
15.20 WIB – Kantor Pusat Hardja Sukses Group
Kulirik lelaki yang tengah duduk di sebelahku sambil berkutat dengan laptopnya. Wajahnya tampak murung tak seperti biasa. Tadi siang kami baru saja meeting dengan Pak Hardian disini, namun Pak Hardian tidak ceria seperti biasanya. Big boss itu banyak melemparkan pertanyaan tentang perkembangan aplikasi yang tengah berjalan. Biasanya ia tak banyak berkomentar dengan kinerja tim RENTZ, namun kali ini ia mencecar kami mulai dari hal teknis hingga keuangan.
Ray sudah menjelaskan dengan susah payah bahwa RENTZ tidak bisa berkembang apabila tidak memiliki budget marketing yang cukup. Pengajuan yang kubuat selalu dipangkas 50% setiap bulannya, bahkan Ray harus mengurangi jumlah karyawan gara-gara budget kami kian menipis.
Tok tok tok
“ Permisi Pak Ray, ruangannya mau dipakai sama Pak Daniel “, ujar Nanda asisten Pak Hardian mengetuk pintu ruangan meeting yang kami pakai.
“ Oh Iya silakan, saya juga sebentar lagi mau lanjut ke kantor Dago “, jawab Ray sambil merapikan dokumennya.
“ Baik Pak, makasih sebelumnya “, jawab Nanda sambil berlalu.
“ Mas, kita langsung balik ke RENTZ apa gimana? Pak Hardian ga akan manggil kita lagi kan?”, tanyaku.
“ Udah lah balik aja. Aku udah pusing seharian ditanya-tanya progress terus. Gimana bisa ada progress kalo dana aja terus dipangkas “, jawabnya ketus.
Belum sempat kami keluar ruangan, sesosok pria sudah masuk sambil membawa laptopnya. Nanda mengikuti dari belakang sambil membawakan setumpuk dokumen miliknya.
“ Eh Pak Ray masih disini? Tumben meetingnya lama banget?”, tanyanya dengan ekspresi tak bersahabat.
“ Belum Pak Daniel, meetingnya aja baru mulai tadi siang kok”. jawab Ray sambil menggulung charger laptop dan memasukkan ke dalam tas nya.
“ Gimana aplikasi RENTZ? Sudah banyak yang pake belum tuh?”.
“ Sudah 500 downloader Pak, lumayan banyak lah Pak “, jawab Ray.
“ Downloader banyak tapi belum bisa kasih revenue kan “.
“ Gini Pak Daniel. Revenue kami bukan hanya dari keuntungan dari penjualan saja. Sumber dana kami selaku penggiat startup adalah dari traffic agar bisa mendapatkan iklan lalu mengejar valuasi bisnis. Jika suatu produk dirasa memiliki value, maka investor tidak akan segan untuk menyuntikan dana hingga IPO “, tutur Ray panjang lebar.
“ Maaf nih Pak Ray, saya kan bukan anak milenial yah. Jujur saya ga main bisnis seperti itu, bagi kami pelaku bisnis di sektor riil sih yang pasti-pasti saja lah. Daripada bakar duit terus-terusan “, jawab Daniel dengan ketus.
Aku melirik ke arah Ray yang wajahnya mulai memerah menahan amarah. Langsung saja kutarik tangannya untuk segera keluar dari ruangan meeting. Ingin kubalas semua perkataan Pak Daniel namun percuma melawan Dirut di grup ini. Mengingat kami memang belum bisa menghasilkan revenue yang berarti, sudah menjadi resiko produk kami dianggap benalu bagi mereka.
“ Udah Mas gak usah ditanggepin lah, mereka orang tua yang gak ngerti bisnis kita “, ujarku sambil berjalan di selasar kantor.
“ Gimana ga nanggepin, dari tadi siang aku dicecar masalah revenue terus-terusan. Pak Hardian kan sudah paham kalo bisnis ini tidak meraup untung dari downloader. Kita main valuasi aja, biar ada investor baru yang beli saham kita “, jawabnya dengan emosi.
