dika untuk menjagamu !" jelas Nino.
"Loe pergi sekarang dari hidup gue !" ucap Rain. Hatinya sudah sering menerima kenyataan pahit ditinggalkan oleh orang orang.
"Jangan pernah kembali !" Rain mengakhiri ucapannya, seketika Nino mematung, baru kali ini ia melihat Raina begitu berubah, ia menjadi gadis dengan hati yang begitu dingin. Sungguh salahnya, berkali kali Raina harus mengalami kepedihan hidup, adapun nanti ia harus meninggalkan Raina, saat Raina bisa membuka pintu hatinya untuk laki laki lain. Saat dimana ia sudah dikelilingi orang orang terkasih. Bukan saat ini.
Nino melampiaskan amarahnya pada diri sendiri dengan membuat angin beliung di pertengahan kebun teh. dan menghantam beberapa pohon hingga hampir tumbanh, Ia juga menghilang dari situ.
"Mana Nino?" tanya Dika.
"Balik ke alamnya ! gue mau pulang sekarang, kalo kalian masih mau istirahat silahkan, gue bakal suruh nanti karyawan buat jemput dan anterin kalian pulang !" tanpa menunggu jawaban dari Dika, Raina menyambar kunci mobil dan menggendong tas punggungnya.
"Ra, sebaiknya tunggu sebentar sampai mereka bangun. Bahaya menyetir di kegelapan, biar gue temenin !" tahan Dika.
"Gue lagi pengen sendiri kang, sorry !!" jawab Rain melajukan mobilnya. Dika segera menyambar jaketnya menuju mess pabrik, meminjam salah satu motor karyawan disana untuk mengikuti Rain.
Air mata Rain tumpah, ditambah rasa rindunya yang teramat pada kedua orangtuanya, semakin membuat Rain kacau.
ia sudah melintasi jalanan yang melewati kebun teh, dan menemukan jalan besar, Raina yang memang sedang kacau balau tak memperhatikan sekelilingnya. Sampai sampai ia tak tau jika sedang diikuti.
"Ckittttt !!!"Rain menginjak rem secara tiba tiba, suara decitan karet ban mobil dan jalanan saling beradu.
Rain seketika sadar, sesuatu jatuh dari atas, ia mendongak, baru sadar jika ia sedang berada di bawah jembatan layang.
"Itu tadi apaan ?" tanya nya, Raina turun dari mobil untuk melihat keadaan. Ia berjalan ke arah depan kap mobilnya, namun tak ada apapun disana, beberapa kali ia mendongak.
"Sattt !! bikin kaget aja, apaan sih !!" omelnya, ia kembali masuk ke dalam mobil. Memasang kembali seatbelt, lalu tancap gas, ia merasa mobil yanh dibawanya tidak seringan sebelumnya, ia pikir bannya kempes.
Namun matanya menangkap sosok lain di dalam mobilnya, dia arah bangku penumpang dari kaca spion.
.
.
__ADS_1
.
.