
Semenjak hari itu, Nino jarang muncul. Bahkan hanya sesekali saja ia hadir. Terasa ada yang hambar, tapi apa?
Raina sedang duduk di bangku taman, tiba tiba saja seseorang duduk di sampingnya.
"Mila?! ngagetin aja !" ucap Raina.
"Hay, Ra..udah beberapa hari ga liat loe di kampus ?" tanya Mila.
"Iya, abis ada urusan dulu Mil, " jawab Raina.
"Tumben dengerin musik, " tunjuk Raina pada telinga Mila.
"Iya, lagu kesukaan gue yang lagi hits !" jawabnya.
"Apa?" tanya Raina menanyakan judul lagunya.
"Pudar, penyanyi nya perempuan..lagi hits lagu ini !" Raina sedikit mengernyitkan dahi, rasanya lagu ini adalah lagu lawas.
"Raina !!!" seseorang memanggil Raina.
"Dita, sini !"
"Mil..gue.." Raina semakin aneh, ia merasa ada yang tak beres dengan Mila.
"Loe dicariin pak Yuda !" teriaknya.
"Mampoos gue, gue lupa bimbingan ! kalo gitu gue ke ruangannya dulu !" ucap Raina segera berlari.
Tok..tok..tok..
"Misi pak, "
"Masuk !"
"Kamu sudah sehat?" tanya nya. Raina mengangguk, "sudah pak, "
"Kalau begitu, saya minta tugasnya dikerjakan secepatnya, " ia melihat sebuah kalender kecil di mejanya.
"3 hari dari sekarang !" Raina membulatkan matanya.
"3 hari pak?!" tanya nya, rasanya pendengarannya masih berfungsi dengan baik.
"Iya, kenapa? tak mampu? kalau begitu silahkan angkat kaki, lalu cari dosen pembimbing lainnya, " pintanya angkuh.
"Mampu pak..mampu !" padahal hatinya sudah menandai dosen killer bin terkenal sadis ini. Dikempesin ban mobilnya enak nih, pikir Rain. Semilir angin siang membawa aroma melati ke ruangan pak Yuda. Aku celingukan ke sekeliling ruangan.
"Liatin apa ?!" tanya nya.
"Parfum ruangan bapak kaya bau kuburan !" jawab Raina.
"Saya tidak memakai parfum ruangan, " jawabnya.
"Justru saya kira kamu senang memakai parfum melati, " kembali jawabnya.
"Engga pak, saya emang suka bunga tapi ga melati juga !" jawabku. Sekelebat pertanyaan muncul,
"Pak, boleh saya tanya. Tapi maaf ini agak sedikit pribadi ?" tanyaku hati hati.
"Apa?" tanya nya mengangkat alisnya sebelah, sebenarnya pak Yuda ini baik, hanya saja saat pembagian sifat ramah, ia absen. Makanya ia sinis dan jutek.
"Saya sering liat bapak kalo pergi sama cewek, cewek bapak ya?" tanya Raina, meskipun terbilang seperti netizen tak tau diri. Selalu ingin tau urusan orang, Raina harus memastikannya.
"Saya kemana mana selalu sendiri, tinggal pun sendiri, hanya ada asisten rumah tangga saja di rumah, itupun sudah paruh baya," jawabnya membereskan beberapa file diatas mejanya.
Raina terkejut, pasalnya wanita itu dilihatnya sejak lama, selalu ikut kemanapun pak Yuda pergi.
"Masih adakah pertanyaan kamu? kenapa, kamu mau mendaftar jadi pendamping saya?" tanya nya lempeng, hampir tak bisa dibedakan mana muka mana jalan tol.
"Engga pak, ya udah saya permisi..makasih dan wassalam !" jawab Raina segera keluar. Pak Yuda menarik senyuman tipis seraya menggeleng.
"Cih, ogah amat..mendingan jomblo seumur umur daripada harus punya pacar kaya pak Yuda."
Telfon Raina berdering, Dika sudah menjemputnya di depan parkiran. Raina berjalan menuju parkiran, ia bertemu Hafiz.
"Raina, apa kabar?" tanya nya.
"Ka Hafiz, baik..."
"Darimana?"
"Dari ruangan pak Yuda, "
"Oh, " oh nya Hafiz seperti berbeda.
"Oh ya, kata Dita kamu mau ada yang ditanyakan. Apa?"
"Ahh iya, ka Hafiz tau Mila anak akuntan semester 5, " Hafiz mengerutkan dahinya.
"Mila?" tanya Hafiz.
