Guardian Ghost

Guardian Ghost
Ritual sesat


__ADS_3

Perawakannya tak besar, bahkan kulit keriputnya membalut tulang yang sudah renta dan bungkuk, tapi staminanya tak kalah dari orang orang muda.


Mobil Rain terparkir di halaman sebuah pondok tua, beratapkan daun rumbia. Dingin yang menusuk kulit hingga ke tulang memaksa mereka untuk singgah dan menikmati secangkir kopi panas. Halaman tanah merah berpagarkan bambu yang tersusun rapi, menjadi pembatas antara tanah milik aki dan tetangga.


Seorang wanita tua memakai jarik dan kebaya usang datang membawa satu nampan berisi beberapa gelas sesuai jumlah tetamunya.


"Maaf ki, kedatangan kami kesini ingin mencari seseorang," ucap Dika.


"Saha?" (siapa?) tanya si kakek tua, seraya bibir yang berkeriputnya menyesap lintingan tembakau, digulung secara sembarang tanpa alat ataupun mesin.


"Pak Yuan !" jawab Raina.


"Sebaiknya aden aden sama neng pulang saja ! di leuweung (hutan) sana berbahaya !" wajah tua si nenek tampak khawatir menatap mereka nanar.


"Insyaallah aki, nini...masih ada Allah yang akan menolong kami !" jawab ustadz Dzul.


" Orang yang kalian cari memang sering bolak balik kesini, orang orang kampung sini sudah mengenalnya. Ia pengabdi setia sil*uman kerbau." ucapannya datar, menatap nanar ke arah dipan.


"Hah??!" pekik yg lain.


Pantas saja Rain melihat siluet dua buah tanduk sewaktu di rumahnya tempo hari.


"Entah berapa orang yang sudah menjadi korban, atas keegoisan dan ketamakannya!" sedih melihat orang orang sekarang makin kesini bukannya semakin mendekatkan diri pada Allah, dunia fana ini hanya persinggahan sementara sebelum akhirat yang kekal abadi, tapi seperti mata mereka tertutup oleh na*vvsu duniawi, mereka lupa dengan adanya neraka.


"Kami ingin menolong teman kami, aki..nini !!" ucap Rain.


"Tolong kami, setidaknya tunjukkan saja jalannya!" Rain membungkukkan kepalanya memohon.


"Aki, ditolong saja atuh kasian !" pinta si nenek.


Aki Darma namanya, ia menatap jam dinding tua yang dihinggapi cicak. Bahkan suara toke dan kodok yang ukurannya besar pun terasa begitu mencekam disini.


"Kunci pintu ni, minta jang Warsa menemani baca saja ayat kursi dan taburi garam di sekeliling rumah !!" pinta aki Darma.


Sebahaya itu kah?? lalu siapa aki kuncen yang sudah membawa om Yuan menemui dan memberi mahar pada sil^uman itu, siapakah penghubung antara mereka?


Aki Darma masuk ke dalam kamar, hanya ada gorden hijau saja sebagai penghalangnya.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, aki siap siap dulu !" ucapnya.


"Diminum dulu untuk menghangatkan !"pinta nini.


Rain menggosok gosok lengannya, semakin larut dan masuk lebih dalam lagi, hawa semakin dingin. Pantas saja kebanyakan problem yang dialami para pendaki gunung adalah hipotermia.


"Dingin ya?" Nino hanya bisa meringis ia tak mampu membantu, badannya dingin, malah akan membuat Rain semakin membeku. Dika yang berada di belakang Rain menurunkan resleting jaket tebalnya, membuka dan memasangkannya di tubuh kecil Raina.


"Kang," ucapnya terkejut.


"Pake aja, gue ga apa apa..ini masih pake jaket ko !" tunjuknya menggoyangkan lengannya yang terbalut jaket tipis.


"Tapi ntar loe juga kedinginan kang," ucap Rain.


"Sutt !! ga usah berisik. Pake aja !" ia kembali masuk ke dalam. Nino menyunggingkan senyumnya, Dika memang akan mampu untuk menjaga Rain. Tangan Nino menyentuh tangan Raina, berharap dengan menggosok gosoknya maka akan timbul hawa panas. Meskipun itu mungkin antara mustahil dan mukjizat.


Aki Darma sudah keluar dari rumah, memakai pangsi hitam dan blangkon, membawa serta tas selempang.


