Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Saksi Cerita Dion


__ADS_3

06.30 WIB - Rumah Dion


Kuhirup kopi espresso yang baru saja tersaji di meja makan sembari membuka lembaran koran. Sementara Nadine masih sibuk menyiapkan bekal untuk sarapan Sean.


“ Sean, here’s your lunch. Come on finish your breakfast before Mr. Adi arrive to pick you up”, ujar Nadine sambil membantu memasukkan bekal ke tas Sean.


“ Okay Mom”.


“ Did you finish your homework?”, tanyanya lagi.


“ Yes I did, Mom”.


“ Have you put inside your bag?”.


“ Yes Mommy, everything is in my bag”, jawab Sean dengan kesal sambil melirik ke arahku. Aku hanya terkekeh mendengar celotehan Nadine, meskipun mengesalkan tapi dialah yang memberikan warna pada hidup kami.


Tin Tiiiin


Terdengar suara klakson mobil memanggil dari depan rumah. Benar saja itu adalah mobil jemputan sekolah yang hendak menjemput Sean.


“ Hey Buddy, let’s go. Mr Adi is waiting for you “, ajakku sambil mengantar Sean ke teras rumah.


“ Bye Mom…Bye Dad “, pamit Sean sambil mencium tangan kami. Dengan gesit ia berlari menuju mobil jemputan sekolah yang telah menunggunya, kuperhatikan hingga mobil itu melaju hingga hilang dari pandangan.


Tin….Tiiiin


Lagi-lagi terdengar suara klakson mobil yang baru saja parkir di depan rumah. Sebuah mobil sedan eropa merah yang tak asing bagiku, tak lama sosok pria jangkung berhidung mancung itu keluar sambil cengengesan ke arahku.


“ Hey Bro, berdiri mulu kaya satpam “, guraunya saat melihatku masih berdiri di depan pintu.


“ Ah elo, mobil mahal sarapan nebeng mulu. Malu-maluin aja Van “, balasku saat ia berjalan memasuki pekarangan.


“ Yah maklum lah namanya juga bujangan, ga ada yang nyiapin gue sarapan”.


“ Hahaha bagus lah lo temenin gue sarapan. Pagi-pagi Nadine tuh suka kumat bawelnya, ada aja yang dibahas gak abis-abis”, celetukku sambil mengajak Ivan masuk.


“ Bawel juga lo cinta mati kan sama dia? Tar giliran dia ngamuk kaya kemaren lo belingsatan jadinya”. Seloroh Ivan sembari memelankan suaranya.


“ Eh ada anak bujang, tau aja gue lagi bikin sarapan banyak. Sini Van duduk sarapan bareng”, sapa Nadine dari dapur.


Kami duduk di meja makan yang sudah tersaji nasi goreng, jus buah dan pudding sisa dari bekal Sean. Dengan cekatan tangan istriku menyiapkan piring untuk kami sarapan.


“ Lo ga balik Bandung Van?” tanyaku pada Ivan.


“ Kemaren kan gue di Bandung nyaris sebulan, sekarang balik lagi buat beresin kerjaan. Urusan lo sama si Ray gimana?”.


“ Gue baru aja kasih kerjaan buat bayar utangnya. Baru dikerjain sebagian sih”.


“ Gimana kerjaannya? Beres ga? Setelah insiden teror itu dia minta maaf ga sama lo?”, tanya Ivan pada kami berdua.


“ Boro-boro lah, gue sih ga nanggepin teror receh macem gitu. Kerjaan dia mau gak mau harus beres, setiap proyek selalu gue CC ke email Bu Anita”, jawabku sambil menyuap nasi nasi goreng.


“ Sukurin tuh si Ray, kalau dia wanprestasi Bu Nita akan proses secara hukum. Gak usah repot-repot lagi ngadepin dia”, ujar Nadine saking gemasnya.

__ADS_1


“ Sidang Rania gimana? Ada kabar?”, tanya Ivan lagi.


“ 2 hari lagi agenda pembuktian ternyata. Hakim minta pihak Ray sama Rania buat siapin alat bukti dan para saksi. Gue lupa belum nanya sama Rania lagi, udah lama kita ga ngobrol soal sidang”, jawab Nadine.


