
Bunyi ponselku berkali-kali berdering tapi sengaja kubiarkan. Aku tak mau menjawab panggilan itu. Kepalaku rasanya sudah mau pecah. Pesan Whatsapp, email dan panggilan telepon itu membuatku gila, naik darah aku jadinya.
“ Ray… gue mau ngomong sama lo!!!. Angkat teleponnya!!!”, pesan Whatsapp dari Dion yang merupakan salah satu partnerku. Aku berusaha tidak membuka pesannya, tapi isi pesannya terlanjur kubaca di notifikasi layar ponselku.
Dion adalah seorang pemilik agensi yang menjadi perantara diriku dengan sejumlah klien di Jakarta. Dia yang memberikanku banyak proyek selama ini. Kulempar proyek-proyek itu pada tim ku, namun sayangnya kadang tim yang aku rekrut kabur di tengah jalan. Semua proyek yang mereka kerjakan tak selesai. Klien meminta pertanggungjawaban Dion dan kini dia mengejarku. Ingin rasanya kuindahkan pesannya, namun Dion satu-satunya harapanku untuk mengais rejeki.
“ Mas nanti siang kamu belum pulang ke Jakarta kan?”, tanya Renata yang membuyarkan lamunanku sambil berdiri di depan pintu masuk ruanganku.
“ Belum Ren, aku masih banyak kerjaan. Pak Hardian juga masih ngajak aku meeting buat monitor restoran barunya”, jawabku pada perempuan yang kini duduk di hadapanku. Perempuan dengan paras cantik dan ayu. Kulitnya kuning langsat bening terawat, serta pembawaanya yang ceria selalu menghangatkan kantor ini. Renata Rahardjo, seorang wanita yang diam-diam aku kagumi sejak pertama aku melihat CV yang dia apply padaku. Renata adalah seorang wanita cerdas, mandiri, dewasa dan berkepribadian hangat.
Ia adalah seorang ibu tunggal yang mandiri. Aku mengagumi dirinya saat ia bercerita kalau Renata membesarkan anaknya seorang diri. Suaminya tak bertanggungjawab dengan pergi meninggalkan Rena saat anaknya masih kecil. Sejak saat itu Rena harus banting tulang menghidupi anak dan ibunya. Suatu sikap yang sangat aku kagumi, tidak semua wanita bisa seperti Renata.
Renata jauh berbeda dengan Rania. Rania seorang yang terlalu nyaman di zonanya. Kesehariannya hanya diam di rumah, alasannya hanya mengurus anak. jarang bergaul dengan orang-orang baru, tak heran kalau pikirannya sangat sempit. Rania masih sangat konservatif. Pemikirannya tidak fleksibel, dia hanya menjalankan apa yang menurutnya benar. Rania tidak mampu mengelola keuangan, ia hanya selalu menunggu transferan. Kebiasaannya hanya melihat online shop untuk belanja baju anak-anak. Rania selalu ingin menyekolahkan anak-anak ke sekolah bergengsi, sekolah swasta yang ada di BSD. Entah apa yang ia cari, menurutnya sekolah yang bagus adalah sekolah yang punya metode active learning lah, harus sekolah Islam lah, ada pendidikan karakter lah. Bagiku sekolah dimana saja sama, karena sesungguhnya pondasi seorang anak dibentuk oleh orangtuanya di rumah. Banyak yang anaknya sekolah negeri tapi ketika kuliah mereka bisa kuliah di luar negri. Seperti Daffa anak Renata, ia menjadi bukti ketangguhan seorang wanita yang sukses membesarkan putri semata wayangnya.
“ Mas, kenapa sih ngelamun lagi?’, tanya Renata yang masih duduk di depanku sambil memainkan ponselnya.
“ Gak ada apa-apa Ren, ini pusing kerjaan “, jawabku singkat padanya. Kutundukkan kepalaku yang sedari tadi melirik perempuan itu.
Bibir tipis Renata mengembang menyunggingkan senyum. Dia memajukan kursinya dan mendekatkan badannya ke arahku. Jemari tangannya meraba punggung tanganku yang sedang memegang mouse. Sentuhan jemarinya membuat hatiku berdesir, libidoku serasa naik menyeruak hingga badanku dibuat merinding.
“ Masa sih soal kerjaan. Di kantor ini banyak kok yang pusing sama kerjaan tapi mukanya ga sekusut kamu mas. Pasti urusan rumah tangga ya?”, goda wanita dengan bibir tipisnya yang masih menyunggingkan senyum manja. Kuraih jemari Renata, kugenggam erat tangannya. Tanganku sampai basah menahan gejolak hasrat yang menggebu-gebu. Jika aku sedang stress, libidoku bisa naik tak bisa kukendalikan. Wanita yang di hadapanku ini sungguh menggoda iman.
__ADS_1
“ Ray, ini kantor Ray. Sadar Ray jangan aneh-aneh, jaga wibawamu “, sistem limbik Amygdala di otakku tengah bekerja. Sensor pertahanan akan rasa waspada menetralisir stimulus libido yang tengah menggelora. Renata menyadari respon tubuhku yang menggebu-gebu saat itu, dia beranjak dari duduknya dan menarik jemari yang kugenggam erat.
