
10.30 WIB – Kantor RENTZ
Bip Bip Bip Bip Bip Bip
Aku masih berkutat di depan laptop sambil mengamati progress aplikasi yang telah kubuat selama nyaris satu tahun ini. Tak mudah bagiku untuk mewujudkan mimpi untuk mewujudkan aplikasi ini. Banyak cemoohan yang kudapat karena mereka pikir produk ini tidak bermanfaat sama sekali, bahkan banyak dari Dirut di grup ini mencoba menjatuhkan posisiku karena kami dianggap benalu. Dari sekian bulan RENTZ berdiri, kami belum juga memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Bip Bip Bip Bip Bip Bip
Ponsel itu masih berdering di atas meja kerjaku. Entah siapa yang menghubungiku kali ini, ingin kuhiraukan tapi bunyinya mengganggu hingga membuyarkan konsentrasiku.
Nana Calling
“ Halo Na, ada apa?”, jawabku menerima panggilan adik perempuanku.
“ Halo Ray. Lo udah sampe kantor?”, tanya adikku dengan ketus.
“ Iya, lagi sibuk. Kenapa Na?”.
“ Lo tuh gila ya Ray, ngapain sih lo ngajak-ngajak nyokap ke hotel kemarin”, bentaknya dengan berang.
“ Loh salah gue apa? Masa gak boleh bawa nyokap jalan-jalan sih?”, jawabku tak terima dengan ucapan Nana.
“ Bukan jalan-jalannya yang gue ga suka, tapi omongan lo ke nyokap bikin dia nangis-nangis tau ga! Bisa-bisanya lo ngaku udah kawin lagi Ray!”.
“ Ya gue harus jujur dong sama nyokap, kalo memang gue udah nikah sama Renata”.
“ Elo sakit apa gimana sih Ray? Urusan lo sama Kak Rania belum selesai, anak-anak aja belum lo temuin. Sekarang lo udah nikah siri? Lo ini ga punya otak apa ga punya hati sih Ray?”.
__ADS_1
“ Hey, gue udah talak Rania sejak lama. Lo tau sendiri kan kalo gue udah pengen pisah sama dia jauh sebelum Kian lahir. Lo tau sendiri kalo Rania ga becus jadi istri, gak bisa melayani suami dengan seharusnya. Kalo sekarang gue dipertemukan sama perempuan yang bisa kasih yang gue butuhin apa gue salah nikahin dia?”.
“ Salah kalo cara lo mengkhianati Kak Rania. Masalah rumah tangga lo seharusnya lo simpan dan perbaiki dulu, bukan mengumbar aib istri sama semua orang. Lo berharap Kak Rania jadi istri seperti yang lo mau, apa lo sudah jadi suami yang Kak Rania harapkan memangnya?”.
“ Gue udah abis-abisan nyenengin Rania, gue kasih dia rumah sampai cicilan tiap bulannya bikin rekening gue tergerus, gue pontang-panting cari duit buat nyenengin dia. Yang ada bukan kebahagiaan yang gue dapet, masalah finansial gue malah membengkak. Rania ga becus jadi istri, dia cuma menambah beban gue setiap harinya”.
“ Denger Ya Ray, apa yang lo beri buat istri dan anak-anak adalah jihad lo. Kalau istri lo salah ya gak bisa salahin dia sepenuhnya, selama ini lo udah bisa jadi kepala keluarga yang bener ga?”.
“ Gini deh, selalu aja gue yang salah. Gak ada yang ngerti posisi gue. Gimana capenya gue mondar-mandir Jakarta-Bandung buat nyari duit, gimana capenya begadang sampe diomelin klien gara-gara kerjaan ga selesai. Semua tekanan ini udah ga sanggup gue pikul Na “.
“ Cape ya ngomong sama lo Ray. Bukannya tobat malah terus ngeyel. Nyokap nangis-nangis sepulang dari hotel kemaren, bisa-bisanya lo kasih kabar udah nikah tanpa persetujuan dia”.
“ Gue mau undang nyokap ke Bandung kok pas nikahan, tapi sayangnya lagi sakit kan “.
