
Rain berlari tergesa gesa, ia sudah sangat terlambat untuk siaran. Ia melajukan mobil sedan tua yang masih menemaninya. Dengan memakai mobil itu, Rain merasakan jika papahnya masih menemaninya.
Untung saja, acara sebelumnya masih memutarkan lagu, Rain menghela nafasnya lega.
"Fiuhhh !! gue kira dah mulai. Kalo kaya gini kepengen lah gue jadi temennya Iron man, mau pinjem si jarvis biar bisa terbang pake turbo !!" gumamnya memutar tutup botol lalu minum.
Dukk !!!
"Ehh sorry sorry," hampir saja air minum itu terkena bajunya. Untungnya Rain refleks menjauhkan bibir botol.
"Raina kan?? sorry ya !!" seorang rekan penyiar bernama Dika tak sengaja menabrak Rain saat sedang minum, salah Rain yang tak melihat lihat tempat untuk minum.
"Ehhh, iya !!" kalau tidak segera minta maaf mungkin mulut rombeng gadis ini akan memuntahkan bahasa pedalamannya.
"Oke ga apa apa lagian salah gue juga sih ngalangin jalan !!" kekeh Rain. Mata Dika menyipit.
"Bilangin pacar ghoib loe, gue juga udah tunangan ko, tenang aja !!" ucap Dika terkekeh. Rain melongo mendengar ucapan Dika barusan.
"Tunggu kang Dika !" tahan Rain.
"Loe bisa liat Nino?" tanya Rain to the point.
"Jangankan pacar loe yang sering nempelin loe terang terangan. Yang disini aja pada ngumpet gue tau ko,"Seperti hal ini menjadi menarik bagi Rain. Melihat kemampuan Dika, Rain berminat mendengar kisah kisah Dika.
"Kang, gue bisa ngobrol sama loe ngga?? tapi gue mau siaran sekarang kang!!" tanya Rain.
"Oke, kayanya ada hal menarik nih yang mesti gue tau. Boleh deh, gue jajan dulu baso tuh di si pak Kumis, sambil nyesep dulu biar mulut aga manis menghadapi kepahitan hidup !" kekehnya.
Akhirnya gadis itu masuk studio untuk siaran. Lama siaran hampir dua jam. Rain keluar dari ruangan dan sesekali bercanda dengan kang Iwan. Matanya berbinar melihat kang Dika juga sudah selesai melakukan ritualnya, makan dan merokok.
"Kang !!" pekiknya mendekat.
"Gimana, gimana dah selesai kah?" tanya nya.
"Udah kang, gimana kalo kita ngobrolnya di cafe aja sambil ngopi!! gue traktir deh kang," ajakku.
"Wahhhh boleh nih, sekali kali di traktir cewek cantik boleh lah !!" tawanya.
"Hemmm, gue laporin tunangannya!!"
"Ampunnn dehhh !!" kelakar mereka berdua, rupanya Dika sosok yang menyenangkan. Padahal setau Rain, jika seseorang yang memiliki indigo biasanya cenderung pendiam dan menutup diri. Tapi tidak dengan kang Dika.
Rain dan Dika memilih cafe yang dekat dengan stasiun radio. Mereka memilih makanan dan minuman untuk disantap.
"Udah lama kang bisa liat hal hal yang astral?" Rain membuka obrolan.
__ADS_1
"Udah dari kelas 6 SD, waktu gue sakit demam sampe step trus masuk RS, nah disitu pertama kali gue bisa liat makhluk astral. Dari mulai yang baringan trus bangun pake blangkar RS. Anak kecil korban tabrak lari, banyak deh!" jawabnya seperti menerawang kisah silam.
"Kang, ko gue merinding ya !!" jawab Rain menyeruput ice coffee nya."
" Secara tak langsung, jika sedang membicarakan mereka. Kita sudah mengundang rasa penasaran mereka terhadap kita !" jawab kang Dika.
"Gue tebak, loe lagi di ikutin sama perempuan pake kebaya merah," tebakan kang Dika tidak salah.
"Loe tau kang? apa dia ada di sekitar gue?" tanya Rain.
"Gue bisa cium baunya, dan ngerasain kehadirannya. Saat ini dia lagi menjaga amanah seseorang buat ga gangguin loe. Tapi roman romannya dia sudah tidak sabar dan terksesan usil."
Nino...!! sudah dipastikan seseorang itu Nino.
"Kang, gue lagi mecahin misteri. Mereka selalu datengin gue yang ujungnya minta tolong buat ngungkapin misteri kematian mereka yang meminta keadilan!" jawabnya.
"Loe punya sesuatu yang ga orang lain miliki Rain, selain hati loe tulus dan punya masa lalu yang tragis. Loe punya seseorang ," senyum kang Dika.
"Kang, sorry. Gue boleh minta tolong sama loe?" tanya Rain.
"Apa? semoga gue bisa bantu !" jawab kang Dika melahap chessecake di depannya.
"Gue ga punya pengalaman sama dunia mereka, apa loe bisa bantu gue? gue juga sedang menyesuaikan diri dengan tampilan mereka yang jauh dari kata menarik !" gidik Rain. Tiba tiba saja gadis itu mengingat sosok nyai Diah yang menyeramkan.
