
Dika meneliti lagi dengan seksama, tak banyak basa basi, ia langsung menghubungi alamat email Gea.
Setelah menghubungi Gea, Dika meminta bertemu dengan gadis itu, "Rain, loe mau ikut buat ketemu Gea?" tanya Dika.
Sebenarnya Rain sangat ingin menemui Gea, namun ia sudah berniat untuk menemui Rian, entah kenapa hatinya ingin sekali menemui bocah itu malam ini.
"Loe aja sama yang lain deh kang," jawab Rain.
"Oh, oke !" Di depan gedung Rain berpisah dengan Dika yang menggunakan motornya bersama Romi. Mata Dika melihat Rain yang masuk ke mobil dengan Nino yang sudah di dalam, Dika hanya ingin melihat Rain sampai gadis itu hilang dari pandangannya.
Mobil Rain melaju keluar dari parkiran stasiun radio,
"Puk !!" tepukan Romi menyadarkan Dika dari lamunannya.
"Kalo suka bilang aja !! mumpung janur kuning belum melengkung, lagian tuh anak jomblo kan?" ucap Romi.
"Ga usah ngaco, siapa juga yang suka sama tuh anak !"
KLIK !
Helm terpasang, dan Dika naik ke motornya.
"So so ngeles kaya bemo !!" gumam Romi sambil mengekor laju motor Dika. Motor bertuliskan Harley Davidson, motor tua ber cc besar berhenti di depan sebuah cafe, Dika turun dari kuda besi itu.
"Disini janjiannya?" tanya Romi di samping Dika.
"Yoi, "
Dika mendekati gadis berambut panjang namun ikal di ujung seperti Raina, namun bedanya gadis ini berkulit hitam manis. Hidungnya pun tak terlalu mancung.
"Gea?" lirih Dika.
"Ka Dika?" tunjuk Gea.
Keduanya duduk di depan Gea. Mereka memesan minum dan mulai mengobrol.
.
.
"Makasih pak," ucap Raina seraya membawa beberapa kantong kresek nasi bungkus. Setelah mengetahui jika Rian berada di dekat lampu merah Rain segera memesan beberapa bungkus nasi.
"Rian !!!" teriak Rain.
"Ka Raina!!" jawab Rian melambaikan tangan, bocah laki laki itu sedang bersama beberapa anak lainnya yang diantaranya berjualan koran, dan tissue.
"Rian, belum pulang?? " tanya Raina.
"Hehe, Rian ngambil lagi koran kak, lumayan buat tambah tambah tabungan buat beli buku !!" kekehnya. Raina mengacak rambut anak itu, suara bising kendaraan yang lewat memekik telinga, belum lagi deru mesin kendaraan yang melintasi jembatan di atas kepala mereka ssmakin membuat Raina bergidik ngeri.
__ADS_1
"Oh iya, ini kaka bawa makan. Bagiin sama temen temen !!" pinta Rain menyerahkan kresek berisi nasi bungkus itu.
"Hey, temen temen ada makanan nih !!" pekik Rian membuat semuanya berseru, setidaknya malam ini perut mereka terisi, dan uang untuk jatah makan malam ini utuh.
"Tuhan memang mengirimkan malaikat untuk kaum manusia di bumi ini, dan salah satunya kamu Raina Nistia, aku yakin banyak orang menyayangi kamu, seberapa dunia dan takdir merenggut kebahagiaan, kamu tidak akan pernah kehilangan tawa dan senyum hangat itu, karena kamu sendirilah tawa dan senyuman itu " Nino memperhatikan manusia yang membuatnya semakin merasa ingin terlahir kembali ke dunia ini hanya untuk melihatnya tersenyum.
Di tengah bisingnya kendaraan, Raina menemukan siluet sosok itu di sebrang sana, terhalang beberapa mobil yang melintas dengan cepat, matanya melotot kala si sosok itu merangkak menyeret tubuhnya maju mendekati Rain.
Raina menutup matanya, ia kelimpungan mencari tempat persembunyian, bukan hanya Raina saja yang bisa melihat dia, Rian yang baru saja akan memakan nasinya itu berlari memeluk Rain.
"Ka Rain, itu dia !!!" anak itu menyembunyikan kepalanya memeluk Rain.
" Rian melihatnya kah?" anak itu mengangguk. Nino mendekat dan memeluk Rain.
"It's oke honey, dia tidak akan berani mendekat selama ada aku disini," ucap Nino.