Nana terus melemparkan kemarahannya padaku di sambungan telepon kami siang ini. Aku sudah tak hiraukan semua makiannya, rasanya percuma juga menjelaskan semua apa yang kualami belakangan ini. Yang mereka inginkan adalah aku tetap mempertahankan pernikahanku hanya demi anak-anak saja, padahal di hati ini sudah tidak ada sedikitpun rasa cinta pada Rania.
“ Udahan belum ngomelnya Na? Gue lagi kerja nih bentar lagi mau briefing sama tim”, sahutku agar Nana menghentikan ocehannya.
“ Gue jamin pasti nyokap bisa nerima Renata kok, gue bisa jamin Renata bisa jadi menantu yang jauh lebih bisa sayang sama mertua. Kalo kalian gak setuju ga apa-apa. Ini adalah keputusan yang sudah gue ambil”.
“ Terserah lo deh. Selamat menempuh hidup baru. Selamat ya udah membangun surga di atas luka perempuan lain yang menganga”.
Tut Tut Tut Tut Tut Tut Tut Tut
Kubanting ponselku ke meja. Belum selesai masalahku kini muncul lagi masalah baru. Penolakan dari Nana membuat kepalaku berdenyut, otakku tak lagi bisa berpikir jernih. Tidak ada satupun orang yang mengerti bahwa keputusanku untuk meninggalkan Rania bukan karena aku semena-mena padanya, aku ingin memutus benang kusut atas semua masalah yang kuhadapi.
Ah, kuhiraukan saja pembicaraanku dengan Nana barusan. Aku harus mengalihkan perhatianku pada hal yang jauh lebih produktif, ada banyak proyek yang harus kukejar untuk menjemput rejeki istriku. Tanggung jawabku kini sudah bertambah, ada Renata yang harus kuberi nafkah, ada Daffa yang harus kuurus biaya kuliahnya serta tunjangan untuk Kila dan Kica setiap bulannya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja aku teringat Om Yan, pastinya dia sudah pulang sehabis trip dari London. Kurasa ini saatnya aku follow up proyek di Bogor, lumayan fee dari jasa konsultasi bisa menghidupi keluarga baruku nantinya. Kucari kontak Om Yan dan segera kuhubungi nomornya.
“Nomor yang Anda putar tidak terdaftar, mohon periksa kembali nomor tujuan Anda”
Suara operator tersebut membuatku bertanya-tanya, bagaimana mungkin aku salah menghubungi Om Yan. Ini adalah nomor yang biasa aku hubungi, apa dia belum sampai Jakarta ya?. Batinku masih bertanya-tanya kemana gerangan perginya Om Yan?. Apa aku harus menghubungi Dion?. Sementara saat ini Dion masih mencecarku dengan laporan keuangan yang harus kupertanggung-jawabkan.
DION
“ Bro, Om Yan masih di London apa udah di Bogor?”.
Akhirnya kukirimkan pesan singkat kepada Dion. Mau tak mau aku harus membuka percakapan dengannya, setelah sekian minggu aku menghindar dari kejarannya.
PING
DION
“ Udah “.
Aku terkejut dengan jawaban singkat Dion. Ada apa dengannya, tak biasanya dia membalas pesanku hanya dengan 4 huruf saja.
“ Gimana kelanjutan proyeknya, kapan kita bisa mulai?”.
PING
DION
“ Proyek dimulai setelah kita meeting di Jakarta. Gue minta lo dateng secepatnya. Lebih cepat lebih baik “.
__ADS_1
“ Siap Bro, besok gue dateng ke kantor ya. Lo mau nitip sesuatu ga? Gue punya sesuatu nih buat Sean “.
Menit demi menit berlalu, tak ada pesan yang masuk. Hanya terlihat dua centrang biru di status WhatsApp-ku, suatu pertanda Dion sudah membaca namun ia tak membalas pesanku. Ada apa dengannya? Gelagat aneh Dion mulai membuatku cemas, Om Yan juga tak bisa kuhubungi saat ini. Ada sebuah perasaan kalut yang muncul di benakku. Perasaan gelisah, takut, insecure bergumul menjadi satu. Apakah mereka semua tahu kalau dana yang kumasukkan adalah uang perusahaan?. Apa yang akan terjadi jika besok aku bertemu dengan Dion di Jakarta?.