Harta, Tahta, Renata

Harta, Tahta, Renata
Remuk Cerita Rayendra


__ADS_3

08.00 WIB – Kantor Pusat Hardja Sukses Group


Bip Bip Bip Bip


“ Halo Pak Saragih, maaf barusan saya lagi naek ojek. Ada kabar apa dari hasil sidang?”, tanyaku sambil terburu-buru memasuki kantor Pak Hardian.


“ Barusan agenda pembuktian, Mas Fadli sudah memberikan kesaksian”, jawabnya.


“ Lancar dong agenda sidangnya”, jawabku sambil terengah-engah sambil menaiki tangga untuk menuju lantai 3.


“ Pak Ray, kenapa dari awal gak cerita sama saya tentang persoalan yang sebenarnya. Kredibilitas saya sebagai advokat tercoreng gara-gara kesaksian Mas Fadli barusan”, ujarnya dengan nada kecewa.


“ Loh kok, tercoreng apanya? Saya kan sudah ikuti saran Bapak”.


“ Pertama, Bapak bilang bahwa kalian sudah pisah rumah sejak lama dan kedua pihak sudah sepakat bercerai. Kedua, Bapak menyangkal dalam replik ada wanita lain. Yang ketiga, saya diberitahu Mas Fadli di luar ruangan sidang bahwa Bapak sudah nikah siri”.


“ Sudah lah Pak, apapun itu yang penting proses cerai saya selesai. Saya sudah jatuhkan talak berarti secara agama sudah sah bukan suami istri dong. Wajar kalau saya nikah lagi”.


“ Anda memang sah bercerai secara agama, tapi Anda hidup di negara yang memiliki landasan hukum. Dalam UU Perkawinan tidak mengakui adanya pernikahan siri, barang siapa pria yang terikat perkawinan dan melakukan zina (overspel), maka akan dikenakan pasal perzinahan. Ancamannya kurungan penjara maksimal 9 bulan Bung!”


“ Sudah lah Pak, kan lazim nikah siri. Bukan karena gak menaati hukum, daripada zina lebih baik disahkan secara agama dulu Pak”, jawabku geram.


“ Bung, Anda sedang berbicara dengan advokat. Kredibilitas saya tercoreng jika membela klien yang jelas-jelas melanggar hukum. Kalau saya tau sejak awal, saya akan sarankan Bapak untuk sedikit lebih bersabar sampai proses sidang selesai. Ah ini sudah kawin lagi, bikin runyam saja”, omelnya dengan logat khas batak.


“ Ya sudah Pak, agenda berikutnya tinggal putusan kan, begitu ketok palu saya segera lunasi jasa advokasi Bapak. Sekarang saya mau meeting, nanti besok saya hubungi”, tutupku sambil buru-buru mematikan ponsel.


Kuseka keringatku yang menetes karena berlari menaiki tangga sambil mendengar omelan Pak Saragih barusan. Tak kuhiraukan lagi semua perkataan orang-orang tentang statusku, saat ini duniaku sudah jungkir-balik. Nasib perusahaan yang kubangun sudah di ujung tanduk, proyek berkurang karena hubunganku sudah tak baik dengan Dion, dan yang paling melukai hatiku adalah kerinduanku pada Kila dan Kica yang belum juga terobati. Rania sudah melancarkan serangannya dengan menghasut orang-orang agar membenciku.


“ Pak Ray, sudah ditunggu di ruangan meeting tuh”, ujar Nanda di balik meja kerjanya.


“ Oke, saya masuk dulu”, jawabku.


“ Mbak Renata gak ikut? Tumben gak barengan “, celetuk Nanda dengan gaya nyinyirnya. Kuyakin biang gosip di grup ini pasti berasal dari mulutnya. Tak kuhiraukan pertanyaan Nanda barusan, segera saja aku masuk ke ruangan meeting dimana para direksi sudah menungguku.


“ Ray, timana wae atuh? Geus telat deui wae”, ujar Pak Hardian sambil memandangku dengan wajah kesal.


“ Maaf Pak tadi saya naik Ojol, susah dapet driver”, jawabku sambil duduk di salah satu kursi yang kosong.