“ Biasa lah Mas, kayanya Pak Bos lagi dikomporin sama Dirut lain, tuh yang tadi pasti salah satunya”.
“ Iya memang. Dia gak suka sama aku sejak RENTZ berdiri “, jawabnya sambil memencet tombol lift yang akan membawa kami ke lobby.
Ketika pintu terbuka, kami langsung masuk ke dalam lift yang terdapat beberapa orang di dalamnya. Dua orang perempuan di sampingku mendadak saling bertatapan penuh arti. Perasaanku menjadi tak enak berdiri diantara mereka.
Begitu lift terbuka kami segera melangkahkan kaki berjalan di antara cubicle staf Hardja Sukses Grup. Sayup-sayup kudengar suara bisik-bisik wanita, begitu kulirik sumber suara tersebut mereka hanya menunduk sambil menyibukkan diri. Aku dan Ray berjalan menerobos tatapan mata yang menyorot tajam, sambil berusaha mengindahkan kasak kusuk mereka yang diam-diam membicarakan kami di belakang.
“ Ssssst itu tuh baru pada keluar “
__ADS_1
“ Udah sering dateng berdua ya sekarang “
Kelemparkan pandanganku ke arah sumber suara tersebut. Mataku langsung tertuju pada meja resepsionis yang sedang dikerumuni oleh beberapa staf sambil memainkan ponselnya. Mulut mereka langsung bungkam sambil memalingkan muka, lalu salah satu dari mereka mengalihkan pembicaraan.
“ Ren, ayo cepetan. Udah laper nih mau cari makan “ ujar Ray menegurku. Tangannya sibuk merogoh saku untuk mencari kunci mobilnya. Tanpa banyak basa-basi kami langsung menaiki mobil dan segera meninggalkan kantor pusat.
Selama menyetir Ray tak banyak bicara, raut mukanya kesal dan sering menggerutu. Sesekali mulutnya berdecak kesal karena disalip motor atau penyebrang jalan yang melintas tanpa melihat kanan-kiri. Aku jadi ikut mual karena Ray berulang kali menginjak rem secara mendadak.
Bip Bip Bip Bip Bip
Ponsel Ray berbunyi, namun ia sengaja mendiamkan panggilan tersebut.
Bip Bip Bip Bip Bip Bip
“ Mas angkat dulu, takutnya penting “, sahutku pelan. Dengan wajah kusut Ray melihat layar ponsel dan mengangkat panggilannya.
“ Iya Pak Saragih, gimana? “, sahutnya.
“ Ya saya gak mau tau lah, saya kan tau beres. Masa saya harus datang ke pengadilan. Pokoknya saya gak mau mediasi dan sebisa mungkin prosesnya cepat selesai”, jawabnya setengah membentak.
“ Rania kan sudah dapat pembayaran uang take over rumah, Bapak tulis aja di gugatan kalau uang tersebut untuk pembayaran hak-hak dia. Pokoknya Bapak atur saja, saya gak mau keluar uang lagi untuk pengadilan” tutupnya.
Ray membanting ponselnya ke dashboard mobilnya. amarahnya benar-benar sudah memuncak. Aku mengelusnya lengannya agar sedikit lebih tenang. Sudah satu minggu Ray dilanda kemarahan gara-gara Rania berbuat ulah dengan datang ke pengadilan. Belum selesai dengan ulah Rania, Pak Hardian jadi berbalik menekan Ray agar RENTZ bisa menghasilkan uang. Setiap malam tidurnya menjadi gelisah, dan emosinya tak terkontrol.
Mobil kami akhirnya berhenti di suatu bar & resto. Kukira kami akan makan nasi padang karena sudah terlanjur keroncongan.
“ Gak ah, aku mau cari minum. Pusing ini kepala mau pecah rasanya “.
Aku tak mau berkomentar lebih jauh lagi daripada kena omelan Ray. Sebenarnya aku juga sudah kesal dengan gunjingan staf saat kami berada di kantor pusat. Sudah beberapa minggu banyak sekali permintaan pertemanan di sosial media yang tidak aku kenal. Entah siapa mereka, yang pasti mereka adalah orang-orang yang ingin stalking tentang kehidupanku. Begitu juga dengan sosial media Ray, dia sampai menghapus akun orang-orang yang mengganggu kehidupan kami. Aku sih tak peduli dengan orang-orang tersebut, kutantang siapa saja yang mau merecoki kehidupan pribadi kami.
