Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Malaikat Juga Tahu Cerita Renata


__ADS_3

06.30 WIB – Ruas Tol Cikampek


Mobil yang kami kendarai melaju di KM 57, membawa kami ke rumah ibu mertuaku di Bogor. Ya, kini statusku sudah sah menjadi menantu meskipun beliau belum tahu kalau kami sudah menikah kemarin. Ray sangat cemas, perasaan bersalah terus menyelimutinya. Aku mencoba menenangkan suamiku agar tidak gelisah terus menerus, mungkin memang sebaiknya keluarganya tau mengenai hubungan kami. Oleh karena itu Ray membulatkan tekad untuk mendatangi Mama di Bogor.


“ Mas, siapa aja yang nanti ngumpul di rumah Mama?”, tanyaku pada Ray yang berada dibalik kemudi mobilnya.


“ Kaya biasa lah Mas Doni, Nana, Radit palingan”, jawabnya.


“ Kira-kira reaksi mereka gimana ya? Marah apa enggak?”.


“ Loh kenapa harus marah? Ini keputusan aku kok, dan tidak melanggar agama kan?”.


“ Iya sih, tapi tau sendiri yang mereka tahu kamu masih dalam proses sidang. Seolah-olah aku mengambil hak orang”.


“ Sidang kan hanya status di mata negara, banyak kok orang yang udah cerai bertahun-tahun tapi males ngurus karena mereka ga ada biaya. Yang penting kan aku udah resmi cerai secara agama dari bulan Maret lalu Ren “, ujarnya sambil membelai kepalaku.


“ Trus nanti reaksi Mama gimana? Aku takut Mama ga nerima “, jawabku cemas.


“ Pasti Mama nerima kamu kok sayang, aku yakin kamu bisa mengambil hati Mama “.


Aku hanya diam tak mau berasumsi lagi akan sikap keluarga Ray padaku. Kalaupun saudaranya belum bisa menerima, bukanlah suatu masalah bagiku. Yang terpenting bagi kami adalah restu Ibundanya, peerku tak banyak jika hanya mengambil hati sang mertua.


12.30 WIB – Bogor


Akhirnya mobil kami tiba juga di pekarangan rumah ibu mertuaku, terlihat mobil MPV silver dan sebuah motor matic terparkir di depan halaman, jantungku berdegup kencang karena harus menghadapi keluarga Rayendra.


“ Ayo sayang, kita turun. Ada Radit sama istrinya tuh di dalem, kamu belum ketemu mereka kan? “, ajak Ray untuk segera masuk ke rumah ibundanya.


“ Kamu duluan yang masuk dong Mas, kenalin sama semua orang gitu loh. Jangan kaya kemaren maen tinggal-tinggal aja”, jawabku kesal karena sikap Ray tempo hari di rumah ini.


“ Iya gak bakal ditinggalin lagi lah, tenang aja ya. Kamu yang bawa parcelnya gih, nanti kasih langsung sama Mama“.


Aku turun dari mobil sembari membawa bingkisan parcel buah di tangan kiriku, sedangkan tangan kananku menggenggam lengan Ray dengan erat. Kudengar sayup-sayup suara tawa dari dalam rumah, terdengar akrab dan penuh kehangatan. Tawa itu semakin jelas kudengar begitu kami menginjakkan kaki di teras depan, pintu rumah terbuka hingga aku bisa melihat beberapa orang berkumpul di dalamnya.


“ Assalamualaikum, widiiiih udah pada ngumpul nih “, sapa Ray di depan pintu masuk.


Suara tawa itu berhenti seketika, semua pasang mata melirik ke arah kami dengan tatapan terkejut. Celoteh Mas Doni yang dari luar kudengar sedang melempar guyonan langsung terdiam begitu kami datang. Tangannya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Sementara Nana dan Radit saling melempar pandang, mulut mereka langsung bungkam begitu Ray menyapa. Seorang pria yang berada di samping Nana tengah mengamatiku dari ujung kepala hingga ujung kaki.


“ Waalaikumsalam. Berdua aja Ray?”, sapa Mas Doni pada kami.


“ Iya Mas berdua aja. Mana Aldo nih, udah lama ga ketemu “.


“ Ada sama bundanya di rumah, lagi mau PTS katanya “.


“ Dit, kapan dateng? Mana Arka?”, tanya Ray pada lelaki yang kelihatan lebih muda darinya.


“ Dari kemaren malem nginep di sini. Arka lagi pergi sama bundanya gak tau kemana “, jawabnya.

__ADS_1


“ Ren, kenalin ini Radit adikku “, ujarnya.


Aku menerima uluran tangan Radit, tatapannya dingin tak menatap mataku sama sekali.


“ Kalo itu Dirga suami Nana, Dir kenalin ini Renata “.


“ Dirga”, sapanya sambil mengatupkan tangannya, ia tak menyambut jabatan tanganku.


“ Mas ketemu Mama dulu yuk “, pintaku pada Ray, tanganku sudah kesemutan menenteng parcel dari tadi.


Akhirnya kami masuk ke dalam kamar mertuaku, tampak ia sedang tiduran sambil memainkan ponselnya.


“ Assalamualaikum Ma, gimana sakitnya?”, sapa Ray sambil memeluk tubuh ibunya.


“ Eh Ray, Mama gak tau kamu dateng, kapan sampe Ray?”.


“ Baru aja Ma, Renata maksa Ray buat jenguk Mama “.


“Ma eh Bu… apa kabar? Rena bawain buah buat Ibu nih “, ujarku dengan canggung sambil mendekati tubuh mertuaku yang sedang meringkuk.


“ Waalaikumsalam. Aduh repot-repot bawa buah segala, makasih ya”.


