
"Oke saya beri waktu sampai 5 hari kedepan jika kamu tidak ada, maka silahkan cari dosen pembimbing lain !" panggilan ditutup sepihak. Rain memejamkan matanya.
"Argghh !! kalo ga butuh udah gue jorokin juga nih ke lembah yang banyak ulernya !!" omel Rain.
"Kenapa neng?" bibi terkekeh, melihat majikannya ini marah marah.
"Itu bi, dosen pembimbing..nyebelin, judes, galak, kasar, ihhh ! semoga ntar kalo lagi minum keselek !"
"Ishh, ga boleh gitu atuh neng, " ucap mang Nurdin. Gea sedang mengurus pekerjaan di pabrik. Gadis itu sudah mulai di training oleh manager pabrik atas permintaan Raina. Dika dan yang lain juga tengah berada di stasiun radio, ia akan mampir nanti.
"Neng, sinar matahari baru keluar..enak buat jemur !" seru bi Kokom.
"Boleh bi, Rain juga sumpek di kamar terus !" jawab Raina. Raina tidak mau duduk dan di dorong di kursi roda, ia merasa sudah sehat.
Bi Kokom membantu Raina turun dan berjalan,
"Pelan pelan neng, " bi Kokom memegang bahunya.
Ternyata bukan hanya Rain saja, pasien yang sedang mencari kehangatan dari sinar matahari, ada beberapa pasien lainnya.
"Bi duduk di situ aja !" pinta Raina, pada salah satu bangku taman yang tersorot cahaya mentari. Alis Rain mengernyit melihat seorang pasien yang duduk di kursi roda sendiri tanpa pendamping, sepertinya ia menikmati kehangatan mentari.
"Anget bi, " lirih Raina,
"Bibi ambil minum ya, sama buah !" Raina mengangguk. Nino sudah berjongkok di depan Raina, tanpa Raina tau. Menatap gadisnya penuh kagum. Mungkin jika ia masih hidup sekarang, moment ini ia lakukan untuk melamar Rain.
"Pagi honey !" ucapnya. Raina menoleh.
"Pagi sayang !" jawabnya tersenyum manis.
"Liatin apa?" tanya Nino.
"Liat dia ! mukanya pucet banget, kayanya nemu sinar matahari dia nikmatin banget !" jawab Rain.
"Iya, aku juga menikmati !" jawab Nino. Rain menaikkan alisnya sebelah.
"Nikmatin apa?"
"Nikmatin mandangin kamu !" jawabnya mengecup kedua punggung tangan Raina.
Tapi tiba tiba seorang pemuda yang dilihat Raina munta muntah, dan mengeluarkan da*rah.
"Eh !!" Rain refleks berdiri. Para perawat membantunya dan kembali masuk ke dalam ruang perawatannya.
"Kayanya dia sakit parah deh !" lirih Raina.
"Iya !" jawab Nino.
Raina beranjak ingin mendekat, "honey, mau kemana?" Nino berjalan di samping Rain yang mendorong tiang infusan.
"Mau liat dia !" jawab Raina.
Rain sedikit melihat dari luar ruangan pemuda itu kembali berbaring dipasangi oksigen, perawakannya kurus bagai tulang terbalut kulit.
Tapi tak lama Raina melihat pemuda itu berdiri dengan tampilan berbeda, masih memakai pakaian pasiennya, namun perawakan badannya tidak sekurus yang tadi, selang infusan dan oksigen pun sudah tak terpasang lagi, ia berjalan keluar dari kamarnya ke arah..Raina !!
Raina sontak mengerutkan dahinya "hay, gue boleh minta tolong !" ucapnya.
Raina celingukan, ia hanya ingin memastikan bahwa pemuda ini sedang berbicara padanya.
"Loe ngomong ke gue ?" tanya Raina.
"Iya lah !" jawabnya.
__ADS_1
"Oh, oke kalo gue bisa, boleh !" jawab Raina.
"Gue minta tolong, bilang suster panggil keluarga dan manager gue. Gue mau mereka semua disini, dan bilang juga nanti sama manager gue Lola, ada noted yang gue tinggalin!" ucapnya. Kenapa ia tidak bilang itu sendiri, pikir Rain.
