
Raina siuman,rasanya tubuhnya seperti dijatuhkan dari atas gedung pencakar langit lantai 40. Seingatnya, ia berada di ruangan kantornya bersama Dika dan Nino. Tapi kini, ia melihat ruangan serba putih, dengan bau etanol dan infus yang sudah menempel di punggung tangannya.
"Bi Kokom!" ucap Rain.
"Neng, Rain. Alhamdulillah, neng kenapa bisa pingsan?" tanya bi Kokom.
Rain yang belum sepenuhnya sadar, menggeleng tak mengerti, "Dika mana bi?" tanya nya.
"Ah, iya tadi teman neng itu pamit pulang,"
"Sejak kapan Rain disini,bi?" tanya Rain lagi mencoba menyenderkan badannya di tumpukan bantal. Sekali lagi terbanting begitu, mungkin tulang tulang Rain akan patah.
"Sudah dari pukul 3 sore tadi, neng dibawa kesini !" jawab mang Nurdin, yang baru saja datang membawa baju ganti. Rain melihat pakaiannya yang ternyata ada noda da*rah dari kepala dan mulutnya.
"Neng, kenapa atuh bisa sampai begini?" tanya mang Nurdin terlihat khawatir.
"Ga tau," geleng Rain, bingung untuk menjelaskan.
"Ya sudah atuh, neng istirahat saja. Sebentar lagi dokter datang !" jawab bi Kokom.
Rain melihat di sudut ruangan ada Tian dan Bunga, jika Tian ia sudah kenal maka Bunga, Rain belum mengenal, seorang gadis berusia smp dengan rambut panjang dan dress selutut yang lusuh. Namun ia menunduk, tak berani memperlihatkan wajahnya.
Setelah dokter memeriksa Rain, mang Nurdin keluar berpamitan untuk shalat maghrib bergantian dengan bi Kokom. Bi Kokom pamit ingin buang hajat.
"Bi, bibi ke toilet saja sambil sekalian ke mushola, biar Rain nunggu sendiri aja. Insyaallah Rain ga apa apa ko !!" ucapnya.
"Ga apa apa atuh neng ditinggal sendiri? insyaallah mamang tidak lama ," jawabnya. Gadis yang kepalanya dibalut kain kassa ini mengangguk. Bi Kokom keluar dari ruangan.
"Hay ka Rain, kaka oke kan??" tanya Tian.
"Alhamdulillah, Nino mana ian?" tanya Rain.
"Ka Nino, sedang mengurus sesuatu kak !" jawab Tian ambigu.
"Ian, itu siapa?" tanya nya.
"Itu Bunga ka,"
Rain mengernyitkan dahi, " Siapa dia?" bisiknya.
"Bunga sering ko mampir di rumah kaka, hanya saja dia tak pernah menunjukkan wujudnya," jawab Tian.
"Dia pemalu atau memang gimana ian?" tanya Rain.
"Dia cuma ga mau kaka takut," jawab Tian.
"Gue dah biasa sama wujud kalian," ucapan Tian seperti meledek Rain.
"Bunga ! sini," pinta Tian.
Bunga ragu, namun mendekat. Apa semua hantu tak pernah beralas kaki? atau hanya Nino saja yang kecentilan memakai sepatu.
Raina menatap lekat dan meneliti Bunga dari atas kebawah, satu kata yang tergambar, kotor !! kulit kaki dan tangannya penuh dengan tanah merah yang sedikit basah sampai sampai lantai rumah sakit jika tak kasat mata akan penuh jejak kaki dengan tanah merah,
__ADS_1
Bunga mengulurkan tangan, di pergelangannya tampak kebiruan seperti bekas ikatan kuat sebuah tali.
"Bunga !!!" bisiknya mendesah seraya menunduk.
"Raina, Bunga kenapa nunduk terus?" tanya Rain penasaran. "Ga apa apa, gue udah biasa ko liat wujud kalian, dongak aja takit sakit tengkuk ntar !" kelakar Rain, Bunga sedikit sedikit mulai mendongak. Inci demi incinya Rain sangat penasaran.
