
20.30 WIB – Paskal 23
Pengunjung di café yang kusinggahi ini semakin malam malah semakin ramai oleh muda mudi yang sekedar bercengkrama atau berkutat di depan laptopnya. Mall ini adalah tempat yang paling strategis untuk menjadi meeting point atau tempat berbelanja. Seperti Renata dan Daffa yang saat ini tengah berkeliling mall untuk membeli barang yang mereka incar. Aku memilih menunggu di café ini sembari mengerjakan proyek yang diberikan oleh Dion.
Aku tak bisa lagi mengelak atas kecerobohanku saat memegang keuangan perusahaan. Saat itu hutangku dari sana-sini, kebutuhan rumah tangga hingga kewajibanku untuk membayar karyawan tak bisa kuhindari lagi. Saat itu aku memang diam-diam ingin membahagiakan Rania dengan berinvestasi pada salah satu proyek dengan kawan lamaku. Aku diiming-imingi keuntungan ratusan juta pada akhir tahun, namun sayangnya proyek itu gagal dan uangku raib. Bukannya untung malah buntung jadinya, hutangku semakin bertambah hingga aku diteror debt collector setiap hari.
Hingga saat ini aku masih mencicil semua hutangku, hanya Renata yang tahu semua permasalahan finansial yang selama ini membelitku. Ia adalah wanita yang cermat dalam mengatur keuangan, oleh karena itu menyerahkan semua penghasilanku padanya untuk ia kelola.
PING
Istriku
“ Sayang, Daffa mau beli coat buat nanti ke Jepang mumpung lagi sale 70% ya”.
“ Iya boleh dong. Kamu atur aja deh. Aku tunggu kalian sambil kerja ya”.
Istriku
“ Makasih Sayang. Love you “.
Kuletakkan ponselku ke meja sambil kembali menatap layar laptopku. Aku harus lebih giat lagi mencari proyek agar bisa membiayai Daffa yang sebentar lagi akan kuliah ke Jepang. Aku belum memberitahu Renata soal hutang-hutangku pada Dion, ia akan murka jika mengetahui besaran uang yang harus kucicil selama 1 tahun lamanya.
Bip Bip Bip Bip Bip Bip
Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar ponselku. Aku sengaja tak langsung mengangkatnya, sudah terlalu banyak nomor asing yang menghubungiku akhir-akhir ini.
Bip Bip Bip Bip Bip Bip
Nomor itu tak menyerah untuk menghubungiku. Akhirnya kuangkat panggilannya, semoga saja bukan debt collector yang akan menagih hutang.
“ Halo, Assalamualaikum Mas Ray? Ini Firman tetangga dulu “, sapa suara di sebrang sana.
“ Oh Mas Firman, ganti nomor ya? Apa kabar Mas?", jawabku.
“ Alhamdulillah, baik Mas Ray. Kemana aja nih, kok ga pernah ngumpul lagi di Bintaro”.
__ADS_1
“ Iya nih udah jarang ngumpul Mas, saya udah tinggal di Bandung soalnya “.
“ Lagi ada kerjaan atau gimana Mas? Kok tumben ke Bandung sendirian? Biasanya kan rame-rame sama keluarga “.
“ Enggak Mas saya sendirian di Bandung, anak-anak masih di Tangsel sama Mamanya”, jawabku singkat enggan untuk bercerita lebih jauh.
“ Pantesan waktu saya ketemu Mbak Rania kok dia sendirian, ga bareng Mas Ray”, jawabnya.
“ Loh kapan ketemu Rania, Mas?”, tanyaku penasaran.
“ Kemarin di Bintaro Xchange. Dia lagi nemenin anak cowo main ice skating”.
“ Anak cowo main ice skating? Rania sama temen-temennya atau gimana?”, selidikku.
“ Iya sama anak cowo putih sipit gitu lah, kalau ga salah sih namanya Sean. Aku kira sodara nya Mbak Rania. Mau ngobrol banyak tapi sungkan soalnya Mas Ray ga ada “.
Jantungku terkesiap saat mendengar nama Sean. Anak lelaki sipit berkulit putih yang hobby main ice skating itu sepertinya tak asing bagiku.
“ Mas Ray kapan ke Bintaro lagi? Aku ada proyek nih, siapa tau kita bisa kolaborasi”, tanyanya membuyarkan lamunanku yang tengah menahan emosi.
“ Iya Mas nanti kalau kerjaan selesai saya kabari lah. Saat ini belum bisa pulang nih”.
“ Hahahaha, bisa aja Mas. Bandung mah garareulis pokoknya. Mas mau ke sini? Tar saya ajak jalan-jalan deh”.
“ Waduuuh, ndak berani kalau sendirian. Anis pasti langsung ngintilin saya Mas. Ya sudah nanti kalau pulang ke Bintaro kabari saya ya, harus ngobrol sama temen saya yang satu lagi soalnya”.
“ Siap Mas, nanti kalau saya pulang mampir deh ke rumah”, jawabku agar segera mengakhiri pembicaraan dengannya.
“ Siap Mas. Matur nuwun. Assalamualaikum”.
