Guardian Ghost

Guardian Ghost
Gea dan p3$ugihan


__ADS_3

Raina melajukan dan memutar kemudinya ke tempat yang sudah di beritahukan oleh Dika sebelumnya, mobilnya berhenti saat melihat motor Dika berhenti di sebuah rumah. Dika berdiri di tengah jalan, menghalau laju mobil Raina sambil melambai lambai.


"Ra, stop !!" lambaian Dika mirip orang yang sedang meminta tumpangan.


"Ngapain di tengah jalan pengen ditabrak?" kekeh Raina membuka kaca jendela mobilnya.


"Parkirnya di depan aja, jangan pas di depan rumah Gea, biar ga ketauan!" bisik Dika.


"Kalian ngapain sih ?" tanya Rain, Nino pun ada di belakang mereka.


"Kita lagi nyatronin rumah Gea honey !" secepat kilat Nino sudah berada di dalam mobil dan mendongak ke arah Raina, di jok belakang tepat di belakang Rain, Nino mengacak pucuk kepala Rain.


"Maaf ya aku ga bisa nemenin di kampus !" cubitnya di pipi Rain.


"Ga apa apa, " akhirnya Rain memarkirkan mobilnya di depan rumah tetangga Gea. Ia mengikuti langkah Nino dan Dika berjongkok di semak semak samping rumah Gea.


Rumah megah dan besar untuk ukuran seorang preman jalanan, padahal jika melihat dan membandingkannya dengan rumah almarhumah Baron perbedaannya sangat jauh.


"Kerjaan ayahnya Gea apa?" tanya Raina.


"Preman jalanan," jawab keduanya.


"Kaya Baron ya?" Nino mengangguk.


"Ini ga ada tempat buat sembunyi lagi apa? tukang es cendol gitu !" decih Rain, Nino tertawa geli.


"Otak loe kepanasan ya?? sampe harus disiram pake cendol !" lirih Dika.


"Iya, kalo bisa gue berenang di kolam cendol !" Raina manyun.


"Kamu kenapa honey? ada masalah?" tebak Nino, tidak biasanya wajah Rain sekecut ini.


"Lagi kepengen makan orang ! kesel sama dosen !" jawab Raina.


"Kang, loe ko bisa tau rumah Gea?" tanya Raina.


"Tadi Gea telfon gue minta tolong, katanya di kurung sama ayahnya. Dikunciin di rumah sendirian !" jawab Dika.


"Jadi ayahnya ga ada?" tanya Rain. Dika mengangguk, tak berapa lama sebuah toyoran mendarat di kepala Dika.


"Terus ngapain kita ngumpet disini, toh ayahnya Gea ga ada di rumah !!" Raina gemas dengan kedua makhluk berbeda dunia di depannya ini. Raina berdiri, ia berjalan tak sabar menuju rumah Gea. Dika menahan Rain,

__ADS_1


"Tunggu bentar kita tunggu kabar dari Adry, dia lagi cek keadaan rumah Gea, aman apa tidak. Ini bukan main main Rain !" sorot mata Dika menajam menandakan ada sesuatu yang serius yang tidak diketahui oleh gadis itu.


"Ada apa sih sebenernya, sayang?" tanya Rain, sebutan sayang membuat kedua laki laki ini diam, bila Nino tersenyum berbunga bunga, beda halnya dengan Dika yang merasakan sebuah belati menghujam jantungnya. Berhak kah ia untuk marah dan kesal? atau sekedar cemburu?


"Sepertinya ayah Gea melakukan pesugihan honey !" jawab Nino mencengangkan.


"Hah??!" Rain menutup mulutnya.


"Ga usah kaget gitu, hal ini sudah lumrah di tanah Indonesia !" jawab Dika meninggalkan keduanya menuju gerbang rumah Gea yang tampak gagah menjulang. Demi ambisi dan keserakahan manusia mampu menyekutukan pencipta-Nya. Rain beberapa kali menghubungi nomer Gea, namun selalu operator yang menjawab.


"Ini Gea kemana sih, nomernya ga aktif !" omel Rain.


"Dari tadi gue hubungi balik tapi Gea langsung off !"


Adry memberi sinyal pada Nino untuk masuk. Rain dan yang lain masuk, gerbang dikunci, terpaksa Nino membawa keduanya melewati atas gerbang.


"Ini rumah serem banget !" kritik Raina.


"Gimana ga serem dalemnya aja ada penunggunya !" jawab Dika.


"Rumah gue juga ada penunggunya, " ucap Rain jumawa.


"Ada kamu, aku, mang Nurdin sama bi Kokom !" jawab Rain.


"Sayang !" Raina berbalik pada Nino. Nino mengangkat alisnya sebelah.


"Tian sama bunga kemana?"


"Mereka ngikutin om Yuan!" jawab Nino.


Ketiganya berhasil masuk, "kang, ko gue takut ya !" bisik Rain, Raina dan Dika mengendap endap di dalam rumah yang gelap itu. Cocok sekali disebut rumah hantu. Barang barang antik menghiasi rumah ini di berbagai sudut, sangat terlihat om Yuan adalah kolektor seni antik.


"Ra, loe liat ga di depan sana !" tunjuk Dika pada ruang tengah yang langsung bersambung ke sebuah taman yang terdapat patung kayu seorang wanita dengan kendi air, secara kasat mata rumah ini sepi, tapi secara mata mereka ada beberapa makhluk yang sepertinya terjebak disini.