"Kenapa ga loe aja sendiri yang bilang ?!" tanya Raina, lalu pemuda itu melihat ke arah kamarnya sambil tersenyum. Rain menautkan alisnya, matanya pun mengikuti kemana arah pemuda itu melihat.
Raina terkejut, pemuda yang ada dihadapannya ternyata kini tengah berbaring tak sadarkan diri di ranjangnya, suster dan dokter tengah sibuk menyadarkannya, semua alat terpasang di tubuhnya.
"Astaga, loe !" tunjuk Rain, tapi pemuda itu sudah tak ada.
"Sayang, tadi siapa !!" tanya Raina panik bertanya pada Nino.
"Tidak perlu kujawab kamu pasti sudah tau honey, " jawab Nino, Raina sontak berjalan ke arah ruangannya, melihat apa yang terjadi. Suster tergesa keluar dari ruangannya.
"Sus !" boleh tanya, dia siapa ?!" tanya Raina.
"Dia Tara Bastian, masa mbak ga kenal. Selebgram yang sedang naik daun, tapi dia divonis kanker !" jawab suster tergesa.
"Hah??! artis !! ko gue ga tau sih ! gue kemana aja sih !" dumel Raina.
"Neng !!" bi Kokom menepuk pundak Raina, hingga gadis itu terkejut.
"Bibi astaga, dikirain si Tara !!" Raina mengelus elus dadanya.
" Tara saha neng? ini minum sama buahnya !" jawab bibi.
"Iya bi, bentar !" jawab Raina, tak lama seorang perempuan datang berlari sambil menangis, menuju ruangan Tara. Lalu blangkar yang keluar dari ruangan membawa Tara yang di dorong menuju ruang ICU, bersama si perempuan mengikuti,
"Liatin siapa sih neng ?" tanya bibi.
"Bi, Rain ijin sebentar ya !" ucap Raina.
"Eh, mau kemana?" tanya bibi menahan Raina.
"Sebentar doang bi, "Raina memang sekeras kepala itu, untungnya Nino selalu bersamanya.
"Sorry, loe Lola !" tanya Raina, perempuan itu menoleh dan mengangguk.
" Tadi Tara bilang sama gue, dia pengen keluarganya ngumpul disini, oh iya dia juga bilang, katanya dia ninggalin noted buat loe !" jawab Raina.
"Loe siapa?" tanya Lola.
"Kenalin gue Raina, " jawab Raina. Lola mengangguk, "sorry gue tinggal sebentar ya, thanks buat pesannya !" jawab Lola, Raina mengangguk.
Raina kembali keruangannya, dan ternyata disana sudah ada Dika dan yang lain.
"Ini pasien satu bandel amat, ditengokin malah kelayapan !" ucap Tria.
"Gue udah sehat juga !" jawab Raina.
"Ra, mending loe diem, istirahat, ga usah banyak gerak dulu !" ujar Dika.
"Gue ga apa apa kang, "Dika mendekat melihat setiap inci tubuh Raina secara refleks, membuat Raina merasa canggung.
"Loe kenapa sih ?!"
"Kali aja otak loe geser, keadaan bonyok gini nyebut sehat !" jawab Dika, Raina manyun.
Suster membawa makan siang untuk Raina, "siang Rain, dimakan ya !" ramah si suster, setelah memberikan makan siang suster itu keluar lagi.
"Cit cuit !!! cantik ya !!" goda Tria, dihadiahi toyoran dari Ve.
"Cih, gue ga suka makanan RS, ga ada rendang kali ya, disini menunya !" jawab Rain.
__ADS_1
"Dih, loe pikir rumah makan Padang !" jawab Ve.
Dika mengambil alih sendok dan garpu, ia menarik kursi dan duduk di samping Raina,
"Buka mulut loe, ga usah manja ! mau sembuh kan ? mau makan rendang kan? setelah loe balik, gue traktir sepuas loe ! sampe masuk RS lagi kalo perlu !" seru Dika.
"Dih !!" decih Raina.
"Ekhemm, cie cie,,, loe berdua mending jadian aja deh ! cocok !!" celetuk Fadly, membuat Raina yang sedang minum terbatuk. Sedangkan Dika hanya diam, entah harus mengelak ataupun memang ucapan Fadly ada benarnya.