Tapi ia mulai merasa resah, karena terlihat jelas dari mulai kulit kening hingga dagu, kulitnya seperti terkelupas, kelopak matanya yang sobek sebelah hingga menampilkan mata bulat sempurna sampai menampakkan urat urat syaraf mata, begitupun mulutnya yang sobek, hingga memperlihatkan gigi rapi. Namun terlihat ngeri bagi Rain.
"Astaga !!! aaa!!!!" ia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Rambut Bunga memang panjang. Namun, botak di sebelah tengah kirinya.
Rain memalingkan wajah, ia harus terbiasa tak menjerit melihat seperti ini. Namun saat memalingkan wajahnya ke samping, Nino berada di sampingnya, sontak Rain memeluk hantu tampan ini.
"Ya Allah No, " senang tak terkira.
"Bunga, usil kamu ya !" ucap Nino, Bunga tertawa. Sungguh Rain tak ingin lagi gadis ini tertawa. Karena tawanya sukses membuat bulu kuduk Rain berdiri semua. Menyeramkan !!
"No, apa tampilan Bunga tidak bisa diubah?" tanya Rain.
"Bunga !" panggil Nino.
"Iya maaf, ka Rain gue Bunga salam kenal ka !" jawab Bunga, kini Bunga sedikit membaik tampilannya dari sebelumnya. Walaupun tetap saja menyeramkan.
"Syukurlah kamu sudah sadar, baby !" ucap Nino.
"No, kang Dika mana?" tanya Rain.
"Dia pulang dulu, nanti dia kesini setelah kamu membaik !" jawab Nino.
.
.
Mang Nurdin dan bi Kokom tertidur lelap, di sofa dan di bawah beralaskan tikar. Tetiba Rain terbangun karena haus dan ingin ke toilet. Tak enak jika harus membangunkan keduanya. Rain mencoba meraih gelas sendiri dan pergi ke kamar mandi,setaunya dekat dari ruangannya.
"Mau kemana?" tanya Nino. Rain berbisik," pengen pipis, aus juga !!" senyumnya. Dibantu Nino Rain menyeret infusan yg tergantung di besi penyangganya. Hawa luar kamar sangat dingin dan sunyi, mungkin karena sudah larut malam.
Rain tersentak dan menghentikan langkahnya, jantung nya berdegup kencang. Terlihat sangat jelas sebuah blangkar RS terdorong dengan sendirinya tanpa ada yang mendorong.
"No, itu tadi apa ??!" tanya Rain panik.
"Sudah jangan dipikirkan, aktivitas malam disini sangat ramai. Sebaiknya jika ingin ke toilet cepatlah !! sebelum mereka penasaran denganmu !" ucap Nino. Dengan dibantu Nino, Rain cepat cepat ke kamar mandi dan menyelesaikan hajatnya. Rain duduk di atas closet di satu bilik, dengan Nino yang menunggunya di luar, samar samar ia mendengar dari bilik sebelah seseorang tengah menangis.
"Isshhh malem malem nangis !! kaya ga ada besok lagi aja, malem tuh waktunya tidur !!" gumam Rain, segera menuntaskan hajatnya. Saat keluar ia terkejut, pasalnya waktu masuk ia hanya sendiri tapi saat keluar ternyata ada seseorang lagi di kamar mandi ini.
"Kebelet juga ya mbak ?" tanya Rain basa basi emncoba mencairkan suasana tegang, tapi terlihat dari pantulan cermin matanya sembab seperti habis menangis, wajahnya pucat seperti belum makan seharian.
"Maaf mbak, bukan mau ikut campur, jadi yang barusan nangis mbaknya ya?" tanya Rain penasaran. Ia hanya mengangguk, segitu sedihnya sampe punya mulut aja dipake buat nangis bukan buat jawab. Tapi ya sudahlah toh Rain pun tak ada hubungannya dengan perempuan ini.