"Mereka siapa?" Rain memundurkan kakinya sampai menabrak dada Nino.


"Honey, kamu ga boleh takut, mereka ga akan berani nyakitin kamu sama Dika. Semalam aku dan Adry sudah berbicara dengan mereka. Malah mereka ingin kita segera menuntaskan masalah ini!" jawab Nino, bola mata merahnya meyakinkan Raina.


"Mereka korban Ra, " Dika mengulurkan tangannya kedepan untuk berinteraksi dengan beberapa diantaranya. Ada seorang wanita, ada pula anak anak. Rain menangis, energi mereka sampai pada Rain, hatinya ikut merasakan sedih yang mendalam.


"Mereka korban tumbal pesugihan ?" Rain sudah berkaca kaca menatap Nino. Kekasih hantunya ini mengangguk, "termasuk Adry," jawab Nino.

__ADS_1


"Hah??!" Raina menenggelamkan wajahnya di dada Nino, berlinang air mata merasakan kesedihan betapa teganya om Yuan, seakan hati nurani bisa dibeli oleh harta yang tak nyata ini. Sudah tak ada lagi sifat manusiawi di dalam dirinya. Beberapanya mengalami kecelakaan yang disabotase oleh makhluk yang menjadi peliharaan om Yuan.


Ada banyak ruangan disini, berpintu putih.


"Kamar Gea sebelah mana?" tanya Rain.


Adry keluar dari kamar Gea yang terkunci, "No, Rain, Dika !" panggilnya dari lantai atas. Ketiganya langsung menuju lantai atas. Tapi tiba tiba saja langkah kaki Rain terhenti, kakinya ditahan oleh sesuatu. Rain menoleh,


"Aaaa !!" ia langsung memeluk punggung Dika yang berada di depannya refleks.


Kakinya dipegang oleh seorang anak yang mukanya hancur, bola matanya saja meleleh keluar "mana mobil mobilan Ragil ??!" tanya anak yang kepalanya berlumuran cairan kental merah segar, bahkan kepalanya gepeng, kedua tangannya mencengkram kaki kiri Rain.


"No, tolongin aku..kaki aku !!" ucap Rain teredam punggung Dika yang dipeluknya.


"Ragil, jangan ganggu kaka ini ya, nanti mobil mobilannya dicariin !" pinta Nino. Bocah berusia sekitar 4 tahun ini mengangguk, ia berbalik dengan kaki yang terlihat tulang persendiannya. Rain sudah merasakan kakinya ringan dan dapat di langkahkan.


Rain melepaskan pelukannya dari Dika, " sorry kang, baju loe gue remes..gue masih belum biasa liat mereka kalo datangnya tiba tiba !" ucap Rain. Gadis ini mengedarkan pandangannya pada rumah yang terkesan lembab ini, ada sosok legenda Indonesia yang kebanyakan orang takuti, berdiri di ambang pintu dapur hanya berjarak beberapa meter saja, guling panjang berikatkan tali di beberapa bagian, mata kaki, lutut, perut, pucuk kepala, leher. wajahnya kosong hanya memunculkan bola mata bulat merah tanpa ada kelopak mata, mulut ataupun bagian wajah lainnya, keringat Rain sudah mengucur, tangannya kembali meremas jaket Dika.


"Ga apa apa," Dika mengulurkan tangannya pada Rain, Nino hanya mengulas senyum tipis, ia harus sedikit berbagi hati sekarang dan merelakkan Dika untuk membuktikan cintanya pada Rain.


"Jalan aja honey, jangan diliatin..dia ga akan ganggu selama ada aku dan Adry disini !" jawab Nino.


Adry berada di depan pintu kamar Gea, ia memutar kuncinya.


"Gea No, Gea ta sadarkan diri !" ucap Adry.


"Gea sedang di alam lain Dry, " ucap Nino. Mereka masuk, melihat tubuh Gea terbujur kaku di atas ranjangnya, kulitnya hangat dan nafasnya teratur tapi roh dan jiwanya sedang tak disini.


"Ge, loe harus cepet sadar Ge," ucap Rain mencoba mengguncang tubuh Gea. Raina kembali melow, air matanya hampir meleleh, ia menjadikan pundak Nino sebagai tempatnya bersandar.


"Tega banget om Yuan sama anaknya, tega banget dia sama orang orang itu !" ucap Rain. Gadis itu melihat Adry, bahkan kekasih anaknya saja ia tumbalkan.


"Ge, loe harus bangun Ge..kembali ! bukannya loe mau kuliah bareng gue, bukannya loe mau coba buat lamar kerja kan ?" Lirih Raina.


"Hari ini jum'at wage. Ada kemungkinan Gea bersama makhluk itu !" jelas Dika.


"Buat apa? mau diapain?" tanya Rain.


"Jadi pemuas na*f$uuunya," jawab Dika menunduk, kebetulan ia sekarang sedang mempelajari buku sejarawan budaya, bab tentang pe$u*gihan. Adry mengetatkan kepalannya,


"Apa ga cukup nyawa gue jadi korban, sekarang anaknya pun dijadikan korbannya ! gue ga sangka om Yuan sebia*dab itu, tau bakal seperti ini dari dulu gue ajak Gea kawin lari dan pergi dari kota ini !" sesal Adry.

__ADS_1


__ADS_2