
Dika menyusuri daerah pelosok, dimana desa yang diduga asal muasal urban legend tersebut.
Kampungnya masih belum terjamah teknologi, seperti kota. Hal hal berbau mistis, selalu bersinggungan dengan daerah pelosok, yang masih kental dengan adat istiadatnya.
Sebuah desa, di pulau Jawa dimana para gadisnya penyumbang kebanyakan grup tari (Jika ada kesamaan, hanya imajinasi author semata).
Usia gadis yang sudah menginjak 15 tahun, sudah dinilai matang untuk menjalani serangkaian prosesi pendewasaan dan sakralisasi menjadi seorang seniman, khususnya penari dan sinden. Dika mendatangi rumah seorang kepala desa disana, perjalanannya tak mudah untuk mencapai desa ini, dari pusat kota, ia harus menaiki angkutan kota menuju daerah pinggiran, dari sana ia harus melewati hutan memakai ojeg yang jauhnya bukan main.
Dari gerbang masuk desa saja, auranya sudah sangat kental dengan aura magis.
"Assalamualaikum ! "
"Waalaikumsalam !"
"Cari siapa?" tanya ibu paruh baya.
"Bu, apa benar ini rumah pak Kades ?!" tanya Dika.
"Iya betul, adik dari mana, ya?"
"Ahh, kenalkan bu..saya Mahardika dari kota, "
"Silahkan masuk dik, saya panggil bapak sebentar," Dika masuk, meneliti ruangan berukuran 4×5 meter ini, beratapkan bilik, dan beralaskan kayu. Rumah rumah disini hampir semua berbentuk panggung.
Dika duduk di kursi, tak lama dari arah dalam datanglah seorang bapak memakai peci hitam yang hampir usang.
"Pak," Dika berdiri sejenak.
"Cari saya dik? adik siapa?" tanya nya mempersilahkan duduk kembali.
Dika menceritakan asal dan maksud tujuannya datang kemari, si bapak menyimaknya dan mengangguk angguk pertanda mengerti.
"Disini ada sebuah sanggar tari bernama sanggar Winasih, disana ada beberapa keturunan nyai kembang Winasih, adik bisa bertanya pada mereka ! mari bapak antar !" laki laki itu segera berdiri, merapikan pakaiannya dan mengantar Dika.
Dika melewati beberapa rumah dengan lampu obor di depan halaman mereka, sungguh desa yang memanfaatkan alam sebagai penyokong hidup mereka,
__ADS_1
"Disini listrik memang hanya saat siang hari saja dik, dan untuk malam hari lebih memanfaatkan tenaga listrik dari generator yang memakai energi kincir air di sungai sana !" tunjuk si bapak pada sungai yang mengalir sepanjang perkampungan ini. Sungguh, jika bukan karena urban legend yang menempel lekat padanya. Desa ini, akan menjadi destinasi wisata yang asik.
Semilir angin yang diciptakan dari gesekan dedaunan pohon beringin dan bambu yang rindangnya sampai merumpuni desa, seolah memberi kesegaran dan kesunyian tersendiri. Dedaunan kering yang tersebar luas dan terinjak menjadi properti khusus yang Tuhan beri.
Dari pemandangan kampung yang memanjakan mata, membuat siapa saja betah berlama lama disini, ada sebuah pendopo di tengah alun alun kampung. Suara gamelan melantun mengiringi angin tampak serasi di pendengaran. Beberapa gadis melenggak lenggok di temani 2 orang tua, laki laki dan perempuan yang mengatur tempo.
Pak Kades mengajak Dika untuk sejenak menikmati suguhan latihan para gadis desa dengan kemben dan jarik bermotif bunga bunga. Rambut mereka senada, dicepol satu di belakang. Lenggak lenggoknya mengingatkan Dika pada Raina.
Setelah selesai, pak Kades membawa Dika menghampiri kedua orangtua tadi. Rupanya, ki Nyawang dan nyai Murti adalah cucu dan mantu generasi ke 7 dari Nyai kembang Winasih. Pantas saja wajah nyai Murti seperti blasteran Belanda.
Nyai Murti dan ki Nyawang, mengajak Dika ke sanggar tari. Dika menurut, hari sudah mulai sore.
"Hari sudah sore, tidak mungkin jika nak Dika melanjutkan perjalanan pulang ke kota sekarang, sebaiknya menginap saja disini, lagipula..nak Dika belum menemukan apa yang nak Dika cari !" ucap ki Nyawang, untunglah semua orang disini baik dan ramah.
"Iya, terimakasih sebelumnya ki, nyai..pak Kades," ucap Dika.
"Kalau begitu bapak tinggal dulu, jika nak Dika berniat menginap di rumah, juga tak apa !" tawarnya.