"Karmila !" jawab Raina menegaskan. Hafiz terlihat terkejut mendengar nama itu.
"Eng..engga..gue ga kenal ! sorry gue permisi !" jawabnya terkesan buru buru.
"Aneh, " gumam Raina. Ia segera ke arah parkiran.
__ADS_1
"Hay, maaf ya lama !"
"Ga apa apa, baru ko !" Dika tersenyum mengusap kepala Raina.
Mata Raina mengikuti arah berjalan seseorang, lalu membelalak.
"Itu...itu !!" tunjuk Raina. Seorang perempuan menggelayuti pak Yuda, tapi..ia membelakangi Raina.
"Kang, "
"Iya aku liat !" jawabnya.
"Pak Yuda tuh hidup sendiri, dan terkesan tertutup kang !" jawabku tak percaya.
"Ini makin aneh deh, "
"Ya udah naik dulu deh, mikirnya sambil cari makan deh. Mau ikut ke distro?" tanya nya. Raina mengangguk, ia tau akhir akhir ini distro sedang ramai, distro Dika malah akan launching outlet cabangnya.
Melihat Dika sibuk, Raina tak ingin mengganggunya. Ia malah sibuk memainkan ponselnya.
"Ka Hafiz aneh deh, kalo Dita tau ga ya. Secara dia ikut senat juga !" gumam Raina duduk di ruangan Dika.
Raina mengajak Dita bertemu di dekat distro.
"Cowok loe Ra?!" tanya Dita.
"Iya, "
"Hemm, gue kira loe belum ada..bang Hafiz ga gercep sih !" gumamnya tak terdengar.
"Kenapa Ta?"
"Ah engga, "
"Cowok loe udah hebat, tinggal bawa halalin loe aja !" kekeh Dita.
"Gue belum kepikiran nikah Ta, otak gue aja mumet sama tugas ! pak Yuda ga kira kira tau ngga ! ngasih tugas mesti beres 3 hari, " keluhku.
"Hem, si killer..udah dari dulu. Sama bang Hafiz aja gitu, loe ati ati aja Ra, rumornya dia dulu gebet mahasiswinya sendiri, terus dipacarin..ditidurin ! ditinggal, " ucap Dita menyeruput minumannya dari sedotan.
"Hah?!! yang bener?" tanya Raina.
"Iya beneran, loe ga update sih..mahasiswinya aja sampe bunuh diri..dia temen baiknya bang Hafiz malah !" jawab Dita. Raina menyipitkan matanya.
"Siapa namanya?!" tanya Raina.
"Ka Lala, "
"Lala?!" tanya Raina.
"Tapi ko rasanya gue ga percaya sih, pak Yuda kaya gitu ! " jawab Raina.
"Ya udah kalo ga percaya, "
"Kalo iya, kenapa ga dipenjara coba?" tanya Raina.
"Soalnya buktinya ga cukup kuat, " jawab Dita.
Ceklek, Dika membuka pintu ruangannya.
"Eh, maaf ya..ada tamu malah dianggurin, " sapa Dika.
"Eh, ga apa apa..maaf malah ganggu. Tiba tiba aja nih, si Raina ngajak ketemuan disini !" ucap Dita.
"Maaf ya jadi ngacak ngacak tempat kerja kamu, " nyengir Raina.
"Ga apa apa," jawab Dika duduk di samping Raina.
"Gue Dika, "
"Dita, "
"Gue ga nyangka cowoknya temen gue to, yang punya distro ini, suer..baju bajunya bagus banget !" ucap Dita memuji.
"Ah iya makasih, nih !" Dika menyodorkan sebuah voucher.
"Eh apa nih? " tanya Dita.
"Hari Minggu ada launching outlet cabang baru, itu voucher biar dapet diskon 50 persen, datang aja !" jawab Dika.
"Woah !!! keren, sering sering aja. Cowok loe baik Ra, baru kenal aja ngasih voucher. Ga kaya loe, "
"Dih, gue juga baik. Apaan tiap istirahat aja, loe seringnya ga bawa duit ! awas aja gue itungin semuanya, terus gue lipat gandakan !" decih Raina.
"Renten..." kekeh Dita.
"Ta, besok temenin gue ke ruang arsip ya !" ucap Raina.
"Mau ngapain??! loe mau dikeluarin? ogah gue !"
"Mau ngapain yank?" tanya Dika.
"Mau maling komputer, ya enggalah ! mau cari arsip !"
"Ogah, gue takut ketauan !" jawab Dita.