“ Trus saksinya siapa? Harus orang yang tau seluk beluk perselingkuhan si Ray dong pastinya”, ujar Ivan penasaran.


Ivan dan Nadine serentak menatap ke arahku. Mata mereka seakan memberi isyarat bahwa akulah orang yang paling tau seluk beluk perselingkuhan mereka selama ini.


“ Kenapa liatin gue sih? Jangan bilang nyuruh jadi saksi nih”.


“ Kalo bukan lo siapa lagi Yon. Cuma lo satu-satunya orang yang tahu tentang hubungan mereka”, sahut Ivan.


“ Iya Sayang, kamu kan udah janji mau bantu Rania jalani sidang”, paksa Nadine.


“ Bantuin kan gak berarti bersaksi di depan hakim. Gak deh bantu yang lain aja”, tolakku sambil terus menyuapkan nasi goreng ke mulutku.


“ Andai aja gue bisa, pasti gue mau bersaksi buat Rania”, ujar Ivan.


“ Lo gak ada hubungannya sama rumah tangga mereka Van, mau bersaksi dari sebelah mana”, potong Nadine.


“ Setidaknya Ibunya Rania kan bisa jadi saksi. Semuanya udah cukup kok”, jawabku.


Nadine hanya diam sambil menghabiskan sisa sarapannya, sementara Ivan terlihat mengaduk-aduk nasi dengan gelisah. Sepertinya ada yang mau ia utarakan.


“ Kenapa lo Van? Kalau muka lo begitu pasti ada sebabnya tuh”, tanyaku sambil mengamati tingkahnya.


“ Gue mau ngaku. Sebenernya gue bales teror si Ray tempo hari”, jawabnya.


“ Hah? Teror gimana maksud lo?”, tanya Nadine.


“ Serius lo Van? Terus pihak sekolah gimana?”.


“ Gak tau lagi kelanjutannya. Yang jelas gue udah kasih mereka pelajaran”, jawab Ivan.


Aku dan Nadine hanya saling bertatapan sambil melemparkan pandang pada lelaki yang tengah gelisah sambil mengaduk piring nasinya.


“ Sama satu lagi “, ujarnya.


“ Apalagi ?”, tanyaku penasaran.


“ Renata WA gue beberapa hari yang lalu”.


“ Apa? Ngapain dia kontak lo? Nanyain apa?”, pekik Nadine.


“ Cuma nanya apa kabar aja sih, gak gue bales”.


“ Jangan-jangan mau balikan sama lo, gimana tuh Van”, ledekku.


“ Halah palingan juga minta duit, udah susah pasti dia cari mangsa lagi”.


“ Udah deh, sekarang balik lagi sama Rania. Siapa kira-kira yang bisa jadi saksinya?”, sahut Nadine menyudahi obrolan.


“ Benny ! Mungkin dia bisa jadi saksi”, celetuk Ivan. Kami semua akhirnya saling berpandangan sambil tersenyum girang.

__ADS_1


14.30 WIB – Bintaro Xchange Mall


“ Rania dateng jam berapa sih Nad?”, tanyaku sambil melihat jam.


“ Demi ketemu Kian gue geser nih meetingnya”, celetuk Ivan.


“ Kangen ya sama anak bayi itu, udah bisa makan tuh sekarang”, ujar Nadine.


Kami bertiga menunggu Rania di sebuah café sembari menunggu Sean ice skating seperti biasa. Hari ini Nadine menyeretku untuk menemani ke Bintaro, padahal aku dan Ivan sudah mempunyai agenda meeting dengan klien.


“ Hey udah lama nunggu?”, sapa sesosok wanita yang kami tunggu-tunggu. Ia terlihat memangku Kian yang sudah semakin besar dan montok.


“ Kian, kamu udah gede. Sini sama Om Ivan “, seru Ivan sambil meraih Kian dari gendongan Rania. Bayi itu tertawa begitu melihat Ivan sambil menjulurkan tangan. Entah apa yang membuat Kian selalu nyaman dalam gendongannya, padahal jika Kian melihatku ia selalu menangis ketakutan.