"Tapi aku takut, No !" bisik Rain.
"Sebaiknya kita ajak Rian pulang dahulu !!" ucap Nino.
"Rian, sebaiknya kita pulang dahulu, dimana rumahmu ?" tanya Rain di gang sana kak !!" tunjuk Rian menunjuk ke arah sebrang jalan tempat mereka berada.
"Tapi Rian takut dia kak!"
"Insyaallah dia tidak akan berani mendekati kita, berdo'alah minta perlindungan Allah !"
Raina segera memasukkan beberapa bungkus nasi ke dalam tas Rian, "ini untuk keluargamu, ya !" anak itu mengangguk.
Kampung yang lumayan padat ini, terbilang cukup sepi, hanya ada binatang malam yang menemani langkah mereka.
Srek...srekkk...srekkk...
Suara tanah yang tergesek sesuatu dari arah belakang, di dekat lapangan kosong di arah belokan suasana terasa mencekam.
"Jalan saja, dia mengikuti !" ucap Nino.
Jantung Rain semakin berdegup kencang, begitupun Rian yang sudah mandi keringat.
"Ka, Rian takut..dia suka datang ke depan rumah !!" ucap bocah itu.
"Rian, kaka mau tanya. Cincin itu dimana?" tanya Raina.
"Apa Rian masih simpan?" tanya Rain. Raina harus sangat bersyukur karena Rian bukanlah anak yang tamak. Sadar akan barang milik orang lain, ia menyimpannya di rumah.
"Ada kak, di dalam sarung bantal Rian !" jawab anak itu.
"Sepertinya itu yang membuat dia mengikuti kita !!" jawab Raina.
Srekkk...srekkk..srekkkk
__ADS_1
Raaaaarrrrrrghhhh......
Sontak mereka diam, mata mereka membola, saat berbalik, sosok itu memang sudah ada di belakang mereka beberapa puluh langkah tepat di belokan dekat lapang tadi. Dan kini ia tidak merangkak, ia berdiri walaupun dengan kaki yang terbalik dan terpincang pincang.
"Ka Rain !!!"
"Ya Allah !! No !!"
Sosok itu berlari mendekat seakan nekat.
"Lariiii !!!" keduanya berlari, namun Nino menghalau, membuat sosok itu terpental jauh hingga terlempar dan ambruk. Setidaknya memberikan Rain dan Rian untuk lari dan kabur.
Keduanya berlari dan sampai di sebuah rumah kecil bertingkat namun kumuh.
"Ayo kak masuk!" ajak Rian.
"Assalamualaikum !"
"Waalaikumsalam !" seorang ibu paruh baya menyambut, wajahnya lusuh seperti kelelahan dengan beberapa orang anak lainnya, sepertinya adik adik Rian.
"Bu, kenalin ini kak Rain, dia baik bu borong koran Rian dan ajak Rian makan juga, hari ini aja dia bawain kita makan !!" Rian menyerahkan beberapa bungkusan nasi itu pada ibunya.
"Alhamdulillah, makasih neng !!" ucap ibu Rian.
"Sama sama bu, Rian berapa bersaudara bu?" tanya Raina.
"4, neng dan Rian yang paling besar," jawab ibu Rian. Di tengah percakapan mereka ada yang mengetuk pintu rumah Rian.
"Biar Rian aja bu, " Rian beranjak dan membuka pintu rumah. Betapa terkejutnya ia saat pintu kayu itu di buka wajah hancur dan hanguslah yang menjadi pemandangan yang ia lihat.
"Aaaaaa !!!"
Rina menutup kembali pintunya membuat mereka semua tergelonjak kaget. Lalu Nino kemana?
Seketika lampu padam membuat keenam orang di dalamnya terkejut, ibu Rian keluar rumah untuk melihat sikring listrik, ketiga adik Rian mengekor.
Blughhhh !! pintu rumah tiba tiba terkunci menyisakan Raina dan Rian.
Raina menyalakan flash dari ponselnya,
Srekkk...srekkk...srekk....
Rarrrrrrr....suara tenggorokan yang rusak itu terdengar lagi, belum lagi bau hangus dan bang*k@i tercium lagi.
"Ka Rain,"
"Dia disini, cepat lari !!" Rian dan Raina berlari ke dalam kamar Rian yang hanya tertutup tirai tipis keduanya lalu mencari bantal Rian,namun pencarian mereka terkendala dengan sosok yang semakin mendekat.
.
__ADS_1
.
.