“ Rena itu kuatir banget begitu tau Mama sakit. Dia sendiri loh yang beli buah buat Mama. Tadinya kalo Mama ke Bandung, Rena mau ajak Mama belanja sama jalan-jalan “, ujar Ray.


“ Maaf ya Ren, lain kali saja. Namanya juga penyakit orang tua, suka tiba-tiba suka pusing sampe badan lemes “, tolaknya dengan sopan.


“ Iya Bu gak apa-apa, yang penting Ibu sehat terus, nanti kalau udah sembuh kita jalan-jalan ya “, jawabku sambil memijat kaki mertuaku.


Kami berdua keluar dari kamar mencari Nana, namun ternyata mereka sudah tidak ada di ruang keluarga. Ray pergi ke dapur untuk mencari batang hidung adiknya, namun rupanya Nana juga tidak ada di sana. Kurebahkan badanku di sofa sambil melihat ke sekeliling ruangan, hingga mataku tertuju pada sebuah potret keluarga yang masih tergantung di samping kamar mertuaku. Sebuah potret Ayah, Ibu, Ray, Nana Radit, dan Mas Doni bersama pasangannya masing-masing. Mereka semua menggendong anak-anak mereka yang masih kecil. Kutatap dalam-dalam Foto Ray bersama Rania saat itu, terbersit rasa cemburu di dalam hati melihat foto kebersamaan mereka masih saja dipajang di sana.


“ Gak usah diliat fotonya, Mama tuh gak mau turunin foto itu karena ada gambar Papa di situ “, sahut Ray yang tiba-tiba saja datang membawa minuman untukku.


“ Mas, kapan kita harus ngomong sama Mama soal status kita? Sodara kamu aja kabur gak tau kemana”.


“ Iya sabar ya, nanti juga adik-adikku akrab kok sama kamu “.


Lalu tiba-tiba Nana, Dirga, Radit dan Mas Doni keluar dari kamar belakang, mereka terlihat cekikikan begitu keluar dari kamar.


“ Mas udah pada makan belum? Gue pesen makanan ya “.


“ Udah makan Ray, makasih “, jawabnya singkat.


“ Dir mau pizza ga? Mau pada pesen rasa apa?”.


“ Gak deh, udah kenyang Ray”, jawab Dirga.


“ Na, Mama masak ayam goreng ga? Gue kangen masakan Mama”.


“ Enggak masak, tadi juga beli nasi padang. Sekarang sih udah abis semua “, jawab Nana pendek.

__ADS_1


“ Oh kalo gitu kita makan di luar aja tar malem yuk “.


“ Gak ah, gue mau balik Ray “, jawab Radit.


“ Gue juga, kasian si Aldo mau ujian besok “, ujar mas Doni.


“ Kalo gitu gue mau ajak Mama aja, yakin pada gak mau ikut?”, ujar Ray masih berusaha meyakinkan mereka.


“ Aduh si Aldo udah nyuruh balik nih. Dit gue balik duluan yah “, ujarnya sambil tergesa-gesa sambil menghiraukan ajakan Ray.


“ Gak minjem obeng lagi lo Mas heheh”, sindir Nana.


“ Hehe ternyata gue masih punya obeng di rumah, gak mau nyari-nyari lagi ah. Gue mah setia orangnya “.


“ Nah gitu dong setia sama satu obeng ya Mas “.


“ Yoih, makanya kalo ada yang rusak tuh perbaiki dulu, jangan buru-buru diganti “, jawab Mas Doni sambil tersenyum penuh arti.


“ Kalian ngomong apaan sih, kenapa jadi bahas obeng?”, tanya Radit keheranan menatap Mas Doni dan Nana yang saling melempar sindir.


“ Udah ah gue balik duluan yah. Ray, titip salam buat Kakak, Kica sama Kian ya. Gue kangen sama mereka “. Ujarnya sambil menepuk bahu Ray sambil berlalu.


“ Gue mau ke masjid dulu sama Dirga, lo jalan aja ajak nyokap kalo mau “, ujar Radit menyusul Mas Doni.


“ Gue mau nyuapin Syifa dulu ah, lo pesen pizza aja buat berdua yak “, sahut Nana sambil berlalu masuk ke kamarnya.


Satu-persatu mereka semua pergi meninggalkan kami. Ini bukan kali pertama mereka menghindar untuk mengobrol bersamaku. Aku sudah teramat kesal dengan perlakuan mereka, sekeras apapun aku mencoba meraih simpati pasti semuanya sia-sia.


“ Mas, kita ajak Mama nginep di hotel malam ini yuk, biar ada suasana baru”.


“ Nah ide bagus Ren, Mama pasti seneng banget. Aku ajak Mama sekarang ya”, sambut Ray dengan antusias sambil berlalu ke kamar Mamanya.


Aku sebenernya tak yakin dengan ideku, ini sudah kali kedua kehadiran kami ditolak secara halus oleh mereka. Namun apa boleh buat, usahaku harus gigih untuk mendapat restu dari ibunya.


“ Sayang, Mama mau diajak nginep di hotel. Akhirnya kita bisa nginep juga sama Mama”, sahutnya kegirangan sambil memeluk diriku.


Aku mendorong tubuh Ray perlahan, rasanya risih kalau Nana melihat kami berpelukan di sini. Akhirnya jalanku terbuka sedikit demi sedikit untuk meraih simpati, biarlah waktu yang akan menjawab siapa istri yang lebih baik untuk Ray.


“Karena kau tak lihat


Terkadang malaikat tak bersayap


Tak cemerlang, tak rupawan


Namun kasih ini, silakan kau adu


Malaikat juga tahu


Siapa yang jadi juaranya”

__ADS_1


Malaikat Juga Tahu – Dee Lestari


__ADS_2