“ Gimana nih RENTZ, sudah dapet investor belum? Sudah satu minggu belum ada kabar dari kamu”, tanya Pak Hardian


“ Saya sudah mengurangi anggaran Pak, karyawan sudah saya rumahkan semuanya. Akhir bulan ini saya cuma bisa menggaji setengah. Saya juga sudah meeting dengan beberapa Investor, tapi masih perlu waktu untuk kasih jawaban katanya”, jawabku.


“ Batas waktunya hari ini kan Pak Ray, kami sudah tidak sanggup mengeluarkan dana untuk kalian. Kantor RENTZ akan segera kami tutup, ada tenant yang mau sewa untuk jadi coffeshop”, ujar Ibu Komisaris.

__ADS_1


“ Bisa sampai akhir bulan Bu, saya mohon. Sampai ada investor yang kasih kabar sama saya “, pintaku sambil memohon.


“ Maaf Pak Ray, ini sudah kesepakatan dari hasil meeting terakhir. Pak Ray hanya memiliki satu minggu untuk mencari Investor baru. Kalau tidak dengan terpaksa RENTZ akan kami tutup”, jawabnya.


“ Pak Hardian, saya mohon agar gaji staf diturunkan sepenuhnya. Anak buah saya sudah bekerja keras selama ini, saya mohon Pak agar mereka tetap digaji. Kalau Bapak berkenan, silakan tarik saja ke divisi lain”.


“ Saya sudah pikirkan itu, mungkin ada sebagian staf RENTZ yang akan ditarik oleh Daniel. Sebagian lagi kami sudahi sampai disini, termasuk Renata dan kamu sendiri. Maaf ya Ray, saya sudah tidak bisa bantu kamu”, ujarnya.


Suasana ruangan meeting langsung terasa sunyi, kepalaku tertunduk lesu mendengar nasib perusahaan yang kubangun dengan sungguh-sungguh harus selesai sampai di sini. beberapa pasang mata kini tengah menyorot tajam ke arahku, terasa jelas pandangan sinis dan ketidaksukaan begitu menusuk hingga relung jiwaku. Memang seharusnya aku sudahi saja semua, melepaskan segala beban agar tidak ada lagi orang-orang yang mencemoohku.


“ Baik Pak, Bu. Terima kasih atas kerjasamanya selama satu tahun ke belakang. Mohon maaf atas segala kekurangan dari saya pribadi ataupun tim yang kurang berkenan. Saya mohon pamit, kantor akan saya bereskan dalam waktu 3 hari, semoga grup ini semakin sukses. Terima kasih”, ucapku terbata-bata sembari menahan genangan air mata yang nyaris menetes.


“ Sama-sama Pak Ray, kami juga mohon maaf. Mungkin bisnis Anda bisa berkembang dengan partner yang tepat, saya yakin masih ada peluang di luar sana”, ujar Ibu Komisaris sambil diam-diam menyeka air matanya.


Aku berdiri sambil menyalami mereka satu-persatu. Kujabat tangan mereka dengan hangat, meskipun hati ini sudah remuk karena diinjak-injak.


“ Pak Ray, mohon maaf kalau ada perkataan saya yang kurang berkenan. Saya yakin Anda pasti sukses di luar sana”, jabat Pak Daniel sambil menepuk bahuku.


“ Sama-sama Pak Daniel, saya juga minta maaf karena sudah merepotkan”, jawabku sambil berusaha untuk tersenyum.


Kusalami mereka semua satu-persatu hingga langkahku terhenti di depan Pak Hardian. Dari sorot matanya terpancar rasa kecewa sekaligus kesedihan yang dalam.


“ Ray, kamu itu lelaki cerdas. Ambisi kamu kuat dan penuh potensi. Tidak banyak orang seperti kamu Ray. Jujur saya sedih harus menutup RENTZ, tapi saya tidak punya pilihan lagi. Pesan saya cuma satu, tolong jalani hidup sebaik mungkin Ray”, ujarnya sambil menepuk bahuku. Kutahu ia sangat kehilangan, begitu juga aku yang sudah menganggap beliau seperti sosok ayah yang sering memberikan nasihat untukku.


Kakiku langsung berjalan menuju pintu sambil membawa sejuta pilu, meninggalkan kantor yang penuh dengan intrik dan desas-desus tentang berita miring tentangku. Kuayunkan kakiku dengan gontai, menikmati setiap langkah terakhir diiringi sorotan mata yang seakan menikmati penderitaanku.