“ Kamu harus brief tim dulu sebelum meeting dengan Pak Hardian. Aku sudah siapin laporan buat di review. Begitu selesai briefing aku harus keluar ketemu Pak David, ada kontrak yang harus dia tanda-tangani “, sahut Renata mulai menetralisir suasana.
“ Ok thank you dear, aku bikin draft meeting dulu ya”, jawabku tersenyum pada perempuan cantik itu. Kulihat Renata keluar ruangan sambil melemparkan senyum dari bibir tipisnya. Semua yang ada dalam diri Renata sangat kukagumi dan kunikmati. Ada apa dengan diriku ini, kenapa takdir harus mempertemukan aku dengan Renata?.
Bip bip bip bip bip bip
Suara ponselku kembali berbunyi. Dion kembali menghubungiku untuk kesekian kalinya. Aku gelisah, aku tak tau harus diangkat atau tidak panggilan tersebut. Aku tau Dion hendak memaki-maki karena pekerjaan yang di berikan padaku belum juga kuselesaikan.
“ Halo…Ya bro sori gue lagi meeting tadi “, jawabku pasrah menerima panggilannya. Aku beranjak dari tempat duduk dan menutup pintu ruanganku.
“ Halo bro….lo gimana sih!!!. Kerjaan lo ga ada yang beres satupun. Lo janji kasih update kerjaan dari dua minggu lalu. Sampe sekarang cuma update sebagian dan semuanya masih banyak yang perlu direvisi. Ini udah lewat deadline bro!!!!. Mau dikemanain muka gue? “, cecar Dion sambil memuntahkan semua kekesalannya padaku.
“ Lah apalagi lo di Bandung sekarang, mana bisa kerjaan beres kalo gini caranya. Gue ga mau tau ya Ray, besok lo harus meeting di Grand Indo jam 1 siang sama klien. Malem ini lo harus update semua kerjaan lo. Gak ada cerita tim lo ilang lah, lo sibuk lah, lo mau mati lah. GUA GAK MAU TAU!!! “, cecar Dion tanpa ampun padaku. Darahku serasa mendidih namun harus kutahan. Dion satu-satunya harapanku karena dia …………
“ Ray, lo denger gua ga? ‘, tanya suara di sebrang sana dengan nada ketusnya.
“ Iya Bro siap. Gue kerjain malam ini segera. Besok gua ke Grand Indo buat jelasin sama kliennya. Sori banget bro “’, sahutku sambil menenangkan Dion yang masih dibalut emosi.
Klik, tut…tut…tut
__ADS_1
Dion menutup panggilan teleponnya. Kepalaku rasanya ingin meledak. Semua beban ini sudah tak kuat lagi kutahan, semua tekanan pekerjaan dan sejumlah tagihan terus menerorku. Proyek dari Dion itu bukannya tidak aku kerjakan, tapi klien nya banyak permintaan. Proyek membuat aplikasi seharga 15 juta saja minta dibuatkan aplikasi senilai 50 juta. Aplikasi ini tak bisa kukerjakan sendiri, aku harus membayar 2 orang tim mengerjakannya. Kini tim ku hilang entah kemana, mereka sudah seminggu belum update sama sekali.
Ping !!!
Suara WA di ponselku berbunyi. Aku sudah malas membacanya, kalau bukan dari Bank, debt collector, Dion atau Pak Hardian. Aku biarkan saja ponselku tanpa ingin kulirik sedikitpun.
PING !!!
Pesan WA masuk bertubi-tubi, terpaksa kulirik ponselku. Kubaca pesannya ternyata dari Rania.
“ Pap, Kakak sakit demam tinggi dari semalam, kayanya ketularan Kica yang batuk dari minggu lalu. Aku harus ke dokter, tapi saldo rekeningku tinggal 70 ribu lagi ”, ujar Rania di sebrang sana.
Aku menarik nafasku. Sungguh kepalaku sudah sangat berat. sungguh Rania tidak membantu meredakan masalahku. Ia muncul sembari menambah masalah baru.
“ Kamu kasih obat penurun panas dulu. Sabar aja, aku masih sibuk sama kerjaan”, jawabku singkat karena tak mau lagi berdiskusi dengannya. Rania tak membalas pesanku, begitupun aku tak mau berbicara atau chatting dengan siapapun saat ini.
“ Mas Ray, udah jam 10 nih. Kamu mau briefing sekarang?”, sapa Renata sambil melongok di pintu.
Kutarik napas panjang dan aku berusaha tersenyum menatapnya. Aku berdiri dari kursiku sambil merapikan rambutku. Kuambil ponsel yang tergelatak di mejaku, dan kuberjalan mendekati Renata. Kurasakan sentuhan tangannya mengelus lenganku, ia tahu aku sedang mengalami hari yang sulit. Sambil berjalan ke ruang meeting, aku mendengar dia berbisik.
“ Semangat ya mas, kamu pasti bisa “, bisiknya pelan dengan tatapan hangat.
__ADS_1
Kehangatan dan kelembutan Renata satu-satunya penawar rasa peningku. Semangatnya selalu meningkatkan gairah kerjaku. Sosok perempuan ini hadir saat aku terpuruk, benih-benih cintaku mulai tumbuh. Aku tak bisa melawan rasa ini, Renata terlalu berharga untuk aku hindari.