Kami akhirnya mencari sofa di pojok resto. Temaramnya lampu membuat mata kami sedikit rileks untuk menghilangkan segala penat. Begitu selesai memilih menu, aku menyulut rokok filterku sambil merebahkan punggungku ke sofa. Tak banyak kata yang keluar dari mulutku, rasanya segan untuk berbicara dengan orang yang sedang digulung amarah.
“ Ren, kamu cape ya. Maaf ya barusan aku marah-marah “, sahutnya tiba-tiba.
“ Enggak kok santai aja Mas “.
“ Ren, tadinya aku mau bahas ini waktu di rumah mama minggu lalu. Tapi sikon nya belum tepat kayaknya”.
“ Soal apaan ?”, tanyaku heran.
“ Ren, aku mau nikahin kamu secepatnya”.
“ Hah, nikah? Kamu yakin?”, tanyaku memastikan ucapannya di tengah riuhnya alunan live music.
“ Iya Renata, aku mau nikah secara agama dulu sama kamu. Rania udah mengacaukan semua rencanaku. Proses cerai yang harusnya bisa cepat malah tertunda karena dia datang kemarin “.
“ Kamu udah bicara sama ibu kamu Ray? Katanya apa?”.
“ Mama menyerahkan sepenuhnya sama aku. Kamu tenang aja, Mama itu mudah trenyuh orangnya. Lambat laun Mama bisa nerima kita “.
__ADS_1
“ Terus adik kamu gimana? Jujur ya mereka ga bersahabat saat kita dateng “.
“ Gak usah mikirin mereka lah, ini hidup aku Ren. Orang-orang tuh gak tau gimana sakitnya aku, apa yang aku cari, apa yang aku butuhin selama ini. Semuanya ada di kamu Ren “.
“ Aku gak mau disebut pelakor loh ya Mas, aku mau kamu beresin dulu urusan kamu sana Rania “, jawabku ketus.
“ Aku sama Rania sudah resmi cerai secara agama kan, letak salahnya ada dimana?. Aku mengambil keputusan cerai juga sudah jauh-jauh hari Ren, kamu tidak ada urusannya sama hubungan rumah tanggaku “.
“ Orang-orang pasti ngomongin aku dibelakang, belum lagi Rania pasti udah menggila dengan menuduh aku perebut suami orang “.
“ Biarin aja lah Rania dengan asumsinya, aku juga kan berhak hidup bahagia. Aku gak mau gini terus Ren, aku ingin bahagia dan bisa ketemu sama anak-anak begitu urusanku sudah selesai dengan Rania “.
Aku hanya terdiam memikirkan segala ucapan Ray. Hatiku gamang, apa aku harus menerima pinangannya. Dari sekian lelaki yang dekat denganku, hanya Ray sosok yang bisa menerimaku apa adanya. Lelaki ini punya cinta, dia memiliki kehangatan yang selama ini tidak aku temukan dari lelaki manapun.
“ Ok Mas, aku bersedia. Aku mau jadi istrimu “, jawabku dengan lantang sambil membalas tatapan lelaki di hadapanku. Suatu senyuman tersungging manis di bibirnya, sorot matanya berbinar memancarkan cinta. Kudengar sayup-sayup alunan live music yang menggema, mengiringi kebahagiaan kami yang sedang dimabuk asmara.
Mengejar dirimu
Takkan ada habisnya
Membuat diriku menggila
Bila hati ini
Menjatuhkan pilihan
Apapun akan kulewati
Hari ini sayang
Sangat penting bagiku
Kau jawaban yang aku cari
Kisah hari ini kan kubagi denganmu
Dengarlah sayang kali ini
Permintaanku padamu
Dan dengarlah sayangku
Aku mohon kau menikah denganku
Ya hiduplah denganku
Berbagi kisah hidup berdua
Kisah Romantis – Glenn Fredly
__ADS_1