"Oh ya? tapi gue rasa cowok itu good looking, entah karena loe belum liat dia yang aslinya?" senyum mengejek dari kang Dika.
"Yakin pengen tau?" tanya kang Dika. Rain mengangguk cepat. Kang Dika melirik belakang Rain, seakan meminta ijin.
"Loe liat aja nanti di rumah! katanya dia sendiri yang pengen nyampein sama loe !" jawab kang Dika semakin membuat Rain penasaran.
"Kang, bisa ikut gue ke pabrik teh milik keluarga gue?" tanya Rain.
Ia melipat tangannya di depan dada " pabrik ya??" kekehnya Seperti menyimpan sesuatu yang tak bisa disampaikan.
"Wowww interest, kayanya gue bakal punya banyak bahan buat blog pribadi gue ," tawanya terdengar seperti, ini akan menjadi petualangan menarik untuknya.
" Oke, kapan?" tanya nya. Rain tak percaya jika kang Dika akan mudah menyetujuinya.
"Besok juga jadi kang, gue selalu ketakutan kalo digangguin nyai Diah," jawab Rain.
"Oke,"
"Nih alamat gue kang," Rain memberikan sharelock alamat rumahnya pada kang Dika.
"Oke," jawabnya.
__ADS_1
.
.
Rain pulang ke rumahnya, ucapan kang Dika sedikitnya mengganggunya. Bagaimana keadaan Nino sebenarnya.
"Gue tau loe pasti mikirin ucapan tuh cowok!!" ucap Nino yang tiba tiba datang membuat Rain terkejut.
"Heem," Rain memasukkan tangannya diantara lengan dan pinggang Nino. Tak bisa dipungkiri Rain menyayangi Nino, ia suka dipeluk oleh hantu tampan ini.
"Kalau rasa penasaran itu membuatmu terganggu, apakah loe sudah siap melihat tampilan gue sebenarnya?" tanya Nino. Rain menghela nafas dan mengangguk. Siap tidak siap Rain akan siap, setidaknya ia tau bagaimana keadaan Nino saat ia meregang nyawa. Rain yang sedang memeluk Nino sambil terpejam terusik dengan bau amis da*rah yang menusuk hidung, ia membuka matanya. Mendadak kemeja Nino berubah menjadi t-shirt putih berlogo vespa hitam. Namun, t-shirt itu dipenuhi da*rah hingga da*rah yang masih segar itu menempel di pipi, pelipis dan rambut Rain, Rain terpundur dan menutup mulutnya dengan tangan melihat lengan sebelah kanan Nino hampir saja putus, belum lagi bekas keunguan di lengan, sidut bibir dan kakinya. Juga kepala yang terus mengucurkan da*rah.
"Astaga !!!" Rain menangis dalam bekapan tangannya. Ia menyentuh wajah Nino yang berlumuran cairan kental itu. Rain menangis tergugu. Ia tau Nino bisa begini karena melindunginya.
"It's okey honey, ini sudah terjadi, itu kenapa gue ga mau loe liat keadaan gue yang sebenernya," Nino kembali ke wujudnya yang tampan, walaupun dengan wujudnya yang begitu wajahnya tetap tampan.
"No, harusnya gue yang mati ! bukan loe !!" Rain menangis dipelukan Nino.
"Gue rela berkorban buat loe, asal loe bisa menapaki masa depan cerah loe. Gue rela ga bisa lagi ngerasain hangatnya mentari asal loe masih bisa ngerasain indahnya hari hari loe kedepannya," gumam Nino.
"Gue sayang loe, No !!" jawabnya.
Brakkkk !!!!!
Jendela kamar Rain terbuka keras dan lebar begitu saja membuat Rain terkejut. Rain melepas pelukan Nino dan mendekati jendela, tangannya terulur meraih jendela yang terbuka lebar. Namun betapa terkejutnya ia, di halaman tepat di bawah kamarnya sesosok wanita berkebaya merah dan berjarik coklat sedang berdiri seolah sedang menunggu Rain. Bukan hanya nyai Diah saja, di kakinya ada sosok bayi berlumurkan da*rah dengan tali ari arinya yang masih menggantung di pusarnya sedang menggelayuti kaki nyai Diah.
"HAYYUUU AMENG !!!" ucap celoteh si bayi itu mengarah pada Rain.
HAYU AMENG \= AYO MAIN !
Rain segera menutup jendela dan berlari ke ranjangnya dengan Nino yang menenangkannya.
"Gue takut No, gue takut !!" jawab Rain.
"Ada gue disini, mereka ga akan berani masuk ataupun mendekat lebih dari 5 meter sama loe!!" jawab Nino.
"Tapi bisa ga sih, mereka ga usah ngikutin gue??" tanya Rain hampir saja kembali menangis.
"Mereka cuma mau ngawasin loe, dan loe harus terbiasa dengan kedatangan mereka,"
Memang mereka ini sedikit bandel dan usil, karena memang sifat jin dan syaitan adalah usil.
.
.
__ADS_1
.
.