"Bismillah, tinggalkan saja mobil kalian disini !" pintanya. Dari sini mereka semua berjalan. Selepas kepergian semua, nini langsung memanggil Warsa cucunya dan menaburkan garam tak lupa mengunci pintu dan mematikan bohlam luar.


Pepohonan yang tingginya diatas 5 meter menghiasi perjalanan mereka, bahkan pepohonan saja seperti sedang menakut nakuti mereka semua, langkah kaki mulai harus di perhatikan, jalanan licin sepaket dengan tanah merah. Binatang binatang malam bersahutan bak musik sambutan selamat datang, tak ada hewan yang tak menyeramkan disini, ulat bulu saja sebesar besar jempol Raina, membuat Ve bergidik geli.


Jam merayau para hewan nocturnal. Jalanan sedikit menanjak dan menurun, melewati hulu sungai dan beberapa kebun bambu. Rain mengeratkan pegangannya di lengan Nino, dengan Dika yang setia di sampingnya, Rain sesekali mendongak bukan hal yang asing jika makhluk makhluk mulai berdatangan menyambut mereka. Percayalah menurut pandangan Rain dan Dika ini lebih mirip seperti pasarnya makhluk berbeda dunia.


Tawa yang melengking membuat bulu kuduk berdiri dan diskoan, menciutkan nyali. Cara mereka berinteraksi memang antimainstream.


"Astagfirullahaladzim !!" beberapa kali gumaman itu yang menjadi penguat mereka. Belum lagi makhluk makhluk yang bentuknya berbeda, kebanyakan berbentuk hewan dan perempuan seolah mengikuti kemana mereka pergi.


"Aki kenapa bisa tau ki?" tanya ustadz Dzul.


"Soalnya...." aki Darma menjeda ucapannya.


"Soalnya dulu aki mantan kuncen disini, aki sering membawa beberapa orang untuk menyampaikan maharnya untuk beberapa makhluk disini !" jawab ki Darma, mereka tercekat dengan pengakuan ki Darma.


Jalur yang kami lewati berbeda dengan jalur pendaki gunung, bukan jalur untuk pecinta alam.


"Siapa yang ingin kalian tolong?" tanya ki Darma.

__ADS_1


"Namanya Gea, ki. Dia adalah anak om Yuan sendiri !" jawab Rain mengeratkan pelukannya saat ia menatap ke atas pohon bambu. Sungguh bukan pemandangan yang bagus.


"Tumbal?" tanya ki Darma.


"Mungkin ki, Gea sudah seperti mati suri !" jawab Dika.


"Oh, berarti bukan nyawa yang ia tumbalkan, walaupun ujung ujungnya teman kalian itu harus ikut juga ke dunianya !" jawaban ki Darma membuat Adry mengerti satu hal.


"Teman kalian akan dijadikan pengantin siluman itu !! kalau tumbal biasanya langaung tak bernyawa, entah itu lewat kecelakaan yang mendadak atau sengaja bunuh diri ! jawab ki Darma.


"Hah??!!" pekik mereka, tidak termasuk Dika yang sudah mengira semua ini.


"Busettt, ada orang yang rela punya mantu si^luman ke*bo !! apa isi dunia ini udah ga ada lagi cowok ganteng ? " Romi menggelengkan kepalanya.


"Astaga gue ga nyangka !!" tambah Ve.


"Ga habis pikir gue sama pemahaman om Yuan !!" Fadly berkutik.


Adry semakin mengeratkan kepalan tangannya, "Disana sedikit lagi tempatnya !" tunjuk ki Darma.


Ki Darma mengintruksikan agar kami berjalan pelan pelan, mereka menurut. Bukan hanya om Yuan saja yang ada disana. Ada beberapa lainnya, manusia dengan frekuensi yang sama, aliran sesat tengah berkumpul untuk bersiap siap masuk neraka.


"Letaknya memang begitu diistimewakan, ada undakan tangga merah disana di depan sana, dengan hulu air, dan sebuah batu bertutupkan kain putih dan beberapa nampan sesaji di depannya.


"Udah pada sedeng ini orang, gillaaakkk !!" gumam Tria.


"Jadi pengen bawa sound sistem terus setel murotal qur'an disini tau ngga !" jawab Ve.


"Itu om Yuan !!" tunjuk Raina, seorang pria dengan seorang kuncen lainnya sedang berbincang untuk bersiap ritual Jum'at wage nya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2