Guardian Ghost

Guardian Ghost
Penelusuran 2


__ADS_3

"No !!" Rain menoleh pada Nino.


"Gue cari Ve, " jawab Nino.


Seketika Nino menghilang, "ini si Tria kenapa?" tanya Dika, yang masih kemasukan oleh bayi itu.


Kang Dika menyentuh pundak Tria, dan menyuruh bayi itu keluar dari tubuh Tria, anehnya entah sihir apa yang ia pakai, roh bayi itu menurut dan tubuh Tria seketika ambruk, ditangkap oleh Fadly.


"Kang, kayanya kita ga usah mencar lagi deh, ini udah masuk waktu jam 1 pagi, " Rain melihat jam di tangannya. Dika mengangguk, "iya, sebaiknya kita barengan aja !"


Nino kembali, "Ve di ruang penyimpanan keranjang teh," ucap Nino.


"Dimana itu Rain?" tanya Dika membuat yang lain kebingungan, karena hanya Dika dan Rain yang bisa melihat Nino.


"Ikut gue kang," tutur Rain,


"Loe bisa bangun ga Tri?" tanya Fadly.


"Bisa bisa, insyaallah gue masih kuat !" jawabnya, Romi memberikannya minum terlebih dahulu.


Setelah terlihat lebih baikan mereka semua melanjutkan perjalanan, baru akan masuk melewati ruangan pengemasan teh mereka dikejutkan dengan sosok besar hitam berbulu, jangankan bisa melawan, kakinya saja 2 kali tinggi rata rata badan mereka, dipenuhi oleh bulu lebat, perutnya buncit dan wajahnya sangar bak monster bertaring tajam.


Jantung Rain berdegup kencang, baru kali ini ia melihat makhluk sebesar dan seseram ini.


"No, itu apa ?" bisik Rain.


"Itu yang namanya genderuwo !" bisik Nino.


"Loe liat kan Rain, pabrik loe lumayan gokil !" seru kang Dika.


"Dia ganggu ga sih?" tanya Rain sedikit gemetar memegang senter.


"Selama kita ga ganggu disini, dia juga ga ganggu, cuma memang kita harus meminta ijin dulu pada penunggu yang jagain disini !!" jawab Dika melihat lihat kawasan ini.


"Siapa Dik?" tanya Romi.


"Dia !!" tunjuk Dika pada si sosok besar itu.


"Sape sih ??" seru Fadly.


"Genderuwo di depan loe !!" bisik Rain. Dika dengan usilnya mengusap kedua mata Fadly, seketika mata Fadly membulat melihat penampakan di depannya.


"Busettt !!! Dik,, suer no kaleng kaleng ini, gue merinding abis !!" ucapnya yang sudah berkeringat. Dika dan Rain tertawa kecil.


"Gue kagak mau Dik, ga sanggup !" jawab Romi.


Terlihat seperti Dika sedang meminta ijin padanya, Rain mendongak menatap matanya, bola matanya begitu besar menatap ke arah bawah, taring yang menyembul dari dalam mulut menandakkan begitu panjang dan tajamnya, bagian gigi yang bisa mengoyak mangsanya itu. Nino pun terlihat ikut meminta ijin dengan sopan, rupanya maksud dan tujuan kami datang kesini cukup diterima baik olehnya, walaupun tidak terlalu ramah.


Mereka melanjutkan langkah menuju gudang, benar saja seperti ada pesta rakyat, tapi Rain tak melihat adanya nyai Diah dan Ve disana,


Rain menggeleng tak percaya pabrik tua milik keluarganya, bak balai warga jika di malam hari, Rain berjalan cukup menjauh dari mereka, matanya menyipit melihat seseorang sedang duduk menyalakan kemenyan di belakang toilet perempuan di luar.


Ia mendekat dan mematikan senter,


"No, itu siapa?" tanyanya tanpa berkata. Nino menggeleng.


Setelah dirasa cukup dekat, Rain menyenteri dan memergokinya tengah menaburkan bunga di sekitar toilet perempuan itu.


"Pak Dedi!!!" serunya. Pak Dedi yang kepergok langsung berlari kabur,

__ADS_1


"Pak !!! tunggu !!!" pekik gadis itu, mendengar Rain memekik yang lain mengikuti.


"Weyyy !!" pekik mereka yang baru saja keluar dari ruang pengemasan, ikut mengejar pak Dedi.


Rain berlari mengejar cukup jauh tertinggal, namun tak menemukan. Justru kepalanya merasa sakit sekali, sekelebat kenangan dulu teringat kembali, sepasang anak yang sedang bersembunyi disini bersama, memergoki 3 orang laki laki dewasa sedang berbincang, mereka adalah Baron, pak Dedi dan pak Komar. Tepat disini dekat dengan toilet.


"Awww !! kepala gue sakit No,!" Nino memeluk Rain dan membantunya duduk.


"Obat loe bawa?" tanya nya. Ia mengangguk.


"Di tas, No !" Nino mengeluarkan obat beserta minum.


"Rain, loe ga apa apa?" tanya Tria yang tak ikut mengejar karena masih lemas.


"Gue ngga apa apa," jawabnya, mereka berdua duduk melantai di tanah yang berumput.


"Gila cepet banget larinya !! tuh orang lagi ngapain sih ??" tanya Romi dan Fadly.


"Kang, coba cek deh, itu kemenyan dan sesaji kan?" tanya Rain pada Dika. Dika mengecek pada arah telunjukku di bawah pohon mangga yang berada tepat di belakang toilet wanita.