"Saya cuman mau kasih tau sih mbak bukannya so tua, kalau memang punya masalah serahin sama Allah, semua masalah pasti ada jalannya" jawab Rain sebelum pergi. Untuk terakhir kalinya Raina melihat wajah perempuan itu yang terdapat luka lebam di sudut bibirnya, kayanya hidupnya mau diabisin buat nangis.
"Cihhh, udah ga jaman cewek nangis, apalagi cuma gara gara cowok !!" guman Rain kesal.
"Kenapa sih?" tanya Nino, membantu Rain memegang tiang penyangga infusan.
__ADS_1
"Itu ada cewek mewek mewek terus, tengah malem mewek. Ditanya cuma ngangguk doang, kayanya hidupnya mau diabisin buat nangis doang !!" kesal Rain dikekehi Nino yang mengacak rambutnya gemas, mereka kembali ke kamar.
Raina memaksa untuk pulang hari ini, ia ingin segera menyelesaikan urusannya dengan nyai Diah di pabrik. Dokter mengijinkan dengan catatan Raina harus sering kontrol ke RS
"Neng, padahal ga apa apa atuh istirahat dulu barang sehari dua hari lagi !!" ucap bi Kokom kesal, gadis ini begitu keras kepala.
"Ga apa apa atuh bi, Rain ga betah lagian Rain udah ga apa apa. Makanan RS ga enak !!" jawab Rain.
Mereka sedang membereskan barang barang karena Rain memaksa pulang.
ceklek
"Rain !!" Dita bersama bang Hafiz datang.
"Loh Rain !!! mau kemana?" tanya keduanya.
"Gue mau pulang, Ta..!" jawab Rain.
"Ko cepet banget ?" tanya bang Hafiz.
"Rain ga betah ka, Rain pengen di rumah aja !" jawabnya
Tak lama kang Dika pun hadir, menanyakan pertanyaan yang sama pada Rain. Tapi gadis ini kekeh ingin pulang. Tak ada yang bisa menggoyahkan keputusan Rain termasuk Nino.
" Ya sudah lah, kalau maunya begitu !" jawab Dita. " sekalian saja kita ke rumah Rain," jawab bang Hafiz, Nino terlihat tak suka pada Hafiz, dan Hafiz terlihat tidak suka pada Dika yang terlihat dekat dengan Raina.
Rain berada diatas kursi roda didorong oleh bi Kokom. Mereka semua mengobrol satu sama lain sampai di ujung persimpangan koridor langkah mereka terhenti oleh rombongan blangkar yang membawa jenazah, keluarga yang mengantar berteriak histeris sambil menahan blangkar yang membawa jenazah tertutup kain putih ini. Karena terjadi tarik menarik antara pegawai rumah sakit dan ibu si jenazah membuat mereka terhenti menyaksikan adegan dramatis ini.
"Anakku, Gita !!!" pekik ibunya.
" Kenapa harus begini nak, kenapa tidak dibicarakan dulu !!" aksi si ibu ini membuat kain penutup jenazah terbuka.
"Bu, maaf jangan begini, kami harus segera mengurus jenazah anak ibu !!" ucap si karyawan rumah sakit.
Sontak Rain terkejut "Astagfirullahaladzim !!!"
"Kenapa neng?" tanya bi Kokom.
Rain menajamkan matanya melihat si jenazah yang sudah lewat dibawa menuju kamar jenazah.
"Itu...cewek itu !!! semalem ketemu di toilet lagi nangis !!" ucapnya panik.
"Masa sih Rain, tadi aku ga sengaja denger pas mau ke ruanganmu. Aku masih inget ibu yang barusan, ibu yang tadi nangis sambil teriak teriak kalo anaknya meninggal kemaren siang kan bang, ditemuin di kamar mandi kampusnya !!"jawab Dita diangguki Hafiz.
Rain menoleh pada Nino dan Dika.
"Jadi semalem gue ketemu sama siapa??" tanya Rain.
.
.
.
__ADS_1