"Ngomong apa sih loe ka Fad ! gue udah anggep kang Dika kaya kaka gue sendiri, iya kan kang ??!" Rain menoleh dan mengerjap, percayalah Dika ingin melompat dari tebing saat itu juga.
Dika hanya bisa menahannya, "iyain aja biar cepet !" jawab Dika.
"Iyalah, ntar tunangannya apa kabar !! dikira gue pelakor !!" seru Rain, sontak saja Ve, Fadly dan Tria mengernyitkan dahi.
"Tunangan?!" gumam mereka.
"Udah ga usah bahas itu !" sergah Dika segera dan melahapkan nasi ke dalam mulut mungil Raina.
"Ihh, pelan pelan dong ini mulut bukan terowongan kereta api !" omel Raina. Sebutlah Raina gadis lugu yang tak peka, bahkan ketiga lainnya saja bisa melihat jika Dika menyukai Rain, bukan sekedar suka tapi sayang. Nino melihat, tapi ia sengaja memberikan Dika ruang untuk merebut hati Raina, setiap Dika berada di samping Rain, Nino memilih mengalah dan menjaga gadis kesayangannya dari jauh.
"Eh guys tau ngga, Tara Bastian? dia dirawat disini !" lirih Rain.
"Seriusan Ra?!! selebgram ganteng itu?? uhhh gue ngefans !!" tanya Ve semangat.
"Iya, tapi gue rasa dia mau pergi deh!" jawab Rain menyendu.
"Maksud loe ?" tanya ketiga makhluk yang duduk di sofa.
"Gue rasa tadi gue ngobrol sama arwahnya, dia kayanya nyampein pesan karena dia mau pergi !" jawab Rain. Keempat manusia yang berada di ruangan ini tersentak kaget. Tak lama setelah Raina berbicara, dari arah luar terdengar orang orang ramai.
"Ada apa sih, ko ribut !" Ve dan Tria melihat ke arah luar, ternyata banyak wartawan yang meliput.
"Banyak wartawan bruhh !!" seru Tria.
Semuanya heboh, Raina yang turun dibantu Dika melihat ke luar ruangan. Mereka mendekat dan mencari info.
Blangkar dari ICU tertutup kain penutup putih melintas, tapi di belakang keramaian itu sesosok pemuda yang tampan ikut melintas dan berhenti tepat di depan Raina dan Dika.
"Thanks Raina ! akhirnya keluarga gue bisa kumpul dan hadir, kalau semasa hidup mereka jarang ada buat gue, setidaknya saat gue di ujung ajal mereka hadir dan gue bisa rasain kehangatan itu !" ucapnya.
"Sama sama, loe yang tenang ya Tara !" jawab Raina.
Lola yang menangis menangkap sosok Raina yang keluar dari ruangan, ia tiba tiba berlari dari tempatnya dan memeluk Raina sambil sesenggukan,
"Thanks Raina karena sudah menyampaikan pesan Tara, akhirnya dia bisa pergi dengan damai !" ucap Lola di tengah isakannya, Rain mengusap usap punggung Lola, "sama sama, gue hanya menyampaikan pesan Tara !"
"Kalo gue boleh tanya, loe punya sixsence ya ?" tanya nya, Raina mengangguk.
Hari menjelang sore di tengah keramaian krmatian Tara, Raina melihat sosok suster mendorong meja berisi peralatan medis, dan mendengar suara roda yang berdecit.
"Krekek...krekek...krekek....."
Suster itu berjalan mendekat, lama kelamaan wajahnya semakin jelas terlihat, benar kata Gea, jidatnya gepeng, dengan da*rah yang mengucur di lubang hidung, telinga dan matanya. Rain refleks memeluk Dika yang berada disebelahnya.
"Kang, dia !!" tunjuk Raina. Dika melihatnya, suster itu menyeringai dan masuk berbelok ke arah ruangan tindakan samping kamar mayat.
.
.
"Dia terus muncul ganggu gue sama Gea kang, " ucap Raina.
__ADS_1
"Mungkin ada yang ingin dia sampaikan, " jawab Dika.
Tapi anehnya selama Dika disini, dan Nino berada di samping Raina, suster itu seakan enggan muncul.