__ADS_1
"Loe gilak ya, kita udah semester 4 Ra, udah setengah jalan..masa iya mau dikeluarin," ucap Dita.
"Ya udah kalo loe ga mau, gue bisa sendiri !" jawab Raina. Dika memegang tangan Raina.
"Harus kang, ga ada yang bisa kuandelin sekarang. Aku ga berharap Nino bakalan tolong aku, " ucap Raina.
"Oke aku bantu, " ucapnya.
"Loe jangan sampe bocor sama siapapun Ta, masalah ini."
"Loe mau cari tau apa sih Ra, "
"Gue mau cari tau data seorang mahasiswi, "
******************
Raina duduk di ruangan kerja bersama yang lainnya.
"Horang kaya aja masih ngelamun, apalagi orang kismin kaya gue ?!" ucap Romi membuyarkan lamunan Raina.
"Mikirin negara, " jawab Ve.
"Ga usah dipikirin, ada presiden ini ko !" jawab Tria.
"Ck, bukanlah !"
"Mikirin kapan Dika lamar loe? gas Dik, udah dapet kode tuh !" ucap Fadly. Dika tersenyum, "dibawa ketemu mamah aja keringet dingin, "
"Ishh ! ko rasanya ga mungkin ya, " gumam Raina.
"Apanya yang ga mungkin, " tanya Ve.
"Dika???" tanya Romi.
"Apa sih ka Romi, Dika Dika mulu...tuh orangnya ada di depan, kalo kangen tinggal bilang !" jawab Raina, Romi dan yang lain tertawa.
"Kurang aj4r ga sih, gue sampe nanyain pak Yuda dah punya cewek apa belum?!" gumam Raina.
"Hah?! wahhh ga bener cewek loe Dik, masa baru jadian mau selingkuh !" jawab Romi menggoda Raina.
Raina mengambil pulpen dan melemparnya ke arah Romi. "Ih mulutnya ! emak emak banget !"
"Cuma pak Yuda kuncinya, " Dika mengerti apa yang Raina maksud.
"Ka Tri, bisa temenin gue ngga nanti bareng kang Dika, " tanya Raina.
"Tuh..tuh...ngajak ngajak Tria lagi, " Romi segera berlari sebelum banteng dalam diri Raina ngamuk lagi.
"Kang, ka Romi nyebelin banget sih ! ga usah diundang kalo nanti kawinan !" jawab Raina ngasal, sontak Dika terkejut sekaligus senang.
"Cieeeee !!!"
"Maksud gue kawinan kucingnya kanh Dika ! ah udahlah !" Raina frustasi digoda terus terusan. Mereka tergelak melihat pipi fugu Raina.
"Ngikut kemana?" tanya Tria.
"Gue mau bobol ruang arsip di kampus !" jawab Raina.
"Mau cari data mahasiswi Tri," jawab Dika melengkapi jawaban Raina. Alhasil Dika lah yang kini sedang membantu Raina mengerjakan tugasnya di laptop.
"Loe lagi ngerjain apa sih Dik ?" tanya Tria.
"Tugas gue !" kekeh Raina.
"Dih, nih anak..yang kuliah sapa yang ngerjain sapa !" ucap Tria.
"Capek lah, pusing..mesti beres 3 hari, kang Dika kan dulu anak management bisnis," keluh Raina.
"Nanti loe ga bisa, kalo praktek di perusahaan !" jawab Tria.
"Kan ada..." tunjuk Raina dengan dagunya pada Dika.
"Mamah apa kabar yank ?" tanya Raina melirik Dika yang serius mengerjakan tugas Raina.
"Baik, nanyain kamu terus. Katanya kapan ke rumah lagi, " jawab Dika.
"Nanti deh selesai kasus ini, "
"Sambil ngomongin lamaran ya?!" tanya Tria.
"Lama lama ka Tri ketularan nyebelinnya ka Romi !" ketus Raina.
"Hahahaha, terus mau kapan? Dika bentar lagi udah jadi bujang tua !" jawab Tria tak tanggung tanggung.
"Kamvrettt ! gue masih 26 otewe 27 ! sama kaya loe ! " jawabnya tak terima.
"Dih ngatain bujang tua, sendirinya pacar aja ga ada !" jawabku.
"Gue mah gampang, tinggal nunggu nih anak siap, kapanpun seserahan siap !" jawab Dika. Raina melirik, dari tadi pembahasannya nikah dan nikah.
"Ganti topik bisa ga ? yang lucu lucu kek,"
.
.
__ADS_1