“ Ssssstttt, tuh liat mukanya kusut banget”.


“ Jangan-jangan udah dipecat Pak Bos”.


“ Kasian ya sekarang, kaya enggak diurus”.


Kulemparkan pandangan pada sekumpulan staf yang sedang berkumpul di salah satu meja, suara bisik-bisik yang biasa kudengar hanya kubalas dengan senyuman. Kepala mereka langsung tertunduk, lalu bubar ke meja masing-masing seakan menahan malu.


KRUKKKK


Perutku sudah keroncongan minta diisi, dari pagi aku memang belum sarapan. Akhir-akhir ini aku memang jarang sarapan semenjak keuanganku memburuk. Kubuka dompet di saku celana, isinya tinggal selembar dua puluh ribuan. Jika aku pakai uang ini untuk makan siang, nanti malam aku tak bisa membeli makan. Itupun hanya untuk diriku sendiri, aku tak tahu Renata bisa makan atau tidak.


PING


Nathalie Lim (Sewa apartemen)


“ Siang Pak Ray, saya mau menginformasikan bahwa pembayaran sewa apartemen sudah jatuh tempo ya. Dari kemarin saya sudah menghubungi Mbak Renata tapi tidak ada jawaban. Mohon segera lakukan pembayaran, atau besok saya mau pasang iklan untuk disewakan pada yang lain. Terima kasih”.

__ADS_1


Lututku langsung lemas begitu membaca pesan dari pemilik apartemen yang kami tinggali. Semenjak kami menikah, biaya sewa sudah menjadi tanggungjawabku. Bagaimana bisa aku melanjutkan sewa dengan kondisi seperti ini, untuk membeli makan siang saja aku tak sanggup. Sambil memutar otak aku terus berjalan hingga ke perempatan lampu merah, beberapa kali terdengar bunyi klakson angkot menawarkan tumpangan. Aku sudah bingung hilang arah, tak tau kemana lagi kakiku harus melangkah.


Akhirnya kakiku berhenti di perempatan lampu merah, berdiri di antara pengamen yang bersiap-siap menyanyi saat lampu merah menyala. Seorang anak berusia SMP memegang gitar dan seorang anak seusia Kila memegang kantung permen bekas untuk tempat uang. Saat semua mobil berhenti, mereka langsung berlari mengamen di sebuah angkot di hadapan mereka.


Teringat masa kecilku, kau peluk dan kau manja


Indahnya saat itu buatku melambung


Di sisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu


Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu


**


Kau ingin 'ku menjadi yang terbaik bagimu


Patuhi perintahmu, jauhkan godaan


Yang mungkin kulakukan dalam waktu kuberanjak dewasa


Jangan sampai membuatku terbelenggu, jatuh dan terinjak


**


Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya


Kuterus berjanji 'tak 'kan khianati pintanya


Ayah dengarlah betapa sesungguhnya kumencintaimu


'Kan kubuktikan kumampu penuhi semua maumu


**


Yang Terbaik Bagimu – Ada Band


Hatiku teriris mendengar lantunan lagu yang mereka nyanyikan, sebuah lagu dengan lirik yang begitu dalam. Aku langsung teringat akan sosok Papa, betapa aku sangat merindukannya saat ini. Maafkan aku Pa, aku telah gagal, karir dan hidupku hancur berantakan. Hatiku semakin remuk jika mengingat ketiga putriku, pupus sudah niat untuk menemui mereka karena malu.


Dua anak pengamen itu kembali berlari ke pinggir jalan saat lampu hijau menyala, bungkusan yang mereka pegang masih kosong. Entah kenapa dengan spontan aku mengeluarkan selembar dua puluh ribu di dompet, kumasukkan dalam kantung permen mereka. Wajah si pengamen cilik yang seumur anakku langsung menerima uangku dengan sumringah.


“ Makasih Pak”, ujarnya sambil tersenyum lebar.


Kulemparkan senyum sambil mengelus rambut merahnya yang kusut. Kini sudah tak ada lagi uang di dompetku. Tak ada untuk makan siang ataupun makan malam. Namun hatiku terasa lega, setidaknya aku masih bisa memberi disaat kesulitan tengah melanda.

__ADS_1


__ADS_2