“ Rania, gimana kabar bisnis lo? Kayaknya udah mulai banyak orderan ya?”, tanya Nadine pada Rania yang duduk di sebelahnya.


“ Alhamdulillah Cik Lily hebat jualannya. Anaknya suka open PO Brownies di online shop yang mereka kelola”, jawabnya dengan mata berbinar-binar.


“ Lo belajar penjualan online juga Ran. Coba jual via marketplace, sosmed, atau jadi mitra resto online”, saranku.


“ Iya pelan-pelan Yon. Gue mau selesaikan urusan gue satu-persatu. Semoga sidang gue cepet selesai biar bisa fokus sama bisnis kue”.


“ Terus gimana agenda sidang lo? Udah siapin alat bukti sama saksi Ran?”, tanya Ivan sambil menggendong Kian yang sedang menggelayut manja.


“ Udah Van. Dari kemarin gue udah siapin alat bukti, sekarang lagi mikir saksi untuk di pengadilan”.


Kami saling bertatapan sambil melempar pandang satu sama lain. Ivan dan Nadine seakan memberi kode agar aku membuka suara, sementara Rania hanya diam seribu basa.


“ Rencana lo apa Ran? Siapa yang mau lo tunjuk?”, tanyaku.


“ Yang pasti gue mau bawa Mama sama Mbak Ida. Karena mereka orang yang tinggal serumah dan tahu betul seluk beluk pernikahan kami. Menyoal perselingkuhan Rayendra sih gue belum ada saksi”.


Aku menghela nafas sambil menggaruk kepalaku, Nadine sibuk memberi isyarat dengan menyenggol lututku, sementara Ivan sok sibuk dengan bermain-main dengan Kian.


“ Ran, lo mau gue jadi saksi?”, tanyaku pelan.


“ Gak Yon. Gue gak mau lo terseret dalam urusan rumah tangga kami, apalagi harus bersaksi di persidangan nanti. Kalian sudah membantu banyak, gue rasa semua udah cukup kok. Dengan alat bukti yang ada semoga bisa menjelaskan pada majelis hakim”.


“ Ran, kalau lo mau gue punya kenalan yang bisa memberatkan si Ray. Gue bisa minta tolong dia untuk bersaksi, tapi kalau lo ga keberatan sih”, ujar Ivan.


“ Gue belum mutusin untuk nambah saksi lagi. Gue udah iklas dengan keputusan hakim, gak ada misi untuk menjatuhkan Ray di pengadilan nanti. Gue cuma ingin lepas dan bahagia bersama anak-anak”, jawabnya. Kami bertiga saling beradu pandang, ada yang berbeda dengan wanita yang satu ini. Dia terlihat lebih tenang tanpa dendam, sepertinya dia sudah mengiklaskan semua masalah yang menimpanya.


“ Rania, kita tau lo udah ikhlas. Tapi sebelumnya lo harus fight dulu, karena ini agenda paling penting dalam proses sidang. Dion udah bersedia untuk jadi saksi dan Ivan punya koneksi untuk membongkar hubungan antara Ray dan Renata. Lo pikir baik-baik mau manggil siapa, kami akan selalu support lo”, ujar Nadine sambil menggenggam erat tangan Rania. Kulihat keraguan di mata wanita itu, namun kutahu dalam lubuk hatinya ia enggan memintaku untuk bersaksi.


“ Ran, jangan sungkan untuk minta tolong sama gue. Kapanpun lo minta untuk bersaksi, gue bersedia. Just call me, okay”.


Entah mengapa tawaran itu keluar dari mulutku begitu saja. Nuraniku tak kuasa melihat penderitaan Rania, harus ada orang yang membantunya kali ini. Mungkin ini cara Tuhan untuk membalikan hati manusia, akan ada banyak orang yang bersedia membantu Rania dan ketiga anaknya. Tuhan tidak tidur Rania, tetaplah kuat demi ketiga malaikat kecilmu.


.


.


Kira-kira siapa yang akan dipilih Rania untuk bersaksi di persidangan nanti? Tunggu episode berikutnya ya. Jangan lupa vote & likes nya🙏🏻❤️

__ADS_1


XOXO


Author


__ADS_2