"Iya pak, makasih !" jawabnya.
"Maaf, Ki..j@mB@*n sebelah mana ya? saya mau ambil air wudhu ?" tanya nya.
"Oh disana! lurus saja, lalu belok kanan, arah belakang," tunjuk ki Nyawang, Dika mengangguk, ia melewati ruang tengah, jika belok kiri, ia akan memasuki ruangan sanggar, maka ia belok ke kanan. Bukan dalam rumah yang ia temukan, kamar mandi nya langsung menuju halaman belakang, sebuah kamar terpisah dari rumah, namun belakangnya langsung menghadap sungai.
Jika hanya untuk ambil wudhu saja, Dika tak harus sampai masuk ke dalam kamar mandi, karena di luarnya saja, sudah disediakan kendi berisi air, yang tinggal dibuka saja ganjelan lubangnya, maka air akan keluar sendiri dari lubang itu. Dengan obor yang tertancap dimana mana,menambah kesyahduan malam, yang hanya disoraki binatang malam. Tapi Dika memutuskan membuang haj@tnya dulu.
Mata Dika memicing, tangannya mengusap kasar wajah yang basah karena air, ia berjalan mendekat. Jika tidak salah, hari ini malam jum'at. Wajar dan sah sah saja, jika warga kampung ini masih menganut jawa kejawen, mungkin juga, ada sesuatu yang harus dijaga dan dilestarikan di kampung sini.
"Bukannya itu ki Nyawang dan nyai Murti?" gumamnya.
Keduanya melarungkan seperti sesajen, tepatnya beberapa jenis kembang juga dupa di sungai ini.
Dika masuk kembali, ke dalam rumah dan melaksanakan shalat maghrib. Dika dijamu dengan berbagai makanan khas kampung, ki Nyawang juga tak lepas dari rokok tembakau dicampur bunga melati kering nya.
"Dika menceritakan kembali kejadian yang Raina alami belakangan ini, " ki Nyawang dan nyai Murti menautkan alisnya.
__ADS_1
"Kalaupun nak Dika sudah mendapatkan tusuk konde itu, nak Dika tetap harus membawa nak Raina kesini ! semua yang berasal dari sini, harus dikembalikan kesini pula !" jawab nyai Murti.
"Ada yang hilang dan dikurangi dari urban legend itu, prosesi penyembuhan orang yang terkena guna guna selendang mayang milik nyai kembang, tidak cukup disembuhkan hanya dengan itu saja. Tapi, ia pun harus mandi di sungai, tempat para penari melakukan ritual persiapan, jika akan menyelenggarakan pagelaran.
Dika mengangguk, mengerti. Disini ia sangat susah menemukan sinyal ponselnya.
"Ki, apa disini ada telfon atau sesuatu untuk alat komunikasi?" tanya Dika.
"Jika itu, bukan kami jawabannya. Tanyakanlah pada pak Kades, nak." jawab nyai Murti mengoleskan minyak di persendiannya, sambil meminum jamu.
Dika berjalan keluar sanggar, sejauh mata memandang kampung ini sudah sepi, ditambah kegelapan yang melanda, yang hanya diterangi oleh obor di setiap rumah, membuat nyalinya sedikit menciut.
Ia memandang ke arah dalam sanggar. Tepatnya ke arah beberapa alat gamelan. Refleksinya menangkap pemandangan, betapa riuhnya suasana, para nayaga saling bersahutan menabuh alat alat di depan mereka, sambil menikmati permainannya sendiri, dan tarian di tengah tengah ruangan. Para penari yang masih kecil menari dengan lincahnya, disusul para penari gadis menjadi sorotan utama, tak jarang para pria ikut menari genit dam mesum, dari pojok sebelah belakang nayaga berdiri dua sosok, yang satu tak asing baginya, nyai Kembang dan suami Belandanya. Siluet tubuh seorang penari masuk ke sana seorang diri. Kini ia menjadi bintangnya, Dika semakin masuk ke dalam ruangan, penasaran.
"Raina !!!" Dika terjengkat kaget, dengan Bagas yang mengekor.
"Pukkk !!!"
"Nak Dika, nak Dika !!!" seseorang menyadarkan Dika di arah belakangnya.
"Apa yang nak Dika lihat?" tanya ki Nyawang.
"Raina disana bersama Bagas ! ada nyai Kembang Winasih dan suami Belandanya !" jawab Dika berkeringat dingin.
"Ki, bagaimana ini?"tanya nyai Murti.
"Nak Dika, kita harus segera membawa tubuh nak Raina kesini ! besok malam akan diadakan pagelaran disini. Dan hari itulah, kita akan melepas nyai kembang dari tubuh nak Raina !" jawab Ki Nyawang.
.
.
.
.
__ADS_1
.