"Shitttt, sial !!!" jawab Dika.


"Guys !!!!" pekik Dika.


Kami semua mendekat, " kenapa Dik, gue rasa disini ada sesuatu !!" jawab Dika.


"Gue panggil 2 satpam lainnya ya !!" jawab Rain. Belum juga Ve ditemukan, kami malah diberi petunjuk lainnya.


Setelah memanggil, kedua satpam di depan pak Sarif dan pak Dayat menghampiri.


"Pak bisa minta tolong !!" ucapnya.


"Pak, apa disini ada cangkul?" tanya Dika.


"Sebentar pak, saya rasa kemarin masih ada, buat benerin saluran air di toilet laki laki."


Pak Dayat mengambilnya, karena hanya berjarak 15 meter.


"Coba gali pak, " pinta Dika, Pak Dayat dan pak Sarif mulai menggali, dengan disenteri oleh Fadly dan Dika.


Setelah menggali cukup dalam, tanah merah yang sudah cukup berhamburan, menunjukkan warna yang berbeda, kresek merah berlapis lapis.


"Itu apa, angkat !!" tunjuk Rain.


"Stop dulu !!!" seru Dika membuat semuanya terdiam.


"Pakai sarung tangan !!" jawab Dika,


"Tapi kita ga ada bawa Dik," jawab semuanya mengecek isi tas.


"Apa saja yang penting tidak meninggalkan jejak sidik jari !" ucap Dika mencari cari kresek.


"Ini saja pak !" Dika menyerahkan kresek bekas pada kedua satpam itu.


Rain berdiri, penasaran dengan apa yang ada di dalam sana, perlahan lahan pak Sarif membuka bungkusan yang berlapis lapis itu, masih berbalut kain putih, namun seketika bau busuk menyeruak.


"Uwekkk, anj*im bau banget !!" seru Fadly dan Romi.


"Uwekkk !!" Rain sudah tak tahan dengan baunya, begitupun yang lainnya.

__ADS_1


Betapa terkejutnya mereka, saat bungkusan putih itu dibuka, daging yang sudah membusuk dengan tulang belulang kecil seperti bayi.


"Astagfirullahaladzim !!" pekik yang lain.


"Astaga !! Rain menutup mulutnya tak percaya, dengan kepala yang melepuh karena terbakar, terlihat tulang tengkorak yang gosong, seperti yang mereka lihat tadi di kantor. Pak Dayat dan pak Sarif saja langsung bergidik dan menaruh di bawah tanah. Sungguh tega orang yang melakukan ini, sungguh bia*dab.


"Itu !!!" Rain memalingkan wajah, bersembunyi di dada Nino. Ia menangis, iba dengan nasib si bayi ini.


"Tutup kembali saja pak, segera lapor polisi !!" jawab Dika, Tria memencet ponsel dan menghubungi polisi.


"Bi@dab, " pak Dayat dan pak Sarif tak habis fikir, selama mereka bertugas. Mereka kecolongan dengan adanya kejadian ini.


"Maaf bu, kami kecolongan !!" jawab keduanya.


"Apa bapak tau siapa yang sedang berada disini dan menaruh ini ?" tanya Rain, mendekat sambil membawa sebuah bunga kantil diantara bunga 7 rupa.


Mereka menggeleng, " pak Dedi," jawab Rain lesu.


"Apa ??!!!" mereka tak percaya rekan mereka terlibat sebuah kejadian menggemparkan ini, walaupun belum dapat dipastikan apa kejahatannya.


"Sebaiknya simpan saja di tempatnya lagi, dan berjaga lah. Gue udah lapor polisi, dan sedang menuju kemari !" jawab Tria.


"Pabrik loe pasti geger, Rain!! apa tidak akan masalah? setidaknya kegiatan pabrik ini akan terganggu dengan penyelidikan polisi !" ucap Romi.


"Gue ga apa apa ka, yang penting semua terungkap !" jawab gadis itu, Nino selalu ada merangkul Rain, seakan menyalurkan kekuatan jika ia tak sendiri.


"Aaaa !!!!!" suara Ve memekik dari ruang penyimpanan keranjang teh,


"Itu Ve !!" seru semuanya.


"Sebaiknya tiga lainnya berjaga disini bersama pak Dayat dan pak Sarif," ucap Dika.


Rain dan Dika, berlari menuju arah suara.


"Lewat sini kang, !!" seru Rain.


Belum juga mereka sampai dari kejauhan saja sesosok wanita berkebaya merah dan berjarik coklat sudah berdiri menunggu mereka di pintu masuk gudang itu.


"Nyai Diah !!" seru Rain. Senyumnya begitu membuat jantung langsung beku.


"Nyai saya mohon, lepaskan teman saya yang tidak tau apa apa!!" ucap Rain lantang.


Bukannya disambut, malah sesosok berkain putih dan berkucir berdiri dan melompat dari pohon nangka yang ada di samping gudang.


"Astagfirullah !!" ucap kang Dika, wajahnya yang kosong penuh bel@tung dan lingkar mata yang mengeluarkan bola matanya, apalagi bau busuk menyengat semakin membuat Rain takut.


"Stay di belakang gue !" ucap Nino.


Suara memekik dan mendesis keluar dari dalam si kuncir yang melompat ini.


"Disini lumayan nguras tenaga Rain," lirih kang Dika.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2