Nafasku memburu mendengar informasi yang baru saja kudengar, sudah bisa dipastikan bahwa Dion-lah yang selama ini menjadi biang keladinya. Omong kosong kalau Dion tak mengenal Rania, nyatanya mereka telah akrab sampai bisa bertemu dengan Sean segala.
“ Yah, serius amat mikirin apaan sih “, sapa Daffa yang tiba-tiba datang bersama Renata sambil menenteng belanjaan di tangannya.
“ Mikirin belanjaan kita kali Fa, kamu sih Mama bilang beli coat doang malah nambah beli sepatu segala. Tuh liat mukanya manyun kan”, gurau Renata menggodaku.
__ADS_1
“ Ga apa-apa lah beli sepatu juga, mentri keuangannya juga kamu kan “, jawabku sambil meraih tangan istriku dan menariknya untuk duduk di sampingku. Renata duduk sambil menyimpan shopping bag di atas meja, seketika saja meja yang tadinya kosong penuh dengan belanjaan yang dibeli oleh mereka berdua.
“ Aku mau ke toilet ah, kalian di sini dulu ya”, pamit Daffa meninggalkan kami berdua. Untung saja Daffa pergi meninggalkan kami sebentar, ada yang ingin aku ceritakan pada Renata.
“ Yang, sini deh. Aku tahu siapa dalang dibalik semua kegilaaan Rania”.
“ Maksudnya? Orang yang selama ini bantu Rania, gitu?”.
“ Iya. Pastinya dia orang yang sudah menebar isu tentang kita sampai bisa tau profil kamu selama ini”.
“ Siapa orangnya? Kamu tau darimana?”, tanya Renata menggebu-gebu.
“ Dion. Udah aku duga sebelumnya kalau dia yang jadi biang kerok dari semua ini. Dia yang hubungin Rania tempo hari sampai Rania bisa tag nama kamu di Instagramnya “.
“ Wah ga bener si Dion. Trus rencana kamu apa sama dia? Males banget kalau harus masih berurusan sama pengkhianat macam dia”.
“ Aku udah mutusin untuk ga jadi partner bisnisnya, palingan cuma kerja remote kalau ada proyek yang harus diselesaikan. Dion bukan ancaman saat ini, kita balas saja dengan tuduhan untuk Rania di persidangan nanti”.
“ Minggu depan agenda sidang kamu kan? Kamu harus lawan Rania dan bikin dia gak berkutik. Aku yakin Dion yang bantu Rania di persidangan, kalau Rania kalah usaha mereka buat lawan kamu bakal sia-sia”.
“ Aku harus tulis apa nih buat agenda Replik nanti?”.
“ Tulis aja aku cuma rekan kerja kamu, gaji kamu ga mencukupi untuk membayar hak & nafkah yang Rania minta, dan yang paling penting tulis semua dosa-dosa Rania selama dia jadi istri kamu. Jangan lupa kasih Si Dion peringatan agar berhenti campurin urusan pribadi, kalau enggak proyek kalian batalkan saja”, ancam Renata sambil memicingkan mata saking kesalnya.
“ Aku harus samperin Dion sih enaknya, kalau ngomong di telepon dia bakal ngeles kaya yang udah-udah”.
“ Lusa aja kamu ke Jakarta, sukur-sukur kalau bisa mampir dulu ke Bogor kasih titipan baju buat Mama. Urusan kantor biar aku yang handle, pokonya kamu harus kasih mereka semua pelajaran”, usul Renata.
Aku menimbang-nimbang apa yang diusulkan istriku, apa aku perlu mendatangi Dion agar berhenti mencampuri urusan rumah tanggaku. Kalau saja aku tak memiliki perjanjian dengannya, sudah aku hajar dan tinggalkan lelaki itu sejak dulu.
“ Oya satu lagi, kamu ga usah lagi ngerjain proyek dari dia mulai detik ini”, ancamnya.
“ Ya kalo proyek lain lagi dong Sayang, kan bisa kerja remote “.
“ Ga bisa. Aku ga terima kamu selalu dimaki-maki sama Dion. Manusia egois yang ngerasa paling bener eh taunya nikam kamu dari belakang. Kamu ga ada utang kerjaan kan sama dia?”, tanya Renata yang berhasil membuatku gelagapan.
__ADS_1
“ Enggak ada sih, aku ga punya utang apa-apa sama dia. Udah ya tar aja bahasnya di apartemen, si Daffa udah balik lagi tuh”, ujarku mengalihkan pembicaraan.
Renata mengemasi belanjaannya sembari menggerutu, sama seperti halnya diriku yang tak kuasa menahan emosi karena dikhianati oleh temanku sendiri. Padahal aku tak pernah sedikitpun mencampuri urusan rumah tangganya dengan Nadine. Urusan pekerjaan pun aku hanya pasrah setiap ia melontarkan makiannya, bukannya berterima kasih atas bantuanku malah ia yang menebar isu tentang perselingkuhan pada Rania. Dion harus kuberi pelajaran kali ini, tidak akan kubiarkan lagi mereka semua mempermainkanku dari belakang lagi.